Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Melamar


__ADS_3

Sepeninggal Pak Yasid, kini semua orang yang tersisa disana melihat Andre dengan penuh haru.


Ahmad berjalan menghampiri Andre, lalu dengan cepat merangkulnya.


"Terima kasih," ucapnya berkali-kali sambil menahan tangis.


Andre hanya tersenyum merasa tak enak hati.


Ridwan dan Ali pun mengikuti kakaknya, mereka bergantian memeluk Andre dan mengucapkan terima kasih.


"Berkat anda, pondok pesantren peninggalan ayahanda kami bisa tetap berdiri dengan kokoh." Ridwan menepuk-nepuk punggung Andre.


Sekarang giliran Ummi yang berjalan mendekati Andre.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Ummi merapatkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


"Terima kasih Nak."


"Jangan Ummi, jangan seperti ini." Andre menggelengkan kepalanya.


"Jika kalian tahu seberapa banyak dosa yang telah ku perbuat, maka pasti kalian akan merasa jika yang aku lakukan hari ini tidaklah seberapa."


Andre melirik Aisha sekilas.


"Lagipula ada seseorang yang memberitahuku jika percuma mengumpulkan harta sebanyak mungkin karena dunia ini hanya tempat tinggal sementara."


Aisha tersenyum.


"Jadi kalian tidak usah berlebihan seperti ini. Aku juga melakukannya bukan semata-mata karena ingin membantu pesantren ini saja, tapi karena mungkin ini wujud bakti dan kasih sayangku pada kedua orang tuaku. Setelah keduanya meninggal dunia, aku bahkan tak pernah mendoakan mereka." Andre tampak sedih.


Ayah dan Ibu segera menghampiri keponakan mereka.


"Kakakku pasti bangga mempunyai anak sepertimu." Ayah memeluk Andre penuh haru.


Andre menangis di pelukan pamannya.


***


Hari ini Aisha dan Alvian berencana untuk kembali lagi ke kota.


Andre yang kakinya sudah agak mendingan sehingga tak lagi memerlukan tongkat untuk membantunya berjalan akan ikut mengantarkan Alvian dan istrinya ke parkiran mobil.


"Kamu tahu jika uangmu habis itu karena doamu sendiri," ucap Alvian menggoda Andre ketika mereka berjalan mendekati mobil.


Andre langsung tertawa terkekeh mengingat doanya ketika pertama kali menginjakkan kakinya di pesantren ini.


"Sayang sekali Allah hanya mengabulkan satu doaku saja, doa satunya lagi tidak Allah kabulkan." Andre menggaruk kepalanya.


"Menikahi salah satu kakak iparku? Jangan mimpi!" Alvian menepuk pundak Andre sambil tertawa.


Keduanya kembali tertawa cekikikan, sehingga tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang tidak sengaja mendengarkan obrolan mereka.


Siti yang berjalan sambil menggandeng tangan Aisha di belakang mereka kaget mendengar pembicaraan keduanya.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di depan mobil Alvian, ketika hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba mereka semua dikagetkan oleh kedatangan sebuah mobil.


Jantung Siti berdebar mengetahui mobil siapa yang datang. Yusuf. Mantan suaminya.


Ketika Yusuf turun semua orang langsung melihatnya. Tak terkecuali dengan Aisha.


Yusuf segera menghampiri mereka semua dan memberikan salam.


Aisha yang merasa jika mantan suami kakaknya itu punya maksud yang sama seperti kedatangan-kedatangan sebelumnya meminta suaminya untuk memundurkan kepulangan mereka. Dia ikut masuk lagi ke dalam rumah beserta Alvian dan juga Andre.


Setelah berbasa-basi sejenak, Yusuf kemudian mengutamakan maksud kedatangannya. Tebakan Aisha benar. Dia ingin kembali menikahi Siti.


"Dua istri mas yang kemarin sudah mas ceraikan, keduanya sudah mas pulangkan ke rumah orang tuanya masing-masing." Yusuf terdengar memelas.


Siti dan yang lainnya tampak kaget.


"Mas menyadari jika mereka tak jauh lebih baik dari kamu. Menurut mas kamu tetap istri terbaik buat mas." Yusuf melihat Siti.


"Mas sangat menyesal sudah menyakitimu."


Siti langsung memalingkan wajahnya.


