
Seketika ketiga wanita yang akan memasuki mobilnya langsung berbalik melihat Aisha lagi.
Salah seorang diantara mereka lalu tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan sok alim dan sok suci. Jangan sibuk mengurusi kami, urus saja dirimu sendiri."
Aisha juga tersenyum.
"Kenapa aku harus sibuk mengurusi kalian? Aku hanya ingin memberi tahu jika surga masih menerima orang-orang yang bertaubat."
Aisha membalikkan badannya diikuti oleh kedua kakaknya.
Wanita tadi terlihat geram, tampak ingin mengatakan sesuatu lagi tapi kedua temannya menahannya dan mengajaknya untuk segera memasuki mobil.
Ketiganya lalu pergi dari sana.
***
Ibu mertua Aisha yang baru saja datang setelah diberitahu oleh Aisha langsung memeluk Andre ketika keponakannya itu baru saja memasuki rumah berjalan dengan tertatih menggunakan tongkatnya.
"Kenapa kalian tidak memberitahu kami tentang kecelakaan itu?" Ayah melihat Alvian dan Andre bergantian.
"Andre melarangku memberitahu kalian."
Andre hanya tersenyum-senyum saja.
Mereka semua lantas dipersilahkan duduk oleh Ummi.
Ayah dan Ibu tampak terharu mendengarkan penuturan Alvian yang menceritakan tentang Andre yang ingin hijrah selepas kecelakaan yang menimpanya.
"Alhamdulillah. Akhirnya Andre kita kembali lagi yah," ucap Ibu dengan penuh rasa syukur melihat suaminya.
Ayah juga mengangguk senang.
Andre tertunduk merasa malu, dia kini menyadari jika dirinya telah amat tersesat hingga hijrahnya menjadi sesuatu yang sangat disyukuri oleh orang-orang di sekitarnya.
"Maafkan aku. Paman. Bibi." Andre melihat keduanya bergantian dengan wajahnya yang sendu.
"Aku telah melupakan semua ajaran dan didikan kalian yang telah mengurusku semenjak kedua orang tuaku meninggal. Bukannya balas budi, aku malah menyusahkan kalian dengan semua kelakuanku." Andre tertunduk malu.
"Tidak apa-apa Nak. Yang paling penting sekarang kamu sudah menyadari semua kesalahanmu, dan kamu ingin memperbaiki semuanya. Bibi bangga padamu." Ibu mengusap lembut punggung keponakannya.
"Tak sedikit orang yang terjerumus akan kenikmatan dunia yang sebenarnya hanya sesaat saja, bersyukur kamu segera menyadarinya dan tidak teperdaya terlalu lama." Ayah menepuk-nepuk pundak Andre.
Andre langsung menangis, di pelukan sang bibi dia menangis menyesali perbuatannya.
Semua orang yang ada disana hanya terdiam.
Beberapa saat kemudian tamu yang ditunggu akhirnya datang.
Lelaki yang dipilihkan Ahmad dan Ummi untuk Siti datang bersama kedua orang tuanya.
Ayah dan ibu yang tadinya akan pulang, tertahan karena rupanya calon mertua Siti adalah teman baik ayah dulu, ketika mereka tak sengaja bertemu, keduanya langsung berpelukan dengan senang.
Ayah akhirnya ikut nimbrung di acara perkenalan dua keluarga itu, begitu juga dengan Ibu.
"Kami bertiga dulu sahabat dekat," ucap Ayah sambil mengingat kebersamaan mereka dahulu dengan Almarhum Abah.
"Karena itulah kami memilih putra anda, karena tahu jika anda adalah sahabat baik almarhum ayahanda kami." Ahmad melihat pak Yasid.
Pak Yasid mengangguk sambil tersenyum.
Setelah berbasa-basi sejenak, perbincangan kemudian berlanjut pada inti dari diadakannya pertemuan dua keluarga itu.
"Saya harap perjodohan putra-putri kita berjalan lancar," ucap Pak Yasid sambil melihat Ummi sekeluarga.
