
Maka mereka kemudan, tanpa mempedulikan rasa letih, dan akhirnya sampai pada titik 11 meter, mereka menemukan patung itu sudah tidak ada lagi terusan ke bawah. Mereka bersorak kegirangan, seperti menemukam emas. Tetapi sorak gembira itu segera berakhir karena mereka tidak tahu bagaimana memindahkan patung tersebut. Dengan ketinggian sekitar 11 meter, lebar 6 meter dan panjang 7 meter, tenu batu itu sangat berat. Maka berbodong-bondong. Fisikawan datang ke lokasi patung, kemudian mengukur sana-sini, dan mereka akhirnya menemukan bootnya, sekitar seratus ton; setara dengan bangunan rumah tipe 45.
Mereka kemudian tidak memikirkan bagaimana patung Ramses itu dipindahkan tetapi bagaimana merawatnya saja. Mereka tidak ada maksud memindah patung itu kendati di dalam hati mereka ingin segera dipindahkan ke tempat yang paling “aman”. Pemerintah Kairo hanya menugasi tiga orang untuk mengelapi batu itu tiap minggu sekali. Selesai. Tidak ada peristiwa lain. Kalaupun adan peristiwa lain, tentu saja membosankan. Makanya, Ramses pun kemudian masuk ke dalam kurungan yang mirip kapsul itu dan berlari jauh ke depan, Dibiarkan kapsul itu menyusuri lorong-lorong waktu dan melihat highlight sekilas dari tiap tahun. Dia hanya tahu beberapa tahun yang penting, tetapi tidak semuanya. Rasanya dia tidak tahu tahun-tahun kapan patung Ramses itu menjadi sangat penting, tetapi sedikit demi sedikit dia bisa memahami melalui gambar-gambar yang ditunjukan di lorong waktu.
Pada saat yang sama, Ergo merasakan pening yang amat sangat. Di dalam kepalanya seperti mendidik 100 derajat Celcius. Dalam mendidih itu, Ergo memeganginya dengan sangat erat, dan tidak tahu harus berbuat apa. Waktu hanya yahu, kepaa Ergo dibentur-benturkan ke pasir, berpindah pada batu, pada udara, pada malam yang kian hitam. Segalanya seperti berputar, dan warna hitam terus berganti-ganti menjadi hijau, ungu, kuning, merah, bahkan menjadi hitam yang sangat pekat melebihi adukan kopi.
“Toloooong!!!!”
Akhirnya teriakan Ergo memecahkan kesunyian malam.
Suara yang serak dan panjang, terdengar seperti lolongan singa gurun yang hebabisan air dan makanan.
__ADS_1
Waktu, yang mendengar lolongan dalam jaring-jaring waktu yang terhenti, segera aja memacu Ramses untuk mengirim memori Ergo dengan apa saja. “Isi dengan apa saja yang Tuan ingat saja. Angka tahun, peristiwa, gambaran wajah, pemandangan, ketakutan, orgasme, atau apa saja, Cepaaat!”
Ramses pun menghela napas. Sangat berat, Masih saja dia menekuri kapsul waktu yang menerakan angka-angka. Ketika dia terbengong dengan angka-angka, lift itu erus bergerak ke atas, sampai di suau titik bertanggal 1952, sebuah tahun ketika pemimpin Mesir melakukan kudeta, Gamal Abdul Nasser dengan gagah berani mengokang senjata dan menduduki istana. Ah, baginya, mungkin juga bagi Waktu maupun Ergo tidak tertarik dengan peristiwa politik.
Kapsul itu kemudian dipencet, dan bergerak terus ke atas, Tetapi tidak lama karena kapsul itu segera terhenti pad asebuah plat nomor 1954. Ramses melkongok ke luar melalui jendela kaca, dan melihat betapa patung dirinya, seorang Ramses sedang dikerubuti oleh banyak orang, Nah, inilah ingatan yang bis adiisikan ke dalam kepala Ergo.
