
Epilog
Seattle, Amerika, musim panas.
1998
Cerita Bill Gates belum dimulai ketika dia diminta putrinya untuk mendongeng.
“Ayah, ayo cepat, ceritakan kepadaku tentang manusia modern,” ucap putrinya sekali lagi. Lekaki tua itu suda berkata-kata, tetapi belum bercerita.
Malam itu Bill Gate belum selesai mengetik halaman demi halaman bukunya yang belum diberi judul, yang kelak akan diketahui bertitel Business@ Seed of Thought. Dilihatnya sekali lagi sambil menyemburkan napas panjang. Betapa panjang dan melelahkan untuk subab “Memanfaatkan Relung Kognitif”.
Energinya seperti terkuras, pikirannya serasa lumpuh, dan otot-ototnya seperti habis dimakan ikan hiu. Pikirannya buntu ketika harus menghubungkan kognisi manusia dengan sistem digital. Apakah mungkin sistem digital menggantikan kognisi manusia yang memiliki sistem pembedaan yang sangat rumit? Apakah peramaan yang sederhana bisa ditingkatkan menjadi peramaan yang sesungguhnya? Apakah, intinya, sistem digital bisa berdiri sendiri menggantikan kehadiran manusia?
Pertanyaan itu terus menggantung di kepala, dan belum ada jawabnya. Sampai akhirnya dia kemudian kembali mengetik sejadi-jadinya di sebuat serat optik di depannya.
Saya orang optimis saya memperayai kemajuan. Saya bersyukur karena hidup pada masa ini, bukan pada zaman lain dalam sejarah. Di zaman itu, keterampilan yang saya miliki tidak akan dianggap berharga. Bahkan saya paling mungkin menjadi santapan orang-orang buas. Perkakas zaman industri berfungsi memperbesar kemampuan otot-otot kita. Sedangkan perkakas atau peranti pada zaman digital berfungsi memperbesar kemampuan otak kita. Saya bahkan lebih bagaia karena anak-anak saya akan besar dalam dunia baru ini (1999: 369)
__ADS_1
Bill Gates melempar sigaret ke pojok ruangan. Suara AC menderu-deru. Tiktok jam seperti gedebum bom, Dia selalu macet pada gagasan tentang sistem digital yang mengubah kehidupan manusia sampai hal-hal yang paling kecil. Dia pada waktu itu selalu bertanya, apa saja yang bisa mengubah manusia dengan sistem digital?
Dia sangat bernafsu agar sistem digital mampu mengubah otak manusia. Bila Zaman Industri telah berhasil mengubah otot manusia menjadi lebih kuat untuk menjadi buruh, pikirnya, maka zaman digital akan mengubah otak manusia menjadi sistem digital yang beroperasi dengan kerangka pikir oposisi biner.
Oposisi biner. Dia menatap sekeliling dan seperti sedang menemukan gagasan di luar jendela.
“Ini dia!”
Dia kemudian sekali lagi membayangkan imajinasi terakhirnya. Tentang oposisi binner dan kinerja otak itu …
50 tahun kemudian…
Penajam Paser, Tahun 2048
Pagi. Matahari sudah menampakkan diri di ufuk timur. Angin bertiup pelan. Dingin menggigit kulit. Sebuah pesawat mendarat di Bandara Penajam Paser, ibu kota Indonesia. Udara sangat panas. Sudah sejak dekade lalu ibu kota Indonesia telah berpindah dari Jakarta ke Penajam Paser.
Seseorang membawa tas ransel melewati lorong-lorong check out. Digendong tas ranselnya. Sepatu kets yang berdecit di lantai berbunyi sangat beruntun, menandakan dia sangat tergesa-gesa. Dilihat device yang melekat di punggung tangannya. Pukul 07:35. Belum terlambat. Rapat di Paser Building kurang setengah jam lagi. Sejumah pesan singkat yang terenskripsi ke dalam bentuk suara itu telah dibalas dengan cepat. Caranya dengan mengubah suara menjadi teks. Sebuah digital cerdas membantunya untuk menjawab sejumlah pesat-pesat yang telah diprogram sejak dari rumah.
__ADS_1
Di lobi bandara sudah menunggu seorang sopir yang mengacung-acungkan penanda namanya.
“Tuan Ergo?”
“Iya, saya.”
Kemudian sopir itu membawa lelaki itu keluar dari bandara. Melewati jalanan beraspal. Di kanan kiri tertanam pohon bintaro dan angsana. Sejunlah papan reklame berjajar dipinggir-pinggir jalan. Sejumlah kereta udara lalu lalang. Kota ini makin sibuk rupanya. Tidak lama kemudian dia berbelok ke suatu gedung yang menjulang. Terpampang papan besar Pusat Strategi Teknologi Digital.
Lelaki yang kemudian disebut dengan Ergo itu keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam lobi utama gedung. Seseorang sudah menjemput di depan resepsionis.
“Tuan Ergo?”
“Ya.”
“Tuan Ramses sudah menunggu.”
Kening Ergo mengernyit. Dia seperti mengingat sesuatu.
__ADS_1