
Nayla masuk ke dalam rumahnya dengan marah-marah, dia lalu menghempaskan dirinya pada sofa sambil bersungut-sungut.
"Aisha itu pintar sekali, kenapa dia bisa tahu jika aku mengincar suaminya," gumamnya dengan pelan.
"Tapi aku tak peduli, walaupun dia sudah tahu, aku tetap akan berusaha menarik perhatian dokter tampan itu."
"Aku yakin, dengan kecantikan wajahku dan keindahan tubuhku ini, suaminya lambat laun akan melirikku." Nayla tersenyum sendiri.
"Jika dibandingkan denganku, aku yakin jika Aisha itu tidak ada apa-apanya, dia terus menutupi wajah dan seluruh tubuhnya pasti karena dia tidak percaya diri."
Nayla terus bergumam sendiri hingga membuatnya tak sadar jika Andra suaminya yang baru bangun terheran-heran melihatnya.
"Mau kemana kamu sudah dandan pagi-pagi?" Andra bertanya sambil menguap.
Bukannya menjawab Nayla malah melihat suaminya dengan kesal dan jijik.
"Apa tidak ada lagi makanan?" Andra yang mengangkat tudung saji di atas meja makan melirik istrinya dengan kesal.
"Tidak. Beli saja kalau kamu lapar."
Andra menghampiri istrinya.
"Apa mau-mu? Kenapa kelakuanmu semakin hari semakin menjadi?"
Nayla langsung berdiri.
Lagi-lagi terjadi perdebatan sengit, keduanya tampak adu mulut, saling memaki, menyalahkan dan membela diri.
"Kita tak bisa seperti ini terus. Mungkin lebih baik jika sebaiknya kita berpisah saja," ucap Nayla dengan entengnya.
Andra kaget.
"Aku tak ingin punya suami sepertimu. Aku ini cantik, seharusnya aku mendapatkan suami yang juga tampan, dan pekerjaannya juga bagus dan mapan," ucap Nayla sambil membayangkan Alvian, sampai membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Bukan sepertimu." Kali ini dia melihat suaminya dengan jijik.
Andra tersenyum sinis mendengarkan semua perkataan istrinya.
"Kamu pikir aku juga mau punya istri sepertimu? Diluar sana aku bisa dapatkan lagi seribu wanita macam kamu."
Nayla yang terpancing kembali mengeluarkan kata-kata yang lebih menyakitkan untuk suaminya, tak mau kalah, sang suami juga melakukan hal yang serupa.
Di luar.
Alvian yang akan berangkat kerja, seperti biasa diantar oleh istrinya.
Di depan pintu keduanya sama sekali tak menghiraukan pertengkaran sang tetangga yang terdengar dengan sangat jelas.
Alvian tetap mencium kening istrinya dengan mesra, begitu juga dengan Aisha yang mencium tangan suaminya dengan hangat.
Tiba-tiba Nayla keluar dengan marah diikuti oleh suaminya, masih terus saling ber-agumentasi.
__ADS_1
Melihat Aisha dan Alvian, Nayla dan suaminya langsung terdiam.
"Hati-hati di jalan, sayang." Aisha melingkarkan tangannya di pinggang Alvian.
Alvian tersenyum melihat istrinya.
"Iya. Hati-hati juga di rumah sayang."
Melihat kemesraan keduanya, Nayla dan suaminya salah tingkah, keduanya saling melirik satu sama lain.
Selepas kepergian suaminya, Aisha akan kembali masuk ke dalam rumahnya, namun kemudian dia melihat Nayla yang suaminya yang masih terpaku melihatnya.
"Tidak ada jatuh cinta tanpa rasa marah, rasa kesal dan lelah. Ada yang kesal dan pergi, ada yang kesal lalu memperbaiki diri, ada yang marah lalu benci namun ada juga yang marah lalu memaafkan lagi."
"Semuanya tergantung dari kekuatan cinta yang kalian rasa, semua kenangan yang kalian punya, dan perjuangan yang sudah kalian lalui bersama."
Aisha lalu masuk ke dalam rumahnya.
Nayla dan Andra tertegun.
***
Anita duduk dengan sedih di depan sebuah pusara, sesekali dia menyeka air mata di pipinya.
"Papa. Maafkan Nita," gumamnya lirih.
Anita menunduk sedih, mengingat kembali kebersamaannya dengan sang ayah beberapa tahun yang lalu.
