
30
Disorientasi
Message:
Kana, aku merasa tidak menentu. Sangat kacau. Bayangkan saja, kini aku telah berada di sebuah tempat yang tidak aku kenali sama sekali. Berada di sebuah tepian jalan lurus membentang, sepi dan dingin.
Gelap dan senyap.
Aku menengadah, hanya kudapati bintang-bintang yang berjajar dan berkedap-kedip. Sesekali mobil lewat degan kecepata 100 km/ jam. Dengan deru yang tiba-tiba terdengar begitu memekakkan telinga, tetapi denagn tiba-tiba pula deru itu lenyap. Begitu cepat, Semain mencekam dengan diriku yang tak pernah ingin merasa sepi.
AKu mendapati di kanan-kiri jalan hanya gurun dan bebatuan. Tak satu pun tanaman tumbuh, Bayang-bayang di tengah kegelapan hanyalah ebatuan yang menjulang. Ular-ular gurun terdengar mendesis, mencaplok mangsa yang bersembunyi di tanah-tanah berlubang. Angin gurun semamin memekakkan telingam terdengar bergemuruh seperti menggelitik daun telinga, dan terus-menerus bertiup seperti bunyi lokomotif.
Sekali lagi aku menatap sekeliling dan tidak mendapati apa pun kecuali sepi dan sunyi dan mencekam dan senyap. AKu tidak tahu kenapa aku tiba-tiba berdiri di sini dengan handphone berada di tanganku. Satu tas ransel kefil di punggungku yang semakin berat membuatku sadar bahwa aku tengah berdiri dalam kesendirian yang sangat. Sepertinyua aku muncul dari topi pesulap saja atau tiba-tiba dilahirkan bebatuan. Sialan. Sialan!
Aku mencoba mengingat-ingat kembali. Sebentar, sebentar. Bukankah tujuanku adalah kota kecil Giza, tempat di sana patung Ramses disemayamkan? Aku kembali mengingat, oya, ohya, ya, aku telah naik taksi dari Kairo menuju Giza karena aku telah ketinggalan. Semua tiba-tiba terjadi dengan sangat cepat, dan aku merasa telah ketinggalan. Itu saja. Dan kenapa, setelah aku naik taksi dan minta diantarkan ke Giza, tiba-tiba aku berdiri di sebuah tepat yang tidak aku kenal? Kenapa sopir taksi y ang tolo itu menurunkan aku di tempat menakutkan ini? Kenapa dia tidak bilang-bilang atau setidaknya mengingatkan diriku?
__ADS_1
Itulah, Kana, kini aku berada pada atu koordinat di atas bumi yang sama sekali tidak kukenali.
Aku lunglai.
Tidak bisa lagi aku berpikir. Hanya kemudian aku menjauh dari jalanan lurus beraspal yang dingin. Duduk di bebatuan yang menyembul, AKu merapatkan pakaianku untuk menahan dingin. Kuhembuskan napas kuat-kuat untuk menimbulkan keringat di tubuhku. Sekali lagi aku menengok ke sekeliling dan kali itu pula aku mendapati bahw aaku memang tidak memiliki teman satu pun. Aku mengetik pesan ini kepadamu dengan segenap ketidakmengertianku atas kejadian yang aku alami barusan. Ya, barusan.
Barusan. Aku memang mengingat yang baru saja terjadi itu. Aku berdiri di sisi jalan, berjalan menjauh, kemudian duduk di bebatuan. AKu bisa saja mengingat apa yang baru saja terjadi. Tetapi, sebelum yang barusan itu, apakah aku bisa mengingatnya? AKu berusaha keras untuk mengembalikan ingatan itu, dan mencoba memahami, dengan memejamkan mata sebentar. Sebelum itu, apa yang aku lakukan? Mungkin saja aku mengatakan stop pada sopir taksi dan memberikan uang, sebelum aku turun dan berdiri di pinggir jalan. Memberikan uang, itu pati. Karena itu, aku langsung merogoh dompetku di belakang, dan segera membukanya. Kuhitung uang pecahan jinaih (pound) dan aku terkaget. Berkurang 200 pound. Pastilah aku membayar ongkos taksi itu, dan bukan sopir taksi itu merogoh dompetku sendiri, karena masih tersisa uang di dalam dompetku. Dalam hati kecilku aku merasa tidak dipercaya. Uangku memang berkurang, tetapi tidak hilang semua. Aku mengambil simpulan, taksi itu telah kubayar dengan tanganku sendiri. Masalahnya, kenapa dia membiarkan aku turun di sini?