"Mas harap kali ini kamu berkenan untuk kembali lagi pada mas, karena mas sudah tidak mempunyai istri lagi, mas berjanji tidak akan lagi menikah, hanya kamu yang akan menjadi istri mas satu-satunya. Mas berjanji."


Semua orang melihat Siti.


"Maaf mas. Tapi Siti sudah memilih laki-laki lain untuk jadi suami Siti."


Semua orang kaget, terlebih lagi dengan Yusuf.


Siti mengangguk.


"Siapa?"


Siti melirik Andre yang duduk di samping Alvian, sibuk memainkan ponselnya.


"Kak Andre."


Semua orang tersentak. Terutama Andre yang langsung menjatuhkan ponselnya. Dia lalu melihat Siti tak percaya.


"A-aku?" tanya Andre tak percaya menunjuk dirinya sendiri.


Alvian ternganga, dia melihat Andre yang tengah berbisik padanya.


"Doa kedua?"


Keduanya bertatapan tak percaya.


Yusuf melihat Andre.


"Dia?" tanyanya tak percaya pada Siti


Siti mengangguk.

__ADS_1


Yusuf melihat Andre dengan jeli, dari atas ke bawah berkali-kali.


"Siapa dia? Dari penampilannya saja mas yakin jika dia bukan seorang Ustadz atau anak kyai." Yusuf melihat rendah Andre.


Andre langsung melihat dirinya yang memakai kemeja panjang. Dia lalu membandingkan dirinya dengan penampilan Yusuf dan Ali yang kebetulan ada disana.


"Saya juga punya baju Koko, tak percaya? tunggu saya ambil dulu." Andre akan berdiri tapi Alvian menahannya.


Yusuf menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dari cara bicaranya saja mas yakin jika dia ini kesini pasti karena ingin bertobat karena dosanya banyak." Yusuf terkekeh-kekeh.


Andre tersentak, kaget dengan tebakan Yusuf yang benar.


"Tangisan penyesalan seorang pendosa lebih Allah cintai, daripada tasbihnya seorang ulama yang sombong dan membanggakan diri," celetuk Aisha.


Semuanya tersenyum membenarkan perkataan Aisha.


Yusuf terdiam.


"Anda sudah dengar kan jika adik saya sudah menentukan laki-laki pilihannya." Ali bersuara.


Yusuf melihat Siti.


"Tolong pikiran baik-baik dek. Mas berjanji jika kamu mau kembali lagi sama mas, mas tidak akan lagi menyakitimu. Mas akan menjadikanmu istri mas satu-satunya."


Siti langsung menggelengkan kepalanya.


"Maaf mas. Keputusan Siti sudah bulat. Sebaiknya sekarang mas ajak rujuk kembali kedua istri mas itu."


Yusuf terlihat kecewa, dengan perasaan kesal karena lagi-lagi lamarannya ditolak seperti sebelum-sebelumnya, dia pergi meninggalkan mereka semua.


Kini tinggallah Siti ditatap heran oleh semua orang. Termasuk itu Andre.


"Nak." Ummi memegang pundak putrinya.


Siti tersenyum melihat semuanya.


"Abah pernah berpesan. Kita perempuan tidak ditakdirkan untuk terus jadi penunggu, tetapi kita juga disuruh untuk mencari dan memilih, sebab jika selama hidupmu hanya jadi penanti, belum tentu yang datang kepada kita nanti sesuai dengan apa yang kita inginkan."


"Islam tidak membatasi yang boleh mengajukan lamaran hanya yang lelaki, sehingga wanita juga boleh mengajukan diri untuk melamar seorang pria seperti Ummu Khadijah r.a yang melamar Baginda Rasulullah Saw."


"Karena itu di hadapan kalian semua, saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk melamar Kak Andre menjadi suami saya."


Andre terperanjat. Apalagi ketika semua orang kini melihatnya menunggu jawabannya.


Alvian segera menyenggol lengan Andre.


"Tidak," jawab Andre membuat semuanya kaget.


Andre berdiri. Melihat Siti.


"Aku bukan lelaki yang pantas untuk dilamar oleh seorang wanita shalihah sepertimu."

__ADS_1


Andre menelan ludah.


"Tapi dengan segala kekuranganku. Perkenankan aku yang melamarmu untuk jadi istriku."


__ADS_2