Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Tersedak.


__ADS_3

Seketika hening sejenak.


Ketiga kakak laki-laki Aisha sesekali melirik Ammar dengan geram, penuh kekecewaan dan kebencian


Sementara Abah yang sedari tadi menunduk, memberanikan diri melihat Lela yang duduk di samping istrinya. Abah menatap putrinya nanar, matanya berkaca-kaca.


"Nak. Bagaimana keadaanmu?" tanya Abah dengan suara bergetar.


Lela yang menunduk langsung melihat ayahnya, menatap wajah Abah yang memancarkan aura kesedihan yang rasa bersalah yang teramat dalam.


Lela langsung menundukkan wajahnya, seakan tak sanggup lagi baginya melihat kesedihan di wajah sang ayah.


"Lela baik-baik saja Abah." Lela berusaha menahan tangisnya.


Ummi langsung memeluk putrinya, sementara Abah kembali menundukkan kepalanya, tak ada yang tahu jika beberapa tetes air mata keluar matanya.


Melihat kejadian itu hati Aisha pilu, dia tahu persis apa yang sedang dirasakan oleh sang ayah, begitu juga oleh kakaknya.


Kak Ahmad melihat Alvian.


"Bagaimana perkembangan kasusnya?"


"Sedang di proses, ada pengacara yang mengurusnya," jawab Alvian.


Ahmad langsung melihat Ammar dan kedua orang tuanya.


"Kalian ingin kami mencabut laporan penganiayaan ini?"


Mereka tak segera menjawab. Terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Masa depan anak kami akan hancur jika dia masuk penjara," ucap Ibu Ammar memberanikan diri.


"Jadi kami mohon pengampunan kepada kalian semua, maafkan anak kami, janganlah kalian menjebloskannya ke dalam penjara." Ibu Ammar menangis.


"Kami akan melakukan apapun asal kalian mencabut laporan pada polisi." Kali ini Ayah Ammar yang bersuara.


"Jadi kalian ingin dia tak mendapatkan hukuman apapun setelah apa yang telah dia perbuat pada adik kami?" Ali melihat keduanya geram.


"Maaf. Jika seperti itu, maka putra anda tak akan mengalami jera, dia akan membuat kesalahan lagi karena tahu ada kalian kedua orang tuanya yang akan membela dan melindunginya seperti ini." Ridwan tersenyum sinis.


Lagi-lagi Ammar dan kedua orang tuanya dibuat tak berkutik.


Abah lalu melihat besannya.


"Kami akan tetap melanjutkan kasus ini." Abah berbicara dengan yakin.


Aisha dan semua kakak-kakaknya terlihat senang, mereka bersyukur Abah mengambil keputusan yang tepat.


Lain halnya dengan Ammar dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Percayalah. Ini juga demi untuk kebaikannya di masa depan." Abah kembali melihat besannya.


Ayah Ammar terpaku sejenak, dia lalu melihat istrinya yang kembali menangis mendengar keputusan sang besan.


Abah kemudian melihat Ammar.


"Entah apa yang sudah putri saya lakukan hingga kamu memukulinya seperti itu, tapi sebagai ayahnya sudah pasti saya marah dan kecewa. Saya benar-benar tak menyangka kamu akan melakukan hal ini mengingat dalamnya ilmu agama yang kamu miliki."


"Maafkan saya," ucap Ammar pelan, sambil menunduk, tak berani menampakkan muka.


"Kami mungkin akan memaafkan semua kesalahanmu, tapi proses hukum akan terus berlanjut, begitu juga dengan proses perceraian," ucap Ahmad.


***


Ummi semakin berderai air mata ketika Lela perlahan membuka cadarnya, walaupun sudah agak pudar, namun luka lebam masih terlihat di wajahnya.


"Maafkan Ummi dan Abah nak," ucap Ummi membelai wajah putrinya.


"Tidak Ummi. Ini bukan salah kalian." Lela memeluk ibunya.


"Ini kesalahan kami. Kami sudah salah memilihkan laki-laki untukmu," ucap Ummi lagi terisak.


Sementara di ruang tamu.


Alvian dengan ragu memperlihatkan hasil visum yang diminta Abah. Sebenarnya dia tak ingin ayah mertuanya melihat hasil visum kakak iparnya, tapi karena ayah bersikeras dia terpaksa memperlihatkannya walaupun dia tahu jika dengan melihatnya hati ayah mertuanya sudah pasti akan sangat sedih dan semakin merasa bersalah.


