Di Balik Cadar Aisha

Di Balik Cadar Aisha
Bukti.


__ADS_3

Alvian kembali tersedak menumpahkan air di gelas hingga mengenai bajunya.


Aisha tersenyum geli melihat baju suaminya yang basah.


"Bajumu basah," ucap Aisha menunjuk baju suaminya sambil tersenyum.


Alvian yang berusaha meredakan batuk, melihat bajunya yang basah


"Iya. Kamu benar. Basah." Alvian memegang bajunya.


"Aku harus ganti baju." Alvian melihat istrinya. Tanpa diduga dia langsung membuka baju di hadapan Aisha.


Aisha tersentak kaget melihat suaminya tiba-tiba membuka baju di hadapannya, kini Alvian berdiri di depannya dengan bertelanjang dada.


Alvian berjalan menghampirinya, hingga membuatnya refleks mundur sambil melihat dada suaminya yang bidang dan berotot.


Aisha tak lagi bisa mundur karena dibelakangnya sudah ada kulkas, namun suaminya tetap berjalan mendekatinya hingga akhirnya Alvian sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Oh iya. Malam ini," ucap Alvian sambil menatap wajah istrinya lekat.


Aisha berusaha untuk tidak menunjukkan ketakutannya, dia memaksakan diri tersenyum, walaupun sebenarnya dia sedikit gugup, apalagi ketika suaminya semakin mendekatinya dengan dada polosnya, hingga kini tubuh mereka saling menempel.


Alvian sudah pasti tahu itu, karena nyatanya Aisha tak mungkin seberani seperti selalu yang dia tunjukkan. Istrinya gugup.


Namun rupanya Alvian semakin menikmati kegugupan sang istri, dia kini mengangkat wajah Aisha yang sedari tadi menunduk, satu tangannya lagi dia lingkarkan di pinggang istrinya. Merengkuhnya ke dalam pelukannya.


Kedua wajah mereka kini saling menatap, Alvian semakin mendekatkan wajahnya hingga kini hidung mereka saling beradu.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Alvian lembut.


Aisha langsung mengangguk pelan.


Membuat Alvian langsung mengecup bibir istrinya, Aisha yang seakan sudah pasrah hanya diam dan seolah siap menerima apapun aksi suaminya selanjutnya.


Dan benar saja, Alvian langsung menggendongnya. Tanpa banyak bicara dia membawa istrinya memasuki kamar.


***


...Bismillahil 'aliyyil 'azhim. Allahummaj'alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani....


Artinya: "Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kau anugerahkan padaku."


Alvian memulai dengan mencumbu dan mencium istrinya dengan lembut, Aisha yang telah menyerahkan seluruh hak suaminya atas dirinya berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan melayani suaminya sepenuh hati. Membiarkan Alvian menguasai tubuhnya sesuka hati.


Di malam itu, dua insan sedang terlena dalam kenikmatan dunia, memadukan cinta dan tubuh mereka. Saling berbagi rasa, mengungkapkan cinta namun bukan sekedar untuk melepas syahwat semata. Tidak lain karena mengejar pahala dengan niat ibadah kepada-Nya.


Di akhir pergumulan panas mereka, Alvian mengakhirinya dengan mencium kening istrinya.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu bidadari surgaku."


***


Pagi hari.


Aisha yang sedang memasak kaget ketika tiba-tiba Alvian memeluknya dari belakang.


Suaminya itu melingkarkan tangan di pinggangnya dengan erat, sambil menciumi leher dan rambutnya yang masih basah.


"Duduklah. Makanan sebentar lagi siap."


"Kenapa pagi sekali sudah masak?"


"Loh. Bukannya hari ini kerja?"


"Tidak." Alvian melepaskan pelukannya, memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.


"Aku mengambil cuti." Alvian tersenyum sambil merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Cuti?"

__ADS_1


Alvian mengangguk sambil memegang dagu Aisha.


"Kita akan bulan madu, ke tempat yang indah," ucapnya sambil kemudian mengecup bibir istrinya.


"Bulan madu? Kemana?"


"Kamu mau kemana?"


Aisha membalikkan tubuhnya, harus membalikkan masakannya.


"Aku tidak mau kemana-mana."


Alvian kaget. "Kenapa?"


Aisha kembali membalikkan tubuhnya, melihat suaminya.


"Tempat paling indah buatku adalah di dalam pelukanmu, dan kamu tahu, hanya diam saja asal itu bersamamu terasa sangat nyaman bagiku. Aku sudah bahagia walaupun hanya itu duduk pojokan kursi sana."


"Kita tidak perlu kemanapun, kita akan berbulan madu disini saja." Aisha mengecup bibir suaminya.


Alvian tersenyum bahagia.


***


Tiga hari kemudian.


Alvian sudah kembali bekerja mulai hari ini.


Aisha terkejut karena tiba-tiba Anita datang ke rumahnya, rupanya Anita yang selama ini memantau kasus penganiayaan kakaknya membawa berita yang cukup mencengangkan. Berita itu dia dapatkan dari temannya yang seorang polisi, yang juga kebetulan menangani kasus penganiyaan Lela.


"Ammar menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan padanya." Anita melihat Aisha dengan serius.


Aisha kaget.


"Ammar dan kuasa hukumnya bersikeras jika dia bukan pelakunya."


"Mereka menuduh kakakmu telah memfitnahnya, mengatakan jika lukanya di akibatkan oleh orang lain," lanjut Anita lagi dengan kesalnya.


