Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Janda


__ADS_3

Alvian duduk di samping istrinya, menatap lekat wajah istrinya yang akhirnya bisa terlelap tidur setelah susah payah dirinya dan semua orang menenangkannya, memintanya untuk berhenti menangis dan mengikhlaskan kepergian Abah.


Dia sesekali mengecek cairan infus yang menetes sedikit kencang, sengaja dia percepat agar istrinya tetap ternutrisi sebab dia tahu persis jika tak setetes minuman atau makanan-pun yang masuk ke perutnya sedari pagi.


Alvian kembali menatap wajah Aisha, wajah yang terlihat sembab, dengan mata yang bengkak dan hidung yang memerah. Sebuah bukti jika kepergian Abah begitu amat sangat menggoncang jiwa istrinya, menjadikannya saat ini mungkin saat-saat paling buruk dalam hidupnya.


Dia lalu memegang tangan Aisha perlahan, seolah ingin mengatakan jika dirinya akan selalu ada untuknya, dia tahu sosok Abah tak akan tergantikan, kesedihan tak dapat dihilangkan namun setidaknya dia ingin mengurangi beban hati istrinya karena kehilangan.


Tiba-tiba mata Aisha terbuka, melihat sang suami yang masih dengan setia duduk di sampingnya, memegang tangannya.


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Alvian lembut.


Aisha menggelengkan kepalanya pelan. Dia hanya menggeser tubuhnya perlahan, lalu menarik tangan suaminya agar tidur di sampingnya


Alvian mengikuti kehendak istrinya, berbaring lalu memeluk erat istrinya.


Aisha menenggelamkan wajahnya di dada sang suami dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Tidurlah sayang," bisik Alvian pelan.


Aisha tak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya.


***


Keesokan harinya.


Pelayat masih berdatangan, suasana berkabung masih sangat terasa, suara riuh orang yang mengaji terdengar membahana di tempat dimana Abah di kebumikan, di belakang masjid yang menjadi areal pemakaman khusus keluarga.


Dari kamarnya yang berhadapan langsung dengan masjid, Aisha dan duduk termenung di atas tempat tidurnya melihat bagaimana banyaknya orang yang lalu lalang keluar masuk masjid untuk sekedar menziarahi dan mendoakan Abahnya.


Aisha yang termenung tersadarkan oleh suara dering ponselnya. Dia melihat jika suaminya yang menelepon.


"Aku baru saja sampai Rumah Sakit." Alvian yang terpaksa tetap harus bekerja karena ada operasi penting yang harus dilakukannya mengabarkan pada Aisha jika dirinya telah sampai di Rumah Sakit.


"Setelah operasi aku akan segera pulang, jaga dirimu baik-baik. Kumohon makanlah walaupun sedikit." Alvian sebenarnya merasa cemas meninggalkan istrinya.


"Iya," jawab Aisha pelan.


Mereka menyudahi pembicaraannya. Aisha kembali menyimpan ponselnya.


Dia kembali melihat makin ramainya orang yang berdatangan baik itu menuju masjid ataupun rumahnya, di luar kamar dia mendengar ibu dan kakak-kakaknya sibuk menyambut tamu baik itu kerabat dekat atau jauh yang datang untuk mengucapkan belasungkawa.


Tiba-tiba pintu terbuka, Aisha melihat Anita berjalan menghampirinya dengan sebuah mangkuk di tangannya.


Anita tampak tersenyum sambil duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ummi sedang sibuk menerima tamu, tapi beliau masih menyempatkan untuk membuatkan bubur untukmu lalu memintaku untuk menyuapimu."


"Jadi makanlah, jangan buat Ummi sedih karena kamu tidak memakan bubur buatannya." Anita melihat Aisha dengan penuh harap.


Aisha mengangguk sambil tersenyum.


Anita lalu menyuapi Aisha.


Aisha memaksakan diri untuk menghabiskan makanannya, dia tahu semua orang mencemaskan keadaannya, terutama sang ibu yang sebenarnya rasa kehilangannya lebih besar dari dirinya, namun dia tahu jika Ummi berusaha untuk tetap tegar demi anak-anaknya.


"Aku sudah merasa lebih baik, bisa kamu buka infusan ini," pinta Aisha setelah menghabiskan makanannya.


Anita tak langsung menjawab, dia tampak bingung.


"Sebaiknya tanyakan dulu pada suamimu. Teleponlah dulu dia, setelah dia mengizinkan aku akan membukanya."


___


Anita akan membuka infusan Aisha setelah Alvian mengizinkannya, dengan hati-hati dia membukanya agar Aisha tak merasa kesakitan.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Aisha tiba-tiba.


