
Anita yang baru saja melakukan operasi mengintip ruang operasi di sebelahnya, dimana dia tahu jika saat ini Aisha sedang dioperasi disana, di dalam sana dia melihat bagaimana Alvian dengan setia menemaninya, senantiasa berada di sampingnya sambil memegang tangan sang istri.
Hatinya tentu saja sakit, semakin merasa jika menginginkan Alvian kembali padanya sangatlah tidak mungkin terjadi, rasa-rasanya sekuat apapun dia mencoba maka ikatan cinta diantara mereka justru akan semakin tak terpisahkan.
Padahal beragam cara telah dia lakukan, baik itu berbohong bahkan merendahkan diri, namun rupanya justru dia hanya mempermalukan dirinya sendiri, merendahkan harkat martabatnya sebagai seorang wanita, mengemis cinta seakan dirinya sudah tak ada harga.
Anita merasa jika kini saatnya dirinya untuk menyerah, Alvian tak mungkin lagi bersamanya, dia sudah kalah, dan sudah harus mengalah. Lima tahun kebersamaan mereka ternyata tak berarti apa-apa, bagi Alvian bahkan kini dirinya tak lebih dari sampah.
Anita yang termenung dibuat kaget ketika seorang perawat membuka pintu, dia lalu melihat Aisha yang baru melakukan operasi akan dibawa keluar.
Alvian lewat tepat di depannya, masih dengan memegang tangan istrinya, mantan kekasihnya itu bahkan tak menyadari kehadirannya.
"Al..."
Alvian kaget, dia melirik sekilas Anita yang memanggilnya. Namun tak menghentikan langkahnya. Dia tetap melanjutkan langkahnya menemani Aisha yang akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Anita terlihat kecewa.
"Aku hanya ingin bilang. Aku sudah merelakanmu dengannya." Anita menahan air matanya.
***
Siti duduk sambil menundukkan kepalanya, di sebelahnya ada Yusuf yang sesekali melirik istrinya.
Keduanya duduk di bangku taman Rumah Sakit. Siang itu di bawah rindangnya pohon, mereka bertemu setelah pertemuan terakhir mereka yang membicarakan tentang perceraian keduanya.
"Mas tidak akan menceraikanmu." Yusuf melihat Siti.
Siti menghela napas panjang.
"Aku tetap minta cerai mas," jawab Siti pelan.
"Tapi mas tetap tak akan menceraikanmu."
Siti langsung melihat suaminya.
"Itu berarti kita akan bertemu di pengadilan."
Yusuf terperangah.
"Kenapa kamu ngotot sekali ingin bercerai dari mas? Apa karena hasutan keluargamu?"
Siti kaget. Dia tak percaya suaminya bisa menyalahkan keluarganya.
"Kenapa mas menyalahkan orang lain? Mas masih tidak menyadari kesalahan mas?" tanya Siti tak percaya.
"Tapi memang seperti itu kan? Keluargamu yang menyuruhmu meminta cerai dari mas. Apalagi adikmu Aisha yang pandai bicara itu."
"Lagi pula apa salah mas padamu? Mas menikah lagi? Kamu kan sudah setuju waktu mas meminta izin untuk menikah lagi."
Siti langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak ada satupun keluargaku yang menyuruhku bercerai dari mas. Termasuk itu adikku Aisha atau siapapun itu. Mas menikah lagi memang tidak salah, saya memang mengizinkan mas waktu itu untuk menikah lagi karena mas berjanji akan berbuat adil."
"Tapi pada kenyataannya justru tidak. Saya lebih banyak makan hati karena mas yang lebih cenderung memperhatikan istri muda mas yang lebih muda dan cantik. Mas ingat ketika mas baru saja menikah dengan Ayu, mas tidak pulang ke rumah seminggu. Waktu itu saya masih hamil, saya meminta mas pulang karena merasa perut saya sakit. Tapi mas tetap tidak pulang, karena mas masih berbulan madu di rumah istri kedua. Hingga akhirnya mas pulang tapi terlambat, saya mengalami keguguran."
"Saya selalu mencoba untuk ikhlas, tapi mas tidak pernah mencoba untuk adil. Mas lebih condong pada Ayu dalam segala hal."
"Dengan dalil mengikuti sunah rasul, mas menikah lagi, tapi pada kenyataannya saya kemudian yakin jika mas menikah hanya karena nafsu dan syahwat yang terselubung."
