
Alvian mencium kening istrinya, dengan sebelah tangannya yang sudah membuka pintu rumah mereka.
"Hati-hati di jalan," ucap Aisha dengan senyuman hangatnya.
Alvian mengangguk sambil terus memandangi wajah istrinya penuh cinta.
Bukannya berangkat, Alvian malah kembali memeluk istrinya erat, tidak peduli akan pintu rumah yang kini terbuka lebar.
"Seandainya aku bisa bolos kerja," ucap Alvian sambil menciumi pipi istrinya.
Aisha hanya tersenyum.
"Sudah. Nanti terlambat."
"Baiklah." Alvian dengan berat hati melepaskan pelukannya.
"Aku berangkat dulu ya."
Aisha mengangguk.
Alvian membalikkan badannya, seketika dia kaget melihat Nayla berdiri di depannya. Wajahnya langsung berubah seketika, dingin dan nampak tidak suka.
"Selamat pagi pak dokter," ucap Nayla sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Pagi," jawabnya singkat sambil memalingkan wajah.
Aisha berjalan mendekati keduanya.
"Pagi Aisha."
Aisha tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil melihat dengan heran penampilan Nayla, terlihat cantik dengan baju dres pendek berwarna putih dan wajah yang dipoles makeup yang tipis.
"Cantik sekali, mau kemana pagi-pagi seperti ini?" tanya Aisha sambil memegang lengan suaminya.
Nayla terlihat sangat senang Aisha memujinya, dia tersenyum malu sambil terus merapikan rambutnya.
"Tidak kemana-mana. Aku memang selalu seperti ini setiap hari," jawab Nayla malu-malu.
Aisha menahan senyumnya, sementara Alvian yang terus memalingkan wajahnya terlihat tak peduli.
"Oh iya pak dokter, apa aku boleh berteman dengan istrimu? Bolehkan aku sering main ke rumahmu?" tanya Nayla sambil terus menatap wajah Alvian.
Alvian langsung melihat istrinya.
"Terserah istriku saja, dia bebas berteman dengan siapapun." Melihat istrinya wajahnya kembali berubah, hangat dan sangat bahagia.
__ADS_1
Keduanya saling menatap dengan mesra.
Nayla yang melihat merasa kesal, bisa-bisanya mereka berdua terus-terusan bermesraan di depannya.
"Sayang aku berangkat dulu," ucap Alvian kembali mengecup kening Aisha, lalu pergi tanpa sama sekali berpamitan pada Nayla.
Nayla terus menatap kepergian Alvian, wajahnya dengan jelas menunjukkan kekaguman.
Aisha yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau."
"Tapi itu berlaku untuk orang yang tidak pernah merawat rumput rumahnya sendiri," ucap Aisha lagi dengan tersenyum.
Mendengar itu Nayla yang awalnya kaget langsung tersenyum dengan malu.
Dia lalu berpamitan pada Aisha dan kembali memasuki rumahnya.
***
Siti menjalani sidang untuk yang terakhir kalinya dengan terus di dampingi oleh Abah yang selalu dengan setia menemani seperti di sidang-sidang sebelumnya.
Kebulatan tekad Siti yang tetap ingin bercerai akhirnya membuat Yusuf menyerah, dia walaupun dengan terpaksa akhirnya mau menceraikan Siti.
Kini keduanya telah resmi berpisah, di persidangan terakhir ini Yusuf meminta maaf pada Siti dan keluarganya.
"Aku ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang disengaja atau tidak selama menjadi istri mas, maafkan jika aku tak bisa menjadi istri yang mas harapkan."
"Tidak. Kamu tak pernah membuat kesalahan apapun, kamu istri yang baik dan shalihah, mas telah membuat kesalahan dengan menyia-nyiakanmu."
Sepanjang perjalanan pulang.
Abah terlihat merenung, sesekali melirik Siti yang duduk termenung di belakangnya.
Sebagai seorang Ayah sudah pasti dia merasa gagal. Keputusannya untuk memilihkan suami terbaik untuk putrinya malah membuat dua putrinya menderita, dua rumah tangga putrinya harus berakhir di pengadilan, bahkan salah satunya kini berakhir dengan laporan kepolisan. Lela putrinya bahkan selain menderita secara batin namun juga telah menderita luka fisik yang lumayan parah. Semuanya akibat dari kesalahannya memilihkan suami yang dia pikir adalah lelaki terbaik.
Diam-diam Abah menitikkan air matanya.
