Dilema Hidup

Dilema Hidup
18. Permintaan Ferdy


__ADS_3

Setelah mengantar Tante Elis, sekretaris Ferdy langsung kembali ke tempat kerjanya.


"Duduk ma...:" Ferdy mempersilahkan mama nya.


Tante Elis mengikuti ucapan putranya, karena tak mau berlama-lama, Tante Elis langsung mengutarakan maksud kedatangan nya.


"Fer...ayah sakit !!" ucap Tante Elis.


Sontak saja Ferdy kaget, dan kenapa mamanya tidak langsung menelpon saja, malah datang ke kantor.


"Maaf..mama baru memberi kabar, mama pikir tadinya tidak akan merepotkanmu, tapi ternyata yang terjadi jauh dari apa yang mama pikirkan" terang mama panjang.


Kemudian Tante Elis menceritakan awal mula ayah Ferdy sakit dan harus di larikan ke Rumah Sakit.


Tante Elis tidak menyangka kalau suaminya akan sampai Amnesia.


Bahkan Frisca pun tidak berpikir akan begitu.


Ferdy manggut-manggut sambil mengerjakan pekerjaannya.


Ferdy termasuk orang yang kurang respek terhadap keluarga, walaupun Ia bekerja di perusahaan ayahnya.


Tante Elis memandang tak percaya melihat tingkah anaknya.


Walaupun Ferdy manggut-manggut dan selalul nyahut ketika ditanya, tapi Tante Elis merasa tidak diperhatikan.


BRAAKK...


Tante Elis tiba-tiba menggebrak meja dan sontak saja Ferdy kaget dan mendongakkan kepalanya.


"Fer ...Kamu merhatiin perkataan mama gak sih....mama tau kamu kesal sama ayah kamu , tapi dia sedang sakit dan hanya kamu yang mengerti pekerjaan ayah kamu..." suara mama bernada tinggi.


"Ma...aku merhatiin ko! kenapa mesti maen gebrak segala...ini kantor bukan rumah..!!" Ferdypun meninggikan suaranya.


Tante Elis tambah kesal dengan jawaban Ferdy, harapan untuk mendapat bantuan putranya seakan terbang, namun Ia berusaha meredam semuanya.


"Fer...lihat mama...apa kamu sama sekali tidak mau membantu mama.? lirih Tante Elis.


Ferdy menatap mamanya, namun batin nya mengatakan tidak karena kekesalan terhadap sang ayah.


"Ok..aku mau bantu tapi dengan satu syarat yang harus mama penuhi" ucap Ferdy dengan senyum sinis.


Tante Elis tak percaya dengan perkataan putranya, Ia tak menyangka putranya akan membantu dengan meminta imbalan.


"Hari gini gak ada yang gratis...ma.." lanjut Ferdy.


Tante Elis hanya menghela nafas panjang.


Ferdy mengutarakan keinginan nya, kalau Ia menginginkan separuh perusahaan atas namanya.


Padahal, hal tersebut sudah dipertimbangkan oleh Ayahnya sebelum jatuh sakit.


Namun ,Pak Herman masih mengurungkan niatnya, karena sikap Ferdy yang masih labil walaupun sudah beristri.


Dan perusahaan tersebut bukan hanya untuk Ferdy nantinya, Frisca pun punya andil atas perusahaan tersebut.


Tante Elis tentu sangat bingung akan hal itu, Ia tidak dapat meng iya kan keinginan putranya tersebut.

__ADS_1


Suasana menjadi hening, Ferdy dengan santai nya melanjutkan pekerjaan tanpa memperdulikan mamanya yang kebingungan.


Tante Elis berpikir keras, namun keinginan putranya itu bukanlah hal yang mudah untuk dikabulkan.


"Akan mama pertimbangkan dulu permintaanmu " jawab Tante Elis.


Ferdy tidak perduli jawaban mamanya.


Tante Elis akhirnya pamit meninggalkan ruangan putranya.


"Mama pulang dulu"


Ferdy lekas beranjak dari tempat duduknya, Ia masih mengantarkan mamanya ke luar ruangan, walaupun tanpa mengeluarkan kata-kata.


Tante Elis dengan gontai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan putranya.


Hatinya benar-benar kesal, mengapa putranya tersebut malah memanfaatkan keadaan.


Walaupun Ia sadari, putranya kesal terhadap ayahnya , namun apakah sebegitu kesalnya, sampai ayahnya sakitpun Ia tidak perduli.


Tak pernah terpikir oleh Tante Elis, kalau putranya malah akan membuat situasi menjadi sesulit ini, padahal kekosongan kepemimpinan sangat tidak Ia harapkan.