"Saya tak menerima hal itu. Itu alasan saya ingin cerai dari mas."
Yusuf terdiam.
"Lagi pula kenapa mas berat hati menceraikan saya? Mas masih bisa mencari istri lain lagi, saya yakin jika Ayu pasti bersedia jika mas menikah lagi," lanjut Siti lagi.
Yusuf melirik Siti.
"Pokoknya mas tidak akan menceraikanmu."
Siti berdiri.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengajukan gugatan ke pengadilan."
Yusuf ikut berdiri.
"Siti. Mas mencintaimu. Mas mengakui semua kesalahan mas padamu, mas janji akan memperbaiki semuanya. Maafkan mas. Allah saja maha pemberi maaf," ucap Yusuf dengan bersungguh-sungguh.
Siti tampak tak menghiraukan, dia tetap berjalan meninggalkan suaminya.
___
Ummi tampak bingung menjawab, sambil melipat mukena karena baru saja melaksanakan shalat Ashar, akhirnya Ummi menjawab walaupun dengan ragu.
"Suaminya datang kesini."
Aisha kaget.
"Kak Yusuf kesini? Mau apa?"
"Ummi tidak tahu Nak," jawabnya sambil menghampiri Aisha.
Aisha tampak penasaran.
Beberapa saat kemudian.
Pintu terbuka, Siti masuk menghampiri adiknya.
"Kamu sudah sadar dik? Bagaimana keadaanmu?" Siti memegang tangan Aisha.
"Alhamdulillah kak."
"Kakak dari mana?"
__ADS_1
Siti tak menjawab hingga kemudian terdengar suara ketukan pintu. Ummi segera membantu Aisha memakaikan cadar, seakan sudah tahu jika yang datang mungkin saja adalah Yusuf, menantunya.
Benar saja. Yusuf masuk. Dia berjalan menghampiri semuanya lalu bersalaman dengan Ummi.
Yusuf tampak berbasa-basi menanyakan kondisi kesehatan Aisha.
"Mana istri kedua kakak? Apa tidak ikut?" tanya Aisha tiba-tiba.
"Tidak," jawabnya cepat dengan risih. Dia tak nyaman dengan pertanyaan Aisha yang sebenarnya dia tahu hanya ingin menggodanya saja.
Yusuf langsung melihat Ummi.
"Oh iya Ummi. Maksud kedatangan saya kesini ingin meminta maaf kepada Siti dan keluarga. Saya harap Siti membatalkan keinginannya untuk bercerai."
Ummi dan Aisha langsung melihat Siti.
"Kami menyerahkan semuanya pada Siti."
Siti menunduk.
"Saya menyadari semua kesalahan saya. Saya berjanji akan memperbaiki sikap pada kedua istri saya."
Ummi melihat Siti.
"Bagaimana Nak?"
"Siti tetap mau berpisah Ummi." jawabnya pelan.
Yusuf terlihat kecewa.
"Kamu benar-benar tidak akan memberi mas kesempatan kedua?"
"Maaf mas." Siti menggelengkan kepalanya.
"Padahal mas sudah janji akan berubah, kenapa kamu tetap bersikeras?"
Semuanya terdiam hingga Alvian masuk ke dalam ruangan.
Alvian heran melihat Yusuf berada disana, ditambah wajahnya yang tampak kesal.
Alvian berjalan menghampiri istrinya.
"Ummi tolong nasihati Siti agar membatalkan niatnya untuk bercerai, saya berjanji tak akan menyakiti hatinya lagi," ucap Yusuf memohon.
"Siti sudah cukup dewasa mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri," jawab Ummi melihat Siti.
"Ummi akan dukung apapun keputusannya."
Yusuf melihat Aisha.
"Aisha. Tolong bicara pada kakakmu. Kakak janji akan berubah" Yusuf meminta tolong juga pada Aisha.
__ADS_1
"Maaf. Tapi mungkin kak Siti terlalu sakit hati, sehingga kakakku sulit untuk menerima kakak kembali." Aisha bersuara.
"Karena sebenarnya seorang istri butuh perhatian bukan diabaikan sesuka hati, seorang istri butuh dilindungi bukan disakiti tak henti-henti, seorang istri butuh dibimbing dengan nurani, bukan dikuasai oleh ambisi pribadi."