Dilema Hidup

Dilema Hidup
10. Ayah Frisca Sakit


__ADS_3

Karena terlalu kenyang ketika makan, tidurku sangat lelap, hampir saja aku terlambat bangun, kalau saja Mama tidak ke kamarku.


TOK...TOK...TOK...


Mama langsung masuk ketika ketukannya tidak di sahut.


Ya, memang, aku masih tidur.


Karena lelah, dan kenyangnya ketika makan, membuat aku benar-benar pulas.


"Vi.." Mama mengusap puncak kepalaku yang masih menutupkan mata.


Aku serasa dalam mimpi, ketika mendengar suara Mama.


"Vi.." sekali lagi Mama mengusapku.


Aku mulai sadar, dan membuka kedua mataku.


Tampak di hadapanku , Mama yang tersenyum menatapku.


" Mama..." sambil ku kucek kedua mataku.


"Kamu gak kerja?" lanjut Mama.


Sontak saja aku kaget, dan langsung beranjak dari tempat tidur.


Kaget bercampur lemas, karena aku baru bangun.


"Tenang Vi...belum telat ko" lanjut mama sambil memegang tanganku yang terlihat tergesa-gesa.


Bangun tidur pun seperti habis marathon, pikirku, karena nafaspun memburu tidak teratur.


Sesudah tenang, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk siap-siap berangkat kerja.


Seperti biasa, aku berangkat kerja dengan menggunakan kendaraan umum.


Sesampainya di kantor, terlihat Mba Siska sudah lebih dulu datang.


Sangat rajin Mba Siska, entah jam berapa Ia dari rumah, padahal Ia punya bayi yang masih membutuhkan perhatiannya.


Tapi loyalitasnyaterhadap perusahaan, aku perhatikan sangat tinggi.


Pantas saja, kemarin ketika Pak Handi minta ada yang lembur, Ia menolak.


Ya, karena sepagi ini Ia harus sudah sampai dikantor meninggalkan anaknya.


"Pagi Mba..." sapaku .


"Pagi Sabrina..." sahutnya sambil tersenyum.


"Panggil saja aku Via, Mba.." lanjutku memperkenalkan nama kecilku.


"Oh ...kenapa?" tanyanya lagi.


"Biar akrab aja Mba, itu nama panggilan ku di rumah.." terangku.


"Ooh...ok.."


Kamipun mulai melaksanakan rutinitas seperti kemarin.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Pak Handi menelpon dan meminta kembali bantuan untuk beberapa hari kedepan.


Sang sekertaris ternyata mengambil cuti dadakan, dikarenakan ayahnya jatuh sakit dan harus di larikan ke Rumah Sakit.


"Pantas saja Ia terburu-buru pulang" gumamku, ketika Mba Siska menjelaskan, mengapa Frisca tiba-tiba pulang di tengah hari.


Ya, kemarin kami berpapasan , ketika bel masuk kerja hampir berbunyi.


Rupanya Ia sudah dikasih kabar dari pagi, setelah aku keluar dari ruangan Pak Handi selepas memberikan arsip.


#Ketika Sabrina keluar dari ruangan Pak Handi.


TRIINGG...TRIINGG...TRIINGG...


Suara handphone Frisca berbunyi, kala Ia sedang mengerjakan tugasnya.


Karena merasa janggal ada yang menelponnya sepagi itu, Ia pun segera mengambil Handphonenya yang terletak du dalam laci meja kerjanya.


Terlihat ada 10 panggilan tak terjawab dari Mama nya Frisca.


Frisca pun langsung menelpon balik ke Mama nya.


"Hallo...Ma...maaf dari tidak terangkat, handphone nya aku simpan di laci meja" kata Frisca memberikan penjelasan dulu.


Tanpa basa-basi, Tante Elis , mamahnya Frisca memberi tahu kalau ayah Frisca masuk Rumah Sakit karena mendapat serangan jantung.


Mamahnya Frisca masih muda, makanya Ia selalu ingin di sebut Tante.


Alasannya biar akrab katanya, karena Ia merasa seorang istri pemegang saham di perusahaan ini.


Frisca langsung kaget mendengar kabar tersebut.


TOK...TOK...TOK...


"Masuk..."


"Maaf ..Pak..saya mau izin pulang, ayah saya sakit dan sekarang ada di Rumah Sakit" terang Frisca tanpa basa- basi.


"Oh ya...saya turut berduka, semoga Om Herman lekas sembuh" sahut Pak Handi mendo'akan ayah Frisca.


