
"Sayang. Maafkan aku jika pulang telat, aku harus mengurus Andre dulu," ucap Alvian ketika dirinya mengantarkan istrinya ke rumah mereka.
"Iya tidak apa-apa. Urus saja kak Andre, kasihan karena tidak ada siapapun yang akan mengurusnya."
Alvian lalu mengecup kening istrinya, setelah itu dia kembali menuju mobil dimana Andre menunggunya untuk dibawa ke Rumah Sakit.
Alvian segera melajukan kendaraannya, walaupun dia tahu jika luka Andre tidak begitu parah, namun tetap harus secepatnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit.
Sementara Aisha langsung masuk ke dalam rumahnya, beristirahat sejenak karena badannya terasa lemas, setelah itu dia lalu mulai melakukan pekerjaan rumah, dimulai dari membereskan baju miliknya dan juga milik sang suami.
Di Rumah Sakit.
Andre tampak merenung sambil melihat kakinya yang sudah diobati dan di perban, sambil terus memperhatikan kakinya itu dia kembali memikirkan perkataan Alvian dan Aisha.
Lagi-lagi kata-kata Aisha menohok hatinya, terlebih untuk kali ini rasanya sangat dalam sekali hingga membuatnya terus merenung memikirkannya.
Dia merasa jika apa yang dikatakan pasangan suami istri itu sangatlah benar, jika saja dirinya menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan tadi maka saat ini bukan di ruangan VIP ini dirinya berada, namun sudah pasti berada di kamar jenazah rumah sakit ini.
Mengingat itu, membuat Andre kemudian mengucap syukur berkali-kali, dan mengakui jika apa yang dikatakan Aisha memang benar jika ini pasti adalah bentuk teguran Allah baginya untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri.
Tak lama Alvian datang.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil berjalan mendekatinya.
Andre tak menjawab, dia hanya memperhatikan wajah saudaranya itu.
Alvian tersenyum.
"Maaf. Aku bercanda tadi. Kakimu baik-baik saja," ucapnya sambil mengamati cairan infus Andre.
Andre menghela napas panjang, lalu menghembuskan kasar.
"Jika butuh sesuatu panggil saja perawat, jika aku tidak sibuk aku akan sering melihatmu kesini."
Andre terdiam tak menjawab.
Alvian lantas akan pergi.
"Tunggu."
Alvian langsung menghentikan langkahnya, membalikkan badan melihat Andre.
"Aku...Maafkan aku." Andre terbata.
"Maaf?" Alvian heran.
"Iya. Maaf. Untuk semuanya."
Alvian tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa meminta maaf padaku? Bukan aku yang sudah kamu ingkari. Tapi Allah."
"Sesungguhnya ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosamu, engkau hanya perlu memintanya," ucap Alvian lagi sambil melengos pergi.
Andre langsung menundukkan kepalanya.
***
Alvian berjalan mondar-mandir di lobi depan Rumah Sakit, menunggu kedatangan sang istri yang katanya akan datang ke sana untuk melihat keadaan Andre.
Rupanya Aisha berinisiatif membawakan makanan untuk suaminya dan Andre. Dia tahu jika bukan dirinya dan sang suami, tak akan ada lagi yang akan merawat dan mengurus saudara suaminya itu disaat keadaannya yang seperti ini.
Alvian tak bisa melarang istrinya yang ingin datang ke Rumah Sakit, walaupun sebenarnya dia ingin agar istrinya itu beristirahat saja di rumah, namun dia mengerti jika Aisha pasti merasa bosan jika terus sendirian di rumah sementara dirinya juga tidak bisa cepat pulang karena harus merawat Andre.
Akhirnya Aisha datang dengan menggunakan taksi, Alvian langsung menyambut istrinya.
"Sebenarnya aku ingin kamu istirahat saja di rumah, tapi aku juga senang kamu kesini, karena aku bisa melihatmu," ucap Alvian senang sembari menggandeng tangan istrinya berjalan menuju ruang perawatan Andre.
Sesampainya disana, Andre tampak tengah sibuk menelepon, rupanya dia sedang memberi kabar kepada sekretaris dan teman kerjanya jika dirinya belum bisa kembali ke Singapura dikarenakan kecelakaan yang menimpanya.
