
Pada saat membaca itulah, Ramses kemudian menyisipkan pesan dalam layar monitornya.
“Ergo dalam keadaan bahaya! Hanya kamu yang bisa menolognya!”
Tampak wajah Kitakana kaget degan pesan yang mirip dengan virus. Sebab kemunculannya dimulai dengan layar monitor yang padam, dan setelah beberapa detik monitor hidup dan muncul kalimat dengan tinta mereka seperti itu. Diam beberapa jenak, kalimat itu secara mendadak hilang tak berbekas. Monitor kembali seperti sedia kala. Pesan Ero kembali muncur di monitor.
Kana menggelengkan kepala berkali-kali, Dia ragu apakah tadi hanya halusinasi ataukah benar terjadi. Dia terus membaca pesan sebelum lelaki yang tidur dengannya muncul dari kamar madji, Dibaca dengan cepat, dan secepat mungkin dia menangkap artinya. Setelah itu, dengan kecepatan dan kecekaan pula dia meletakkan hanphone di meja dekat tempat tidurnya. Kana lagsung pura-pura tidur sebelum lelaki itu ke atas bednya. Tapi dugaan Kana ternyata salah, karena lelaki itu belum juga keluar dari kamar mandi, Dia membuka selimut yang menutupi wajahnya yang menengok ke cermin yang berada di depan pintu kamar mandi. Cermin itu memberi tahu bahwa pintu kamar mandi masih tertutup. Mungkin dia tidak hanya buang air kecil, tetapi buang air besar.
Sementara itu, handphonenya kembali berbunyi.
Dia cepat melayangkan tangan ke benda kecil mirip mainan ana itu, Dibukanya kembali dengan tangkas pula, Dia tahu harus melakukan sesuatu dengan secepat mungkin agar tidak ada yang mengetahui. Tetapi kecepatannya itu terhenti ketika matanya terbelalak melihat pesan di monitor, Bukan inbox, yang artinya bukan penerimaan pesan dari pengirim yang jauh, tetapi pesan itu. Ya, pesan yang berwarna merah itu muncul sekali lagi.
“Saya tahu Anda pacar Ergo, Bila Anda mencintai, dia dalam keadaan bahaya. Hanya kamu yang bisa menolongnya.”
Pesan itu berkedip-kedip dengan uruf merah menyala, Tidak sempat menimnulkan suara karena setting handphone dibuat silent, tetapi jelas itu ingin menyamakan dirinya dengan sirine ambulans yang melewati jalanan padar. Di dalam kepala Kana langsung muncul sejumlah pertanyaan. Siapakah pegirim psan ini? Kalau tidak ada pegirimnya, lantas kenapa tiba-tiba muncul tulisan itu? Kenapa pula Ergo dalam bahaya dan siapa yang mengetahuinya? Dia tahu, pesan itu tidak menggunakan prosedur inbox atau pengetikan langsung, tetapi tampak seperti keluar begitu saja di antara layar. Kalimat-kalimat tu seperti tumbuhnya padi di atas batu. Muncul begitu saja.
Apa handphone-nya rusak? Atau apa yang sesungguhnya terjadi dengan Ergo? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah itu segera saja terhenti karena terdengar bunyi pintu kamar mandi yang dibuka. Dengan sagat tangkas tangan Kana meletakkan hape, atau lebih tepat setenagh melemparnya, kemudian menarik selimut hingga ke wajah. Wajahnya kini sudah tertutupi selimut tetapi matanya masih mendelik terbuka. Di dalam kepalanya masih terngiang-ngiang pertanyaan yang menguntit monitornya. Dia berlagak pura-pura tidur.
Dia merasa kasurnya bergoyang dan seonggok tubuh sudah berada di sampingnya. Lelaki itu sudah mulai hendak memeluknya dengan menarik tubuh Kana ke dekatnya. Dan Kana pun hanya melenguh perlahan ketiak selimtu ditarik dari wajahnya san sang lelaki itu mencium biirnya dengan lembut.
__ADS_1
Tetapi kelembutan itu terasa bagaikan sengatan listrik ketika sang lelaki itu melepaskan dan berujar, “Sayang, itu hapemu berkedi-kedip. Mungjin ada yang memangggil atau kirim pesan.”
Kana hanya menarik napas, kemudian malah bibirnya menyentuh bibir lelaki itu, “Aku tidak ingin diganggu siapa pun bila sedang bersamamu, Sayang,” sahut Kana sambil ******* bibir yang selalu bau asap sigaret itu. Ketika Kana mengucapkan kalimat itu matanya terpejam, dan sedikit menggeleng, Jelas ada sesuatu yang berkecamuk di dalam batinnya.
***
28
HP #2 MSDP: Target Harus Tuntas
Pengejaran oleh internasional polisi yang dikomandoi oleh Program SUpermanajer sebetulnya telah membuahkan informasi penting bagiku. Wkatu telah melarikan diri bersama dengan penyelundup yang mengaku bernama Ramses. Mereeka telah singgah ke nomor hanphone +6281234, berlokasi di Jakarta. Satelit pengintai telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang posisinya.
Keika kuhubungi melalu modem, mereka mengaku masih dalam pengejaran. Semenatar itu, program swadaya yang kutanam di dalam programku belum juga menjebol arbitrasi yang diberlakukan di handphone kuno. Sayang memang, masa sekarnag masih menggunakan handphoe yang ketinggalan aman.
Sebuah saluran elektromagnetik bergetar. Aku tergeragap, seger ameliha biner-biner pengirim, Rasa-rasanya interpol. Meeka memberikan informasi lagi tentang keberadaan buruanku yang sudah terjebak di dalam layar serat optik. Kia tahu, layar serat optik hanya menyemprotkan diri secara mendatar, dan tidak pernah memberikan umpan balik ke belakang atau sistem pemancar lain. Kalau mereka sudah berada di sana, mereka hanay bisa bergeeak secara horizontal.
“Akan tetapi mereka melindungi diri dengan proteksi sinar gamma yang dipilh menjadi masa depan yang tidak kami kenali wilayahnya. Kami mengenali masa lalum tetapi kami jelas tidak bisa mengenali masa depan,” ungkap Interpol sekali lagi.
“Memang itulah kelebihan wakti. Tap kita harus pintar dibanding mereka, karena kita memiliki program yang bis amenciptakan apa saja.”
__ADS_1
“Saat itu kami sedang mengepungnya, belum masuk ke serat optik.”
“Kenapa tidak langsung diserbu saja?”
“Risikonya terlalu besar, Lagi pula Ketua Prpogram Supermanajer tidak menghendaki,
“Tidak menghendaki, katamu?”
“Mereka hanya menghendaki kesadaran manusia, bukan virus, bukan faktor-faktor lain.”
“Bukankah kamu tahu sendiri waktu memrupakan variabel utama dalam kesadaran manusia?”
“Tapi itu bukan target utama.”
“Aku akan tetap memburu Waktu sampai ke mana pun.”
“Kamu akan melanggar Peraturan Program Supermanajer.”
“AKu tidak melanggar, justru ingin menyukseskan rencana besar yang sudah tersetting dalam program kami.”
__ADS_1
Setelah terdiam beberapa jenak, “Kendati kami tidak setuju, kami akan tetap membantumu, karena program utama mengisyaratkan bantuan itu memang tertuju padamu.”
“Itulah gunanya ada program interpol.”