Sama halnya dengan suaminya, Aisha juga sebenarnya tidak ingin ayahnya melihat hasil visum itu.


"Tidak apa-apa Nak."


Hati Abah pilu ketika dia melihat satu-persatu foto hasil visum Lela yang dipegangnya, matanya kembali tergenang ketika ia turut merasakan rasa sakit yang sudah dialami putrinya.


Hingga akhirnya Abah tak sanggup lagi, dia menyimpan foto itu kembali. Kini giliran ketiga kakak Aisha yang mengambil dan melihatnya, dengan perasaan yang sama ketiganya merasa iba, membayangkan penderitaan yang telah adik mereka rasa.


Melihat kesedihan sang ayah, Aisha yang sedari tadi duduk di samping Abah langsung memeluknya.


Abah mengusap lembut kepala putrinya. Sampai dia tak tahan lagi hingga akhirnya Abah menangis terisak di pelukan putrinya.


Aisha semakin memeluk erat ayahnya.


"Jangan menangis Abah. Abah adalah sumber kekuatan di tengah kelemahan ini. Sumber harapan di tengah keputusasaan kami, juga sumber kebahagiaan di tengah kesedihan ini."


"Bagaimana Abah tidak menangis Nak. Abah sudah menjerumuskan putri-putri kesayangan Abah ke dalam penderitaan." Abah tersedu-sedu.


"Bukan salah Abah. Ini semua karena Allah sayang kepada kami. Bukankah kata Abah jika seseorang itu diuji, itu adalah indikasi jika Allah sedang menaikkan derajatnya lebih tinggi. Allah memberikan ujian untuk menguatkan hati, menaikkan derajat lebih tinggi, memberikan rasa sabar dan ikhlas lebih banyak di hati," ucap Aisha sambil menatap wajah ayahnya.


Abah langsung menghentikan tangisnya.


"Kamu benar Nak. Naluri Abah sebagai orang tua membuat ayah lupa jika kalian bukan hanya anak Abah, tapi juga makhluk Allah yang pasti diuji dan dicoba, tidak ada manusia, siapapun di dunia ini yang tak mengalaminya."

__ADS_1


Aisha mengangguk tersenyum sambil kemudian menyeka air mata ayahnya.


***


Lela memeluk Abah.


Dengan penuh kasih sayang Abah mengusap lembut kepala putrinya.


"Mari kita pulang nak," ucap Abah dengan lembut.


Lela menganggukkan kepalanya. Dia lalu melepaskan pelukannya, menatap wajah ayahnya.


Abah berusaha untuk tersenyum.


"Seperti kak Siti, Allah mengembalikanmu pada Abah, kembali dalam naungan dan perlindungan Abah lagi, rupanya Allah masih ingin memperpanjang masa kebersamaan Abah dengan para bidadari shalihah Abah."


Lela tersenyum.


Beberapa saat kemudian.


"Terima kasih Nak. Sudah mengurus dan merawat kakakmu dengan baik," ucap Abah sambil memeluk Aisha dan Alvian bersamaan saat berpamitan untuk pulang.


"Semoga Allah membalas perbuatan baik kalian, dan semoga Allah memberikan Rahmat dan karunia-Nya untuk rumah tangga kalian."


"Semoga kalian selalu hidup rukun, saling menyayangi dan mencintai." Abah mempersatukan kedua tangan Aisha dan suaminya.


Semua orang mengaminkan.


***


Malam hari.


Alvian tersedak ketika sedang minum melihat Aisha keluar kamar dengan baju tidur minim dan seksinya. Baju yang tiga hari ini istrinya absen gunakan karena kehadiran sang kakak di rumah mereka.


Dia terus terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya berkali-kali.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Aisha heran.


Bukannya mereda, batuknya justru semakin menjadi mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut sang istri.


Alvian terlihat kepayahan menghentikan batuknya, dengan dibantu oleh Aisha yang terus menepuk-nepuk pelan punggung suaminya.


Akhirnya tak berapa lama batuknya sedikit mereda.


"Kenapa?" tanya Aisha sambil memberikannya segelas air agar bisa betul-betul meredakan batuk suaminya.


"Kenapa masih tanya, sudah pasti kaget karena melihatmu seperti ini." Alvian melirik istrinya sambil akan minum air pemberiannya.


"Katanya malam ini aku harus bersiap-siap."

__ADS_1


Alvian kembali tersedak.


__ADS_2