Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Menyembunyikan Luka


__ADS_3

Alvian berganti baju dengan terburu-buru, setelah membaca pesan istrinya jika dia menunggu di lobi Rumah Sakit, dia bergegas setengah berlari keluar dari ruangannya.


Sesampainya di lobi, Alvian kaget mendapati Aisha tengah mengobrol bersama dengan Anita. Dia menghampiri keduanya.


Melihat kedatangan Alvian, Aisha dan Anita langsung berdiri.


"Maaf. Aku ada operasi mendadak." Alvian melihat Aisha tanpa menghiraukan Anita di sampingnya.


"Tidak apa-apa." Aisha tersenyum.


Sementara Anita langsung undur diri. Setelah berpamitan pada Aisha dia pergi meninggalkan keduanya.


"Sedang apa dia bersamamu?" tanya Alvian sembari memegang tangan istrinya menuju parkiran mobil.


"Tidak ada. Dia hanya menemaniku saja."


"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Alvian yang masih ragu akan perubahan Anita.


"Banyak."


Alvian kaget. Dia langsung melihat istrinya.


"Apa?"


Aisha tersenyum.


"Bukan apa-apa. Hanya obrolan biasa saja."


"Aku takut dia mengatakan sesuatu yang tidak-tidak lagi padamu." Alvian membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Dia sudah berubah. Sebaiknya kita mendukungnya." Aisha menatap Alvian sambil kemudian masuk ke dalam mobil.


***


Untung saja, mereka tidak telat menjemput Lela, tak lama mereka sampai pesawat baru mendarat.


Aisha tampak sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan kakaknya, dia berjalan mondar-mandir sambil celingukan berharap kakaknya segera keluar.


Benar saja. Beberapa saat kemudian Lela nampak berjalan sambil melambaikan tangan pada adiknya, dengan terburu-buru dia mempercepat langkahnya ingin segera memeluk adiknya.


Akhirnya mereka bertemu dan berpelukan. Ada tangis haru kebahagiaan karena setelah sekian lama akhirnya mereka di pertemukan.


"Apa kabar kak?" tanya Aisha sambil mengusap air matanya.


"Baik Dik." Lela juga menghapus air matanya.


"Mana suami kakak?" tanya Aisha celingukan.


"Dia tidak ikut, nanti menyusul. Masih ada pekerjaan."


"Oh. Aku pikir suami kakak ikut."


Aisha lalu menggiring kakaknya untuk bertemu dengan suaminya. Dia memperkenalkan Alvian pada kakaknya.


"Maaf. Di pernikahan kalian kakak tidak hadir tapi alhamdulillah akhirnya sekarang kita dipertemukan," ucap Lela pada Alvian.


Alvian tersenyum.


"Kakak. Mana koper kakak?" Aisha heran melihat kakaknya tidak membawa apapun.


"Kakak tidak banyak bawa barang, jadi tidak pakai koper, hanya tas ini saja." Lela menunjuk tas kecil di sampingnya.


Aisha dan Alvian terlihat heran, tapi mereka tak lantas banyak bertanya lagi, keduanya lalu mengajak Lela untuk segera pulang.


Sepanjang perjalanan, Aisha terus berceloteh menceritakan kabar keluarga besar mereka, termasuk cerita tentang kesehatan Abah juga Siti yang memutuskan untuk bercerai dari suaminya.


Lela yang selama ini hanya mendengar selintas dari percakapan lewat telepon saja hanya tampak mendengar sambil sesekali bertanya.

__ADS_1


"Oh iya kak. Kakak bawa baju sedikit, apa kakak tidak akan lama disini?"


Lela terdiam sejenak.


"Iya dik." jawabnya kemudian.


"Sayang sekali. Padahal aku pikir kakak akan lama disini."


Alvian melirik kakak iparnya lewat kaca, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Walaupun ini kali pertama mereka bertemu tapi dirinya merasa jika kakak iparnya mempunyai sesuatu yang disembunyikan.


Akhirnya mereka sampai di apartemen. Aisha langsung meminta kakaknya itu masuk ke kamar untuk istirahat.


"Oh iya kak. Sekarang aku boleh kan telepon Ummi mengatakan jika kakak sudah ada disini."


Lela terlihat kaget.


"Jangan. Jangan telepon Ummi dulu."


"Kenapa kak?"


"Nanti saja. Biar kakak sendiri yang memberitahu Ummi."


Aisha melihat gelagat aneh kakaknya.


"Baiklah."


Aisha lantas meninggalkan kakaknya di dalam kamar. Dia lalu berjalan menuju kamarnya dengan setengah termenung.


Sesampainya di kamar, Aisha membuka jilbabnya.


