
Waktupun berlalu dengan sangat cepat, para karyawan sudah mulai membereskan meja kerjanya untuk segera pulang.
Begitupun dengan aku dan Mba Siska, setelah merapikan semuanya, kami bersantai dulu menunggu bel pulang berbunyi.
Namun, bukannya suara bel yang berbunyi, malah suara telpon yang berdering dengan kerasnya, memecah suasana hening saat itu.
TRIIINGG....TRIIINGG....TRIÌINGG
Aku malah saling pandang dengan Mba Siska.
Kemudian Mba Siska segera mengangkat telpon tersebut, karena takutnya ada yang penting.
"Selamat Sore...ada yang bisa saya bantu?" sapa Mba Siska.
"Tolong kirim orang kemari untuk membantu saya merapikan berkas" sahut suara dibalik telpon.
"Baik Pak..." jawab Mba Siska dan langsung menyimpan gagang telpon ke tempatnya.
Mba Siska membalikkan badan ke arah ku.
Aku memang sedang menatapnya dan bertanya dalam pikir, ada apa dan siapa yang menelpon.
"Pak Handi, minta orang ke ruangan nya" jelas Mba Siska yang paham akan tatapanku.
"Untuk apa? bukannya ini jam pulang? " sahut ku tidak mengerti.
"Inilah loyalitas kerja namanya, kita harus siap diperintah walaupun waktunya tidak tepat" lanjut Mba Siska.
Aku pun mulai memahami.
"Aku tidak bisa menambah waktu, tau sendiri kan, aku punya bayi yang sudah aku tinggal dari tadi pagi " terang Mba Siska.
Aku paham maksud Mba Siska.
"Ya Mba, ga apa-apa, biar aku aja yang ke ruangan Pak Handi" sahutku menawarkan diri.
Mba Siska tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku.
Segera ku langkahkan kaki ke arah lift dengan tujuan ke ruangan Pak Handi.
Suasana gedung mulai lengang, karena para karyawan sudah mulai meninggalkan ruangan.
Walaupun ragu dengan suasana yang mulai sepi, tetap ku langkahkan kaki menuju ruangan Pak Handi.
TOK...TOK...TOK...
Ku ketuk pintu terlebih dahulu, karena sekertaris Pak Handi dari tadi siang setelah meninggalkan gedung tidak kembali.
"Masuk.."
"Cklekk" ku buka pintu.
Dan segera aku masuk menghadap meja Pak Handi ,yang didepannya masih menumpuk beberapa berkas yang sepertinya harus Beliau selasaikan.
Tampak seorang pria duduk didepan Pak Handi, yang sedang sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya bantu Pak?" tanyaku langsung.
"Tolong kamu rekap berkas yang ini, sesuaikan saja dengan list yang ada di sebelahnya" terang Pak Handi sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja.
"Baik Pak" lanjutku yang kemudian mengambil berkas tersebut dan membawanya ke tempat Bu Frisca.
Dengan sedikit bergetar, aku mulai mengerjakan tugas tersebut.
Ku baca ulang setiap aku selesaikan, bahkan bisa sampai 3 kali baca, karena takut ada yang salah.
Ternyata menguras otak juga ya, pikirku.
Mungkin karena ini baru pertama kali.
Namun, tak memakan waktu lama aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan tersebut.
"Selesai.."gumamku sambil merapikan semuanya.
Ku hampiri meja Pak Handi yang masih sibuk mengetik di laptop nya, begitupun dengan pria yang berada di depannya.
"Maaf Pak , ini sudah selesai , ada lagi yang harus saya kerjakan? lanjutku bertanya.
Pak Handi mendongak kepalanya dan menatapku.
"Maaf, ini di luar jalur, tolong buatkan 2 cangkir kopi pahit untuk kami" sahut Pak Handi.
"Ya, engga apa-apa Pak" lanjutku sambil menganggukkan kepala dan langsung membalikkan badan.
Padahal, aku tak tahu di mana dapur nya.
