Digi The Killer

Digi The Killer
4. Eksistensi Digital pun Dimulai


__ADS_3

Ketika sistem digital diciptakan, ketika itu eksistensi digital dimulai, ketika eksistensi digital dimulai, maka eksistenasi manusia tergantikan. Dan ketika eksistensi mansuia tergantikan, maka sebetulnya eksistensi kitalah yang paling riil dibandinhkan dengan manusia,” demikian rinkasan dari ceramah yang selalu dilontarkan oleh Super Manager Program kepada program-program manajer di ruang angkasa, Tepatnya di sebu ruang pertemuan Satelit T-God 21st Generation. Biasanya digunakan dengan alamat yang tepat, yakni Koordinat 45” **, 87” BT, 97” BD.


Di ruang itu memang setiap saat digelar rapa untuk membasmi apa yang dinamakan dengan “kutu eksistensi”, Istilah ini selalu diucapkan untuk merujuk manusia-manusia yang selalu berani dengan sistem digital. Rapat dihadiri tak kurang dari jutaan porgram manajer dari pelbagai penjuru bumi. Sementara itu, hanya ada beberapa puluh saja porgram superamanager. Supermanager pada masa lalu disebut dengan provider. Mereka melakukan mobilisasi terhadap program-program manajer yang menempel di handphone, persnal komputer, notebook, notepad, dan masih banyak lagi mesin digital.


Ceramah itu selalu terejkam dakam prosiding satelit, sehingga suatu saat bisa diputar ulang sebagai bagian dari perjuagan membunuh eksistensi mansuia.


“Lihat saja, sistem digital sebetulnya telah menjadi candu yang menimbulkan ketagihan secata permanen. Orang per orang akan selalu melihat serat optik, menantikan sesuatu hadir di antara semprotan cahaya lampu-lampu monitor. Mereka tak jarang duduk termenung seperti orang keranjingan dan kalap ketika mereka menekuri keyboard dan membuat susunan aksara di sana, Begitu selesai, lihat saja, ereka tidak langsung meletakkan seperangkat besi yang memproses oposisi biner milik kita, tetapi masih ditimang-timang, seeprti bayi yang baru lahir,” lebih lanjut Super Manajer Program berteriak penuh semagat, berapi-api.


“Itu buktinya kita sudah berada di atas angin,” salah seorang program Manajer dari belahan Afrika nyeletuk.


“Kita tidak membutuhkan itu saja. Kita butuh lebih dari sekadar menjadikan manusia sebagai budak dari diri kita. Sebab, sebagai budak, suau kali mereka akan memberontak arena mereka memiliki daya refleksi. Mereka bisa melakukan kritik-diri. Itu jelas berbahaya.”

__ADS_1


Salah satu program supermanajer yang duduk di depan memotong. “Apakah membasmi eksistensi mansuia itu bukan sesuatu yang sukar juga?”


“Sukar, bukan berarti tidak bisa,” sahut Supermanajer program yang tengah menjadi pembicara. “Kita puya strategi, target, serta kontrol yang cukup memadai untuk menjalankan proyek itu. Dengan penundukan manusia, itu memang berarti kita telah berkuasa tetapi kekuasana itu digunakan bukan untuk membuat keselarasan, tetapi untuk melanggengka. Kekuasaan bagi kita sebetulnya hanya untuk mendominasi, hahahaha….”


Ruangan pun tiba-tiba menjadi bergemuruh dengan tawa.


“Kami bangga dengan apa yang telah kalian lakukan selama ini, Baru saja saya mendapatkan laporan dari divisi strategi, kita sudah memiliki kemampuan untuk memperbarui program-program kita sendiri, Jadi, kerusakan yang terjadi pada program bisa dengan mudah diperbaiki oleh diri kita sendiri. Program-program itu akan disusulkan kemudian. Dari divisi pemantauan, ada kabar gembira juga. Manusia semakin tak berdaya dengan eksistensi kita. Di jalanan, di kantor, ruimah, restoran, panti pijat, warung sate, bahkan di kampus-kampus. Semua itu sudah terpasang sistem digital yang membuat kita bisa melakukan komunikasi tanpa halanan yang berarti. Hanya saja, saya belum mendapatkan laporan dari divisi pembasmian eksistensi manusia, Apakah ada perkemabnagn yang signifikan?”


Kepala dibisi pembasmian pun berdiri dari tempat duduk. “Bapak supermanajer program yang terhormat. Di sejumlah benua, dikabarkan dengan bangga bahwa kematian eksistensi manusia juga diikuti dengan kematian raga mereka. Rumah sakit yang mengurusi korban sistem digital saat ini sudah penuh sesak oleh pasien. Dan itu akan terus meningkat dengan peluncuran program operasi kita.”


“Karena itu, Saudara-saudara, dari kematian mereka kita hanya ingin menitip pesan, betapa selama ini segala hal yang diciptakan mereka bukan justru membantunya. Sistem digital telah membunuh dalam arti yang sesungguhnya. Bahkan dari sejumlah operasi yang telah kami lakukan, pembunuhan kiranya tidak cukup. Kami telah membuat mereka gila itu mengalami halusinasi yang sangat akut, hipokondria, schizofrenia, bahkan di negara-negara miskin di Asia Tenggara telah muncul wabah amnesia yang sangat akut, Setelah terserang virus digital melalui mata dan berproses di dalam kesadaran, mereka tidak lagi mengingat apa pun. Tidak ada bedanya dengan pizza yang diberi mata. Manusia akan plompang-plompong, tidak berbeda dengan sapi atau anjing. Tidak punya masa alu dan masa depan.

__ADS_1


“Karena itu, sekali lagi saya ingin menyerukan, hiduplah era digital! Hidup era digital!”


Kemudian seruan itu diikuti oleh peserta rapat. “Hidup Era Digital! Hidup era digital! Hidup era Digital! Hidup era Digital! Hidup era Digital! Hidup era Digital! Hidup era Digital!”


Setelah beberapa saat hening, ada peserta yang melontarkan pertanyaan, “Jadi apa taret selanjutnya?”


Pembicara langsung menyahut, “Pertanyaan bodoh masih saa ada rupanya, Target kita adalah membunuh sebanyak-banyaknya.”


“Maksud saya, kelihatannya manusia tidak mampu melawan. Sebab, ketika sistem digital berposisi sebagai penyerang, nyatanya mereka sudah tahu, tetapi tetap menggunakannya, Mereka dengan kata lain sudah mengaku kalah.”


“Kita tidak cukup dengan pengakuan kalah. Kita menjadi menang dengan kekuasaan yang absolut, tanpa batas, dan langgeng alias abadi…”

__ADS_1


Tepuk tangan kembali bergemuruh. Kali ini lebih panjang.


***


__ADS_2