Dilema Hidup

Dilema Hidup
1.Mulai bekerja


__ADS_3

Akhirnya sampai juga aku dikantor tempatku bekerja.


Dengan hati yang sedikit bergetar, ku langkahkan kaki agak cepat karena takut terlambat .


Ya, ini hari pertamaku bekerja setelah aku menyelesaikan sekolahku.


Namaku Sabrina Oktavia teman-teman selalu memanggilku Via.


Usiaku saat ini baru menginjak 18 tahun, dan hari ini adalah hari ulang tahunku ,yang bertepatan dengan hari pertama aku bekerja.


Rasa bangga dan bergetar menyelimuti perasaanku.


"Selamat Pagi.." ku ucapkan pada seorang wanita dihadapanku, setelah pak satpam mempersilahkan aku masuk dari pintu utama tadi.


"Silahkan duduk.." jawab wanita tersebut.


Dengan kembali membuka berkas yang kuberikan kemarin, dia mulai menatapku dan tersenyum.


"Apa kau siap bekerja hari ini ?."


Ku anggukkan kepala, tanda siap.


"Siap Bu ."


Lalu, kami berdua bangkit dari tempat duduk menuju ke ruangan training seperti yang diucapkan oleh Bu Dini.


Bu Dini yang menerimaku bekerja, dia seorangPersonalia di perusahaan ini.


Dengan langkah pasti ku ikuti Bu Dini.


"Cklekk.."


Suara pintu dibuka, kemudian kami masuk.


Semua orang memalingkan matanya ke arah pintu yang dibuka Bu Dini.


"Selamat Pagi..: sapa Bu Dini pada semua orang yang berada didalam ruangan tersebut.


Serempak mereka menyahut menjawab sapaan Bu Dini.


"Selamat Pagi Bu..."


Ku hentikan langkahku di samping Bu Dini, dengan tersenyum ku anggukkan kepalaku pada semua orang.


"Selamat Pagi..." sapaku.


Rasa gemetar dan takut salah dengan ucapanku, membuat nafasku sedikit memburu dan keringat mulai berada disekujur tubuhku.


Norak banget sih pikirku, kenapa juga masuk ruangan ber AC bisa membuatku berkeringat.


Dengan gugup, ku berusaha tersenyum.


"*Teman-teman, perkenalkan ini Sabrina Oktavia, kalian bisa memanggilnya senyaman kalian."


"Dia karyawan baru disini? saya harap kalian bisa membantunya untuk memperlancar pekerjaannya*." demikian penjelasan Bu Dini pada rekan-rekan kerjaku.


"Selamat bergabung Sabrina, semoga kamu betah bekerja disini." sapa salah seorang rekan kerjaku.


"Terima Kasih, panggil saja aku Via." ucapku sambil duduk dikursi yang tadi .

__ADS_1


Setelah memperkenalkanku pada rekan kerja dan mentor yang akan memberikan penjelasan,Bu Dini pun meninggalkan ruangan.


Dengan mulai memperhatikan mentor yang sedang menpresentasikan pekerjaan apa saja yang harus kami lakukan, ku sempatkan melirik ke sekeliling ruangan.


"Nyaman sekali ruangan ini ." gumamku.


Ruangan training yang sangat membuatku betah,namun membuatku sedikit kedinginan karena kebetulan aku duduk dekat sekali dengan arah AC berhembus.


Ruangan yang cukup luas dan sepertinya bisa menampung lebih dari 50 orang ,andaikan suasana negara tidak sedang kicruh oleh pandemi sekarang, mungkin akan sangat ramai di ruangan ini.


Hiasan dindingnya senada dan sedap dipandang mata, sepertinya yang mendesain interiornya sangat paham sekali akan keindahan.


Di depan tersedia white board untuk menulis dan juga ada slide proyektor untuk menampilkan gambar-gambar .


"Kayak kuliah aja ," pikirku.


Padahal, mana tahu aku suasana kuliah.


Secara aku hanya tamatan SMA, karena orang tuaku tak dapat memberikan biaya untuk kuliah.


Dan lagi,akupun sudah ingin bekerja untuk membantu kedua orang tuaku.


Dalam pikiranku yang kemana- mana, tiba- tiba seorang rekan disampingku menepuk tanganku.


"Hai...namaku Ranti ."sapanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum padaku.


"Hai...namaku Sabrina." sahutku.


Kamipun saling berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.


