
Aisha melihat sang kakak yang fokus mengemudikan kendaraannya.
Dia yang duduk di sampingnya terus melihat wajah Ahmad dengan lekat.
Merasa dilihat terus oleh adiknya, Ahmad langsung meraba wajahnya, takut jika ternyata ada sesuatu yang menempel hingga membuat Aisha terus melihat dirinya.
"Ada apa? Kenapa kamu melihat kakak terus?" tanya Ahmad penasaran setelah diyakininya jika tak ada apapun di wajahnya.
Aisha tersenyum.
"Wajah kakak paling mirip dengan Abah, melihat wajah kakak serasa melihat wajah Abah, kerinduanku pada Abah menjadi sedikit berkurang."
Ahmad lantas tersenyum, dia lalu memegang kepala adiknya, mengelusnya perlahan.
"Jika dengan melihat wajah kakak kerinduanmu pada Abah menjadi berkurang, maka lihatlah terus wajah kakakmu ini." Ahmad berkata sambil tersenyum.
Aisha ikut tersenyum, namun sambil menundukkan kepalanya. Tiba-tiba dia menjadi sangat sedih.
"Kakak. Aku masih tak percaya jika Abah sudah tidak ada," ucap Aisha sambil menahan tangis.
Ahmad langsung melihat adiknya.
"Abah hanya pergi duluan, kita semua akan menyusulnya, jika amalan kita sama, maka kelak kita akan dipertemukan lagi dengannya."
Aisha menganggukkan kepalanya.
Mereka terdiam sejenak.
"Dik. Apa Ummi sudah bercerita padamu tentang lamaran pada saudari-saudari kita?"
Aisha langsung mengangguk.
"Kakak bingung, Terutama untuk menentukan calon suami untuk Siti dan Lela, kalau untuk Maryam, kakak tak terpikir untuk menikahkannya sekarang, umurnya baru 17 tahun, seperti kamu, kakak dan Ummi akan menikahkannya di umur 20 tahun saja."
Aisha mengangguk setuju.
"Lela dan Siti menyerahkannya pada kita, walaupun kakak sudah meminta mereka untuk memilih sendiri jodoh yang mereka inginkan. Karena itu pesan Abah."
Aisha terdiam, dia mengerti kenapa kedua kakaknya melakukan itu, mereka tahu jika pria yang dipilihkan untuk mereka pasti sudah paling yang terbaik, dia juga tahu jika kedua kakaknya itu tidaklah trauma dengan rumah tangga sebelumnya, mereka sadar jika semua laki-laki tidaklah sama.
***
Aisha disambut bahagia oleh kedua mertuanya, dia langsung dipeluk dengan erat oleh sang mertua.
Setelah berbincang sejenak dengan Ayah, Ahmad lalu pamit untuk kembali ke pondok pesantren, Ibu lalu mengajak menantunya untuk duduk, dengan sambil terus mengelus perut sang menantu yang sudah agak menonjol dia bertanya makanan apa yang menantunya inginkan.
"Ibu, aku tidak mau apa-apa," jawab Aisha merasa sedikit terharu melihat ibu mertuanya yang amat sangat menyayanginya.
"Kalau aku mau sesuatu pasti aku katakan pada ibu nanti."
"Iya, jangan segan-segan, kalau mau sesuatu langsung katakan ya, ingat ini juga rumahmu dan ibu adalah ibumu."
Aisha mengangguk.
Ibu lalu mengantar Aisha ke kamarnya, memintanya untuk beristirahat sementara dia akan menyiapkan makanan untuknya, walaupun Aisha melarangnya namun ibu nampak bersemangat untuk memanjakan menantu kesayangannya.
__ADS_1
Aisha duduk di atas tempat tidur, melihat sekeliling membuatnya merindukan si empunya kamar.
"Apa kamu juga merindukan papamu nak?" ucap Aisha sambil mengelus perutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dia langsung tersenyum senang melihat jika orang yang dirindukannya menelepon.
"Kami baru saja membicarakanmu," ucap Aisha setelah menjawab salam sang suami.
"Kami? Kamu pasti sedang mengobrol dengan ibu."
"Bukan."
"Ayah?"
"Bukan juga."
"Lalu?" Alvian penasaran.