Aku kembali menghembuskan napas. Seperti hendak menangis. Aku memang sudah lama tidak menangis. Mestinya dia mengingakan bahwa tujuanku adalah Kota Giza, dan bukan di tengah-tengha padang tandus ini. Mestinya dia baru akan menurunkan diriku bila mobil taksi sudah sampai di tujuannya. Mestinya begitu, tetapi apa yang terjadi di sini? AKu merasa kehilangan ingatan sebentar. Aku seperti semaput, tetapi tetap bisa melaukan tindakan seperti orang yang tidak semaput. Aku jelas membenci situasi ini.
Kalau kamu bilang semua ini salahku, lebih baik aku tidak megirim pesan ini kepadamu. Pertama-tama aku ingin kau mendengarkan keluh kesahku ini. Selebihnya, yang perlu kau ketahui bahwa aku tidak memiliki teman lain untuk menumpahkan segala hal, Lebih dari itu, aku memang mencintaimu.
Aku seperti baru saja mendarat di planet Mars dan aku diharuskan mengambil contoh bebatuan untuk diteliti. Gelisah semakin menjadi-jadi. Aku teringat kembali tugasku jauh-jauh pergi dari Jakarta untuk meliput perpindahan patung Ramses. Ya, aku harus segera mengambil tindakan untuk keluar dari mimpi buruk ini.
Akhirnya aku beranjak dari duduk, berlari ke sisi jalan kembali, menyetip mobil-mobil yang kebetulan melaju. Waktu itu aku berdiri agak menjorok ke dalam jalan supaya bisa langsung dikenali. Gelisah semakin menjadi-jadi. Aku teringat kembali tugasku jaub-jauh pergi dari Jakarta untuk meliput perpindahan patung Ramses. Ya, aku harus segera mengambil tindakan untuk keluar dari mimpi buruk ini.
Akhirnya aku beranjak dari duduk. Waktu itu aku berdiri agak menjorok ke dalam jalan supaya bisa langusng dikenali. Begitu ada mobil, mau berhenti atau tidak, paling tidak aku telah membuat sesuau untuk menolong diriku. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Seperempat jam. Setengah jam, Sejauh itu baru saja ada satu mobil yang lewat, Itupun dengan kecepatan seperti setan kalap. Bahkan ketika melihatku melambai-lambai, pedal gasnya malah semakin diinjak sekeras-kerasnya.
__ADS_1
Dasar kadal Mesir!
Setelah kutambah lagi kesabaranku, dan ternyata tidak membuat keadaan ini berubah, malah justru kakiku semakin kesemutan, akhirnya kuputuskan duduk kembali. Aku menatap lagi langit-langit yang dipenuhi dengan cahaya bintang. Langit yang kelam itu seperti bolong-bolong dengan kemerlip cahaya yang senantiasa abadi bertengger di sana. Aku tersenyum masam.
Barangkali, kalau memang aku tertahan di sini sampai pagi, aku hanya akan membeli koran Al-Ihram, koran terbesar di Kairo, dan mencontek seluruh beritanya. Dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan, paling tidak aku bisa mengerti poin-poin penting dituliskan. Entahlah, mungkin demikian, Aku mesti menjadi penerjemah yang baik, bukan seorang pewarta.
Sayang, dengarkanlah ceritaku sekali ini saja. Di saat-saat seperti ini, hanya kamu yang ada di hatiku. Saat yang tidak terkenali. Saat yang membuatku semakin terpuruk.
Send to
Kitakana
+6281234
24/08/2020, 02:23:21
***
__ADS_1