Digi The Killer

Digi The Killer
7. Kisah si Penjual Minuman


__ADS_3

Text Message


Kana, kekasih, ketika pesan ini kukirimkan kepadamu, dadaku masih terbuncah rasa sebal yang amat sangat. Aku benci mati hari ini. Bayangkan saja, dua penjual minuman berturut-turut itu bersedia melayani aku. Penyebabnya hanya sepele, sebelum aku bercakap-cakap gengannya, aku menengok ponselku sebentar. Usai menengok aku langsung merespons dia punya tanya. Tapi penjual itu malah pergi masu ke dalam rumahnya, Dia tidak mau melayani aku. Padahal aku mau meliput Ramses. Sebentar lagi dipindah dan aku tidak punya kesempayan untuk membeli minuman.


----------------------------------------------------------------------------------


TIME.SPOT.MESSAGE.SENDER: RAMSES 1500 BC


----------------------------------------------------------------------------------


Kau jangan sekali-kali mengabaikan diriku. Aku sudah muak dengan kedatanganmu ke sini. Bukan untuk meliput iriku, tetapi justru asyik dengan besi rongsokan dari Jakarta, Awas, hati-hati dengan barang itu. Kau akan kehilangan segalanya, karena aku tidak pernah memberikan kesempatan kepada orang agar berbuat baik untuk kedua kalinya.


----------------------------------------------------------------------------------


TIME.SPOT.MESSAGE.SENDER: RAMSES 1500 BC


----------------------------------------------------------------------------------


Sialan. Sudah tidak mendapatkan minuman, komputeru kena virus lagi, Sayang. AKu tidak tahu virus apaan, tetapi terus menerorku dengan identitas Ramses yang hidup ada 1500 tahun Sebelum Masehi. Apa tidak tolol. Lebih tolol lagi, dia mau mendikte laporan tulisanku mengenai Ramses. Harus yang baik-baik, katanya Ramses sebagai raja yang bijak, bukan seperti di kitab suci yang dikutuk.

__ADS_1


Aku curiga dengan Pemerintah Mesir, Sayang. Apakah mereka menyusupkan pesan-pesan ini agar aku pulang dengan membawa berit ayang tidak diterima oleh pembaca? Sungguh, aku tiba-tiba mulai meresahkannya, Sayang.


Apalagi aku kini tidak ada air untuk melegakan tenggorokanku. Setidaknya air itu bisa meredakan keresahan ini.


Katanya, penjual adalah raja. Sialan mereka. Kamu tahu sendir, kita menengok ponsel tidaklah selama ini kita berak di WC atau menunggu bus umum. AKu sebal betul, Kenapa warga Kairo cepat terssinggung? Apakah mereka hanya iri dengan ponsel yang aku miliki? Atau memang mereka bersiat rasis? Ideologis? Huh. Sialan mereka.


Aku akan menceritakan ini semua di koran-koran Indonesia. Biar tahu rasa. Aku tahu bagaimana menceritakan dengan gaya yang halus mendayu-dayu, membuat pembaca terlena, padahal itu berisi tohokan yang menyakitkan dan pedas, Benar, aku akan melakukannya, Kan. Balas ya, aku merindukanmu di sini.


Sending to


Kitakana


+628123


….


Message sent.


***

__ADS_1


8


Aku Tahu Kamu sibuk


TEXT:


Kekasih, aku bisa memahami perasaanmu. Tetapi kalau boleh jujur di Jakarta pun jamu mengalami hal yang sama bukan? Ingatlah ketika kau mengantre bayar belanjaan di Carefour. Kamu menyumpah-nyumpagi karena disalip beberapa orang, tetapi kasir malah menyalahkanmu, bukan? Aku sayang kamu, rindu kamu setengah mati, tetapi aku hanya bercerita tentang fakta. Ketika kamu mengerti message sambil menyetur dari tol jagorawi, kamu hampir menabrak pembatas jalan, bukan Juga ketika antre bensin, kamu tidak dilayani. Saat masuk mal, kakimu terantuk undak-undakan ketika kau mengirim pesan. Banyak hal memang dalam dirimu yang berubah, kekasih, tetapi aku harap cintamu kepadaku tidak berubah. Aku juga berharap tidak ada perempuan lain kecuali ponselmu yang sangat kamu sayangi. Kadangkala aku sangat sebal dengan ponselmu, tetapi aku selalu bisa memafaakam karena aku selalu menyayangimu. Aku juga memaafkan ketika sudah begitu lama kamu hanya kriim pesan kepadaku satu-dua kali, Aku tahu kami sibuk, Aku tahu kamu punya banyak kerjaan mengumpulkan data-data untuk dibawa pulang ke Jakarta. Aku merindumi selalu.


Sending to


Ergo_ku sayang


+6281235


24/08/2020, 03:20:25



Message sent

__ADS_1


__ADS_2