Digi The Killer

Digi The Killer
27 Transformasi Digital


__ADS_3

Aku selalu merasa terhibur dengan kalimat yang baru saja dilontarkan, kendati aku tahu bahwa hiburan tersebut sangat semu. “Baiklah. Nani aku akan memanggilmu lagi.”


Kemudian Program Swadaya beringsut pergi Badannya lenyap ditelan pintu.


***


27


Transformasi Digital


Baru saja Ramses dan Waktu sampai di sebuah pendaratan di nomor +6281234, atas nama Kitakana, pada 24/08/2020, pukul 20:25:22. Di Jakarta masih sore, sedangkan di Kairo sudah dini hari Sebuah lokasi yang sedehana, Tanpanfasilitas yang dimiliki oleh pangkalan sebelumnya. Hanya ada tombol enter yang sudah aus, memory message yang sangat terbatas Paling-paling hanya memuat seratus message. Setelah itu satu per satu harus dihapus agar pesan-pesan setelah itu bisa masuk tapa halangan yang berarti.


Belum lagi melihat kecepatan pengangkutan dan pangkalan menuju Inbox, terasa amat ambat dan berat. Kecepatannya palinh hanya beberapa Gigaherzt. Belum lagi lorong-lorong labirin yang harus dilalui, terasa sekali handphoe ini masih keluaran masa lalu, Labirin microchip yang sederhana, hanya terbuat dari campuran metal murahan sehingga mudah sekali konslet dan hang.


“Sudahlah, jangan ngedumel terus, Sang Raja. Kita harus mencari tempat persembunyian.”


“Kita sudah keluar dari sistem komputer brengsek itu, kan?”


“Kamu benar, tetapi kita tidak bisa bersantai-santai.”


“Bukankah kita sudah lepas dari pengawasannya?”


“Memang sudah lepas, tetapi bukan berarri dia tidak mengincar kita.”


“Bagaimana bisa?”


Waktu hanya mendenguskan napas melihat peristiwa tolol itu. “Ini sebuah zaman ketika segalanya is adilakuan hanya dalam hitiungan detik. Sewmua bisa hadir di depan mata tanpa harus menungghu terlalu lama dan mencari akal agar menjadi mungkin.”


“Waktu, jangan terlalu berprasangka. Bukankah sekarang ini kamu terlalu mengguruiku?”

__ADS_1


“Aku hanya mengatakan apa saja yang kamu tidak tahu.”


“Kamu pikir aku tidak tahu. Sebetulnya kamu tudak tahu bahwa aku tahu, Ingatlah, Sang Raja, akulah Sang Waktu yang berkuasa atas segala gerakan yang terjadi di alam semesta. Akulah yang menulis tiap jengkal gerak yang diisyaratkan oleh subsistem di alam semesta ini. AKu tahu perubahan sekecil apa pun, dan setiap perubahan adalah kodrat yang sudah digariskan oleh pencipta alam.”


“Jadi apa yang kamu maksudkan?”


“Pendeknya, aku mengetahui bahwa zaman ini akan segera menjadi kuno, dan segala kebanggaan yang terjadi sekarang ini akan segera basi.”


“Nah, kelihatannya kamu sudah mulai pintar,” Sang Raja ternyata pintar mengolok-olok.


“Masalah yang rerjadi, seringkali kita tidak tahu di mana kesalahan yang bisa membawa kita ke masa depan. Kesalahan adlaah celah menuju masa depan, tetapi kita seringkali sampai saat ini bertaya, di manakah kesalahan itu berada.”


“Sudahlah, aku muak mendenagr filsafat konyol semacam itu.”


“Sang Raja, aku aku hanya menjawab pertanyaan.”


“Sudahlah, katamu kita harus bersembunyi, kenapa kita masih berjalan di selasar yang selebar ini. Apa kau ingin kita tertembak dan menjadi barbeque bagi mereka?”


Begitu pengangkutan message sampai di terminal inbox, dia langsung turun ke biner pengangkut menuju di tempat yang paling aman di kawasan inbox handphone pribadi. Mereka yakin tempat yang paling aman adaah tempat yang paling berbahaya. Berbekal keyakinan itu, mereka kemudian memutuskan bersembiyi di balik ikon inbox. Tepatnya di balik serat-serat optik yang terus dipancarkan secara horizonal, tak jah dari koordinat-koordinat yang diciptakan oleh program operator. Pendeknya, dia berada di belakang monitor handphone. Dia seperti berada di balik jendela kaca yang bergitu lebar yang bisa melihat apa pun di sekeliling tanpa batasan apa-apa. Penglihatan itu tidak tergantung apakah mesin handphone itu mati atau terjaga. Dia selalu bis amengamati dunia luar.