"Terima kasih ..Pak.. permisi" lanjut Frisca segera membalikkan badan meninggalkan ruangan.


Tanpa memperdulikan kalau saat itu, duduk seorang pria yang sangat Ia cintai.


Ya, saat itu di ruangan Pak Handi sedang kehadiran rekan sejawatnya, yaitu Pak Axcelvian Sinatra.


Beliau ,memang di undang oleh Pak Handi untuk membantu menyelesaikan beberapa project tertentu yang telah perusahaan rencanakan.


Namun, karena rasa khawatir terhadap ayahnya lebih besar,mengalahkan keinginan nya untuk mendekati Pak Sinatra sirna.


Frisca bergegas pergi, walaupun didepan nya ada pria idamannya.


Friscapun sangat terburu-buru untuk melangkah menuju area parkiran.


Bahkan, ketika berpapasan dengan Mba Siska pun tidak mengatakan apa-apa.


Sudah bakat jutek, lagi tergesa-gera, ya sudah paket komplit tuh juteknya.


Sesampainya didalam mobil, Frisca langsung menstarter mobil nya dan menancap gas melaju meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


#Di Rumah Sakit


Sesampainya di Rumah Sakit, Frisca langsung menuju ke meja resepsionis dan menanyakan ruangan Pak Herman ,ayahnya.


"Maaf Sus...kalau ruangan Pak Herman sebelah mana ya, yang tadi pagi di bawa kemari" tanya Frisca sambil memberikan keterangan mengenai ayahnya.


Setelah membuka buku pasien, susterpun memberitahu kalau Pak Herman, di ruang VVIP no.315 di lantai 3.


Friscapun bergegas menuju ruangan tersebut.


Sesampainya di ruangan , Frisca mendapati Mama nya yang sedang duduk menunggui ayahnya.


Ia pun segera menghampiri dan melihat kondisi ayahnya.


"Ma...gimana kondisinya..:?" tanya Frisca pada Tante Elis


Tante Elis langsung melihat ke arah putrinya, dan langsung mendekap sambil menangis tersedu.


"Entahlah Fris...Mama juga tak tau, belum sadarkan diri dari tadi..hiks..hiks..hiks"


Frisca mengelus punggung Mama nya sambil menatap Ayahnya yang terbaring lemah.


Pikirnya, ko bisa ayah terkena serangan jantung, padahal Mama selalu mengatur pola makan dan kerjanya ayah agar tidak terlalu capek dengan kesibukannya.


Ayahpun tidak pernah membantah perintah Mama, apalagi masalah kesehatan.


Beliau, sangat menghargai kesehatannya, walaupun kesibukan kerjanya sangat menyita waktu.


Mama selalu rajin menyediakan makanan sehat dan selalu mengingatkan, andaikan ayah harus meminum obat ketika Ia sedang berada di kantor.


Ketika asyik dengan lamunannya, Frisca tersadar oleh kehadiran Dokter yang akan memeriksa Pak Herman.


"Permisi...saya akan memeriksa pasien dulu" kata Dokter tersebut.


Frisca dan Mamanya mempersilahkan dengan bergeser memberi ruang kepada Dokter tersebut.


Dengan telaten, Dokter memeriksa Pak Herman, dan mencatat semua hasilnya.


Setelah selesai,Ia pun membalikkan badan.


"Tenang dulu ya..pasien masih belum bisa di prediksi apa penyebabnya..saya akan melakukan dulu cek darah dari sampel yang saya ambil ini" terang Dokter sambil memperlihatkan sampel darah yang Ia ambil.


"Berdo'a dan bersabarlah" lanjut Dokter sambil tersenyum, dan segera meninggalkan ruangan.


Frisca hanya tertegun setelah kepergian dokter tersebut, Ia menghela nafas panjang sambil memeluk Mamanya.


"Biarin Frisca aja yang jagain Ayah" lanjut Frisca menenangkan Mama.


"Kerja kamu bagaimana?" mama balik bertanya.


"Frisca ambil cuti aja Ma"


Mama hanya terdiam sambil menatap ayah yang terbaring dengan infusan,sesekali Ia menyeka air mata yang mengalir disudut matanya.


Tante Elis pun beranjak meninggalkan ruangan, karena Pak Herman sudah ditunggui oleh putrinya,Frisca.


" *Mama pulang ya.."


"Iya...Ma*.." jawab Frisca.

__ADS_1


__ADS_2