Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Kemuliaan Wanita


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Akhirnya tanpa menunggu terlalu lama, apa yang di inginkan Alvian dan istrinya mengenai rumah impian mereka bisa terwujud. Kini mereka telah memiliki hunian baru yang nyaman sesuain keinginan mereka selama ini. Setelah beberapa hari ditinggali, untuk mengucapkan rasa syukurnya atas nikmat Allah, hari ini mereka mengadakan acara syukuran sederhana. Kedua keluarga besar keduanya turut hadir untuk mendoakan, selain Abah dan Ummi, hampir kesemua kakak Aisha juga datang, tak ketinggalan juga dengan Anita yang kini sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.


Acara yang juga mengikutsertakan anak-anak yatim dari sebuah yayasan itu berjalan dengan khidmat, setelah pengajian selesai semuanya dipersilahkan untuk menikmati sajian makanan yang telah di siapkan sambil bercengkrama bersama.


"Semoga secepatnya kalian juga segera diberikan kepercayaan untuk segera mempunyai momongan." Ibu mengusap punggung Aisha dengan pelan.


Semua orang mengaminkan, karena sebenarnya mereka memang juga sudah cukup lama menunggu kabar baik dari keduanya.


Aisha dan Alvian hanya tersenyum dan meminta doa dari semuanya.


Beberapa saat kemudian.


Zaidan yang juga diundang ternyata datang terlambat, karena kesibukannya karena kini telah bekerja di sebuah lembaga keagamaan milik pemerintah menjadikannya tidak bisa datang tepat waktu.


"Tidak apa-apa. Kami mengerti. Nak Zaidan sangat sibuk bekerja demi syi'ar agama." Abah tampak sangat bangga padanya. Bagaimana tidak, dia tahu persis bagaimana penolong putrinya itu walaupun sudah bekerja akan tetapi tetap meluangkan waktu dia akhir pekannya untuk tetap datang ke pesantrennya demi mengajari para santri.


Sementara Anita, yang melihat kedatangan Zaidan langsung bersembunyi, dia pergi ke dapur tidak berani menampakkan diri, entah mengapa dia merasa malu jika bertemu dengannya karena mengingat kejadian dulu, dimana dia masih membuka aurat di hadapannya.


Namun Zaidan yang terlanjur melihatnya hanya tersenyum saja, dari pertemuan terakhir mereka sebulan yang lalu, dia tahu jika Anita ingin menghindarinya.


Acara telah selesai, Abah dan Ummi juga yang lainnya telah kembali pulang, terkecuali dengan Anita yang tidak ikut serta karena akan pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Setelah membantu Aisha membereskan rumah dan dapur, Anita berpamitan padanya untuk pulang.


"Hati-hati ya." Aisha memeluk Anita.


Anita berjalan ke luar gerbang rumah, dimana mobilnya di parkir disana, dia berjalan sambil mencoba mencari kunci kendaraannya di dalam tas hingga ketika dia mengangkat kepalanya, kaget melihat Zaidan yang sedang berjongkok melihat-lihat ban mobilnya.


Zaidan pun kaget melihat Anita yang sudah berdiri di depannya.


Dia segera berdiri.


Anita langsung menundukkan wajahnya.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab Anita pelan.


"Ban mobilku kempes," ucap Zaidan melihat ban mobilnya.


"Oh," jawab Anita sambil melangkah menuju mobilnya. Dia membuka pintu mobil. Namun kemudian di tertegun sejenak.


"Maaf. Aku tak bisa memberikan tumpangan," ucapnya sambil membelakangi Zaidan.


Zaidan tersenyum.


"Tidak apa-apa."


Anita akan masuk ke dalam mobil.


"Semoga itu karena kamu tahu jika laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya tidak diperbolehkan bersama, bukan karena kamu memang ingin menghindariku."


Anita kaget. Rupanya Zaidan tahu jika dirinya tak ingin bertemu dengannya.


"Dan semoga juga bukan padaku saja kamu menghindari, tapi juga pada semua laki-laki yang bukan mahrammu," lanjut Zaidan lagi.


Anita terdiam.


***


Dua bulan kemudian.


Aisha tampak kecewa karena lagi-lagi dia kembali mendapatkan tamu bulanannya, pagi ini dia menyiapkan sarapan pagi dengan wajahnya yang muram


"Ada apa sayang?" tanya Alvian yang tahu jika istrinya sedang sedih.


