
Mereka hanya butuh sedikit perhatian dan senyum manis. Lepas itu, dia hanya bisa dinilai apakah dirinya terlalu basah atau kering dan mengukur kekuatan menggulingkan tubuhnya. Aku membaca dalam diary-nya, perempuan baginya bukanlah entitas kekuatan yang berhak mendapatkan kesetaraan gender. Dia tidak anti-gender, karena sejak awal dia melihat perempuan dan laki-laki memiliki kesibukan dan pikiran yang setara. Yang tidak sama, bagaimana masing-masing berinteraksi. Ketika dalam interaksi perempuan itu memiliki kekuatan lebih dibanding laki-laki, maka yang terjadi adalah penindasan. Demikian juga yang terjadi ketika alki-laki lebih kuat. Ketika hubungan itu dilandasi oleh kekuatan yang sama, maka masing-masing tidak mendominasi sehingga mereak memiliki norma sendiri. Norma sendiri, aturan sendiri, cara hidup sendiri, dan pola-pola yang diatur sedemikian rupa untuk menjadi sendiri. Lantas apa yang terjadi dari kemandireian yang penuh itu? Jawabnya cukup sepele, masing-masing tidak membutuhkan, sehingga masing-masing lebih baik hidup sendiri.
Dalam hidup ini, haruslah ada yang lebih kuat dalam sebuah interaksi agar terjadi dominasi untuk menentukan tujuan sementara. Prinsip Ergo menjadi sangat sederhana, aku tahu, karena itu dia pun ingin menikmai dengan penghayatan menyeluruh atas dominasnya selama ini.
Maka, message dari perempuan yang tidak istimewa itu pun tidak dibalas, Bunyinya pun tidak istimewa, bahkan cenderung sederhana. “Sekarang sedang apa, sayang?” Aku rindu setengah mati ingin memelukmu. Salam 1023.” Yang terakhir itu artinya, lantai speuluh sebuah hotel dan kamar nomor 23. Hah! Ergo sudah tidak mengungatnya lagi kamar berapa, karena sejumlah kamar telah dilalui dengan sjeumlah perempuan, Mungkin perempuan itu yang mendapatkan ruang yang kesekian, bagi Ergo, ruang-ruang hotel sekarang ini hanyalah menjadi bagian dari ruang-ruang di hatinya. Hatinya, sama juga seperti hotel, telah dikapling-kapling sedemikian rupa untuk sesiapa yang menginginkan untuk mengetuk pintu hatinya. Aku masih ingat bunyi diary terakhir di Jakarta sebelum dia berangkat dengan Egypt Air “Hidup hanya sekali, jadi untuk apa menunda apa yang kita inginkan.” Hidup hanya sekali, seperti semboyan James saja.
Kemudian tubuhku bergetar lagi, Ada pesan masuk. Tombol enter kemudian dipencet sebelum benar-benar memberikan informasi bahwa pesan itu berasal dari Kana, kekasih barunya.
TEXT:
__ADS_1
Salam lima kali dalam 9056. DI Jakarta sudah mulai beranjak malam, bagaimana di Kairo, Sayang. Jangan lupa oleh-olehnya, ya. Jangan lupa memasukkan handphone sebelum membeli Coca Cola. Jangan melamun dengan pacar barumu. Di kleramaian juga hati-hati ya, Sayang. Aku tidak ingin kamu sedih dalam perjalananmu. Aku ingin kau gembira. Karena di sisimu ada handphone yang kita beli berama-sama. Ingatlah handphone sepeti kau mengingat diriku.
Sender
Kitakana
+6281234
Dia perempuan istimewa. Bukan apa-apa. Angka 9056 baginya sangat terkesan. Lantai sembilan kamar 56. Bagi Ergo, waktu hanya berhenti di kamar itu, dan tidak pernah bergerak-gerak lagi. Waktu-waktu yang lain hanyalah sisa-sisa rembesan yang tidak pernah berharga. Sampai mati, dia akan mengulang untuk menyewa kamar itu andaikan Tuhan mengizinkan. Kana memang perempuan istimewa, tetapi pesannya tidak ada yang membuatnya tergugah. Dia cantik, rambutnya disemir blond, berombak, sebahu, dan wajahnya yang selalu memberi Ergo inspirasi.
__ADS_1
Entah kenapa, setiap kali Ergo menatap wajah Kana, yang timbul hanya berahi, tetapi kekuatan untuk bekerja. Wajahnya seperti memancarkan cahaya dengan sendirinya, mampu menyinari gelap. Setiap gerak bibirnya mengingatkan pada setiap detik yang membuat detang jantungnya tiba-tiba meloncat naik, Bibir itu selalu mengingatkan dirinya pada basah malam-malam. Waktu membeku di sana.