Sopir segera membukakan pintu mobil ketika Tante Elis mulai mendekat.


"Ke rumah Pak.." ucap Tante Elis lemah.


" Baik Nyonya" sahut sopir ,tanpa banyak bertanya walaupun melihat raut muka majikannya tidak secerah tadi sebelum menemui putranya.


Selama dalam perjalanan, Tante Elis terlihat murung.


Bahkan rencana Ia untuk menemui pengacara Pak Herman di urungkan.


Tapi memang tidak ada jalan keluarnya, walaupun Ia menyayangi putranya, tapi Ia tak bisa seceroboh itu untuk memberikan perusahaan langsung pada putranya tersebut.


Tante Elis hanya bisa menatap jalanan Ibukota tanpa menemukan solusinya.


Tidak dalam waktu lama, Tante Elis sampai di rumah.


Pak sopir segera keluar membukakan pintu untuk majikannya.


Tante Elis segera turun dan langsung menuju ke dalam rumah.


Ia langsung menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Masih dengan kebingungan, Tante Elis merebahkan dirinya.


Entah apa yang harus Ia lakukan saat ini, rencana yang telah disusun bersama putrinya, Frisca ,ternyata tidak mudah untuk diwujudkan.


Akhirnya Tante Elis mengambil handphonenya yang masih tersimpan didalam tas.


Kemudian Ia langsung menghubungi Frisca.


Drt...Drt...Drt....


Handphone Frisca berbunyi disaat Ia sedang menyuapi ayahnya makan.


Ayahnya saat itu sudah bangun dan perawat sudah membawakan makan siang untuknya.

__ADS_1


"Sebentar ya Yah..." ucap Frisca saat akan mengangkat telponnya.


Frisca lalu menjauh dari tempat tidur ayahnya untuk menerima telpon dari mamanya.


"Hallo ma...ada apa? bagaimana? Bang Ferdy mau membantu gak?" cerocos Frisca sambil sesekali melirik ayahnya.


Tante Elis menghela nafas panjang, berat mengatakan apa yang di pinta Abangnya itu.


"Sayang...mama tidak berhasil membujuk Abangmu..." ucap Tante Elis.


Frisca menggelengkan kepala mendengar kelakuan kakaknya itu.


Walaupun Frisca juga keras kepala, namun untuk urusan ayah , tidak seperti Abangnya.


"Lalu..." Frisca bertanya.


"Entahlah..."


Mereka terdiam dalam telpon.


"Ma...sebaiknya mama istirahat dulu, biar aku saja yang menghubungi bang Ferdy" lanjut Frisca dengan menutup telpon duluan tanpa menunggu kata-kata dari mamanya.


Tut...tut...tut...


Telpon Frisca terputus, Tante Elis diam, Ia pun langsung menyimpan kembali handphonenya.


Frisca langsung menelpon Ferdy.


Drt ...Drt ...Drt...


Ferdy masih sibuk dengan pekerjaannya ketija handphonenya berbunyi.


Tanpa melihat siapa yang menelpon, Ia langsung menjawab telpon tersebut.


"Hallo..."


"Bang...punya hati gak sih!!!" bentak Frisca di balik telpon.


Ferdy mengerutkan dahi dan menjauhkan handphone dari telinganya untuk melihat siapa yang nelpon.


"Huh....apa sih kamu, bukannya bilang salam main bentak saja ! " balas Ferdy.


" Kenapa sih kamu keras kepala, masa untuk ayah saja masih pake itung"an segala, kamu itu ....dasar. ." Frisca langsung menutup telponnya tanpa meneruskan ucapannya.


Tut...Tut...Tut...


Ferdy hampir membanting handphonenya, ketika Frisca membentak dan langsung menutup telponnya.


"Anak kurang aj*r !!" caci Ferdy.


Ferdy tidak melanjutkan pekerjaannya, Ia malah semakin ingin memiliki perusahaan ayahnya tersebut.


Ia malah memikirkan cara agar dapat menguasai perusahaan ayahnya, minimal setengah dari perusahaan tersebut.


Sungguh licik Ferdy, bukan membantu keluarganya malah berniat untuk menguasai perusahaan demi kepentingan pribadi.


Frisca benar- benar sangat dongkol pada abangnya tersebut.

__ADS_1


Namun Frisca tak mampu berbuat apa-apa, semua kendali perusahaan ada di mamanya.


Dan juga yang bisa membantu saat ini hanya abangnya itu, karena Ia yang paham akan dunia kerja ayahnya.


__ADS_2