Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Minta Maaf


__ADS_3

Ummi memeluk Aisha. Bergantian dengan Siti yang memeluk adiknya erat saat keduanya berpamitan.


Aisha meminta Ummi dan kakaknya agar pulang saja ke Pondok, karena keadaannya juga kini sudah lebih baik. Aisha pikir jika Ummi sebaiknya mengurus Abah yang juga masih perlu diperhatikan kondisi kesehatannya, selain itu Aisha tahu jika Siti juga harus segera mengurus perceraiannya ke pengadilan agama.


Siti yang bersikeras untuk bercerai ingin segera mengajukan gugatan ke pengadilan, dia ingin segera membereskan semuanya walaupun dia tahu jika proses perceraian nantinya tidaklah mudah mengingat suaminya yang juga bersikeras tidak akan menceraikannya.


"Aku akan selalu mendukung apapun keputusan kakak," ucap Aisha memandang kakaknya dengan penuh kasih sayang.


Siti tersenyum, dia kembali memeluk adiknya erat.


"Kamu juga cepat sembuh dik. Kehidupan baru sudah menunggumu. Setelah ini kamu akan menjalani rumah tangga yang sesungguhnya."


Akhirnya Ummi dan Situ kembali pulang, hal lain yang membuat Ummi tenang meninggalkan putrinya adalah karena ada besannya, dia tahu jika mertua putrinya itu akan menjaga Aisha dengan baik.


"Titip anak saya," ucap Ummi pada Nurma, besannya sambil berpamitan.


Tentu saja ibu menjawab jika Aisha kini adalah putrinya, dia pasti akan merawat dan menjaganya seperti putri kandungnya sendiri.


Sepeninggal ibunya Aisha kini di temani oleh kedua mertuanya.


"Ibu senang Abah menerima Alvian kembali," ucap Ibu dengan lega.


Aisha tersenyum.


"Ibu harap kejadian kemarin bisa dijadikan pelajaran bagi suamimu. Jangan sampai dia menyakiti dan menyia-nyiakanmu lagi."


"Iya Ibu. Selalu ada pelajaran di balik kejadian. Aku tak menganggap masalah sebagai musibah karena selalu ada hikmahnya."


***


Malam hari.


Alvian yang baru saja melakukan operasi panjang segera berjalan menuju ruangan istrinya, dia yang semenjak tadi sore berada di ruang operasi berjalan terburu-buru untuk menemui istrinya.


Dia membuka pintu, mendapati istrinya tengah duduk di atas ranjang seorang diri.


"Mana ibu dan Ayah?" tanyanya heran sambil menghampiri sang istri.


"Aku menyuruh mereka untuk pulang, aku lihat kondisi kesehatan ayah juga sedang tidak baik. Jadi aku memaksa Ibu untuk membawa ayah istirahat di apartemen."


Alvian mengangguk sambil duduk di samping istrinya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Baik," jawab Aisha sambil melihat wajah sang suami, nampak sangat letih dan lelah.


"Bagaimana operasinya?"


"Alhamdulillah lancar," jawab Alvian sambil memeriksa infus dan bertanya berbagai macam hal mengenai kondisi istrinya pasca operasi.


"Katakan jika kamu merasa kesakitan aku akan...." Alvian menghentikan perkataannya karena Aisha yang tiba-tiba memegang tangannya.


"Aku baik-baik saja." Aisha menatap suaminya.


Alvian yang kaget tiba-tiba tersenyum kecil melihat tangan Aisha memegang tangannya.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku tahu kamu sangat lelah," ucap Aisha lagi dengan lembut.


Alvian menggelengkan kepalanya, dia lalu memegang erat tangan istrinya.


"Tadinya aku memang lelah, tapi sekarang tidak lagi." Alvian mencium tangan Aisha.


Aisha yang malu, langsung menarik tangannya dari sang suami.


Alvian tersenyum.


"Buka cadarmu. Aku tidak bisa melihat wajahmu yang pasti sedang kemerah-merahan." Alvian menggoda Aisha.


Aisha tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.


Alvian terus menatap istrinya penuh cinta.


Aisha mengangkat wajahnya, melihat suaminya.


"Kapan kira-kira aku bisa pulang?"


"Hmm.. Mungkin lusa, tapi itu semua tergantung kondisimu, kamu harus dirawat lebih lama karena infeksi dari usus buntu yang sudah pecah."


