
Senyum Alvian merekah sambil perlahan berjalan mendekati istrinya.
Aisha yang berdiri di ambang pintu menatap Alvian yang berjalan terus mendekatinya.
Kini mereka sudah berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
Alvian mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, yang membuat Aisha refleks menutup matanya.
Alvian tersenyum geli.
"Apa kamu sudah benar-benar siap?" bisik Alvian pelan.
Tanpa membuka matanya Aisha mengangguk pelan, walaupun tak dapat dipungkiri jika sebenarnya dia sedikit merasa ketakutan.
Alvian kembali tersenyum, dia memegang dagu istrinya, yang membuat Aisha langsung membuka matanya.
"Kamu yakin?" tanyanya lagi sambil menatap wajah istrinya penuh cinta.
Lagi-lagi Aisha menganggukkan kepalanya.
Tanpa diduga Alvian langsung memegang perut istrinya, membuat Aisha kaget, hingga badannya sedikit gemetar.
"Ini. Luka ini belum sembuh. Kamu baru dioperasi empat hari yang lalu." Alvian meraba luka operasi istrinya.
Aisha langsung melihat perutnya.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Alvian lagi sambil tersenyum.
Aisha tersenyum malu.
"Kita masih punya banyak waktu," bisiknya lagi dengan lembut.
Pipi Aisha semakin merah menahan malu. Dia menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Alvian mendorong tubuh Aisha dengan pelan.
"Masuklah. Aku tak mau ada mata lain yang melihat keindahan tubuhmu ini."
Aisha mundur sambil tersenyum.
"Lagi pula kamu akan masuk angin." Alvian menutup pintu sambil terus melihat istrinya. Melihat lingerie yang tipis nan menerawang yang dikenakannya. Sehingga nampak jelas terlihat lekuk tubuh istrinya.
Aisha salah tingkah.
Alvian kembali berjalan mendekati istrinya yang berada di samping tempat tidur.
Dia mengambil selimut.
"Aku lelaki normal. Aku bisa saja lepas kendali jika melihatmu seperti ini terus," Alvian menutupi tubuh Aisha dengan selimut di tangannya.
"Kamu masih sakit dan aku tidak mau memaksakan kehendakku."
"Dan asal kamu tahu butuh tubuh dan stamina yang kuat untuk melakukan itu," bisik Alvian lagi membuat Aisha semakin malu.
Aisha kembali menundukkan kepalanya. Alvian tersenyum lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Aisha terdiam ketika Alvian memeluknya erat.
"Aku tahu jika kamu semata-mata sudah ingin segera menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri. Tapi seperti kataku tadi. Kita masih punya banyak waktu."
Alvian melepaskan pelukannya, melihat wajah istrinya.
"Kali ini aku sanggup menahannya. Tapi setelah kamu pulih. Persiapkan dirimu." Alvian lalu mengecup kening Aisha dengan pelan lalu kembali memeluknya erat.
***
Keesokan harinya.
Alvian dan Aisha berpamitan kepada Ayah dan Ibu karena mereka harus segera kembali ke kota mengingat pekerjaan Alvian yang banyak.
__ADS_1
Walaupun dengan berat hati ibu mengizinkan Aisha untuk ikut pulang walaupun sebenarnya ibu tahu jika Aisha masih memerlukan seseorang untuk merawatnya mengingat dirinya yang belum pulih benar.
"Jaga istrimu baik-baik. Kalau bisa sementara ini kurangi sedikit pekerjaanmu. Luangkan waktu lebih banyak untuknya."
"Iya Ibu. Aku akan menjaganya dengan baik."
"Seandainya kesehatan ayahmu sedang baik. Ibu pasti ikut kalian, agar bisa merawat Aisha."
"Tidak apa-apa Bu, aku baik-baik saja. Doakan saja biar aku bisa lekas pulih."
Ibu mengangguk sambil memeluk menantunya.
Di perjalanan.
Aisha tampak sibuk memainkan ponselnya, membuat Alvian yang menyetir di sampingnya sedikit penasaran.
"Siapa?"
Aisha langsung melihat suaminya.
"Kamu sedang berkirim pesan dengan siapa?" Alvian memperjelas pertanyaannya.
"Kak Siti."
Alvian mengangguk.
"Apa gugatan cerainya sudah diajukan?" tanya Alvian.
"Sudah. Kemarin," jawab Aisha pelan.
"Semoga prosesnya cepat dan lancar."
Aisha terdiam sejenak.
"Mudah-mudahan seperti itu karena Kak Yusuf tetap pada pendiriannya untuk tidak bercerai."
"Sepertinya prosesnya akan lambat," ucap Aisha lagi sambil melihat suaminya.