Aisha lalu menceritakan jika dia baru saja dia mendapatkan tamu bulanannya.


"Kenapa harus sedih? Mungkin memang belum saatnya Allah memberikan kita diberikan amanah-Nya."


Aisha melihat suaminya.


"Aku hanya takut mengecewakan kedua orang tua kita, mereka sudah sangat berharap cucu dari kita."

__ADS_1


"Sayang. Hari ini boleh aku ketemu Anita siang ini, sekalian main, aku ingin berkonsultasi dengannya. Kebetulan semenjak dia buka klinik aku juga belum pernah kesana."


"Tentu saja. Nanti siang aku akan mengantarmu"


***


Anita menyambut kedatangan Aisha dengan senang, dia lalu mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam ruangannya setelah mengajaknya berkeliling di klinik barunya.


Aisha tampak takjub melihat klinik bersalin milik sahabatnya itu yang luas dan lengkap, belum lagi dia juga melihat sudah banyak pasien yang memeriksakan kehamilannya disana walaupun klinik itu baru buka sebulan yang lalu.


"Maaf mengganggu. Pasti kamu sibuk," ucap Aisha sambil duduk.


"Tidak apa-apa. Ada dokter lain yang menggantikanku kok."


Aisha lalu menceritakan maksud kedatangannya.


Mendengar cerita Aisha. Anita hanya tersenyum saja.


"Rupanya kamu sudah tidak sabar jadi ibu ya?" ucap Anita yang dilanjutkan penjelasan tentang program kehamilan yang bisa dilakukan Aisha jika memang ingin segera mempunyai momongan.


"Kalau menurutku sabarlah dulu tidak perlu ikut program kehamilan, toh kalian belum setahun menikah, nikmati saja dulu masa kebersamaan kalian berdua." Anita memberi saran.


Aisha menerima anjuran Anita.


Mereka lalu bercengkrama tentang hal lainnya, kebanyakan tentang Anita yang menanyakan banyak hal tentang ilmu agama yang belum dia pahami.


"Bagaimana hukumnya buka tutup cadar?"


"Ada beberapa pendapat, ada sebagian ulama yang mengatakan jika memakai niqab itu wajib ada pula yang mengatakan jika itu sunah. Kalau menurut pendapat pribadiku, lebih baik buka tutup cadar daripada buka tutup jilbab, karena memakai jilbab hukumnya sudah jelas adalah wajib. Namun alangkah lebih baiknya jika tetap istiqamah dan mempertahankan untuk tetap menutupi wajahnya dengan cadar jika sudah memakainya."


Anita tampak mengerti.


"Karena Hijab dan menutup aurat adalah mahkota kemuliaan wanita dan bentuk perlindungan Allah," lanjut Aisha lagi.


"Oh iya, dimanakah letak kemuliaan seseorang wanita sebenarnya?" tanya Anita penasaran.


"Jika kemuliaan seorang wanita ada pada pernikahannya, bagaimana dengan Maryam yang melajang hingga akhir hayatnya, jika kemuliaan wanita ada pada hartanya, bagaimana dengan Siti Fatimah putri Rasulullah yang bersahaja dalam hidupnya, jika kemuliaan wanita ada pada suaminya, bagaimana dengan Siti Asiyah istri Fir'aun manusia paling hina di alam semesta, jika kemuliaan wanita ada pada putranya, bagaimana dengan Siti Aisyah istri Rasulullah yang tidak memiliki anak?"

__ADS_1


"Kemuliaan wanita terletak pada kehormatannya, menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaiannya, juga terletak pada akhlaknya, wanita menjadi mulia saat tak silau oleh bujuk rayu dunia, tak luntur oleh terpaan badai ujian, tak goyah oleh kilauan emas permata, tak runtuh oleh ganasnya gelombang badai kehidupan, dan menjadi sosok yang tegar sekuat batu karang. Wanita menjadi mulia bukan karena balutan busana seksinya. Ia menjadi mulia dengan hijabnya, hijab yang hanya akan dibuka pada orang yang halal untuknya. Karena Ia laksana mutiara di tengah lautan, yang tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya, bukan seperti mawar di pinggir jalan yang setiap orang bisa memetiknya bahkan membuangnya sesuka hatinya."


__ADS_2