Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Ammar


__ADS_3

Aisha membantu membuka baju kakaknya, sesekali terdengar suara Lela yang mengaduh kesakitan.


Dia yang penasaran memaksa kakaknya untuk membuka baju sehingga dia bisa melihat semua luka yang dialami kakaknya.


Aisha terus mencoba menahan air matanya, melihat banyaknya luka lebam di sekujur tubuh sang kakak.


Hingga akhirnya Aisha tak lagi mampu membendung air mata ketika setelah dibuka semuanya, dia bisa melihat luka yang teramat banyak.


Aisha menutup wajahnya sambil menangis sesenggukan.


"Kakak harus segera diobati." Aisha menghapus air matanya.


Lela menggelengkan kepalanya.


"Kakak harus mendengarkan aku. Luka kakak ini harus segera diobati, bahkan sepertinya kakak lebih baik di rawat di rumah sakit."


"Kakak tidak mau dik."


"Kakak. Dengarkan aku. Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang." Aisha terus membujuk kakaknya.


Akan tetapi Lela masih kukuh tidak ingin mendapatkan perawatan. Dia hanya bilang jika lukanya pasti akan sembuh dengan sendirinya.


Aisha kebingungan, dia lalu meminta kakaknya untuk beristirahat.


Dia keluar kamar. Aisha yang kebingungan langsung menelepon suaminya.


"Cepatlah pulang. Aku mohon." Aisha menahan tangisnya.


"Ada apa?" Alvian terlihat panik mengetahui jika istrinya sedang menahan tangis.


"Aku akan pulang sekarang."


_____


Sesampainya di apartemen Alvian langsung disambut oleh Aisha yang memeluknya sambil menangis tersedu.


Alvian yang kaget terlihat bingung dan penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa perutmu sakit?"


Aisha menggelengkan kepalanya. Lalu dengan sesenggukan dia menceritakan semuanya.


Alvian tentu saja kaget. Dia lalu mengajak istrinya untuk melihat kondisi dari kakak iparnya.


"Kakak pasti tidak akan mau jika kamu melihatnya."


"Tapi dia harus segera diobati."


"Apa dokter Anita mau jika aku menyuruhnya kesini?" tanya Aisha membuat Alvian kaget.


Alvian menggelengkan kepalanya.


"Aku punya banyak teman dokter wanita, aku akan memanggil salah satu dari mereka." Alvian mengambil ponselnya.


"Aku ingin dokter Anita yang mengobati kakakku." Aisha memegang tangan suaminya.


"Maaf. Tapi aku sudah mengenalnya, aku percaya padanya." Aisha menatap wajah suaminya.


"Aku harap keputusanmu ini tidak salah." Alvian menelepon Anita.


***

__ADS_1


Aisha menyuapi kakaknya dengan terus mencoba menahan tangisnya. Apalagi ketika dia melihat kakaknya kesakitan untuk sekedar mengunyah makanannya.


"Aku akan buatkan bubur," ucap Aisha akan beranjak dari duduknya.


Lela menahannya. Dia memegang tangan sang adik.


"Tidak usah. Kakak sudah kenyang."


Aisha terdiam. Dia menundukkan kepalanya, seakan tak sanggup lagi untuk terus melihat wajah kakaknya.


"Kakak bisa kembali kesini berkat bantuan seorang tetangga, dia membantu kakak untuk kabur, dia juga yang membelikan kakak tiket pesawat."


"Alhamdulillah. Kakak bertemu orang baik yang bisa membantu kakak."


Lela menunduk.


"Kamu tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi?"


"Apapun alasannya. Memukul seorang istri tetaplah salah."


Lela menitikkan air matanya. Aisha memegang erat tangan kakaknya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Aisha segera berdiri untuk membukanya, hingga dia melihat Anita berdiri di hadapannya.


"Aisha. Apa kamu sakit?" tanya Anita cemas.


"Bukan aku. Masuklah." Aisha mempersilakan Anita masuk.


Anita masuk ke dalam kamar. Dia lalu terlihat kaget melihat seorang wanita dengan wajah penuh luka lebam duduk di atas tempat tidur.


"Dia kakakku. Aku minta tolong untuk mengobatinya."


"Apa yang terjadi padanya?" Anita tergagap.


Aisha tak menjawab. Begitu juga dengan Lela.


"Apapun itu. Ini pasti penganiayaan, selain di obati, kakakmu harus juga di visum." Anita menghampiri Lela. Lalu dengan hati-hati memeriksa luka di wajahnya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."


Lela langsung menggelengkan kepalanya.


Anita langsung melihat Aisha.


"Baiklah aku akan mengobati lukanya dulu."


Tak lama pintu kamar diketuk, Aisha keluar dan langsung masuk lagi, rupanya Alvian memberikan beberapa obat agar Anita bisa mengobati Lela.