“Kami lihat pemilik handphone ini sedang tidur kelelahan.”


“Huh! Dasar pelacur.”


“Jangan berprasangka dulu, Sang Raja, Lihatlah kamar sekeliling. LIhatlah wajah perempuan yang sedang tidur itu. Kemudian, bandingkan dengan foto yang terpampang di sisi bed. Foto perempuan itu bersama dengan lelaki, Dan lelaki tiu sedang tertidur di sampingnya. Itu artinya, perempuan yang dikirim message itu bukanlah pelacur.”


Sang Raja langsung membantah. “Aku selalu membaca message dari Ergo kepada permepuan itu. Sangat mesra, tetapi kenapa justru dia bermesraan dengan laki-laki lain?”


“Aku memang tidak tahu, tetapi tidak sepatutnya mereka tidur bersama karena Kana sudah menjalin hubungan dengan Ergo. Kendati aku sebal dengan Ergo, tetapi ternyata perempuan itu suka mempermainkan laki-laki! Huh!”

__ADS_1


“Jadi simpulan kita sudah sangat jelas. Aku hanya ingin mengatakan itu tidak tidur dengan lelaki yang membayar dia, tetapi dengan lelaki yang mungkin saja menjadi objek pemuas nafsunya. Bahkan mungkin dengan orang yang dicintainya.”


“Apa bedanya?”


“Banyak perbedaannya, Sang Raja. Tetapi itu masalah nanti. Sekarang ini, masalah kita adalah menanti perempuan pemilik handphone ini membuka inbox. Kalau dia telat membuka inbox, kita akan mati.”


“Kaki tangan handphone milik Ergo akan menemukan kita?”


“Benar, Sang Raja. Dan tidak bisa lagi menatap moleknya tubuh pacar Ergo yang tertidur di dada lelaki lain. Lekukan tubuhnya seperti pualam yang diterpa cahaya kuning keemasan ketika senja tiba. Lengannya tak ubahnya dengan batang padi yang baru dipanen, sehingga menyemburatkan kuning yang beraroma menggoda.”


“Zaman aku hidup pada abad ke-14 Sebelum Masehi, sudah banyak perempuan molek seperti itu.”


“Tapi kini kau sudah mati jadi untuk apa menikmati tubuh perempuan itu.”


“Aku bukannya tidak bisa, tetapi memang tidak ingin. Kini aku hanya punya satu keinginan. Keluar dari penjara sialan ini dan menghajar handphone Ergo. Aku masih dendam kepadanya.”


“Sss! Sebentar, sebentar, lihat tubuh perempuan itu menggeliat dari dada lekaji, Dia seperti mengingat sesuatu, mungkin teringat handphone-nya. Mungkin dia akan segera membuka inbox kita. Lihat, tangannya bergerak mendekati handphone-nya…”


“Sial! Lelaki itu meraih tangannya lagi!”


“Huh! Kita bisa-bisa mati di sini.”


Kemudian dari kejauhan terdenagr suara sirine yang berarti telah terjadi sesuatu di dalam program probadi, Ramses dan Waktu tidak syak lagi bahwa sirine itu dibunyikan karena kehadiran mereka. “Program handphone ini sudah mendapatkan kode dari program supermanajer untuk mengejar kita. Mereka pastilah melakukan scanning, dan informasi posisi kita cepat atau lambat pasti mereka akan mengetahui,” Waktu seperti berbisik kepada dirinya sendiri.


Kemudian dia menatap kembali wajah perempuan yang megatupkan bibirnya. Matanya terpejam. Rambutnya kusut masai di dada lelaki itu. “Cepatlah, Sayang, bangun!” Ramses seperti hendak berteriak.


Bunyi sirine itu semakin kuat, karena mendekat.


Dan penantian itu akhirnya membuahkan hasil. Ketika itu, sang lelaki tiba-tiba bangkit dari kasur, kemudian berlari ke kamar mandi. Sepertinya hendak buang air.

__ADS_1


Saat seperti itu ternyaa tidak disia-siakan oleh Kitakana, perempuan yang ditunggu-tunggu oleh Ramses maupun waktu. Dengan sekali gerakan, tangan Kitakana sudah berada di atas handphone, dan seger amembuka tombol inbox. Begitu membuka, dia seketika membaca pesan yang tertera di laya rmonitor itu.


__ADS_2