
PROBLEMATIKA sosial kemasyarakatan diwujudkan dalam kesemrawutan kota dan teror teknologi. Citra kita dan kesemrawutan digubah dari elemen komputer, berupa motherboard atau printed circuit board.
Aneka bangunan dalam setting lingkungan perkotaan diinstalasikan secara cerdik, cermat, dan detail, menjadi bangunan perkotaan yang ruwet, namun nyata. Lewat pameran tunggalnya di Galeri Semarang, yang dibuka pekan lalu, Catur ingin menyampaikan pesan kepada khalayak mengenai problematika sosial di sekitarnya, yang hadir sebagi bagian dari invasi teknologi. Ia juga coba menunjukkan eksistensinya sebagai pelukis melalui lukisan gaya baru dengan elemen motherboard sebagai setting utamanya.
Dalam pameran tunggal hingga 2 Desember 2006, Catur memajang 12 lukisan motherboard yang dibuat dalam setahun terakhir, Catur mengatakan, lukisan motherboard dipilihnya karena ia menyerupai karya yang rumit dan detail sebagaimana motherboard. Semuaitu ditandai dengan pembentykan benda kecil yang diperhitungkan fungsi dan aspek keindahannya. Ia mempertemukan unsur rumit dan indah itu dengan gagasan surealis berupa kritik sosial.
Jauh sebelum itu, sang pelukis sudah berkoar-koar tentang bahayanya teknolpogi. Dalam visinya, dia melihat betapa rumah-rumah tak ubahnya sebagai motherboard, dan isi dari rumah itu hhanayalh seperangkat besi-besi yang berjalan. Di kepala seorang yang tidur di atas kasur, sebuah rumah mother biard yang besar, hanya ada serabut-serabut kabel yang lintang pukjang kesana-kemari. Jantung mereka yang berdenyut hanyalah denyutan kursor. Napas mereka sama dengan perputaran pendingin kipas angin dan aliran darah mereka hanyalah aliran listrik ke segenap komponen-komponen yang ada.
Hubungan antara manusia satu dengan manusia lain telah direduksi sedemikian rupa menjadi hubungan melalui media gelombang elektromagnetik, dan diterjemahkan oleh handphone. Mereka tersenyum, berbicara, bersentuhan, bahkan melakukan hubungan seksual telah disesuaikan dengan sistem digital melingkupinya.
Melihat hal itu, sang pelukis kemudian berteriak di kamarnya, di tengah malam sunyi, dan membuat tetangga tersentak, Sang pelukis seperti terbangun dari tidurnya, dan kembali berteriak.
Sang pelukis telah melihat, dalam visinya, betapa korban-korban berjatuhan akibat hadirnya teknologi digital. Manusia telah tewas akibat tersetrum teknologi digital yang dipancarkan handphone. Rumah sakit tidak lagi bisa menampung para korban teknolgi digital dan terpaksa tewas di pelataran rumah sakit. Dari kota-kota sampai pelosok desa orang menggunakan handphone, dan tiap hari ribuan orang bergelimpangan karenanya.
Menyaksikan iu semua, dia telah mewujudkan dalam lukisan itu, dan apa yang terjadi kemudian, orang-orang tak lagi menggubris. Mereka menonton di sebuah galeri mungil, sebuah kota kecil yang sunyi, dipublikasikan, dan dibaca sekilas oleh sekelompok terpelajar. Tetapi setelah itu, setelah semua perhelatan yang memakan tenaha dan pikiran, semua itu dilupakan begitu saja. Tak ada lagi sisa terialkan di lorong-lorong yang kedap suara.
Aparat kepolisian, Satpol PP dan Wali Kota hanya diam melihat peristiwa itu. Mereka berada di antara keinginan untuk bergerak atau takut menjadi sesuatu yang tidak akan dimengerti di kelak kemudian hari. Mereka takut kalau pada akhirnya ditertawakan oleh peradaban. Dia tidak tahu akan melakukan apa atau berdiam diri saja.
Sang pelukis tiba-tiba merasa berjalan dalam sunyi.
Padahal dunia telah diancam oleh bencana besar bernama teknologi.
Kematian sudah diambang mata, tetapi mereka tidak peduli, Teknoogi tidak hanya akan berubah menjadi tsunami di Aceh, tetapi akan meluluhlantakkan seluruh peradaban yang pernah terbangun!” Teriaknya di atas perbukitan, dan masyarakat melihatnya sebagai nabi kesiangan yang tidak lagi mendapatkan penganut.
Pelukis itu ingin bercerita sekali saja tentang sewmua yang terjadi sebelum semuanya terlambat.
