
Karena terlelap selepas dini hari, Axcel nyaris terlambat berangkat kerja.
Kalau saja Mama tidak mengetuk pintu kamarnya, mungkin Axcel akan terbangun siang hari.
TOK...TOK...TOK...
Serasa bermimpi ada yang mengetuk pintu kamarnya, mata Axcel masih tertutup, namun badan nya mulai menggeliat sadar.
Suara ketukan semakin keras dan berulang lama.
TOK....TOK.....TOK.....
Axcel kini sadar, Ia terperanjat langsung membukakan pintu.
Cklekk...
Terlihat Mama sudah berdiri didepannya,, sambil menatap heran.
Axcel mengucek kedua mata nya dan berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Jam berapa ini ma...huuaa" tanya Axcel sambil menguap.
Mama hanya menunjuk dengan matanya mengarah jam dinding di belakang Axcel.
Axcel membalikkan badan dan melihat jam dinding.
"Ow...****.." gerutu Axcel sambil berlari menuju kamar mandi.
Mama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya itu.
"Masih menggemaskan.." gumam mama tersenyum ,lalu meninggalkan Axcel untuk menyiapkan sarapannya.
Dengan sedikit tergesa, Axcel nenuruni anak tangga.
Bahkan, tangannya menenteng tas sambil membetulkan dasi yang belum benar-benar rapi terpasang, sementara jasnya Ia lilitkan di pinggang, betul-betul repot bila melihatnya.
Mama hanya menatapnya heran, walau memang ini bukan yang pertama Ia lihat.
Karena semasa kuliah pun, kalau terlambat bangun, ya seperti itu penampakannya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, sambil berdiri Ia meneguk kopi yang mama sajikan dan menyambar roti yang tersedia di meja makan.
Lalu Ia mencium punggung tangan mamanya untuk berpamitan.
"Axcel pamit ma...Assalamu'alaikum" ucap Axcel setengah berlari.
"Waalaikumsalam...hati-hati" sahut mama.
Axcel menyambar kunci mobilnya yang tergantung di dinding samping pintu keluar dan bergegas berlari menuju parkiran.
BRUKK...
Pintu mobil ditutup keras, lalu Ia menstater mobil dan menancap gas dengan kencang.
Dengan detak jantung yang memburu, Axcel menjalankan mobil dengan kecepatan yang lebih dari yang biasanya Ia pakai.
__ADS_1
Untung saja, jalanan Ibukota hari ini tidak terlalu padat kendaraan.
Sehingga Axcel dapat dengan cepat sampai di gedung perkantoran tempatnya bekerja.
Ketika hendak memasuki gerbang utama, mobil Axcel terhalang oleh seorang gadis yang baru turun dari angkutan umum.
Karena merasa terlambat, Axcel mengklakson gadis tersebut begitu kerasnya, hingga gadis itu terperanjat dan berteriak.
"GILLA...SABAR DONG..." teriak gadis tersebut sambil menoleh ke arah mobil Axcel.
Namun, gadis tersebut langsung berlalu tanpa memperhatikan siapa yang ada dalam mobil tersebut.
Axcel malah yang balik kaget, ketika yang menoleh itu adalah wajah yang Ia bayangkan semalam.
Deg...
Mobil terhenti, mata Axcel melongo melihat gadis itu membentaknya.
Ada rasa yang aneh ketika melihatnya kambali, apa itu.
Suara satpam segera menyadarkan Axcel.
"Silahkan Pak " sapa seorang satpam yang mempersilahkan Axcel untuk melajukan mobilnya.
"Ooh ..i..iya..maaf.."Axcel terbata-bata dan langsung memasukkan mobilnya menuju area parkiran.
"Gila..."gumam Axcel tersenyum, sambil membayangkan wajah gadis tadi ketika marah karena kaget.
"Lucu.." lanjutnya lagi sambil melangkah ke dalam ruangan setelah memarkirkan mobilnya.
Bahkan yang menyapanya pun, Ia sambut dengan senyuman yang merekah.
Ada apa dengan Axcel, mungkin pikir mereka.
Perasaan Axcel tak jelas hari ini, tapi Ia masih bisa kerja dengan maksimal.
Senyuman selalu tersungging di sudut bibirnya, padahal tak ada yang menemaninya di saat bekerja.
Hatinya seakan ingin berlari dan menggapai apa yang bergejolak dalam hatinya tersebut.