Hingga karena penyakitnya, enam tahun yang lalu ayahnya harus pergi meninggalkannya, dan masa itu adalah saat-saat terberat dalam hidupnya, dia yang pada saat itu sedang menempuh pendidikan spesialisasi dokternya bahkan sempat terpikirkan untuk berhenti, namun urung berkat sang ibu yang mengingatkannya jika menjadi seorang dokter adalah impian terbesar sang ayah untuknya.
Anita menangis semakin terisak, bukan karena masih tak menerima kepergian ayahnya, namun ada satu hal yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
Tak lain karena perkataan seseorang yang sangat mengusik dirinya tentang menutup aurat. Ada bagian yang sangat menjadi bebannya, yakni seorang ayah akan ikut menanggung dosa jika putrinya tidak menutupi auratnya.
Anita merasa sungguh tak rela jika sang ayah yang amat sangat dicintainya turut serta akan semua dosa yang dilakukannya, karena kebodohan dan keegoisannya yang tidak menutupi auratnya, akan terus menjadi dosa jariyah bagi ayahnya yang telah tiada.
"Papa. Maafkan Nita." Anita terus menangis memikirkan berapa banyak dosa yang telah dia berikan pada ayahnya.
***
Aisha memeluk Anita dengan erat, dia sangat senang hingga tak terasa Aisha menangis bahagia.
"Hidayah itu mahal, setelah kamu mendapatkannya, tetaplah Istiqomah walaupun susah, memang tak mudah tapi teruslah berbenah dan tetap lillah," ucap Aisha sambil menatap wajah Anita.
Anita tersenyum.
"Terima kasih. Sedikit banyaknya kamu ikut turut andil akan perubahanku ini."
"Alhamdulillah Ya Allah." Aisha kembali menangis bahagia. Kembali dia menatap penampilan Anita, dengan baju syar'i dan hijabnya, wajahnya terlihat menjadi semakin cantik bercahaya
"Aku ingin memperdalam ilmu agamaku, " ucap Anita tiba-tiba.
__ADS_1
"Itu bagus, Alhamdulillah."
"Aku ingin belajar di pesantren ayahmu."
Aisha mengerutkan keningnya.
"Lalu pekerjaanmu?"
"Aku berencana untuk berhenti."
"Berhenti?"
"Untuk sementara ini, aku ingin fokus belajar dulu, setelah itu aku berencana untuk membuka klinik bersalin saja, sepertinya itu tak akan menguras waktuku, jadi aku masih bisa belajar sambil bekerja."
Aisha tampak terkesima.
"Alhamdulillah. Idemu bagus sekali."
Anita tersenyum.
"Kakakmu sudah mengetahui perubahanku ini, selain dirimu dia juga turut serta dalam upayaku menggapai hidayah ini."
"Setelah aku menyelesaikan pengunduran diriku. Aku akan langsung pergi ke rumahmu, Lela sudah menungguku."
Aisha mengangguk senang.
"Semoga dalam hijrah ini kamu tetap istiqamah. Hijrah bukan berarti kamu tidak lagi menjadi diri sendiri namun kamu tetap dirimu yang tampil lebih baik lagi."
***
Aisha tersenyum sendiri dari tadi, dalam hati dia mengucap syukur tak henti.
Alvian yang baru selesai mandi melihat wajah istrinya yang sumringah.
"Ada apa?" tanyanya penasaran sambil menaiki tempat tidur.
"Alhamdulillah. Anita sudah berhijrah."
"Owh," jawab Alvian singkat.
Aisha tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kemudian dia mengurungkannya.
Aisha tahu jika sebagai seorang istri, dia tidak boleh menceritakan tentang wanita lain kepada suaminya hingga seakan-akan suami melihat wanita itu, karena hati terkadang lebih dulu jatuh cinta daripada dua mata sekalipun hanya melalui apa yang telah didengarkan saja.
"Oh iya sayang. Alhamdulillah sepertinya keinginan kita untuk membeli rumah sebentar lagi akan terlaksana." Alvian kali ini yang terlihat sangat senang.
"Alhamdulillah." Aisha ikut merasa bahagia.
"Allah memberikan kita rezeki yang tak diduga." Alvian lalu menceritakan jika gajinya naik lumayan besar.
"Alhamdulillah. Kamu tahu sayang. Rezeki datang karena tiga hal. Datang karena kita cari, datang karena Allah beri, datang karena kita pernah memberi."
__ADS_1
"Tapi kita juga harus ingat. Rezeki itu juga kadang ujian. Di banyakkan bukan berarti di muliakan, di sempitkan bukan berarti dihinakan, dan kunci untuk meluluskan keduanya adalah syukur dan sabar."