"Aku sedang mengobrol dengan anakku."
Alvian tersenyum.
"Apa yang kalian obrolkan?"
"Kami merindukanmu."
"Aku juga, aku juga sangat merindukan kalian."
Aisha tersenyum sambil mengelus perutnya.
"Tidak. Hari ini justru kami makan banyak, banyak sekali. Jangan kaget ya jika pulang nanti, aku sudah gendut."
Alvian tertawa.
"Tidak. Aku malah sangat ingin melihatmu gendut."
"Tunggulah tidak akan lama lagi aku pasti akan gemuk, dengan perut yang buncit dan pipi yang tembem."
Keduanya tertawa cekikikan.
***
Malam hari.
Ibu membawakan makan malam Aisha ke kamarnya.
"Kenapa ibu repot-repot, aku akan makan bersama ibu dan ayah di bawah."
Ibu lalu mengatakan jika ada keponakannya datang, dia seorang laki-laki yang umurnya hampir sama dengan Alvian, saudara sepupuan ini tumbuh besar bersama seperti layaknya kakak beradik.
Aisha akhirnya mengerti kenapa dia tak bisa makan malam bersama, ibunya tahu jika dia akan kerepotan jika harus makan dengan mengenakan cadarnya.
"Ibu, Apa yang datang itu kak Andre?"
"Iya. Kamu tahu?"
__ADS_1
"Suamiku sering membicarakannya, katanya dia sangat merindukannya karena sudah lama tidak bertemu."
Ibu terdiam.
"Andre sekarang berbeda dengan Andre dulu, ibu tidak menyukainya."
"Kenapa? Bukankah kata suamiku dia sudah menjadi orang yang sukses?"
"Iya, dia sudah sukses sekarang, tapi kesuksesannya membuatnya lupa diri."
Aisha terdiam.
Beberapa saat kemudian.
Aisha turun ke bawah, ibunya memintanya untuk turun karena Andre yang ingin mengenal istri Alvian. Sesampainya di bawah dia melihat seorang laki-laki yang sebaya dengan suaminya tengah mengobrol bersama kedua mertuanya.
Melihat kedatangan Aisha, Andre tampak menahan senyumnya, dia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi ini istrinya Alvian?" Andre melihat penampilan Aisha dari bawah hingga ke atas.
Aisha lalu diajak duduk oleh ibu mertuanya.
"Aku pikir dia akan menikah dengan dokter itu, rupanya dia kalah dan harus menikahi wanita pilihan orang tuanya." Andre terdengar mengejek, melihat Aisha dengan tatapan merendahkan. Apalagi dengan cadar yang menutupi wajahnya, Andre merasa jika istri Alvian sangat norak dan ketinggalan zaman.
Aisha terdiam, namun berbeda dengan ibu yang nampak geram, namun dia tak bisa mengatakan apapun.
Mereka melanjutkan perbincangan lagi, lebih banyak Andre yang terus membanggakan diri dengan kesuksesannya karirnya.
"Aku sudah memiliki rumah mewah di kawasan elit, juga mobil dan beberapa apartemen."
"Alhamdulillah. Kami senang mendengarnya."
"Seandainya dulu Alvian mengikuti saranku untuk mengambil jurusan yang sama sepertiku bukan dokter, dia pasti akan sesukses aku sekarang."
Ibu dan Ayah hanya tersenyum saja.
"Oh iya, apa kamu belum terpikirkan untuk menikah?"
Andre tertawa.
"Buat apa menikah? Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang, mempunyai istri hanya akan membuat kepalaku pusing saja. Kalau soal wanita aku bisa bergonta-ganti pacar setiap hari." Andre tertawa lepas.
Ayah dan ibu saling berpandangan.
"Menikahlah karena menikah itu ibadah, tak baik seperti ini terus."
"Ibadah? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku shalat." Andre kembali tertawa.
Ayah dan ibu tampak kaget. Lain halnya dengan Aisha yang tersenyum.
"Allah tidak menciptakanmu hanya untuk mencari uang lalu mati."
Andre yang tertawa langsung menutup mulutnya sambil melihat Aisha.
"Semua yang anda banggakan ada di dunia ini, padahal dunia adalah tempat meninggal bukan tempat tinggal."
__ADS_1