
Beberapa hari berlalu.
Aisha mendatangi kediaman Anita untuk menghadiri acara pengajian sebelum acara pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari.
Keduanya saling berpelukan erat dengan perasaan penuh haru mengingat akhirnya tak lama lagi hari yang di tunggu-tunggu itu datang jua, hari dimana Anita akan dipinang oleh sosok lelaki impiannya.
Setelah acara pengajian selesai, Anita dan Aisha bercengkrama di dalam kamar.
"Aku masih tak percaya jika besok aku akan menyandang status sebagai seorang istri."
Aisha tersenyum.
"Apa kamu sudah siap?"
"Insya Allah. Aku siap."
"Alhamdulillah. Kita harus ingat jika menikah itu artinya menerima. Setelah ijab kabul maka kita harus menerima sepenuhnya pasangan kita secara utuh dari fisiknya, pemikirannya, karakternya, sikap prilakunya, kelebihan dan kekurangannya."
"Menikah juga menerima keluarga besarnya, ayah ibunya kakak serta adiknya dengan beragam sifat dan karakternya."
"Juga menerima ikhlas masa lalunya, jika ada yang tidak baik maka kita tak akan mengungkitnya. Juga masa depannya dengan saling mendukung cita-cita dan impiannya," jelas Aisha panjang lebar.
Anita mengangguk.
"Terima kasih, kamu sudah memberikanku banyak pengajaran, entah aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku jika aku tak bertemu denganmu, mungkin saat ini tidak ada Anita seperti sekarang."
"Mungkin aku akan tetap menjadi Anita yang penuh dengan kemaksiatan dan dosa. Seorang Anita yang tak terpikirkan untuk berhijrah. Seorang Anita yang terus tersesat dan jauh dari ajaran agama."
"Hidup akan terasa lebih indah ketika kita saling mengingatkan dan memberitahu tentang kebaikan, Manusia menjadi makhluk yang merugi kecuali mereka yang saling menasihati dan mengajak kepada kebaikan," jawab Aisha.
__ADS_1
"Jika ada yang lalai, kita sesama muslim harus saling mengingatkan, karena surga terlalu luas untuk sendirian," tambahnya lagi sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya.
Ummi bersama hampir semua putra-putrinya hari ini bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Anita dan Zaidan, pagi-pagi sekali rombongan keluarga besar mereka sudah berangkat dari pondok menuju ke kota tempat berlangsungnya resepsi pernikahan.
Andre yang juga diundang oleh Anita turut serta dalam rombongan itu, dia mengendarai mobilnya bersama dengan paman dan bibinya.
Sesampainya di tempat acara, rombongan itu disambut dengan baik oleh Anita dan seluruh keluarganya, mereka lalu di persilahkan untuk duduk di tempat yang telah disediakan bersama Aisha yang rupanya telah datang terlebih dahulu bersama suaminya.
Sembari menunggu kedatangan rombongan mempelai pria, mereka bercengkrama bersama. Sementara Andre tampak sibuk celingak-celinguk mencari seseorang.
"Cari siapa?" tanya Alvian heran setengah berbisik.
"Aku tidak melihat Siti."
Alvian menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa mencarinya?"
"Aku hanya ingin melihatnya saja. Wajar kan aku ingin melihat calon istriku sendiri."
Aisha yang duduk di samping suaminya tersenyum tak sengaja mendengar perkataan Andre.
"Kamu tahu. Melihat wajahnya yang tertutupi cadar selalu membuat jantungku berdetak kencang," ucapnya lagi tanpa tahu jika Aisha mendengar semua perkataannya.
Lagi-lagi Aisha dibuat tersenyum.
__ADS_1
"Membuatku selalu menerka-nerka bagaimana wajah calon istriku itu, tapi aku sangat yakin jika dia cantik." Andre tersenyum sendiri.
"Kakakku memang cantik." Aisha melirik Andre sekilas.
Andre kaget karena rupanya Aisha mendengarkan perkataannya.
"Kakakku mempunyai bibir yang menarik karena senantiasa mengucapkan perkataan yang baik, dia mempunyai lesung pipi karena selalu menebarkan senyum yang tulus kepada siapapun, matanya juga indah menawan karena selalu menjaga pandangannya dan senantiasa melihat kebaikan orang lain, tubuhnya langsing karena selalu menyisihkan sebagian makanannya untuk yang membutuhkan, jari jemarinya lentik menawan karena rajin bersedekah dan wajahnya yang bercahaya karena air wudhu."
***
Aisha menitikkan air mata bahagia setelah dengan lancarnya Zaidan melafalkan ijab qobul dengan tenang dan khidmat, dia ikut merasa terharu setelah kini Anita sahabatnya telah sah menjadi seorang istri dan menemukan kebahagiaannya sendiri. Aisha lalu mengingat kembali sejak awal pertemuannya dengan Anita dan semua hal yang telah mereka lalui.
Dimulai dari perselisihan, ketegangan dan salah paham, siapa sangka jika kini akhirnya mereka menjadi sahabat. Aisha yakin jika semuanya adalah skenario Allah yang telah mempertemukan keduanya lewat Alvian suaminya.
Aisha kini meyakini jika kehidupan adalah serangkaian kejadian yang harus dilewati untuk di ambil hikmahnya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah dengan sangat sempurna. Dia yakin jika Allah tidak menjadikan suatu peristiwa di dunia ini tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti ada banyak hikmah di balik semua kejadian karena Allah adalah sebaik-baik perencana maka kita harus yakin bahwa dibalik semua kejadian apapun itu pasti ada sebuah pembelajaran.
Karena skenario kehidupan kita sudah tertulis indah, sudah Allah rencanakan sebaik mungkin maka kita harus menjalaninya dan memastikan jika di setiap lembar kita buka dengan doa dan iman.
Bismillah. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita sehingga apapun yang kita lakukan menjadi berkah dan apapun yang kita usahakan berbuah indah.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya ❤️❤️❤️
Cerita ini akan dilanjutkan di season kedua, yang akan fokus pada Siti dan Lela.
Mohon ditunggu dan terima kasih kepada kalian semua telah mampir di cerita ini.
Salam sayang dari saya😘😘
__ADS_1