Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Ijab lagi


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini?" Ibu yang datang kaget melihat Anita berada di dalam ruangan.


Anita yang juga kaget langsung berdiri.


"Apa lagi yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Ibu lagi dengan marah sembari menghampiri Anita semakin dekat.


"Ibu..." Aisha memanggil mertuanya.


"Dokter Anita kesini ingin meminta maaf."


Ibu kaget. Dia melihat Anita yang menunduk.


"Meminta maaf?"


"Iya Ibu. Dokter Anita sudah menyadari semua kesalahannya."


Ibu menatap Anita.


"Ibu harap dokter ini meminta maaf dengan tulus dan berjanji tak akan mengganggumu dan Alvian lagi."


Anita langsung mengangkat wajahnya.


"Aku tulus. Aku minta maaf pada kalian dengan tulus. Aku janji mulai saat ini aku tak akan mengganggu kalian lagi." Anita berkata sambil menunduk, seolah tak berani untuk sekedar menatap wajah ibu di depannya.


"Syukurlah kalau begitu," jawab Ibu sambil menghampiri Aisha.


Anita menghampiri Aisha.


"Aisha. Terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan semua kesalahanku padamu. Tolong sampaikan juga pada Alvian, aku tidak bisa meminta maaf padanya langsung karena dia sama sekali tidak mau berbicara denganku."


Aisha mengangguk.


"Aku permisi." Anita melihat Aisha dan ibu bergantian.


Keduanya lalu melihat Anita berjalan meninggalkan ruangan.


Ibu terlihat bahagia. Dia melihat menantunya dengan senang.


"Ibu sangat senang. Akhirnya tidak akan ada yang mengganggu pernikahan kalian lagi."


Aisha mengangguk pelan sambil tersenyum.


***


"Kamu beruntung karena Abah kembali mempercayaimu dengan kembali menyerahkan Aisha padamu lagi. Mengingat semua yang telah kamu lakukan pada putrinya." Ayah melihat putranya.


"Iya Ayah. Aku tahu itu," jawab Alvian pelan.


"Seandainya Ayah mempunyai seorang putri, lalu dia disakiti seperti caramu menyakiti Aisha. Ayah mungkin tak akan pernah memaafkannya."


Alvian menundukkan kepalanya.


"Jangan pernah mengulangi kesalahanmu. Kini saatnya kamu memperbaiki semuanya. Perlakukan istrimu dengan baik. Bahagiakan dia dan jangan pernah menyakitinya lagi."


Alvian mengangguk.

__ADS_1


"Ayah pikir sebaiknya kamu melakukan ijab kabul lagi, itu lebih baik, agar bisa memperjelas hubungan pernikahan kalian."


"Aku memang berniat seperti itu. Setelah Aisha sehat nanti aku akan membawanya pulang ke pondok dan mengutarakan keinginanku pada Abah untuk kembali melakukan ijab kabul lagi."


***


Keesokan harinya Aisha sudah bisa pulang ke rumah, dengan dibantu oleh Ibu, Aisha yang kini sudah nampak sangat sehat berkemas membereskan barang-barangnya.


Setelah selesai Alvian segera membawa istrinya untuk pulang.


Sesampainya di apartemen Alvian langsung meminta Aisha untuk beristirahat di kamar.


Sementara ibu nampak mempersiapkan makanan untuk menantunya, ibu membuatkan bubur karena untuk sementara Aisha hanya bisa memakan itu.


Di dalam kamar.


Alvian yang baru masuk kamar, mengetuk pintu kamar mandi karena merasa Aisha sudah terlalu lama di dalam sana.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya. Tapi.."


"Apa?" Alvian terlihat khawatir.


"Aku lupa membawa baju ganti," jawab Aisha ragu.


Alvian tersenyum, dia lalu melirik sekeliling dan melihat baju ganti yang sudah Aisha persiapkan tadi ada di atas tempat tidur.


Alvian akan mengambilnya, namun tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi terbuka.


Aisha berjalan mendahului suaminya dan mengambil bajunya di atas kasur.


Alvian hanya termenung saja, melihat pemandangan yang menggetarkan hatinya.


