Digi The Killer

Digi The Killer
Mencari Mata Cinta


__ADS_3

Saatnya dia kembali ke atas genteng. Memandangi langit yang kehilangan warna Melihat burung yang sesekali berkelebat. Menyaksikan angin yang bertiap sehingga menimbulkan bunyi seperti deru kenalpot di pagi hari. Pada saat-saat seperti itu, di akembali melihat bintang. Menikmati cahayanya. Mencari-cari mata Cinta di antara ribuan cahaya. Manakala dia mencari-cari, dia kembali pada kebiasaan lama, menghubung-huibungkan cahaya bintang menjadi serupa bentuk bangunan. Masing-masing dikaitkan seperti dia memiliki benang, kemudian mengingat satu bintang dengan bintang yang lain. Dia merasa amat berkuasa untuk membunuh diriku, membunuh sang waktu yang terus mengalir, hanya dengan menghubungkan satu bintang dengan bintang yang lain.


Bermalam-malam dia telah lalui. Kini dia tahu, bangunan antara saau bintang dan bintang lain selalu berubah ketika aku, sang waktu, bergerak. Bangunan yang dibayangkan pada waktu Maghrib akan berubah ketika malam telah larut, Bila usai senja bentuk bangunan pada bintang seperti bujur sangar, maka ketika malam telat larut, bujur sangkar itu berubah menjadi jajaran genjang. Yang semula membentuk lingkaran pada sore hari, tiba-tiba lingkaran itu menjadi oval pada malam hari. Yang segitiga menjadi peyot, bahkan menjadi tidak lagi geometris. Semula memiliki sudut delapan, kini sudutnya berubah menjadi lima. Begitu seterusnya.


Kini dia menjadi tahu, Aliran diriku mengubah bentuk bintang. Ya. Kini dia tahu. Mengapa harus kini? Dua dia tidak tahu perubahan itu, kini dia tahu. Di situlah aku berdiri, dari dulu menjadi kini, dari tidak tahu menjadi tahu. Ada rentang, ada jarak yang aku buat, sehinga di situlah bangunan bidang miring ada Bangunan iu disusun sedmeikian rupa membenuk hamparan ruang-dalam-waktu, sehingga menghubungkan antara titik dulu dan kini, yang dipadupadankan dengan tidak tahu dan tahu. Masing-masing titik itu membenuk serabut yang terus bergerak sesuai dengan bidang miring yang dibuat.


Setelah kini dia menjadi tahu, apa yang sesungguhnya diketahui hanya tentang diriku. Tenang perubahan semata-mata. Dalam perubahan itu, dia tidak mendapakan apa pun, kenyatannya demikian, kecuali mengingati kepedihan-kepedihan masa lalu. Perubahan dalam bidang landai milikku tidak mengubah peraaan yang mengguris selama ini, katanya, Dia pernah menyumpah serapahi aku, Katanya, waktu isa mengubah segalanya, tetapi nyata aku masih dalam keterpurukan yang tak terperi, Katanya waktu akan dengan arif memberikan hikmah atas semuanya, tetapi nyatanya kini yang tersisa hanyalah rasa sakit yang terus bertambah.

__ADS_1


Manakah waktu yang konon arif dan bijaksana?


Di manakah mata waktu yang menunjukkan jalan keluar dari pengap hidup yang membuatku sekarat?


Coba tunjukkan kepadaku. Waktu, apa yang bisa diubah dari beban yang berat dan penuh derita ini menjadi kejayaan yang hgilang gemilang?


Kalau aku bis amenjawab kepadanya, aku akan mengatakan bahwa ini semua belum saatnya. Aku belum pantas hadir padamu. Aku akan hadir padamu dengan sejuta hikmah ketika kau mempersiapkan bidanhg lain untuk diriku meluncur. Aku akan datang lebih indah dalam kelokan-kelokan yang telah dibuat oleh manusia, berpusing-pusing, memilin-milin dalam ukiran indah bil amemang manusia menginginkannya. Ketika Ergo menjawab bahwa dia telah menginginkannya, tetapi yang aku lihat dia tidak mempersiapkan idang-bidang tempat aku mampu menari dengan ungkapan-ungkapan paling indah yang perah aku miliki. DIa tidak mempersipakan apa pun keculai landasan yang landai, dengan sudut 20- derajat, dan semu abidang itu datar-datar saja, seperti jalan aspal yang luas, dan aku tidak ada kesempatan untuk memperlihatkan keindahan sebagai waktu yang hadir. Sebagai sosok yang memaang memiliki potensi.