"Apa kakakmu pernah cerita jika ada seseorang yang telah membantunya kabur dan membelikannya tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia?"


"Iya." Aisha langsung teringat jika kakaknya memang pernah menceritakan orang itu.


"Ammar menuduh jika orang itulah pelaku sebenarnya."


"Apa?" Aisha tak percaya.


Keduanya terdiam sejenak.


"Kita harus bertanya pada kakakmu siapa orang itu." Anita kembali melihat Aisha.


Aisha mengangguk.


Setelah itu mereka segera menelepon Lela, menanyakan perihal orang yang telah membantunya waktu itu. Namun Lela justru tak mengetahui namanya yang dia tahu jika orang itu adalah tetangganya.


"Aku tidak tahu siapa laki-laki itu, bahkan namanya dan wajahnya pun aku tidak tahu, yang kuingat waktu itu, sewaktu aku habis dipukuli suamiku, dan suamiku pergi untuk ke kampus, orang itu mengetuk pintu rumahku, tanpa masuk ke dalam rumah dia memberikan aku uang dan tiket pesawat, dan menyuruhku untuk segera pergi." Lela menceritakan semuanya.


Mendengar itu Aisha dan Anita terlihat putus asa.


"Suamimu pasti sudah tahu mengenai hal ini, pengacara pasti sudah memberitahunya."


***


"Kenapa sepertinya kamu tertarik sekali sama kasus ini?" tanya Rika, teman polisi Anita. Ketika keduanya makan siang bersama di cafetaria dekat dengan kantor polisi.


"Aku juga tidak tahu, aku juga merasa heran biasanya aku tidak mau ikut campur urusan orang."


"Terus? Setahuku mereka bukan siapa-siapamu, bahkan kamu bilang jika korban adalah kakak kandung dari wanita yang merebut Alvian darimu."


Anita mengangguk.

__ADS_1


"Mungkin kata-katanya harus diganti, bukan merebut, tapi lebih tepatnya memang Alvian bukan jodohku."


Rika tersenyum senang.


"Aku senang kamu sudah legowo."


"Kenapa aku sangat tertarik?Aku hanya merasa iba melihat seorang wanita di siksa dan dianiaya seperti itu, hatiku miris melihatnya, aku ingin sekali pelakunya mendapatkan hadiah hukuman yang setimpal," ucap Anita lagi.


Tiba-tiba terdengar ponsel Rika berbunyi, dia segera mengangkatnya, dan terlibat percakapan dengan si penelepon.


"Benarkah?" Rika terlihat senang sambil melihat Anita.


Rika mematikan teleponnya.


"Orang itu datang."


"Orang mana?"


"Orang yang sudah menolong korban, dia datang langsung dari Mesir untuk memberikan kesaksian dan bantahannya." Rika bersiap untuk pergi.


"Aku boleh ikut?" Anita ikut berdiri.


"Tentu saja."


***


Di halaman kantor kepolisian.


Seorang laki-laki yang baru saja memberikan bukti penganiayaan berupa video pada pihak kepolisian dihadang oleh Ammar yang baru saja datang.


Ammar berdiri dengan garangnya sambil menatap laki-laki di depannya dengan penuh kemarahan.


Laki-laki ini Ammar kenal betul, dia adalah teman satu angkatan dengannya, sama-sama sedang menempuh pendidikan di Universitas Kairo sana. Bahkan dia juga tahu jika laki-laki ini juga tinggal di gedung yang bersebelahan dengannya. Wajar jika orang di depannya ini mengaku sering melihat penganiayaan yang dilakukannya.


"Kenapa kamu ikut campur urusan rumah tanggaku?" Ammar bertanya dengan marah.


"Mana mungkin aku diam saja ketika melihat seorang laki-laki menyiksa istrinya sendiri." Zaidan tersenyum.


"Dia istriku, aku berhak melakukan apapun padanya."


"Justru karena dia istrimu, bukan samsak tinju yang harus kau pukuli setiap hari."


Ammar geram, dia yang sudah tidak tahan memukul wajah Zaidan di depannya.


Rika dan Anita yang baru datang langsung menghampiri keduanya, beberapa orang polisi langsung menciduk Ammar dan membawanya ke dalam.


Sementara Zaidan yang jatuh ke bawah, berusaha berdiri sambil memegang bibirnya yang berdarah.


Anita berusaha membantunya, namun Zaidan menepis tangannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anita sambil berusaha melihat luka di bibirnya.


Zaidan malah terus memalingkan wajahnya dari Anita.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anita lagi heran melihat lelaki di depannya terus membuang muka darinya.


"Saya baik-baik saja," jawab Zaidan sambil mengambil tasnya.


"Jadi kamu orang yang sudah menolong Lela? Kamu tahu aku senang sekali akhirnya kamu datang dan memberikan bukti penganiayaan itu pada polisi." Anita terdengar sangat bahagia.


Zaidan tampak kaget. Namun tak serta merta membuatnya langsung melihat wajah Anita.


"Kamu mengenalnya?" tanyanya sambil menyeka luka di bibirnya.


"Siapa? Lela?" tanya Anita. "Iya. Aku mengenalnya."


"Apa dia temanmu?" tanya Zaidan sambil berjalan.


Anita mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Iya bisa dibilang seperti itu."


"Kenapa bisa dia bisa berteman dengan wanita sepertimu?" tanya Zaidan yang langsung membuat Anita menghentikan langkahnya.


__ADS_2