Aisha mengangguk.


"Maafkan aku." Alvian tiba-tiba kembali memegang tangan Aisha lagi.


Aisha kaget, dia menatap wajah suaminya.


"Pasti rasanya sakit sekali." Alvian terlihat merasa bersalah.


"Terkadang dibutuhkan rasa sakit terburuk untuk menghasilkan perubahan terbaik." Aisha tersenyum.


____


Aisha tidak bisa tidur, sedari tadi dia hanya melihat kepala sang suami yang tidur sambil duduk, menelungkupkan kepala di sampingnya.


Dia perlahan mengangkat tangannya, dengan perlahan juga dia mengelus kepala suaminya.


Aisha terus melakukannya, berharap jika itu akan semakin membuatnya terlelap dalam tidurnya, dia tahu jika kelelahan membuat suaminya tertidur di sampingnya.


Aisha berniat menghentikan usapannya, mengangkat tangannya dari kepala sang suami, namun tiba-tiba tangan Alvian menahannya. Menyimpan kembali tangan Aisha di kepalanya.


"Jangan berhenti," ucap Alvian pelan masih dengan sambil menelungkup.


"Aku kira kamu tidur."


"Maaf jika aku membangunkanmu," ucap Aisha lagi.


Alvian mengangkat kepalanya, kembali duduk dengan tegap sambil menatap wajah istrinya yang polos tanpa cadar menghalanginya.


"Bagaimana aku bisa tidur jika istriku belum tidur."


"Aku belum mengantuk."


"Aku akan memberikanmu obat tidur. Begadang tidak baik untukmu sekarang." Alvian beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku akan tidur sekarang."


"Baiklah." Alvian kembali duduk.


"Tidurlah," ucapnya lagi dengan lembut sambil mengusap kepala istrinya perlahan.


"Sebaiknya kamu juga tidur,"


"Iya. Setelah kamu tidur, aku juga pasti akan tidur."


***


Keesokan harinya.


Setelah menyuapi istrinya makan, Alvian berpamitan karena harus memeriksa beberapa pasiennya, dia pergi meninggalkan Aisha setelah memastikan jika ibunya sedang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.


Aisha yang sendirian tampak sibuk berbicara melalui telepon dengan Ummi dan Abah yang menanyakan keadaannya.


Aisha tampak menyudahi pembicaraannya, dia menyimpan ponselnya.


Tiba-tiba pintu terbuka, Aisha kaget melihat orang yang masuk ke dalam ruangannya.


Anita berjalan menghampirinya sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Anita sambil duduk di sampingnya.


"Baik. Terima kasih."


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Anita melihat Aisha.


"Ya. Katakanlah."


"Aku ingin minta maaf."


Aisha kaget.


"Untuk apa?"


"Semua kesalahanku padamu, suamimu dan keluargamu." Anita menunduk.


Aisha melihat Anita dengan heran, kali ini Anita terlihat tak seperti biasanya yang selalu sinis dan arogan.


"Aku menyadari jika sulit bagiku untuk menggapai Alvian kembali, dia sudah menjadi milikmu seutuhnya, tak mungkin lagi kembali padaku." Anita berkata dengan sungguh-sungguh.


Aisha juga melihat dengan jelas kesungguhan dari perkataan Anita, dan itu membuatnya sedikit bersimpati.


"Aku sadar, segala upaya yang kulakukan untuk membuat Alvian kembali padaku malah membuatnya semakin menjauhiku. Aku juga baru sadar jika Alvian memang bukan jodohku, dia bukan untukku."


Aisha menatap Anita lekat.


"Jodoh itu rahasia Allah. Sekuat apapun kita menginginkannya, selama apapun kita menunggunya, sekeras apapun kita bersabar, sejujur apapun kita menerima dia, jika Allah tak menulis jodoh kita adalah dengannya, maka kita tak akan bersamanya."


"Allah lepaskan sesuatu dari genggamanmu, karena Allah tahu jika itu bukan terbaik untukmu, Namun ingatlah sesuatu yang hilang darimu tidak lain karena Allah ingin menggantikannya dengan yang lebih baik."


"Berpikir positiflah dan terima takdir-Nya dengan keikhlasan, karena tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar dan akan bertemu pada saatnya."

__ADS_1


__ADS_2