
“Aku gagal.”
“Kana, jangan begitu, ulangi sekali lagi. Hampir berhasil. Kamu tadi hampir saja bisa menyapanya!”
Kana ikut saja perkataannya. Terpejam, mengatur napas sebentar, kemudian membayangkan sekali lagi wajah Ergo. Sekali lagi dibayangkan, tidak berhasil, karena ingatannya kembali pada lelaki yang kini masih mendengkur di atas kasur. Sekali lagi dia berusaha membayangkan, bahwa seakan-akan Kana ingin menciumnya. Dada Kana turun naik begitu melihat bayangan Ergo di dalam kepalanya kemudian perlahan-lahan tersenyum, Segera saja dia membayangkan menciumnya. Wajah Kana didekatkan, begitu dekat, dekat, dekat, dan tiba-tiba wajah Ergo berbalik, kemudian berlari menjauh dari tempat Kana berdiri. Seketika Kana kaget, kemudian berlari mengejarnya.
Melihat Ergo berlari menjauh, Kana mengejar secepat yang dia bisa. Dalam pengejaran itu, dia berteriak keras: “Ergo!” tetapi teriakan itu seperti membentur ruang hampa karena tiba-tiba punggung Ergo menyublim, kemudian benar-benar lenyap. Di dalam tempurunh kepala Kana kini hanya gelap. Gelap. Dan Gelap.
Di buka matanya lebar, penuh sayu. “Aku melihat dia dalam kesuliyan yang sangat Benar ucapan Anda, seperti berlari ketakutan, raut mukanya seperti sedang melihat setan, dan ketika aku mengejar, dia justru semakin cepat menjauh. Begitulah, tampaknya aku tidak bisa menolong Anda.”
“Kamu bisa, Kana!”
“Kalaupun bisa, Anda harus mencari cara lain.”
***
33
Kematian di Depan Mata
__ADS_1
Program Update sudah mendapatkan order tugas yang sepele dari handphone HP #2 MSDP. Target operasi: Mati. Pemberi order memiliki pertimbangan yang tidak begitu rumit. Apa yang bisa diselesaikan lebih dulu, cepatlah diselesiakan. Apa yang di depan matanya adalah Ergo, sementara Ramses dan Waktu kini masih tidak tahu ribanya. Dia tidak ingin kesempatan yang sudah hadir di depan mata mendadak hilang, sementara itu kesemata yang ditunggu-tunggu tidak juga datang.
Peetimbangan apa pun, sebetulnya, Program Updated tidak begitu mempermasalahkan. Dia hanya mendengarkan perintah, Mengerjakan tugas, Ada target operasi. Sukses, Tugas selesai Sejak dia lagir beberapa waktu lalu, dia tidak pernah gagal mengerjakan tugas apa pun. Uji coba telah berkali-kali dilakukan di atas satelit.
Kini dia berencana masuk ke dalam sistem pikiran Ergo. Tidak sulit. Hanya menayamakan antara getaran oak dengan getaran simetris yan dibuat oleh Program Updated. Hal itu cukup dengan sentuhan kulit Ergo dengan tubuh handphone. Dan itu terjadi setiap detik, setiap menit, karena memang Errgo selalu memegangi.
Diamati gerak-gerik pikiran Ergo. Tampak Ergo berdiri agak lama di sisi jalan raya. Dengan menengok ke arah kiri, ke ufuk yang jauh, dia berharap sekali lagi ada mobil yang muncul dari sebuah titik yang amat kecil itu, Berharap dan terus berharap, Matanya yang dibuat tajam, hanya menemukan hitam dan gelap. Resah hatinya mulai menjalar ke segenap syarat dan aliran tubuhnmya, Sekarang ini, tanpa bantuan seseroang, dia menyadari tidak akan bisa keluar dari kemelut sialan itu, Harus ada uluran tanan yang siap mengangkatnya dari sebuah kubangan padang pasir tanpa nama.
Dia merogoh hapenya, mencari nama-nama yan bisa dimintai tolong. Dari abjad a sampai z. Pada saat mencari, dia sebetulnya sudah sangat sadar bahwa di datar nama itu tidak akan tertera nama seseorang yang dikenal di Kairo. Baru beberapa hari ini di sini. Kalaupun kenal, itu pun dengan resepsionis hotel atau mungkin nomor telepon hotel. Ya nomor telepon hotel Hilton tempat di sana dia menginap. Dia kemudian mencari sakunya. Ada buku catatan kecil di sana. Langsiunh saja dia mencari huruf depan H, dan itu menemukan Hilton di sana. Tanpa babibu, dia langsung mengontaknya.
Setelah mendengarkan nada sambung, terdengar suara halo di sebearang sana, Ergo langsungmenyusul dengan bahasa Arab yang patah-patah, dan terdengar seperti meminta banuan. Kemudian Ergo menceritaan apa yang baru saja menimpanya.
“Membaca harian?”
“Itu lebih ringkas, efisien, dan tidak ada lagi waktu yang terbuang-buang percuma, Tuan.”
“Berarti kamu tidak tahu maksud saya,” sahut Ergo seketika. Nada suaranya naik satu oktaf. “Aku ingin jeluar dari tempat ini dulu. Baru nanti aku akan melakuan apa saja itu, terserahsaya. Yang penting aku keluar dulu …
“Sekarang saya bertanya untuk yang ketiga kali, posisi tuan di mana?”
__ADS_1
“Tadi aku sudah menjawab tidak tahu.”
“Kalau Anda sendiri tidak tahu, bagaimana kami bisa mencari Anda, Tuan?”
“Setidaknya bisa dilacak dengan gambaran yang sudah saya berikan.”
“Cerita Tuan tidak lengkap. Sulit kami melacaknya.”
“Di mana yang tidak lengkap?”
“Banyak. Anda bilang di tengah perjalanan Anda belok ke kanan, tetapi tepatnya kilometer berapa, Anda tidak tahu Apakah Anda pergi ke padang Haifa, Sinai, atau Affun. Padahal masing-masing jalan digurun dan perbukitan itu memakan wakltu satu minggung saking luasnya dan banyaknya.”
“Tetapi …”
“Sudahlah, Tuan, Hampir subuh, kami harus banyak istirahat,” susul lekaki di ujung sana sambil menutup telepon.
Yang kemudian muncul dari mulut Ergo hanya satu kata: ”Sialan!”
Hahahahaha! Ergo, untuk apa kau dijemput. Kau sudah tidak perlu lagi mobil jemputan atau penunjuk arah di padang pasir yang mahaluas ini. Kau bahkan tidak perlu pusing-pusing karena sebentar lagi aku akan merusak seluruh sistem syaraf pusat. Apalagi kini aku suda berada di jarinan sel-sel darahmu yan akan mengantaku ke sana. Sebentar lagi, hahahaha! Sebantar lagi kau tidak memerlukan apa-apa lagi keculai kain kafan dan peti mati untuk segera diantar ke tempat asalmu. Detak jantung yang normal ini akan menuju sel-sel binerku untuk sampai di syaraf pusat.
__ADS_1