
Keesokan harinya.
Alvian nampak sibuk berjalan bolak-balik sambil berteleponan, dengan sambil sesekali memegang kepalanya dia tampak berbicara dengan serius dengan seseorang di ujung telepon.
Aisha yang sedang memasak sesekali memperhatikan suaminya, melihat gelagat aneh sang suami, dia kemudian menghampirinya.
"Nanti saya kabari lagi ya," ucap Alvian yang langsung menyudahi pembicaraannya melihat Aisha berjalan mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Aisha penasaran.
"Tidak ada sayang," jawab Alvian sambil mencoba untuk tersenyum.
"Apa masakannya sudah matang? Aku lapar sekali," ucapnya lagi sambil menarik tangan Aisha mengajaknya untuk berjalan menuju dapur.
Aisha menahan tangannya. Membuat Alvian kaget.
"Ada apa? Aku tahu ada sesuatu. Katakan ada apa?"
Alvian menarik napas, dia tahu jika dirinya tak bisa menyembunyikan apapun dari istrinya.
"Sayang. Sebenarnya aku harus ikut seminar kedokteran hari ini."
"Seminar?"
"Iya. Seminarnya di luar kota dan waktunya cukup lama, kurang lebih semingguan."
Aisha lantas tersenyum.
"Jadi suamiku sedang bingung karena harus meninggalkan istrinya?"
Alvian menghampiri istrinya lebih dekat.
"Iya. Dalam keadaanmu seperti ini, aku tidak mungkin meninggalkanmu."
"Pergilah. Aku baik-baik saja."
Alvian langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku berniat untuk tidak ikut seminar itu. Aku tak mungkin meninggalkanmu dalam kondisimu seperti ini, tubuhmu masih lemas karena kehamilanmu, juga kamu yang masih sering merasa bersedih."
Aisha kembali tersenyum.
"Aku baik-baik saja, pergilah, aku tahu seminar itu pasti penting untuk karier kedokteranmu."
Alvian terdiam karena sebenarnya apa yang dikatakan oleh istrinya benar. Bagi seorang dokter seminar cukuplah penting karena menjadi dokter adalah pembelajaran seumur hidup, setiap tahun para dokter memang diwajibkan untuk mengikuti perkembangan ilmu dengan mengikuti seminar dan workshop yang diadakan di berbagai kota ataupun universitas.
"Tapi aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian disini."
"Tidak apa-apa, aku berani sendirian di rumah."
"Tidak." Alvian langsung menggelengkan kepalanya.
"Tapi...Bagaimana kalau aku mengantarkan kamu dulu ke pondok? Jika kamu disana aku akan tenang meninggalkanmu. Disana banyak orang yang menjaga dan mengurusmu."
Aisha mengangguk sambil tersenyum
__ADS_1
"Baiklah."
Alvian melihat jam tangannya.
"Tapi sayang, ini sudah terlambat, jika aku harus ikut seminar itu, aku harus berangkat sebentar lagi." Alvian panik.
"Aku akan bantu menyiapkan bajumu."
"Tapi tak ada waktu mengantarkanmu ke pondok."
"Hari ini dokter Anita katanya juga akan ke pondok,biar aku bareng dia saja."
"Syukurlah kalau begitu." Alvian terlihat lega.
***
Tak lama Alvian pergi, Anita datang menjemput Aisha. Kini keduanya bersiap untuk pergi menuju kampung halaman Aisha.
Sepanjang perjalanan. Anita bercerita jika Zaidan mengiriminya pesan, dari raut wajahnya Aisha bisa melihat jika sahabatnya itu sangat senang dan bahagia.
"Apa kamu tahu indahnya mencintai dalam diam? Karena ada sebagian orang yang lebih senang mendoakan daripada mengutarakan." Aisha tersenyum sendiri.
Anita langsung terlihat malu.
"Kamu tak tahu jika dia mencintaimu, dia tak tahu jika kamu mencintainya, namun Allah tersenyum melihat kalian yang diam-diam saling mendoakan," ucap Aisha lagi.
Anita bertambah malu.
"Tapi Aisha. Apa dia mencintaiku?"
"Dia yang mencintaimu selalu akan menemukan kelebihan dalam sejuta kekuranganmu. Kebaikan dari sejuta keburukanmu."
Anita langsung terdiam, serasa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri kenapa Zaidan memilihnya yang jelas-jelas memiliki banyak kekurangan.
***
Ummi menyambut kedatangan putrinya dengan bahagia, begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain, mereka bergantian memeluk Aisha dengan penuh kasih sayang.
Sementara Anita yang memang rutin berkunjung setiap minggu selain untuk menuntut ilmu juga untuk mengecek persediaan obat-obatan, kadang juga dia harus memeriksa para santriawati yang memang menunggu dirinya untuk berobat.
Seperti kali ini, mengetahui kedatangannya, beberapa santriawati langsung mengantri untuk diperiksa olehnya, dengan beberapa keluhan ringan seperti pilek dan batuk.
Menjelang sore Anita pamit untuk pulang, Aisha dan Lela juga Siti mengantarkannya sampai ke parkiran mobil.
