Digi The Killer

Digi The Killer
23 Program Swadaya Menenangkan


__ADS_3

Sialan! Rupanya ada penyusup yang telah membebaskan Waktu. Aku tidak tahu kalau penyusup ini begitu kuatnya sampai-sampai program-program jebakanku dijebol dengan sangat mudah. Ketika dia menyusup, aku masih sibuk dengan jari-jari Ergo yang menekan tubuku. Dia masih memainkan Pipe Dream, permaianan pipa, yang sangat digemari.


Waktu itu aku juga berusaha agar program-program yang telah diinstal di dalam diriku tidak mengalami macet alias hang. Karena itu, setiap detail program yang telah dicanangkan aku usahakan berjalan dengan baik, Ketika aku konsentrasi dengan sgeala kesenangan Ergo, tiba-tiba Program Swadaya datang tergopoh-gopoh. Dia melaporkan ada penyusup di dalam lorong-lorong microchip milikku, Setan belang! Kalau dia sampai mengobrak-abrik struktur di dalam microchip, aku bakal hancur dalam hitngan detik. Aku seketika tamat.


Tapi program swadaya berusaha menenangkan hatiku. Dia pamit, tampaknya aku lihat begitu saja pergi, tetapi dia berusaha untuk tersenyum, Seperti biasa, dia ingin menghiburku. Tabiat Program wadaya ni memang sudah seperti manusia, yakni menilai atasan. Justru karena itu aku senang memerintah dia. Dan begitu mendengar perintahku, Program Swadaya senang bukan kepalang.


Begitulah. Program Swadaya memberikan informasi, penyelundup tidak tahu tentang tenologi sama sekali. Identitas penyelundup. Program berkata, sepertinya sama dengan beberapa tamu yang berupa virus. Sosok penyelundup ini, kendati tidak memiliki bekal pengetahuan komputer yang memadai, tapi nyatanya dia sangat cepat belajar. Segala bentuk program-program yang dirancang bertahun-tahun dipahami hanya dalam seperseribu detik. Jebakan program yang dirancang melalui program Chi rontok di hadapannya.


Saya tidak tahu dari jensi apakah penyelundup ini. Saya curiga, ini digerakkan oleh hacker untuk mengobrak-abrik program kita. Kalau memang hacker, kenapa dia buta teknologi? Saya heran,” dengus Program agak kesal.


“Sampai di mana penyelundup itu sekarang?!” Handphone seperti mengumpat dengan oenuh kekesalan.


“Dia tampaknya sudah sampai pada titik penyekapan Waktu!”


“Dan dia berhasil membebaskannya?”


“Maaf, Tuan.”


“Saya tanya, apakah dia berhasil membebaskan Sang Waktu dari kurungan programku?”


“Sampai detik ini, semua program sudah saya sebarkan untuk mengidentifikasi penyelundup itu, Tuan. Tapi ternyata kurang berhasil.”


HP #2 MSDP hanya mengumpat dalam hati.


Program pun diam. Dia tidak berani menambah omongan.

__ADS_1


“Program!”


“Ya, Tuan.”


“Tangkap mereka.”


“Saya sudah melakukannya sebelum Tuan memerintahkan.”


“Jadi ketololan apa yang telah kamu lakukan?”


“Saya telah menyebarkan semua program jebakan untuk mengembalikan ke jeruji oposisi biner yang telah dipersipakan.”


Aku kemudian mengernyitkan dahi. Dalam pikiranku berkecamuk kalimat jika maka, “Tadikau bilang penyelundup sangat pintar memahami program.”


“Maksud Tuan?”


“Program Swadaya termenung. Aku melihat dia seperti tertegun-tegun mendengar kata-kataku. Sebelum dia berucap, aku melanjutkan. “Kamu mestinya bikin program baru lagi. Kamu juga memiliki kecapatan melebihi pikiran manusia. Aku yakin programmu bisa mengatasi bajingan tengik itu.”


“Apa tujuan prohgram itu, Tuan?”