"Sebelah sana" sambung Pak Handi menunjuk ke arah pintu yang hampir bersebelahan dengan pintu keluar.
Aku terus melangkah tanpa bertanya lagi.
"Wow.."gumamku dalam hati, melihat ruangan dapur yang bersih dan resik.
Dapur nya saja nyaman begini apalagi rumah Pak Handi ya, pikirku.
Tanpa berlama-lama di dapur, akupun membawa 2 cangkir kopi pahit yang dipesan Pak Handi.
"Silahkan Pak.." ku sodorkan satu cangkir ke depan Pak Handi, dan satu lagi ke depan pria yang berada di depan Pak Handi.
"Ok...terima kasih " ucap Pak Handi.
Aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
Pria yang di depan Pak Handi pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, tanpa berkata apapun.
"Bila tidak ada lagi , saya permisi" lanjutku sambil membungkuk kan badan.
"Oh ya terima kasih, silahkan" sahut Pak Handi.
Tanpa berpikir lama lagi, aku segera membalikkan badan ke luar ruangan tersebut.
Sangat sepi, karena waktu sudah hampir jam 7 malam.
__ADS_1
Ku percepat langkah karena sedikit takut, maklum lah baru sekarang aku berada di sebuah gedung dalam keadaan malam hari.
Sambil sesekali aku melirik kiri kanan, siapa tahu saja ada teman.
Yang aku temukan hanya Pak Satpam di pos jaga , ketika aku sudah sampai ke pintu gerbang utama.
"Baru pulang, Mba,? tanya Pak Deni ,yang saat itu kebagian kerja malam.
"Iya Pak ...bantuin dulu Pak Handi" jawabku singkat.
"Ada yang jemput? " tanya nya lagi.
"Engga Pak, pake Grab, udah pesan ko" lanjutku lagi.
Setelah Grab datang , aku pun segera pamitan dan berlalu meninggalkan perkantoran tersebut.
sesampai di rumah.
"*Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam*..:"sahut Mama dari dalam rumah.
Ku cium punggung tangan Mama.
"Maaf Ma, Via gak ngasih tau, kalo tadi Via disuruh lembur ama atasan Via" jelasku meminta maaf pada Mama.
Memang tadi ketika aku disuruh lembur sama Pak Handi, aku lupa untuk memberi kabar ke rumah , kalo aku akan pulang malam.
"Iya,alhamdulillah kamu gak apa-apa" sahut Mama dengan rasa lega melihat aku pulang.
Kami pun masuk, ku lihat Papa sedang duduk didepan tv, lalu Ia melirikku.
"Ko larut Vi? tanya Papa.
"Disuruh lembur sama atasan Pa" jelasku pada Papa
"Oh...lain kali kasih kabar dulu, jangan bikin panik Mama mu tuh" lanjut Papa sambil nunjuk Mama dengan matanya.
"Maaf Pa..kaget duluan" lanjutku sambil menggaruk kepala yang tak gatal sebagai rasa bersalahku.
"Ya udah...bersihkan dulu badanmu sana, terus cepat makan, ini sudah malam" terang Mama.
"Iya Ma.." lanjutku sambil bergegas menuju kamarku.
Selesai membersihkan diri, akupun langsung menuju meja makan dan menyantap makan malam yang disediakan Mama.
Ku santap makanan buatan Mama dengan lahap, karena memang perutku sangat lapar ketika aku tadi mengerjakan tugas tambahan.
Untung saja perutku tadi.tidak berbunyi, tak terbayang kalau itu terjadi, pasti aku sangat malu sama Pak Handi dan rekannya tadi, pikirku.
Karena makan yang terlalu banyak, membuat kantuk ku segera menyerang.
Aku berpamitan pada Mama Papa untuk segera tidur, karena memang aku lelah mendapatkan jam tambahan tadi.
Ku seret kedua kakiku menuju kamar, setelah aku mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu kecil, segera ku rebahkan badanku dan langsung memejamkan mata ku ,yang telah sangat lelah ku pekerjakan hari ini.
__ADS_1