Kemudian, kami mulai mempehatikan mentor kembali, ku catat semua penjelasannya yang sekiranya ku anggap penting.


Dengan tidak mengindahkan karena aku sudah mencatat, ku perhatikan pula penjelasan yang selalu Beliau utarakan.


"Kita istirahat dulu ." begitu ucap Pak Mentor.


"Selesai beristirahat, segera kembali dan jangan terlambat ." begitu tekannya.


Kemudian beliau menyimpan alat tulisnya dan merapikan semua peralatan yang tadi beliau gunakan.


Dengan tersenyum, Beliau berlalu keluar ruangan.


"Ah..." gumamku, dengan sedikit menggeliatkan badan.


Aku pun mulai berdiri untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Sabrina..." seseorang memanggilku.


"Ya..." sahutku dengan menoleh ke sampingku.


Ranti tersenyum.


"Kita bareng yuk!..." ajak Ranti.


"Boleh..." sahutku.


Kamipun keluar ruangan bersama-sama,menuju ke area parkiran yang terletak tak jauh dari ruangan tempat kami training.


Sambil melangkah,ku edarkan pandanganku ke sekitar tempat tersebut ,dan ku hirup udara panas untuk menghilangkan penatku selama dalam ruangan.

__ADS_1


Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat, Ranti mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Kamu bawa bekal gak ? " tanya Ranti padaku.


Aku menoleh dengan menggelengkan kepala, karena memang tidak membawa bekal dan lagi tidak terpikirkan sebelumnya olehku harus bawa bekal makan.


"Ya udah, kita berdua aja yuk...aku kebetulan bawa banyak " ajak Ranti sambil membuka bekalnya.


"Mulai besok,biasakan bawa bekal buat makan daripada kita harus beli disini,selain irit biaya, juga menghemat waktu biar gak kelamaan ngantri." celoteh Ranti sembari menyodorkan bekalnya mendekati aku.


Awalnya aku menolak karena merasa tak enak ama Ranti.


Lagian masa baru kenal udah minta makan, pikirku.


Dengan agak malu aku mulai makan bersama Ranti.


"Nanti kamu gak kenyang lho Ran, aku makannya banyak." candaku pada Ranti.


" Ga apa-apa...sayang kalo gak habis, ibuku pasti marah kalo tau bekalnya tidak aku makan." panjang lebar Ranti menjelaskan padaku.


Akupun melanjutkan makan walaupun dengan agak malu ,karena memang perutku mulai lapar.


Tadi pagi ,aku tidak sempat sarapan dan memang sengaja kulakukan ,agar aku tidak sakit perut.


Kebiasaan yang aneh memang, kalo perutku diisi pagi hari pasti mules dan ujung-ujungnya harus ke toilet.


Makanya ku hindari karena ini hari pertamaku bekerja, takut jadi mengganggu.


Selesai makan, kamipun mulai santai sejenak sambil menunggu waktu masuk kembali.


"Sudah lama kamu disini Ran ?" tanyaku sambil melirik Ranti.


"Belum sih, baru 3 hari aku disini " jawab Ranti.


"Oh.." sahutku.


Dan kamipun terdiam kembali hanya memperhatikan lalu lalang orang-orang yang lewat.


Tak terasa waktu istirahat hampir habis, kamipun segera beranjak takut terlambat.


Ku langkahkan kaki dengan semangat, karena energi kembali muncul setelah betistirahat.


Begitupun dengan Ranti, mengayunkan langkahnya sambil memperhatikan wajahnya lewat kaca yang Ia bawa.


"Awas tersandung loh..." gurauku sambil melirik Ranti.


"Tenang...aku sudah biasa " jawab Ranti cekikikan.


Udara sejuk terasa ketika kami memasuki ruangan.


Pastilah, ruangan ber AC gitu, masa gak dingin, pikirku.


Kami semua kembali ke kursi masing-masing.


Hanya sebagian dari kami masih asyik ngobrol, melanjutkan obrolan yang belum selesai ketika beristirahat.


"Cklekk..." suara pintu dibuka.


Suara gaduh seketika berhenti, ketika Pak Mentor kembali memasuki ruangan.

__ADS_1


Semua menghentikan aktivitasnya, dan mulai bersiap untuk mendengarkan kembali penjelasan.


Begitupun aku dan Ranti segera mengambil alat tulis dari dalam tas , dan membuka kembali buku catatan dan melihat apa yang kami catat tadi.


__ADS_2