Kemudian dia mulai membalasnya. Aku biarkan saja dia membalasnya, aku hanya menyimpan di dalam memory sampah, karena paling-paling berisi kalimat-kalimat standar yang berisi ucapan sayang, rindu, kangen, cinta, kekasih, dan kasihku yang kucinta. Dia pikir dengan kata-kata itu semua akan selesai. Dia pikir itu baik. Setelah mengetik kalimat-kalimat basi, kemudian klik, dia mengirimkan melalui reply. Dengan pengiriman itu, entah menggunakan kalimat standar yang membosankan atau kalimat-kalimat basi tanpa makna, artinya dia ingin mengatakan bahwa dia membutuhkan. Tetapi, kadangkala, dia harus membalas bukan karena dia masiuh membutuhkan, tetap karena kasihan. Kadang uug akarnea tidak enak, karena dia telah mendapatkan terlalu banyak sedangkan Ergo hanya memberikan terlalu sedikit. Kadang hanya untuk memelihara “asset”, siapa tahu nanti dibutuhkan, Tetapi yang paling seirng, pesan dibalas karena jarinya memang gatal.
Dan aku semakin menyukai ketika jari-harinya gatal mengutak-atik tubuhku yang sintal ini. Seperti sekarang ini, di taman yang bergitu rimbun dengan pohon-pohon ekspor dan Brazilia dan seidkit pohon kurma. Tangannya akan sibuk dengan anek fitur. Enter. Cancel, Esc. F1. F2. F3. F4. F5. F6. F7. F8. F9. Insert. Delete. End. Home. Page Up Page down. Numlock, Caps Lock. Tab. Alt. Ctr. Shift. Power. Sleep. Wake, Pause. Semuanya akan terus terulang. Tombol-timbol keyboard seperti gegar otak karena hentakan demi hentakan. Q. W. E. R. T. Y. U. P [.] A. S. D. F. G. H. J. K. L. Z. X. C. V. B. N. M. Semuanya tak luput dari hantaman jari-jari cepat, menuju ke sasarannya. Seperti ujung jari itu sudah bermata seribu.
Dan lihatlah, Waktu, hidup kian seragam. Ketika kamu berjalan ke terminal bus, pasar, halte. Dan kampus-kampus, kamu akan melihat betapa mereka akan menunduk, seperti berdzikir dengan amat takzim. Memang mereka sedang berdzikir, tetapi tidak menggunakan tasbih. Mereka tidak melafalkan nama-nama yang indah yang terkait dengan agama manapun, tetapi sedang menekuri ini: Enter. Cancel, Esc. F1. F2. F3. F4. F5. F6. F7. F8. F9. Insert. Delete. End. Home. Page Up Page down. Numlock. Caps Lock. Tab. Alt. Ctr. Shift. Power. Sleep. Wake, Pause. Kepala mereka akan terus menunjuk sambil berjalan ke suatu tujuan. Mereka akan melangkah dengan sangat cepat, tetapi pikiran mereka tidak terpatok pada lantai tepat mereka berpihak Sebab tangan kananya sedang memencet tombol. Tangan kirinya menjinjing tas. Matanya tertuju pada monitor. Wajahnya takzim pad asatu fokus. Dan jantungya berdetak seperti alunan kursor Tik. Tak. Tik. Tak. Tik. Tak. Kadang alunan itu begitu cepat dari jemoil karena tombolnya tidak mirio keyboard, tetapi hanya tombol smart. Dipencet dua kali akan muncul huruf yang berbeda, tiga kali akan berbeda lagi, Sehingga apa yang terjadi dengan satu huruf kadang tidak berbunyi, ti, tak, tik, tak, tik, tak, tik, tak tetapi tititititititk, tatatatatak, tikaktiktaktiktaktiktak, tratatatatak.
Demikian, seperti tidak pernah berakhir, Tubuh mereka ada di pasar, terminal bus, stasiusn kereta api, di jalanan, di halte, jalan macet, di kantor, di kantin makan siang, di kamar pengap, di sel, di kantor polisi, di belajang meja hijau, di depan atasan, di warung nasi, di dalam bus, kereta, mobil, dan di atas sepeda motor. Di ruang tamu, bersama dengan orangtua, selingkungan, teman karib, pacaran, orang top, di depan gembel.
__ADS_1
Lihatlah, mereka mendzikirkan tombol yang sama. Enter. Cancel, Esc. F1. F2. F3. F4. F5. F6. F7. F8. F9. Insert. Delete. End. Home. Page Up Page down. Numlock, Caps Lock. Tab. Alt. Ctr. Shift. Power. Sleep. Wake. Pause.