Tak disangka Zaidan juga ada disana, sama seperti Anita, dia juga akan pulang setelah selesai mengajar seperti biasanya.
Namun rupanya kali ini dia tak sendiri, Zayn adiknya juga ada bersamanya.
Zayn terpana melihat Anita juga yang lainnya, tampak kompak dengan dandanan yang hampir sama, mereka berempat yang berjalan sambil menundukkan kepalanya terlihat sangat anggun dengan pakaian syar'i dan niqob yang selalu setia menutupi wajah mereka.
"Mau kemana para bidadari itu bang?" tanya Zayn masih terus melihat mereka.
Zaidan yang sedang memasukkan tas dan buku-buku miliknya ke dalam mobil lantas memukul pundak Zayn dengan pelan.
"Turunkan pandanganmu!"
__ADS_1
Zayn langsung tersadar, segera menurunkan pandangannya sambil mengucapkan istighfar.
Anita yang sebenarnya deg-degan karena tidak menyangka jika Zaidan juga ada disana terus menundukkan kepalanya ketika Aisha dan yang lainnya mengucapkan salam pada Zaidan dan berbasa-basi sejenak, dengan batasan tentunya yakni sama-sama saling menundukkan kepala.
"Saya pikir hari ini bukan jadwal anda untuk mengajar," tanya Aisha.
"Memang iya, saya sengaja memundurkan jadwal saya karena besok saya ada kepentingan."
Aisha tersenyum sambil melihat Anita. Dia tahu maksud kepentingan yang dikatakan Zaidan yakni acara khitbah Zaidan pada Anita yang akan dilakukan esok hari. Begitu juga dengan Siti dan Lela yang juga sudah tahu menahan senyum langsung menyenggol pelan Anita.
Anita yang malu terus menundukkan kepalanya.
"Sekalian mungkin untuk beberapa minggu saya tidak bisa dulu mengajar, karena itu saya membawa adik saya yang akan menggantikan saya untuk sementara." Zaidan menunjuk Zayn.
Zayn melipat kedua tangannya di depan dada sambil memberi salam.
Tak lama mereka berbasa-basi, Anita akan masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Zaidan.
Namun tiba-tiba ada beberapa orang yang menghampiri mereka.
"Assalamualaikum, Nak Zaidan rupanya ada disini ya? Kebetulan sekali."
Zaidan kaget melihat Nurul berserta ibunya dan kakaknya yang menghampiri mereka. Namun kemudian dia ingat jika adik paling kecil Nurul sedang menuntut ilmu di pesantren itu.
Zaidan dan semua orang menjawab salam.
"Beserta calon istrinya juga rupanya," ucapnya lagi dengan sinis sambil melihat Anita.
Anita hanya tersenyum walaupun sebenarnya dia paksakan.
Nela, mencoba menarik tangan ibunya mengajaknya untuk pergi dari sana, namun tampaknya sang ibu masih ingin mengatakan sesuatu. Sedangkan Nurul hanya berdiam saja tampak malu bertemu dengan Zaidan.
"Sayang sekali nak Zaidan lebih memilih wanita ini dibandingkan putri saya, saya harap nak Zaidan tidak salah pilih."
"Insya Allah tidak. Saya yakin dengan pilihan saya."
"Oh ya? Seharusnya Nak Zaidan cari tahu dulu masa lalunya sebelum mengatakan itu. Oh iya, ngomong-ngomong apa nak Zaidan tahu jika wanita ini pernah menjadi selingkuhan pria beristri?"
Semua orang tampak kaget mendengar perkataan Ibu Nurul, terlebih lagi dengan Anita yang langsung menahan tangisnya.
Beda halnya dengan Zaidan yang hanya tersenyum kecil.
"Kenapa tersenyum? Mengganggu pria beristri bukan sesuatu yang lucu untuk di tertawakan. Apa Nak Zaidan tahu apa lagi yang sudah dilakukannya? Wanita itu bahkan sudah berkali-kali membuat keributan dengan istri sah pacarnya di tempat kerjanya. Sungguh perbuatan yang hina dan memalukan!"
Semua orang terdiam, mereka langsung melihat Anita yang kini sudah menangis.
Ibu Nurul tampak sangat puas, dia melihat Anita dengan penuh kemenangan.
"Satu lagi, apa kamu tahu jika..."
"Cukup. Semua yang anda katakan memang benar, tapi aku sudah berubah, aku menyadari kesalahanku dan aku sedang memohon ampunan untuk itu. Tapi percayalah jika aku sudah berubah." ucap Anita dengan terisak. Lela dan Siti segera memeluknya dan menenangkannya.
"Jangan pernah berniat membuktikan sesuatu pada manusia, kecil dihina, besar dicurigai, salah dicaci, benar di ghibahi," ucap Aisha tiba-tiba sambil melihat Anita.
Dia lalu menghampiri ibu Nurul sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jaga lidah anda untuk tidak membicarakan aib orang lain, karena ingat, aib anda juga pasti banyak dan orang lain pun punya lidah."