
Sambil melajukan kendaraan mewahnya dengan lumayan kencang, Andre kembali mengingat semua perkataan Aisha padanya. Perkataan yang selalu menohok hatinya hingga membuatnya terdiam tak berkutik.
Andre nampak kesal, dia merasa kalah oleh seorang wanita yang awalnya dia pikir norak dan ketinggalan zaman, namun siapa sangka ternyata dia salah, wanita yang dia pikir tidak ada apa-apanya itu justru seorang wanita yang cerdas, lugas dan berani yang semua perkataannya menunjukan kualitas dirinya sebagai wanita yang sudah pasti berpendidikan tinggi.
Bukan hanya itu saja, dia juga salah akan penampilannya, di balik penampilannya yang sangat tertutup, bahkan hingga wajahnya-pun dia tutupi, awalnya yang dia sangka wanita itu biasa saja, ternyata tersimpan kecantikan alami yang mempesona.
Iya. Walaupun sudah berusaha menyangkalnya, namun dirinya tetap mengakui jika ternyata istrinya Alvian itu cantik, bahkan bagi dirinya yang setiap hari di kelilingi wanita-wanita cantik, Andre tetap merasa jika kecantikan Aisha dan wanita-wanita yang dikenalnya sungguh berbeda. Ada satu kelebihan yang membuat kecantikan Aisha bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
Andre langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis semua hal tentang Aisha yang terus berseliweran di kepalanya.
Dia mencoba mengatakan pada dirinya sendiri jika Aisha tetaplah wanita kampung biasa, dia wanita sok alim yang merasa jika hidupnya sudah paling benar.
***
Keesokan harinya.
Setelah cukup lama tidak mengalami mual muntah, kali ini tiba-tiba Aisha merasakannya lagi, semenjak tadi pagi dia terus saja merasa mual hingga membuatnya bolak-balik ke dalam kamar mandi.
Ibu yang mengetahui hal itu terlihat sedikit cemas, akhirnya dia menelepon Alvian walaupun Aisha sudah melarangnya.
Tentu saja Alvian dibuat panik, dia merasa cemas dan khawatir akan keadaan Aisha.
"Aku baik-baik saja, sudah agak mendingan." Aisha berusaha menenangkan suaminya, mereka berbicara lewat sambungan video call
"Aku akan telepon Anita, akan aku minta dia datang ke sana untuk melihat keadaanmu." Alvian terlihat sangat cemas melihat wajah istrinya yang tampak pucat di layar ponselnya.
"Tidak usah, jangan mengganggunya, jika ditelepon dia pasti akan segera datang meninggalkan semua pasiennya yang lebih membutuhkannya."
"Baiklah kalau begitu, tapi benar kamu sudah merasa enakan?"
"Iya." Aisha mengangguk sambil melihat wajah suami yang sudah dirindukannya.
Mereka lanjut berbincang mumpung Alvian masih ada waktu sebelum menghadiri acara seminar hari terakhir itu dimulai.
"Akhirnya besok aku akan pulang," ucap Alvian terlihat senang.
Aisha hanya tersenyum.
"Aku sudah sangat merindukanmu. Kamu tahu ini seminggu terlama dalam hidupku."
"Oh ya?"
"Apa kamu tidak percaya?"
Aisha menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa. Menggoda suaminya.
"Kenapa kamu tidak percaya?"
"Karena disana pasti banyak wanita cantik."
__ADS_1
Alvian tersenyum.
"Iya sayang. Disini memang banyak wanita cantik, tapi tak satupun yang aku lirik," jawab Alvian serius.
Aisha tersenyum senang.
"Kamu tahu sayang. Diantara ujian terberat laki-laki adalah menahan godaan wanita cantik diluar rumah. Hanya laki-laki yang dirahmati Allah yang sanggup menundukkan pandangannya. Aku tahu dan yakin jika suamiku akan seperti itu."
"Aku yakin kamu suami yang setia. Suami yang mampu menjaga dirinya ketika aku tidak ada, yang mampu menjaga namaku, membela namaku, dan selalu mengistimewakan hadirku walau kita tak sedang bersama."
"Terima kasih sudah percaya padaku."
***
Ibu memberikan susu hangat untuk menantunya.
"Terima kasih ibu. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Ibu dan ayah tidak perlu cemas."
Ibu dan ayah terlihat lega.
"Nak. Bersabarlah, Ibu juga seperti ini dulu ketika mengandung suamimu, bahkan sampai saat ini ibu masih ingat bagaimana rasanya merasakan mual dan muntah sepertimu tadi."
"Iya Ibu. Insya Allah aku akan bersabar menjalani dan melewati semua proses kehamilanku karena aku tahu pahala dan ganjaran yang diberikan Allah bagi setiap ibu hamil dan melahirkan, selain Allah juga mengangkat derajat kita, Allah juga menghapus dosa-dosa kita jika kita sabar menjalaninya."
Ibu langsung tersenyum.
"Itu benar Nak. Semua rasa payah, susah dan sakit selama hamil dan melahirkan tidaklah sia-sia karena Allah membayarnya dengan pahala yang teramat besar."
"Walaupun sangat ingin hamil lagi, tapi Allah hanya mempercayakan ibu dengan seorang anak saja, tapi ibu sangat bersyukur, karena setelah sekian lama ibu dan ayahmu menanti kehadiran anak, akhirnya Alvian hadir anugerah terindah yang diberikan Allah pada kita."