Aisha kembali ke kamar mandi, sementara Alvian langsung keluar kamar dengan jantung yang masih berdetak kencang.


"Kenapa dia terus melupakan bajunya?" Alvian mengoceh sendiri.


***


"Aku ingin melakukan ijab kabul lagi," ucap Alvian melihat istrinya.


Aisha langsung melihat suaminya.


"Sepertinya itu memang lebih baik," jawab Aisha.


"Besok," ucap Alvian cepat.


Aisha kaget.


"Apa kamu kuat jika besok kita pulang ke Pondok?"


Aisha hanya mengangguk.


"Aku ingin tidak ada keragu-raguan dalam melihat dan menyentuhmu," ucap Alvian lagi.

__ADS_1


Aisha terdiam.


***


Abah dan seluruh keluarga besarnya menyambut dengan senang kedatangan Aisha dan suaminya beserta orang tua Alvian yang turut serta.


Mereka tampak bersyukur melihat Aisha yang tampak sudah pulih dengan cepat dari sakitnya.


Rupanya maksud kedatangan mereka sudah Abah ketahui, Abah juga sudah mempersiapkan semuanya, sehingga tanpa banyak bertanya Abah langsung meminta Alvian untuk duduk di depannya.


Dengan banyaknya saksi, baik itu keluarga dan para santri, Alvian kembali mengucapkan ijab kabul lagi. Untuk ijab kabul ini, Alvian merasa berbeda, tentu saja karena ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan hati, dengan ikhlas dan dengan cinta, tanpa ada paksaan seperti sebelumnya.


Setelah itu Abah kemudian menasihati dan memberikan wejangannya. Berharap jika kedepannya rumah tangga keduanya akan baik-baik saja.


Aisha tampak sangat bahagia, begitu juga dengan kedua orang tua juga saudara-saudaranya.


"Selamat ya dik. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Zainab memeluk adiknya sambil menahan tangisnya.


Begitu juga dengan Siti dan kakak-kakak iparnya.


***


"Ummi. Ibu ingin Aisha menginap di rumahnya."


"Tentu saja nak. Tidak apa-apa, tidur saja di rumah mertuamu."


"Maaf Umm. Sebenarnya aku ingin sekali tidur disini malam ini, karena besok aku harus pulang lagi ke kota."


"Jangan begitu, sama saja karena itu juga rumahmu, mereka juga orang tuamu."


Akhirnya Aisha menginap di rumah mertuanya.


Malam hari.


Alvian sedang melamun di balkon, tempat yang menjadi favoritnya jika dia sedang berada di rumah ini.


Dia lalu melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup, berpikir jika Aisha tak jua kunjung keluar dari sana.


Alvian kembali memikirkan banyak hal, terutama tentang hubungannya dengan istrinya, dia merasa senang karena sekarang tidak ada masalah lagi dalam pernikahannya.


Menurut Aisha, Anita sudah minta maaf padanya dan berjanji tak akan lagi mengganggunya, sehingga dia sangat berharap jika mantan kekasihnya itu sungguh-sungguh dengan ucapan dan permintaan maafnya.


Kini. Alvian juga berjanji dalam hatinya jika mulai saat ini dia akan membahagiakan dan tak akan pernah menyakiti Aisha lagi.


Alvian terus melamun hingga tiba-tiba dia dikagetkan oleh kehadiran Aisha di belakangnya.


Alvian semakin dibuat kaget ketika membalikkan tubuhnya melihat Aisha berpakaian lingerie transparan di depannya.


Alvian terkesima, napasnya seolah berhenti seketika. Melihat istrinya seperti bidadari yang memiliki kecantikan paripurna, Aisha tampak sangat berbeda. Sangat cantik dan menggoda.


Rambut panjangnya yang hitam dibiarkan tergerai begitu saja melambai-lambai terbawa angin malam, kulitnya tampak putih bersinar di bawah sinar rembulan. Wajahnya memancarkan kecantikan alami walaupun dia tahu tak ada sedikitpun polesan make up disana.


Aisha berjalan menghampirinya semakin dekat, membuat jantungnya semakin berdegup kencang.


"Seperti katamu, aku akan datang sendiri dengan membawa seluruh hak-mu pada tubuh ini."

__ADS_1


__ADS_2