__ADS_1
Semuanya mengaminkan.
"Mohon maaf sebelumnya. Kami ingin agar kita tidak terburu-buru. Kami sekeluarga ingin agar keduanya bertaaruf lebih dahulu," ucap Ahmad.
"Iya. Biarkan keduanya saling mengenal satu sama lain, setelah itu, kita akan serahkan keputusannya pada mereka berdua." Ummi bersuara.
Pak Yasid tampak termenung.
"Saya pikir kita sudah setuju untuk langsung menikahkan keduanya tanpa harus bertaaruf terlebih dahulu."
Ahmad dan Ummi langsung saling berpandangan.
"Maaf. Seperti yang sudah kami beritahu, adik saya telah sekali mengalami kegagalan dalam rumah tangganya, mungkin bertaaruf lebih baik dilakukan agar keduanya bisa jauh lebih mengenal satu sama lain, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya."
Pak Yasid melihat istri dan anaknya. Melihat anaknya menganggukkan kepala, membuatnya lantas menyetujui ide untuk bertaaruf terlebih dahulu.
"Namun ada yang ingin saya sampaikan disini terlebih dahulu," ucap Pak Yasid melihat Ahmad dan adik-adiknya.
"Setelah menikah nanti, mungkin sebaiknya anak saya dan istrinya tetap tinggal disini."
Siti langsung terlihat senang, begitu juga dengan Ummi dan yang lainnya.
"Anak saya lulusan perguruan tinggi agama Islam, dia bisa membantu mengajar disini."
"Alhamdulillah. Itu ide yang bagus." Ahmad merasa senang.
"Saya ingin anak saya juga masuk dalam manajemen kepengurusan Pondok Pesantren ini."
"Manajemen kepengurusan?" tanya Ahmad heran.
"Iya kalau bisa anak saya yang menjadi pimpinan pondok pesantren ini."
Semua orang merasa heran.
Pak Yasid tertawa.
Semua orang kaget.
Ahmad lalu teringat akan perkataan ayahnya jika tanah tempat berdirinya pondok pesantren memang adalah tanah wakaf dari seseorang. Tapi dia baru tahu jika Pak Yasid-lah orangnya.
"Tanya saja Pak Daud ini, beliau saksinya jika sebenarnya ini adalah tanah keluarga saya yang saya wakafkan dulu pada Abah kalian."
Ayah yang sebenarnya kaget tidak langsung menjawab.
"Kamu ingat kan jika tanah seluas lima hektar ini adalah tanah keluargaku?"
Ayah melihat pak Yasid.
"Itu memang benar. Tanah tempat dibangunnya pondok pesantren ini adalah pemberian dari almarhum ayahmu."
Pak Yasid tertawa.
"Jadi wajar jika sekarang aku juga ingin mendapatkan keuntungan dari Pondok Pesantren ini."
"Keuntungan?" Ahmad dan adik-adiknya tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Iya keuntungan. Jangan katakan jika kalian sama sekali tak mendapatkan keuntungan dari pesantren ini."
Ahmad menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu juga dengan adik-adiknya yang lain.
"Saya mengerti maksud anda sekarang." Ali bersuara.
"Anda ingin menikahkan putra anda dengan adik kami agar putra anda bisa mengambil alih kepengurusan dari Pondok Pesantren ini."
Pak Yasid mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya kami semua tidak merasa keberatan, bahkan kami akan merasa senang jika putra anda ingin membantu mengajari para santri disini, atau bahkan menjadi pimpinan pesantren ini pun sungguh kami sama sekali tak keberatan."
"Tapi ketika anda mengatakan 'keuntungan', kami semua merasa heran. Apa maksud dari keuntungan itu?"
Pak Yasid tertawa.
"Jangan katakan jika selama mengurus pondok pesantren ini kalian sama sekali tak mendapatkan untung."