Aisha terdiam. Dia teringat akan cerita Ummi yang menceritakan kisah ibu dan ayah mertuanya yang harus menunggu cukup lama untuk mempunyai anak, sehingga kehadiran Alvian yang waktu itu bersamaan dengan kelahiran anak keempat Ummi yakni kak Zainab seperti sebuah keajaiban bagi ibu dan ayah mertuanya.
Aisha mendekati Ibu, dia lalu tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Ibu, jika segala keinginan kita tak sesuai dengan apa yang diharapkan, kita harus ingat jika rencana Allah pasti lebih baik, karena manusia merancang dengan cita-cita, tapi Allah merancangnya dengan cinta."
Ibu mengangguk sambil tersenyum di pelukan menantu kesayangannya.
***
Keesokan harinya.
Alvian baru saja turun dari pesawat, dia berjalan terburu-buru menghampiri seseorang yang sudah menunggunya.
Andre tersenyum senang melihat Alvian menghampirinya, setelah dekat mereka langsung berpelukan dengan erat. Kedua saudara yang sudah lama tidak bertemu ini saling meluapkan kerinduan mereka.
Andre lalu mengajak Alvian masuk ke dalam mobilnya.
"Untung saja kamu sudah kembali hari ini karena kalau besok kita tak akan bertemu."Andre lalu bercerita jika besok dia harus kembali ke Singapura untuk mengurus pekerjaannya.
__ADS_1
Mereka lalu berbincang sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Alvian, Andre yang sengaja menjemput saudaranya itu berniat menghabiskan hari terakhirnya di Indonesia dengan Alvian dan orang tuanya, karena hanya mereka keluarganya kini.
"Aku sudah bertemu dengan istrimu."
"Oh ya?"
"Aku pikir kamu akan menikah dengan Anita, tapi rupanya kamu harus menyerah dengan keinginan orang tuamu untuk menikah dengan wanita pilihan mereka."
"Aku malah bersyukur mereka menikahkan aku dengan Aisha."
Andre kaget.
"Awalnya memang aku tak menerimanya. Tapi kamu tahu jika sekarang aku bahkan sangat mencintainya."
"Mencintainya? Semudah itu?"
"Siapapun akan langsung menyukainya jika sudah mengenalnya lebih dekat." Alvian tersenyum sendiri mengingat semua hal yang membuatnya menyukai Aisha.
Andre akhirnya yakin jika Alvian memang mencintai Aisha, terlihat dari wajahnya sekarang yang berseri-seri mengingat istrinya.
---
Alvian telah sampai di rumah, dia disambut oleh kedua orang tua dan istrinya.
Setelah menyalami ayah dan ibu, Aisha menghampirinya dan mencium tangannya, Alvian yang sangat ingin memeluk istrinya mencoba menahan diri karena ada orang tuanya dan juga Andre disana.
Ibu dibantu oleh Aisha kemudian menyiapkan makan siang untuk mereka, setelah itu mereka semua makan siang bersama, kecuali Aisha yang rupanya masih sedikit merasa mual hingga tak berselera untuk makan, dia hanya duduk di samping suaminya untuk menemaninya.
Diam-diam Andre memperhatikan bagaimana sikap Alvian yang memperlakukan istrinya dengan baik, dari tatapan matanya dia bahkan kini sangat yakin jika Alvian bukan sekedar mencintainya saja, tapi sangat-sangat mencintai istrinya.
Hal itu sedikit membuatnya muak, dia heran dengan laki-laki yang bisa mencintai satu orang wanita saja.
"Jadi kapan kamu akan menikah?" tanya Alvian melihat Andre ketika mereka bercengkrama berdua setelah selesai makan.
Andre tersenyum.
"Pernikahan. Aku belum memikirkannya atau mungkin lebih tepatnya aku tidak memikirkannya."
"Kenapa? Kamu sudah mapan, usia juga sudah cukup, karirmu juga sedang bagus. Menikahlah hidupmu pasti akan menjadi lebih sempurna."
"Memang. Dibandingkan kamu aku nyatanya lebih sukses dan mapan, karirmu hanya jalan di tempat, menjadi dokter tidak seperti menjadi pengusaha yang karirnya bisa terus berkembang. Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Wanita secantik apapun juga bisa aku dapatkan mereka bahkan akan mengantri untuk menjadi istriku. Tapi aku tidak mau sepertimu."
Alvian tampak kaget dengan perkataan Andre.
"Aku tidak mau tunduk dengan satu orang wanita, lagipula jika tanpa menikah aku bisa bahagia, kenapa aku harus menikah? Tanpa menikah aku bisa bergonta-ganti wanita setiap hari sesuai keinginanku." Andre tertawa, melihat Alvian yang tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Suamiku." Aisha yang rupanya tak sengaja mendengar perkataan Andre menghampiri keduanya sambil membawa nampan berisi minuman di tangannya.
"Tak mengapa jika ada orang yang merendahkanmu, yang terpenting Allah bangga padamu. Suamiku pandangan manusia itu terbatas, sedangkan pandangan Allah itu tanpa batas, untuk apa disukai banyak manusia tapi ternyata Allah murka." Aisha melihat suaminya lembut sambil tersenyum sembari menyimpan nampan di atas meja.
__ADS_1
Aisha lalu melirik Andre sekilas.
"Seandainya anda tahu jika kita akan mati di atas kebiasaan yang kita lakukan. Takutlah jika usia anda berhenti di atas maksiat yang sedang anda nikmati."