***
Setelah kemarin menemani Siti, hari ini Abah juga harus menemani Lela ke kota untuk memberikan keterangan terakhir pada pihak kepolisian, sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan rasa sayangnya pada putri-putrinya, Abah bertekad akan selalu mendampingi dan menemani Lela hingga masalah ini selesai.
Sesampainya di kantor polisi, Aisha juga telah menunggu disana, dia lalu memeluk sang ayah dengan eratnya.
"Bagaimana kabarmu nak?" Abah menatap Aisha dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Aisha menjawab jika dirinya baik-baik saja, dia bersyukur ketika Abah juga mengatakan jika keadaannya juga baik walaupun Aisha tahu jika sebenarnya ayahnya berbohong, dilihat dari sorot matanya Aisha tahu jika ayahnya sangat lelah dan letih.
Aisha mengajak Abah untuk duduk, sementara kak Ahmad keluar sebentar untuk menerima panggilan telepon, mereka berbincang selagi menunggu Lela yang sedang ditanyai oleh polisi.
Abah tiba-tiba terdiam melihat kedua orang tua Ammar datang, dengan penuh berbaik sangka Abah berdiri akan menghampiri keduanya.
Abah mengucapkan salam, namun bukannya menjawab mereka malah mengabaikan dan tak memperdulikan sikap baik Abah.
Aisha yang melihat itu merasa geram, dia lalu berdiri menghampiri mereka.
Abah yang tahu akan watak dan sifat putrinya seolah tahu apa yang akan dilakukan Aisha. Abah segera memegang tangan Aisha sambil memberikan isyarat untuk tak melakukan apapun.
Mau tak mau Aisha menuruti kehendak sang ayah, dia lalu mengajak Abah untuk kembali duduk, berhadap-hadapan dengan orang tua Ammar yang juga diminta untuk menunggu oleh polisi.
Dari raut wajahnya, Aisha tahu jika ayahnya sangat kecewa dan terluka oleh sifat kedua orang tua Ammar, dan itu membuat hatinya juga sangat sakit. Walaupun begitu dia tak ingin menambah luka ayahnya dengan tak menuruti perintahnya, karena itu sebesar apapun keinginannya untuk mengatakan sesuatu pada kedua orang di hadapannya, dia tetap menahannya.
Beberapa saat kemudian.
Pemeriksaan telah selesai, Lela keluar dari ruangan, Abah dan Aisha berdiri untuk menyambutnya.
Melihat kedua mertuanya yang juga ada disana Lela lalu berinisiatif menghampiri mereka untuk sekedar mengucapkan salam.
Seperti sikap mereka pada Abah, begitu juga dengan Lela, mereka sama sekali tak memberikan tangannya pada Lela yang ingin bersalaman mencium tangan.
Aisha dan Abah yang melihat itu merasa sakit hati, Aisha bahkan melihat kedua mata ayahnya yang kini tergenang air mata.
"Abah. Maafkan Aisha." Aisha melihat ayahnya sekilas lalu menghampiri kedua orang tua Ammar dengan marah.
Aisha menarik tangan Lela yang masih disodorkan pada mertuanya.
"Kakak. Kita harus segera pergi dari sini. Agar tak ikut terkena laknat dari orang yang tak menjawab salam. Apalagi mereka sudah tak menjawab salam dua kali," Aisha menatap sekilas keduanya.
Kedua orang tua Ammar membelalakkan matanya mendengar perkataan Aisha.
"Apa ini? Apa ini hasil didikanmu pada putrimu?" Ayah Ammar menunjuk Aisha sambil melihat Abah dengan marah.
"Lalu putra anda? Apa menjadi seorang penganiaya wanita adalah hasil didikan anda?" tanya Aisha sambil menahan senyumnya.
Ayah Ammar terlihat salah tingkah.
"Jangan kurang ajar kamu!" Ayah Ammar lalu terlihat marah.
Aisha tersenyum.
"Jika orang bijaksana terbukti bersalah, dia akan berhenti lalu mengintropeksi, memperbaiki diri dan meminta maaf, namun sebaliknya orang yang merasa pandai akan terus berjalan angkuh sambil terus mencari alasan dan pembenaran."
__ADS_1
"Melihat kalian saya menjadi semakin yakin jika usia tua bukan jaminan kedewasaan seseorang dalam berpikir."
"Kedewasaan ternyata tidak dinilai dari berapapun usia kita, namun dari seberapa jauh pemikiran kita menghadapi setiap masalah"