Dalam pikirannya saat ini, Ia ingin menemui seseorang yang ada dalam pikirannya.
Keinginannya tersebut tercapai, ketika Ia harus membantu rekan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan.
Tak seperti biasanya, Axcel bersemangat untuk bertandang ke gedung C.
Mungkin karena disana ada seseorang yang pernah membuatnya muak, yaitu Frisca.
Namun, dari kemarin ketika Frisca tidak ada, Ia dengan semangat melangkahkan kaki nya bersama dengan senyuman nya.
Bahkan, disodorkan pekerjaan yang menumpukpun, Ia rela menerimanya.
Hatinya terus meronta ingin berlari, dan matanya haus akan pandangan yang menyejukkan hati.
Ah ...terlalu lebay tuh Axcel.
__ADS_1
Hingga seseorang mengetuk pintu dan masuk ruangan tersebut, serta duduk manis di samping nya menunggu Pak Handi.
Tanpa Ia sadari mata nya terus melirik melihat ke arah gadis disebelah nya tersebut.
Ada rasa bergetar ketika dekat dengan gadis tersebut, sesak, campur apa ya tak tahu rasanya, pikiran Axcel mengatakan itu.
Hingga tak sadar, Axcel meminta di bikinkan kopi ketika pekerjaan gadis tersebut selesai hari ini.
Mungkin hal tersebut wajar bagi yang melihatnya, namun untuk Pak Handi saat ini adalah menjadi sesuatu yang membuatnya penasaran.
Hingga Pak Handi berusaha mengorek isi hati Axcel, ketika melihat Axcel selalu tersenyum memandang gadis tersebut.
Namun, Axcel masih menepis usaha Pak Handi mengenai perasaan nya.
Axcel belum yakin akan hatinya, Ia pun malu untuk berkata jujur pada Pak Handi akan perasaannya.
Axcel masih menimang rasa yang ada dalam hatinya.
Namun, tak dapat Ia pungkiri kalau gadis tersebut telah mengganggu pikirannya yang selama ini kosong tanpa isi.
Hatinya selalu bergetar ketika memikirkan gadis tersebut.
Bahkan, saat bertemu pun membuat sang Axcel seperti tidak menjejakkan kakinya di bumi.
"Apa iya..." gumam Axcel setiap kali memikirkan Sabrina.
Setelah pertemuan nya hari ini, perasaan Axcel semakin menggebu.
Ia akan berusaha untuk meyakinkan hatinya,walaupun tidak akan mengatakannya dulu terhadap gadis itu.
Axcel mempersiapkan segalanya, termasuk nanti bila Axcel harus mempertemukan gadis tersebut dengan keluarganya.
Pemikiran matang, itulah yang selalu Axcel tekan kan dalam prinsip hidupnya, sehingga Ia tidak terlalu terpuruk ,andaikan harus bertemu dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Namun, walaupun masih dalam angan, hati dan pikirannya terasa tenang, ketika mamanya selalu menanyakan menantu untuknya.
Axcel penuh percaya diri akan mendapatkan cinta Sabrina, walaupun mungkin harus banyak perjuangan yang Ia lakukan.
Mungkin kali ini, Ia akan meminta pendapat rekannya, atas apa yang terjadi pada dirinya.
Axcel berniat mau sharing dengan rekannya tersebut ,ketika melaksanakan pekerjaan tambahan.
Karena ,Ia merasa sesak mikir sendiri, kata orang namanya" curhat", tapi apa iya laki-laki juga curhat, itu kan pekerjaan perempuan, pikir Axcel.
Axcel memang seorang pria yang hebat menyimpan perasaan, walaupun gadis yang Ia impikan itu ada di depan mata,Ia masih bisa bersikap biasa saja.
Bahkan, seolah-olah Ia tidak memiliki perasaan apapun.
Oleh karenanya, Sabrina pun tidak merasa kalau Axcel sedang memperhatikannya.
Semua sikap Axcel di anggap biasa, dan lagi memang Sabrina belum punya pikiran untuk mendapatkan tambatan hati.
Sabrina sendiri sedang fokus akan pekerjaannya, dan dunia baru nya selepas sekolah kemarin.
Akankah cinta Axcel terbalaskan oleh Sabrina?
__ADS_1
Hanya Sabrina yang bisa menjawab semuanya.