Dengan hati-hati Anita mengobati Lela, Aisha yang ada disana tidak sanggup untuk melihatnya, dia memutuskan untuk keluar kamar.


Di luar, ada Alvian yang nampak juga khawatir dan bingung. Aisha langsung menghampiri suaminya dan memeluknya erat sambil kemudian menangis lagi.


Aisha membenamkan wajahnya ke dalam dada sang suami, tempat yang nyaman baginya untuk menumpahkan segala kesedihannya.


"Kamu harus kuat. Demi Kakakmu," bisik Alvian sembari terus mengelus kepala istrinya.


Aisha langsung menghentikan tangisnya. Dia baru sadar jika apa yang dikatakan suaminya benar.


Alvian membantu menyeka air mata istrinya.


"Aku Bingung haruskah kita menceritakan tentang Kak Lela pada Abah dan Ummi?" Aisha melihat suaminya.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan. Masalah kak Siti belum tuntas, kita hanya akan membuat Abah tambah sedih saja. Aku takut jika akan berdampak pada kesehatannya."


"Kita berdua yang akan mengurus dan membantu kak Lela," ucap Alvian lagi.


"Iya. Terima kasih," jawab Aisha kembali memeluk suaminya.


***


"Kita harus memaksa Kakakmu agar mau di visum." Anita melihat Aisha.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Siapapun pelakunya dia harus dihukum berat," tambahnya lagi dengan emosi.


Aisha mengangguk, dia setuju dengan perkataan Anita.


"Setelah di visum, kita harus melaporkannya ke polisi, maka kepolisian akan bekerjasama dengan petugas KBRI di Mesir untuk memulangkan kakak iparmu."


"Kita memang harus melakukan itu." Alvian melihat Aisha.


Aisha terdiam.


"Dengan atau tanpa persetujuan kakakmu. Kita tetap harus melaporkannya," ucap Anita lagi.


Aisha mengangguk.


"Aku akan membujuk kakak agar mau di visum."


***


Akhirnya atas paksaan Aisha Lela mau di ajak ke Rumah Sakit untuk di visum, rupanya keadaannya yang lumayan parah, Lela juga diharuskan menjalani perawatan di Rumah Sakit.


Dokter Anita dengan setia menemani Lela, rasa empatinya membuatnya bersimpati atas apa yang terjadi pada kakak ipar dari mantan kekasihnya itu.


Selagi kakaknya menjalani visum, Aisha bergegas memeriksa ponsel kakaknya. Dia ingin mencari tahu tentang sesuatu.


Akhirnya dia mendapatkan nomor ponsel yang dia cari. Aisha segera menelepon keluarga mertua kakaknya.


"Kami sudah tahu jika kakakmu kabur dari suaminya. Rencananya besok pagi kami akan menemui keluargamu dan mengadukan kelakuannya pada mereka."


"Apa?" Aisha tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Anak saya juga sedang dalam perjalanan pulang kesini. Gara-gara kakakmu studinya jadi terganggu," ucap mertua kakaknya dengan kesal.


"Oh begitu. Jadi putra anda sedang dalam perjalanan kesini. Baguslah. Sebelum menemui orang tua kami, aku yang akan menemui kalian terlebih dahulu," Aisha mematikan teleponnya dengan geram.


Dia kesal. Rupanya suami kakaknya telah memelintir cerita sehingga kini kakaknya yang terlihat bersalah.


***


Keesokan harinya.


Aisha dengan ditemani oleh suaminya mendatangi rumah keluarga mertua sang kakak, dia yang yakin jika suami kakaknya pasti sudah sampai tak sabar ingin segera bertemu dengannya.


Rupanya kedatangannya juga sudah ditunggu oleh kakak ipar dan keluarganya.


"Baguslah anda sudah kembali sendiri ke Indonesia, sehingga kami tak perlu repot-repot meminta pihak KBRI di Kairo untuk memulangkan anda." Aisha menatap kakak iparnya dengan tajam.


Ammar tersenyum sinis. Dia akan mengatakan sesuatu tapi Aisha mendahuluinya.


"Aib terbesar seorang laki-laki adalah dia yang suka memukuli istrinya, melakukan kekerasan pada istri sendiri adalah lelaki pengecut yang berkepribadian lemah. Karena lemah itulah dia mencari seseorang yang lebih lemah untuk dijadikan mangsa, menjadikan istri sendiri budak romusha, ditindas tanpa iba, dijajah cuma cuma."


"Anda memanipulasi predikat suami, imam dan kepala keluarga untuk membenarkan keberingasan, kebiadaban, dan nafsu hewani, menyiksa istri yang harusnya anda lindungi."

__ADS_1


__ADS_2