Segera saja dia keluar dari kapsul dan mendekati kerumunan tepat patung Ramses berdiri. Salah seorang pekerj atelah mengulurkan meteran untuk mengecek data yang telah dikumpulkan beberapa waktu sebeluknya oleh para arkeolog. Diukur sana-sini, kemudian dicocokkan, kemudian dicek ulang,dan tidak lama mereka menggaung-angguk. Ada sedikit coretan dan tambahan.
Hah! Memotong tubuh-patungku? Hentak Ramses, dan tidak tahu apa maksud dari semua itu Karena penasaran, akhirnya dia mendekatkan diri dan berusaha mendengarkan apa yang diteriakkan.
“Kalian haru smemotong dengan ukuran yang telah ditandai dengan kapur. Jangan sampai meleset, karena penyatuannya nanti akan mengikuti denah yang telah digambar sebelumnya,” lelaki iu dengan suara lantang.
__ADS_1
Sejumlah penjelasna lain pada dasarnya hanya memberikan penekanan bahwa saat itu tidak melawan pendapat par aarkeolog. Sebelumnya, para sejarahwan, arkeolog, serta peminat benda-benda sejarah sudah menentang pemotongan patung Ramses itu. Tetapi pemimin Mesir menghendaki pemotongan itu. Masalah tidaklah mungkin membawa patung itu utuh seperti yang terlihat sekarang ini. Pemotongan-pemotongan adalah teknikterbaik. Nanti disambung, bujuk pemerintah berkali-kali.
Ramses yang menyaksikan pemotongan tubuhnya sendiri hanya bergidik ngeri. Dia tidak sampai hati melihat lehernya digergaji, dan ketika pemotongan itu sampai di pinggir, kepala itu terayun ke sisi. Pada saayt yang sama, beberapa bekerja sudah memegangi dengang peralatan yang diimpor dari Jerman. Meskipun yang dipotong cuma baru wacana, yakni sekadar batu yang melukiskan namanya, tetapi dia tetap saja merasa sakit di lehernya. Itu baru di lehernya. Pemotongan itu juga akan diteruskan, tetapi Ramses tidak kuat melihat hatinya ikut teriris, terpotong-potong, danm akhirnya dirinya terbelah, Begitulah, dia tidak ingin mengisi memori Ergo, tetapi pada saat yang sama dia melihat pemotongan dirinya terjadi begitu rupa.
AKhirnya Ramses terpejam. Ingin sekali dia kemabkli ke dalam kapsul, dan melanjutkan perjalanan,. Sebuah perjalanan panjang, tidak hanya pada 1954, tetapi juga pada seratus tahun kemudian, 2054 atau sereatus tahun lagi. Dia ingin melihat apa yang terjadi dengan patung dirinya. Sang Ramses pada duratus tahun kemudian. Pertanyaan yang selalu tersembul; apa yang akan dilakukan mereka terhadapku? Membuang ke laut merah? Menghancurkan dengan bom atau dnegan bedil? Mengubur di ujung bukit Sinai? Tau akan dihanyutkan ke sungai Nil?
“Aku tidak tahaaan! Tolooooong! Toloooong! Toloooong!”
Ramses kaget dengan jeritan yang meolong panjang. Kekagetannya itu membuat kapul yang diciptakan sefgera punah. Dan dia mendapati dirinya berhadapan dengan waktu yang terpojok di sudut kepala.
Program Updated masih denagn reakusnya memakan memori yang telah terisi Haruslah dimakan habis supaya Ergo kehilangan ingatan. Tetapi memori yang diberikan oleh Ramses begitu banyak, sehingga potongam-potongan memoriu yang tinggal sedijkit itu kini bertambah dan menggunung begitu banyak. Melihat potongan memori yang begitu banyak. Program Updated kemudian berhenti memahan, dan mencari akal baru.
__ADS_1
“AKu tidak tahu harus memakannya, karena tidak mungkin menghabiskan semuanya. Daripada abuang-buang wkatu, aku akan mehancurkan jiwa manusia ini dengan memotong jaringan syaraf pusat dengan sistem digital,” pikir Pogram Update bersikeras.