***
2
Iman telah Mati
RSAT
__ADS_1
(Rumah Sakit Akibat Tekologi)
DotcomMedicine
Kebonjeruk, Jakarta
SEBUAH mobil ambulans memasuki pintu gerbang dengan sirine yang meraung-raung. Gedung itu berpagar besi yang bergera secara otomatis ketika ada mobil keluar maupun masuk. Di tengah-tengah padar besi yang tingginya dua kali tinggi manusa itu terpampang keterangan gedung, RSAT (Rumah Sakit Akibat Teknologi) Dotcom Medicine, Kebonjeruk, Jakarta Barat, telepon 021123456789
Setelah berbelok melewati koridor yang menjadi teras gedung, ambulans itu kemudian berhenti tepat di depan pintu masuk. Mesin dimatikan, pintu belakang setengah terbuka. Sopir membuka pintu mobil. Suster yang berjaga di dekat pintu seketika menyongsong dan segera menggotong pasien dan meletakkan di atas dipan berjalan.
Lelaki tua yang duduk di sisi sopir sudah keluar dengan tergesa-gesa begitu moil berhenti. Dengan wajah merah padam dan air mata bercucuran, kakinya diayunkan mengikuti lelaki muda yang terkapar dan baru saja dikeluarkan dari mobil ambuans, Ketika hendak mengikuti anaknya yang sudah sampai pada lorong-lorong d dalam ruang, lelaki itu kemudian dicegat oleh petugas pendaftaran. Dengan mata menyipit, dia seperti bertanya:
“Sudah punya kartu pasien?”
Lelaki itu menggeleng, “Saya haruws cepat mengikuti anak saya.”
“Tetapi Bapak juga harus cepat mengisi blanko ini,” seorang perempuan dengan dagu pepat itu langsung menyodorkan satu lembar formulir warna putih bergari-garis.
“Tunggu sebentar,” Suster itu kemudian mengambil dan memasukkan tulisan itu ke dalam komputer. Setelah menanti beberapa saat kemudian suster itu mengeluarkan suara lagi, “Keluhannya apa?”
“Sakit kepala?”
“Gegar otak, schizofrenia, halusinasi, hipokondria, amnesis, linglung, demensia, pikun…”
“Kalau saya tahu, saya tidak ke sini …”
“Saya kan cuma tanya!”
“Dan itu jawaban saya.”
"Anda keluarga pasien yang menjengjelkan!”
“Kalau begitu, boleh saya masuk ke dalam?”
__ADS_1
“Anak bapak sedang berada di perawatan Umum. Sedang ditangani dokter. Kalau dokter terganggu oleh kehadiran Anda, bisa-bisa anak Anda mati, Anda di sini terlebih dahulu untuk kelengkapan formulir.”
Lelaki itu menyeka keringatnya. Dadanya terasa sangat sesak.
“Gejalanya apa?”
“Dia hanya berkata sakit kepala.”
“Peralatan elektronik apa yang sering digunakan selain handphone?”
Kembali lelaki tua itu berpikir sejenak, menyeka keringat di keningnya.
“Komputer, remote control, televisi, radio, walky talky, walkman?”
“Saya tidak tahu. Mungkin semua itu digunakan?”
Kemudian suster tanpa ragu-ragu menuliskan dalam lembar yang berwarna hijau. Lembar ini kemudain disodorkan kepada lelaki itu sebelum menyuruh untuk menunggu sejenak.
Kembali keringat dingin mengucur. Wajah lelaki tua itu sesekali melihat lorong tempat anaknya dibawa, sesekali melihat suster yang sudah makan kacang sambil melihat televisi. Sebentar kemudian cekakakan. Dan kacang kemudian tak henti-henti dimasukkan ke dalam mulutnya yang terlibat sangat lebar.
Sesekali yang lain lelaki tua itu melihat keluar ruangan melalui jendela. Beberapa orang mondar-mandir di depannya, seperti sibuk mengurusi sesuatu. Beberapa jenak kemudian, sosok ibu dan anak perempuan muncul dari pintu utama. Begitu melihat lelaki tua itu, sang ibu langsung menghampiri dan bertanya: “Bagaimana dengan anak kita, Pak?”
Wajah lelaki tua itu berubah sedikit cerah. “Sedang diperiksa di dalam. Aku sedang menunggu panggilan.”
Wajah istrinya tak kalah kalut.
Tak selang lama, mereka kemudian dipanggil. “Anak Bapak di Pusat Rehabilitasi Korban Telepon Seluler.”
Dan suster mengulangi kalimat itu lagi. “Masuk lorong itu kemudian ke kanan, kemudian selang satu blok, di sebalah kiri.”
Lelaki tua itu sudah mendapatkan pelajaran untuk tidak bertanya kepada suste itu lagi. Langsung saja mereka beranjak tanpa harus bertanya sekali lagi.
***
__ADS_1