__ADS_1


Bila dia bertanya, kapan waktu akan memberikan kearifan, maka katakan bahwa aku akan datang memberi emua pa yang dia minta. Dan ketika dia bertanya, kanap tidak juga datang, maka jawab saja aku akan dtaang ketika dia siap. Ketika dia bertanya lagi, kapan dirinya siap, maka pertahanan itu sebetulnya hanya dia sendiri yang bisa menjawabnya. Bilakah dia siap? Ku tidak mau mencampuri urusan sesiapa. Hanya saja aku akan mengawal siap apun dalam mushaf-mushaf yang telah aku persiapkan, dan aku beri nama sebagai lembaran waktu. Nama yang dulu, kinim dan yang kemudian. Semua akan berubah, kecuali aku, dang waktu, karena aku adalah perubahan itu sendiri.


Delalu ada ungkapan belum saatnya, yang berarti orang tersebut belum siap. Nanti ada waktunya sendir Ketika aku telah tiba, kamu akan melihatyku seperti berlari tunggang langgang, lintang pukang, dan kamu tidak tahu lagi di manakah waktu bersembunyi, karena gerakan tubuhku yang begitu cepat Gerakan itu akan kamu hadapi sebentar lagi ketika lamaranmu ditanggapi oleh sebuah penerbitan surat kabar terkenal, memanggilmu untuk wawancra, tes psikologi, kemudian tidak ada tiga minggu kamu tes kerja Sejak itulah, kamu mempersiapkan bidang yang sangat cura, bagiku sehingga aku tidak punya pilihan lain kecuali terjun sebebas-bebasnya, meluncur dengan kekuatan gravitasi yang penuh dan menakjubkan.


Ketika gerkan begitu cepat dan perubahan-perubahanm tak terelakkan harus terjadi, aku seringlali lelah dan coba melihat diriku yang melesat demikian jauh. Aku berhenrti di satu titik ketika perubahan itu terus dan terus. Lihatlah, Ergo yang terbelit dengan arus waktu, dan terkekang dengan uraian-uraian yang membutuhkan dia harus berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain. Dari satu rencana ke rencana yang lain, Ketika dia membuka buku catatan pagi hari, dia akan menemukan diriu dicatat dalam hitungan angka-angka, dan angka angka itu bergereak menuiju tempat-tempa yang berlainan. Pukul tujuh mengikuti wisuda di Tebet, pukul sembilan meliput semiar di Hoyel Indonesia, pukul sepuluh dia haru smenghadiri acara Pecinan, pukul duabelas dia janji ketemu dengan nahrasumber yang bercerita tentang bencana di Jakarta, dan setelah itu, dia haru smeranglum enkjadi angka aksara sebelum pukul enam sore. Lebih dari itu, berita tidak akan bisa dimuat di koran, dan itu berarti nilainya akan berkurang.


Perjalnaan diriku diikuti dengan perubahan ruang-ruang, dan itu jelas membuatnya sepetri benda-benda yang dilempar dengan kekuatan pejuh dan tidak menyadari dirinya dalam kondisi yang melesat. Seperti peluru kendali, yang bergerak dengan sangat cepat, dirinya tdiak menyadari berada dalam ruang dan waktu yang selalu berubah dakam setiap saatnya. Kecepatan hanyalah perubahan ruang waku yang sangat cepat, Tetapi biarkanlah perubahan itu bagi orang lain. Tentu bagi dirnya sendiri, Ergo tidak merasa terjadi perubahan. Seperti kita naik pesawat, kita sedang meluncur denagn kecepatan suara, tetapi sesungguhnya yang bergerak hanya pesawat itu, bukan kita. Kita sendiri diam dalam lambung pesawat, terkantuk-kantuk, dan melihat di sekitar kita seperti yang diam. Dan ketika mendarat, kita baru menyadari bahwa kita sudah berada di tempat yang jauh dari beberapa jam yang lalu. Baru disadari bahwa kita telah bergerak demikian cepat dan waktu akan menyusut dan mengembang sedemikian rupa, sampai-sampai orang tidak bsia mengenali, Ini bukan permainan psikologi atau rancangan alat tes kejiwaan untuk sampai pada satu tingkat gradasi intelektual tertentu. Bukan, Aku menyodorkan kepada Ergo sebuah kenyataan yang haris didasari sebelum semuana terlambat.

__ADS_1


__ADS_2