Dia lalu duduk di atas tempat tidur. Dia yang masih termenung tersadarkan oleh rasa sakit di perutnya.


Aisha memegang luka bekas operasi yang sedari tadi terasa sakit.


"Ada apa?" tanya Alvian yang baru keluar dari kamar mandi heran melihat istrinya memegang perutnya.


"Perutku sedikit sakit. Mungkin karena tadi banyak bergerak."


"Berbaringlah. Aku akan lihat lukanya." Alvian terlihat cemas.


Aisha dengan dibantu oleh suaminya membaringkan tubuhnya.


Alvian menyingkap baju gamis istrinya, meskipun dengan sedikit ragu dia perlahan-lahan membuka baju istrinya.


Setelah bagian perutnya terbuka, Alvian lalu memeriksa lukanya. Dia merasa lega melihat luka bekas sayatan operasi itu baik-baik saja.


"Syukurlah lukanya baik-baik saja. Malah sudah kering. Tapi kita tidak tahu di dalamnya. Karena itu aku sering bilang jika sebaiknya kamu harus lebih banyak beristirahat." Alvian kembali menutup perut istrinya.


Aisha tampak akan bangun, tapi suaminya menahannya. Dia malah membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


Alvian memeluk erat istrinya.


"Seharusnya aku kembali ke rumah sakit sekarang," bisik Alvian pelan.


"Kalau begitu pergilah."


"Tidak mau." Alvian mengeratkan pelukannya.


Aisha melepas tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Pergilah. Orang-orang membutuhkanmu di rumah sakit."


"Apa kamu tidak membutuhkanku?" Alvian kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Aisha.


"Untuk saat ini belum."


"Untuk saat ini? Jadi kapan saatnya kamu membutuhkanku?"

__ADS_1


"Nanti. Disaat di dalam perut ini sudah ada anak kita." Aisha membimbing tangan suaminya untuk memegang perutnya.


Alvian tersenyum.


"Disaat itu. Aku akan sangat membutuhkanmu. Jika saat itu tiba, sering-seringlah untuk menemaniku."


Alvian mendongakkan kepalanya melihat Aisha.


"Aku ingin saat itu segera tiba." Dia menatap wajah istrinya


Dengan lembut Alvian lalu membelai wajah istrinya, hingga tangannya tiba-tiba terhenti di bibir sang istri yang begitu menggodanya, dia lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat.


Walaupun sedikit takut Aisha nampaknya sudah siap dengan apa yang akan dilakukan suaminya.


Aisha memejamkan mata ketika tahu jika Alvian hendak menciumnya.


"Aduh," jerit Aisha pelan ketika dirasanya siku Alvian terlalu menekan perutnya.


Alvian yang kaget langsung bangkit. Dia menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku. Apa sakit?" Alvian panik sambil memegang perut istrinya.


Aisha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Maaf," ucapnya lagi salah tingkah sambil berdiri.


"Sekarang aku tahu kenapa aku harus sembuh total dulu," jawab Aisha sambil menahan senyum.


Alvian ikut tersenyum melihat istrinya.


***


Malam hari.


Aisha selesai memasak, dia mengetuk pintu kamar kakaknya untuk mengajaknya makan.


"Iya dik. Sebentar."


Aisha membuka pintu, melihat kakaknya yang membelakanginya tengah sibuk memakai hijab dan niqobnya.


"Kakak, tidak usah memakai cadar, suamiku tidak ada, hanya ada kita berdua." Aisha menghampiri kakaknya.


Tapi sepertinya kakaknya tak menghiraukannya, dia tetap sibuk memakai cadar membelakanginya.


Aisha merasa heran.


"Kakak." Aisha membalikkan paksa tubuh kakaknya.


Dia langsung menutup mulutnya dan beristighfar.


Wajah kakaknya penuh dengan lebam berwarna biru, bahkan sudut bibirnya bengkak dengan luka sobek yang kecil.


Aisha terus menatap wajah kakaknya dengan syok.


"Kakak." Aisha lalu memeluk kakaknya sambil berderai air mata.


Lela diam terpaku. Air mata juga mengalir dari kedua sudut matanya.


"Di balik cadar, kita menutup aurat dari pandangan orang-orang yang tak berhak, tapi di balik cadar juga ternyata ada luka yang kakak coba tutupi."


"Aku tak akan mengampuni siapapun orang yang telah melakukan ini pada kakakku."


Aisha melepaskan pelukannya. Melihat kakaknya tajam.


"Suami kakak yang melakukannya kan?"


Lela mengangguk pelan.

__ADS_1


Aisha kembali memeluknya.


"Dia tidak seperti yang Abah dan orang-orang pikirkan," ucap Lela lirih.


__ADS_2