"Bukannya hari ini kamu dan Zaidan akan bertemu untuk Nadzar (Tahapan ta'aruf dimana seorang laki-laki boleh melihat wajah wanita yang akan dilamarnya, dilakukan sebelum Khitbah)."


"Kenapa?"


Anita tersenyum. Dia langsung melihat Aisha.


"Jika kamu pikir hanya anak-anaknya Abah saja yang merasa sedih dan kehilangan karena kepergiannya, kamu salah. Ada banyak orang yang merasakan hal yang sama termasuk itu aku."


Aisha terdiam.


"Walaupun singkat, aku merasa beruntung pernah tinggal disini dan belajar banyak dari kedua orang tuamu, merasakan kasih sayang mereka dan mengajarkanku banyak hal." Anita menunjukkan raut wajah sedihnya.


Aisha langsung memegang tangannya.


"Iya. Aku mengerti." Aisha mencoba tersenyum.


***


Aisha memeluk Ummi sehabis mereka melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, di sisi lainnya ada Maryam yang juga memeluk Ummi dengan eratnya.


Ummi mengusap kedua kepala putrinya yang sama-sama bertengger di pundaknya.


"Ummi. Seberapapun kita tahu bahwa waktu itu memang akan tiba, tapi kita tetap sangat berduka ketika kematian itu datang," ucap Aisha sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Seberapapun kita berduka nak. Ingatlah jika kita juga akan merasakannya. Jadi jadikan kematian seseorang juga peringatan untuk kita bahwa cepat atau lambat kita juga akan menyusulnya."


Tiba-tiba Lela datang menghampiri Ummi dan memberitahu jika ada mantan suami Siti datang bersama seluruh keluarga besarnya.


Ummi segera bangun dan membuka mukena. Setelah itu beliau segera pergi menemui Yusuf dan keluarganya.


Ummi yang didampingi oleh Ahmad dan Ali menerima kedatangan mereka dengan hangat. Tak lupa Ummi juga memohon maaf atas nama Almarhum suaminya jika terdapat kesalahan yang disengaja atau tidak.


Yusuf yang ternyata sudah menikah lagi membawa serta kedua istrinya, dia menanyakan Siti dan ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.


Siti datang setelah dipanggil bersama Aisha dan Lela yang mengikuti di belakangnya.


Melihat Aisha, Yusuf seolah ingin menyombongkan dirinya yang sudah menikah lagi, dia lalu memperkenalkan istri barunya dengan bangga.


Siti dan Aisha sebenarnya tak peduli, namun mereka tetap bersikap ramah mengingat niat baik mereka yang datang untuk bertakziah.


"Dek. Mas dan keluarga kesini selain untuk melayat juga dengan membawa niat baik ingin mengajak dek Siti untuk rujuk, atau lebih tepatnya kami kesini juga untuk melamar. Mas ingin kita menikah lagi." Yusuf terlihat yakin.


Siti dan seluruh keluarganya tampak kaget, terutama Aisha.


"Mas memang sudah menikah lagi, tapi Mas berjanji akan memperlakukan secara adil ketiga istri mas."


"Kedua istri mas juga sudah setuju, mereka sudah ikhlas mas menikah lagi." Yusuf menunjuk kedua istrinya.


Siti langsung melihat keduanya yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Aisha terlihat sangat geram.


Semua orang melihat Siti untuk menunggu jawaban.


"Maaf mas, Siti tidak mau," jawab Siti yakin.


"Loh kenapa? Kenapa tidak mau? Daripada hidup menjanda seperti ini? Apa tidak malu dengan omongan orang-orang?" Ibu Yusuf bersuara, terlihat kesal karena Siti terus menolak kembali pada anaknya.


"Apa salahnya menjanda?" tanya Aisha tiba-tiba.


"Saya beri tahu. Hanya dengan menyandang status janda tidak mengurangi nilai dan kualitas yang dimiliki seorang perempuan, dengan menyandang status janda tidak serta merta menjadi warga 'kelas dua' yang dipandang sebelah mata. Tidak semua janda identik dengan wanita penggoda yang haus kasih sayang. Banyak diantara mereka yang berjuang menjaga kehormatan."


"Ubah cara pikir kalian. Jangan merendahkan janda karena menjadi janda bukan cita-cita mereka, berpikirlah positif pada mereka karena bukan tidak mungkin besok atau kapanpun giliran itu tiba pada anda. Siapa yang tahu, jika Allah berkehendak." Aisha mengangkat pundaknya.


Semua orang terdiam.


"Oh iya. Kedua kakakku janda dan aku bangga, mereka terlalu istimewa dan berharga. Daripada dijadikan istri hanya untuk koleksi," ucap Aisha sambil melihat kedua istri Yusuf.


"Dan dijadikan istri tapi cari mati."

__ADS_1


__ADS_2