
Yel-yel diteriakkan beberapa waktu yang lalu tiba-tiba berdenging sampai kini. Dia seperti mendengar. Pada saat yang sama, dia mendengar ungkapan-ungkapan dari Inta, perempuan yang memang disayangi, dikasihi, ketika dia hampir lulus kuliah. Kini dia sungguh tidak ingin mengusir IMF atau WB. Dia hanya ingin uang untuk membiayai kelahiran anak pertamanya, yang tidak pernah diinginkannya.
Aku mencatat semua pahit getir Ergo dalam melawan diriku sebagai sosok waktu yang tidak kenal ampun menggerus dia yang tidak memilii kekuatan apa-apa.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Sebentar, biarlah kubuka haaman berikutnya. Usia kehamilan CInta sudah menginjak bulan ketujuh. Ergo belum juga mendapatkan pekerjaan. Bahkan sudah hampir sebulan ini CInta dan Ergo berpuasa. Ketika berbuka, yang didapati hanya nasi putih tanpa lauk tanpa garam. Nasi pun didapat dari sisa-sisa uang yang didapat dari orang tuanya. Ergo sudah berkali-jali menipu orang tuanya. Meminta uang untuk membayar pembuatan ijazah, dan dia hanya mendapatkan beberapa ratusan ribu, Setelah buat makan seminggu, uang itu ludes. Dia kembali kelaparan. Seperti siang itu.
__ADS_1
Sampai suatu ketika, usia kehamilan Cinta sudah menginjak sembilan bulan. Saat-saat melahirkan hampir tiba. Mukjizat Tuhan tidak datang-datang juga. Aku sebagai pemberi kesempatan tak juga datang denagn nasib baik yang bisa ditemui di suatu pagi Perut Cina mulai sakit, dan Ergo mulai cemas. Setelah kecemasan itu membuat dirinya bingung, akhirnya dia berlari kepada tetangga. AKhirnya tetangga menolong membawakan ICnta ke rumah sakit dan membayarnya sekalian.
Ujung ceritanya, Cinta dan anaknya meninggal di rumah sakit, DIkatakan oleh dokter, sang ibu kekurangan darah sehingga lemas dan meninggal, Adapun sang bayi terlalu ringan, hanya dua kilo berapa ons. Karena tidak sepat masuk inkubasi, akhirnya nyawa bayi tidak terselamatkan. Melihat kekasihnya tergeletak di kamar bersalin, Ergo tak sempat berteriak. Dinding terasa berpuar. Lantai bergoyang. Sendi-sendi tulangnya serasa dilolosi. Semuanya seperti hilang tengah. Luluh. Dan dia tahu ketika dirinya berbaring di lorong koridor rumah sakit, ditunggui tetangganya.
Sejak itu, terkuaklah drama Ergo dan Cinta yang tersimpan rapat-rapat. Mau tak mau, orang tua CInta dikabari, dan datang bukan dengan duka, teapi penuh mai-makina dan sumpah searaph. Sejak itu Ergo menghilang, dan tidak pernah balik ke rumah orang tuanya apalagi ke rumah orang tua Cinta.
Tetangganya seringkali tergopoh-gopoh datang ke tempatnya hanya untuk meggeodr-gedor pintu rumah petak yang terbuat dari tripleks. Ergo sering menjerit-jerit kala malam tiba. Bahkan tetangga selalu mendengar Ergo menmangis di pagi buta. Siang tidak tampak Ergo keluar. Dia hanya menjadi onggokan daging yang bisa bergerak, tetapi hanya berada di dalam sebuah ruang yang lusuh, kumal, dan apak. Sore menjelang, tetangga mengirimkan makanan rantang, Bukan karena tetangganya baik, tetapi lebih karena kasihan.
__ADS_1
Ketika malam. Diam-diam Ergo keluar rumah, kemudian naik ke atas genteng. Puncak segitiga atap, dua duduk termangu menatap langit. Ditatapnya kerlap-kerlip bintang. Dia selalu membayangkan ada satu kerlip yang mirip dengan mata Cinta. Ada satu saat ketika tidak menghubungkan satu kerlip dengan kerlip lain, kemudian membentuk sepotong bangunan, entah apa namanya, kemudian bangunan itu diberi ciri. Sampai malam erus menggelincir menjadi lebih dingin, Ergo masih diam terpaku di atas genteng. Menurutnya, aku berlalu begitu lambat, padahal aku berjalan seperti biasanya. Aku memberikan kesempatan untuk angin yang bergerak dari saat ke saat. Selalu saja tidak pernah terlewatkan bagaimana cahaya inta bergerak dari ribuan tahun cahaya, melintasi ruang, dan meminta diriku untuk sampai di bumi.
Kalau aku tidak bergerak, seperti yang disangka Ergo sekarang ini, tentulah cahaya itu berhenti di tempatnya, berpendar, terpotong, dan potongan itu akan tampak seperti kue tart. Jika memang benar aku tidak bergerak, maka angin akan berhenti di udara, dan saat itulah angin tak ubahnya seperti bongkahan-bongkahan salju yang bisa jatuh kapan saja asal ada kesempatan yang kuberikan kepadanya. Kesempatan untuk jatuh. Kalau aku tdiak bergerakm air yang jatuh dari awan di atas akan diam pada tempatnya di udara, Setiap gerakan, air yang jatuh dari awan di atas akan diam pada tempatnya di udara Setiap gerakan yang menyita ruang, juga menyitaku. Dan napas akan berhenti di kerongkongan bila tidak ada aku yang terus mengalir, Aku memang seperti air, tetapi air bisa berhentikapan saja ketika terdapat bidang datar, sementara aku tidak pernah berhenti. Aku selalu menjumpai bidang miring dan mengalirlah aku.
Kadang orang menjumpai bidang miring terlalu landai, sehingga aliranku begitu lambat, tetapi sebaliknya, kadang bidang miringku terlalu curam sehingga lairanku mirip air terjun, menghilang dengan sangat cepat. Sebetulnya aku tdiak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. Aku tidak pernah iri hati untuk membuat waktu Ergo lebih lambat dibanding dengan waktu orang lain. Aku mengalir terus bersama aliran ruang, aliran kehidupan, dan aliran alam uan bergerak lurus, tetapi sebetulnya melingkar. Memang, melingkar dengan jari-jari yang panjangnya ratusan ribu tahun cahaya. Aku tidak bisa mungkir karena mengalir bersama air, bersama cahaya, bersama hampa udara, baik di atas bumi maupun di dalam planet-planet, baik di angkasa maupun dilubang hitam angksa, Baik di Mras maupun di Neptunus.
Aku tidak menyalahkan kenapa Ergo melihatku sebagai aliran yang sangat lambat. Bukanlah aku yang salah. Dia yang membuat segalanya begitu lambat. Dia membuat bidang yang sangat landai sehingga aku mengalir dengan sangat lambat. Pergantian waktu malam hari menjadi dini hari terasa bagi Ergo seperti pergantian siang menuju malam. Dan perhatian dari fajar menuju pagi tak ubahnya menantu keuntungan selama sau tahun penuh. Ketika pagi menyingsing, Ergo mendapati dirinya masih di atas genting, menggigil, dan perutnya mulas-pmulas. Dia masuk angin. Perutnya seperti gilingan mesin cuci. Dia turun dan masuk kamar mandi. Mencret di sana. Setelah itu, badannya teras alemas, Karena semalam begadang. Badannya yang melas itu pun tertidur. Kemudian siang, kemudian sore, Kemudian senja, dan malam.
__ADS_1