"Kak Siti biar bagaimanapun tetap harus berpisah dengan suaminya," ucap Aisha.
"Karena Kak Yusuf sama sekali tidak mengerti akan syariat poligami, yang dia tahu jika menikah dua kali itu sudah mengikuti sunah rasul saja."
"Seandainya jika Kak Yusuf tahu bahwa Kak Siti sedang berusaha agar membuatnya tak terjerumus lebih dalam lagi pada dosa karena dirinya yang tak bisa adil pada kedua istrinya."
Alvian hanya terdiam.
"Aku benci poligami, bukan benci syariatnya. Benci poligami adalah naluri semua wanita, yang tidak ikhlas berbagi suami dan cinta, takut diperlakukan tidak sama rata karena wanita tahu jika suami hanyalah manusia biasa bukanlah nabi utusan-Nya."
"Lain halnya jika benci syariatnya. Menganggap jika syariat ini tidak sesuai dengan kemaslahatan manusia serta mendatangkan kerusakan rumah tangga. Benci seperti ini haram hukumnya dan mendatangkan pada kekufuran."
Alvian mengangguk mengerti.
Aisha tampak sangat kesal karena terus memikirkan kakak iparnya.
Alvian segera memegang tangan istrinya.
"Sudah. Kamu tidak perlu ikut stres seperti ini. Kita doakan saja agar semuanya diberikan kelancaran."
***
Sesampainya di apartemen.
"Aku harus segera ke Rumah Sakit sekarang. Ada operasi yang harus segera kulakukan."
"Kamu istirahat saja. Aku mohon. Istirahat saja. Jangan melakukan apalagi itu melakukan pekerjaan rumah." Alvian menatap istrinya.
Aisha membuka cadarnya.
"Iya."
__ADS_1
"Baiklah aku pergi sekarang." Alvian membuka pintu kamar.
Tiba-tiba Aisha memegang tangannya.
Alvian kaget dan melihat istrinya.
Aisha mencium tangan suaminya.
"Semoga operasinya lancar."
Alvian tersenyum, dia lalu menarik Aisha ke dalam pelukannya.
"Terima kasih." Alvian mengecup kening istrinya.
***
Alvian tidak sengaja berpapasan dengan Anita. Keduanya tampak saling diam tak saling menghiraukan.
"Kamu sungguh-sungguh sudah merelakan Alvian?" tanya sahabat Anita yang melihat keduanya seolah-olah tak saling kenal.
Anita hanya mengangguk saja.
"Sayang sekali padahal kalian serasi, selain itu kalian sudah berpacaran cukup lama."
Anita tersenyum.
"Iya. Tapi kami tidak jodoh."
"Iya. Kalau kata anak muda sekarang kamu itu jagain jodohnya orang."
Keduanya tertawa cekikikan.
Sementara itu, Alvian bersiap untuk pulang, membuat teman dokternya heran.
"Tolong awasi pasien yang baru saja aku operasi, jika ada apa-apa segera hubungi aku."
"Kamu mau kemana?" tanya temannya heran.
"Mau pulang. Memangnya mau kemana lagi."
"Mentang-mentang sudah ada istri," ucap sahabatnya menggoda.
Alvian tersenyum. Dia lalu berjalan dengan cepat meninggalkan ruangannya.
Sesampainya di apartemen.
Alvian membuka pintu, langsung tercium bau masakan yang sangat menggugah seleranya.
Dia memasuki rumah lebih dalam lagi dan kaget melihat Aisha sedang berada di dapur.
Alvian lagi-lagi dibuat terpana dengan penampilan Aisha yang memakai baju tidur minim, walaupun tidak seperti malam kemarin yang tipis dan menerawang tapi tetap saja tetap saja Alvian dibuat ketar-ketir melihatnya.
"Sudah pulang ya." Aisha menyambut suaminya sambil tersenyum dan mencium tangannya.
Alvian yang bengong melihat istrinya.
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Maaf aku lapar. Jadi aku masak."
"Maksudku ini." Alvian memegang baju tidur istrinya yang panjangnya di atas lutut.
"Kenapa?" tanya Aisha heran.
"Kamu ingin menggodaku terus ya?" tanya Alvian sambil tersenyum.
"Tidak ada batasan aurat antara suami dan istri. Aku ingin kamu melihat dan menikmati tubuhku karena selama ini aku menutupnya hanya untukmu."
"Suamiku sendiri yang bangga akan keindahan dan kecantikanku, bukan laki-laki lain."
__ADS_1
"Bersiaplah karena mulai sekarang kamu suamiku akan terus tergoda." Aisha mengedipkan sebelah matanya.