Aisha yang sudah sangat kesal ingin mengatakan sesuatu tapi Ummi menahannya, Ummi tidak ingin Aisha mengeluarkan perkataan yang pasti akan memperkeruh suasana.
"Saya lihat santri disini banyak sekali, pondok pesantren ini bahkan sudah terkenal kemana-mana. Pasti keuntungan yang kalian dapatkan banyak sekali."
"Maaf pak. Kami sekeluarga tidak menjadikan pondok pesantren ini sebagai lahan bisnis." Ridwan kini yang bersuara.
"Asal bapak tahu jika kebanyakan santri disini adalah santri yang tidak mampu, mereka tinggal disini untuk belajar bahkan dengan gratis," ucap Ridwan lagi menjelaskan.
Pak Yasid tersenyum sinis.
Ahmad kemudian menjelaskan jika tak ada sama sekali keuntungan yang keluarganya peroleh dari pondok pesantren yang dibangun oleh ayah mereka, dari dulu hanya sebagian santri yang mampu membayar biaya mondok disana, selebihnya tinggal dan belajar dengan gratis, mereka bisa makan karena sebagian tanah wakaf itu oleh para santri dijadikan lahan persawahan dan ladang untuk bercocok tanam, selain untuk dimakan sendiri, hasilnya sebagian mereka jual untuk membiayai keperluan para Santri lainnya.
"Kami juga banyak mendapatkan santunan dari para pengusaha atau para alumni yang sudah sukses dan ingin membantu tapi semuanya kami pergunakan untuk kesejahteraan para santri disini."
Pak Yasid terdiam sejenak.
"Kalau begitu jika anakku menjadi pimpinan pondok pesantren nanti, kita ubah peraturannya. Semua santri wajib membayar iuran. Itu hal yang lumrah sekarang, demi ilmu agama orang tua tak akan segan-segan mengeluarkan uang untuk anaknya."
Siti yang sedari tadi terdiam merasa sudah sangat jengkel.
"Ummi. Kakak. Siti memutuskan tidak mau menikah dengannya." Siti berdiri.
Pak Yasid kaget, dia dan anaknya ikut berdiri.
Semua orang lantas berdiri juga.
"Kenapa? Apa kalian takut kami mengambil alih keuntungan kalian?" Pak Yasid melihat Siti dengan marah.
"Baiklah kalau begitu, saya juga memutuskan untuk mengambil kembali semua tanah keluarga saya ini. Asal kalian tahu jika semua sertifikat tanah ini masih ada pada saya."
Semua orang kaget.
Ayah melihat sahabat lamanya dengan penuh kemarahan, dia tidak percaya jika sahabatnya itu bisa melakukan hal demikian.
"Jika dijual saya yakin jika tanah ini akan laku paling tidak 10 milyaran."
"Saya akan membelinya 12 milyar." Andre yang sedari tadi duduk di ruang keluarga berjalan santai menghampiri semuanya.
Semua orang melihatnya. Mencari tongkatnya.
"Berikan sertifikat tanah ini dan saya akan membayar anda 12 milyar." Andre berbicara dengan santai setengah tersenyum.
Pak Yasid langsung mengangguk kesenangan. Dia dan juga anak dan istrinya langsung pergi meninggalkan semuanya.
Sementara semua orang masih melihat Andre heran. Selain karena perkataannya juga kakinya yang tiba-tiba sembuh.
"Kemana tongkatmu?" tanya Alvian tiba-tiba.
Andre langsung melihat kakinya dia membelalakkan matanya sambil kemudiaan jatuh terduduk sambil mengaduh kesakitan memegang kakinya.
Beberapa orang menahan tawanya.
"Kamu lupa kakimu sakit ya?" tanya Alvian juga menahan tawa sambil berjongkok melihat kaki saudaranya.
"Bukan."
"Terus?" tanya Alvian melihat wajah Andre yang meringis dan hampir menangis.
__ADS_1
Andre mendekati telinga Alvian. Berbisik.
"Aku miskin sekarang."