“Target program ini jelas: menangkap kembali waktu dan penyelundup keparat itu. Jangan pakai kata lama. Cepat laksanakan!”


“Baik, Tuan, Program Swadaya pun berbalik meninggalkan aku sendiri.”


Aku jelas masih gesar dengan kejadian ini. Baru saja aku dibikin senang karena kesadaran Ergo telah membawa waktu kemari, tetapi rasa senang itu ternyata tidak bertahan lama. Waktu telah kembali lolos. Baru saja aku dibikin senang karena kesadaran Ergo telah menomorsatukan diriku dibanding dengan yang lain. Termasuk waktu. Sampai-sampai waktu terjerembab dalam jaring-jaring yang tidak pernah dikenali, Baru saja kesadaran Ergo telah menjadikan aku sebagai nomor satu dalam altar pikirannya. Baru saja aku menjadi raja di dalam setiap lekuk logaritma jiwanya.

__ADS_1


Semua itu baru saja. Tetapi segalanyna seperti mimpi-mimpi yang baru saja berakhir. Aku yakin tentu ini bukan mimpi, AKu akan menunjukkan betapa aku tetaplah teknologi yang layak diperhitungkan kehadirannya di tengah-tengah kesadaran manusia. Akulah yang menguasai manusia, bukan manusia menguasai teknologi. Aku telah membuat hidup manusia mengikuti kursor kehidupan teknologi. Kini, lihatlah, tidak ada lagi manusia yang tidak menggantungkan hidupnya dari telepon seluler.


Akulah pengganti Tuhan bagi sekalian manusia. Dan kini, setelah ada penyusup yang mengganggu kinerjaku, aku semakin ingin membuktikan bahwa diriku memang penentu atas segala sesuatu.


Dalam langkah byte yang diterangi oleh energi listrik microwatt, aku bisa mengawasi kinerja Program Swadaya. Sebetulnya, program swadaya yang aku ciptakan sendiri sudah dirancang oleh para penciptanya yang kini bekerja di Microsoft Coorporation. Tetapi rancangan itu sangat terbuka. Dalam sebuah klausul program disebutkan, program akan menciptakan manager program pengaman bagi dirinya sendiri ketika manager program terancam. Adapun bahan-bahan, teknik, target, tujuan, serta penciptaan file menu itu semua diserahkan ke pundak diriku sebagai manajer program. Setelah manajer prpoghram bekerja selama ini, aku melihat sudah berhasil. Dia mampu mengatasi virus-virus yang disebarkan melalui listrik, mampu membuat hacker pontang-panting, serta melibat aneka virus cacing yang selalu menggejala pada tiap komputer. Tetapi untuk virus yang mengaku sebagai Ramses yang datang dari ratusan tahun sebelum Masehi, Program Swadya tampaknya belum bisa mengatasi. Bahkan pengejaran yang dilamukan selama iu telah mengalami kegagalan. Mungkin kegagalan total. Entahlah, kini aku sedang menunggu hasilnya.


Baru saja kukontak melalui biner telekomunikasi. Program Swadaya mengatakan sedang dalam proses finishing program subordiat. Baiklah, aku akan menunggu. Kalau memang tidak berhasil, aku akan bertindak sendirian. Apa boleh buat.


Kemudian kode telekomunikasi berbunyi. Handphone segera mengangkat. Ternyata program Swadaya. “Ada apa?”


“Prpogram sudah siap, Tuan.”


“Apa target program yang kamu bikin?”


“Cukup sepele, Tuan.”


“Apa itu?”


“Target operasi mati di tempat, Tuan.”


“Hahaha, bagus. Bagus. Kamu program pintar. Kamu nanti akan aku naikkan menjadi program co-manager yang bisa mengetahui segala apa yang mesti aku lakukan untuk manusia.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Sana, operasikan dan berikanlah kepadaku kabar yang gembira tentang kematian penyelundup dan sang waktu.”

__ADS_1


“Segera dilaksanakan, Tuan.”


***


__ADS_2