Setelah selesai, Andre langsung melihat Aisha dan Alvian yang sibuk mengeluarkan makanan yang Aisha bawa.
Tentu saja Andre merasa tak enak hati, dia merasa telah merepotkan Alvian dan juga istrinya.
***
"Kalian pulang saja, aku tidak apa-apa disini sendirian," ucap Andre melihat Alvian dan istrinya.
Alvian dan Aisha langsung berpandangan.
"Kamu yakin? Apa tidak apa-apa kamu disini sendirian?" tanya Alvian memastikan.
"Iya, aku tidak apa-apa. Kalau perlu sesuatu ada perawat yang akan membantuku."
"Baiklah kalau begitu, kami pulang."
Andre mengangguk.
Ketika keduanya tengah bersiap-siap, terdengar suara ketukan pintu lalu seseorang masuk ke dalam.
Aisha langsung menyambut kedatangan orang itu dengan senang, mereka langsung berpelukan erat.
Sementara Andre merasa penasaran dengan wanita yang berpakaian hampir sama dengan Aisha masuk ke ruangannya.
Anita lalu berjalan menghampiri Andre.
"Bagaimana keadaanmu? Apa lukanya parah? Aku langsung kesini setelah Aisha memberitahuku jika kamu mengalami kecelakaan."
Andre terdiam sejenak, rasa-rasanya dia kenal dengan suara wanita yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Aku baik."
"Syukurlah."
"Hmm... Kamu siapa? Apa kita saling mengenal?"
Anita tersenyum.
"Apa kamu tidak mengenaliku?"
Andre menggelengkan kepalanya.
"Aku Anita."
Andre tercengang. Dia kembali melihat penampilan teman lamanya itu dari bawah hingga ke atas. Berkali-kali dengan mulut yang ternganga lebar.
Anita menahan tawanya, dia lalu kembali menghampiri Aisha, keakraban keduanya semakin membuat Andre keheranan .
Andre melihat Alvian dengan tidak percaya.
Alvian hanya tersenyum melihat reaksi saudaranya.
***
Sembari menunggu Alvian yang tiba-tiba ada pasien yang harus diperiksa, Aisha dan Anita mengobrol bersama di lobi Rumah Sakit.
"Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri."
"Terima kasih, sedikit banyaknya kamu turut andil dalam pernikahan ini, jika kamu tak menyakinkanku yang ragu-ragu waktu itu, belum tentu sekarang aku akan menikah dengan Zaidan."
"Alhamdulilah. Semoga sekarang kamu yakin akan pilihanmu."
"Insya Allah. Sekarang aku yakin jika memang dia calon suami yang telah Allah pilihkan untukku."
Aisha tersenyum.
"Karena selalu ada kebaikan di setiap ketetapan Allah Sang Sutradara, walaupun ada banyak rahasia kenapa Allah menikahkanmu dengannya, pasti ada jawabannya."
"Seperti kamu yang merasa dia terlalu sempurna untukmu, mungkin Allah ingin agar dia yang menjaga ke-istiqomahan dirimu, mengirimnya untuk mengajarimu agar lebih dekat dengan-Nya."
"Ada juga sebaliknya, ada istri yang mengeluh karena menikah dengan laki-laki yang tak pandai berkata, merayu dan menggodanya, mungkin itulah cara Allah menjaga lisannya agar mewujudkan cintanya dalam kerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga."
"Istri yang mengeluh suaminya tak banyak bicara, itulah cara Allah agar heningnya menahan kita untuk banyak bicara, memutus rantai kalimat sanggahan yang kadang menuai perkara dalam rumah tangga."
"Ada juga istri yang mengeluh suaminya tidak kaya, yang membawa banyak uang setiap pulang kerja, ingatlah walaupun sederhana mungkin itulah cara Allah menjaga kehalalan rezeki yang dibawanya."
"Istri yang mengeluh suaminya bukan pejabat yang mempunyai tahta, yang dipuja bawahannya, tapi mungkin di balik kedudukannya yang biasa ia mampu menjadi imam keluarga yang mempunyai derajat taqwa sempurna."
"Mungkin itulah jawaban mengapa Allah menikahkan kita dengannya."
__ADS_1