Dilema Hidup

Dilema Hidup
8. Sekertaris Jutek


__ADS_3

Selama membahas Pak Handi, Mba Siska selalu melirik ke kiri dan kanan.


Mungkin, Ia takut ada yang mendengar dan menjadi salah sangka terhadap apa yang kami bicarakan.


"*Pak Handi sangat teliti dan selalu memprioritaskan pekerjaan, Beliau bahkan bisa pulang larut malam untuk menyelesaikan tugasnya".


"Entah memang loyalitas kerjanya yang tinggi atau memang ada tuntutan lain dari perusahaan ,yang membuat Pak Handi sangat bekerja keras".


"Padahal di perusahaan ini, bukan hanya Pak Handi yang menjabat sebagai GM( General Manager), tapi ada satu lagi yang berada di gedung A*".


Mba Siska kembali menerangkan.


Aku hanya terdiam dan menyimak apa yang di jelaskan mengenai atasan ku itu.


"Lalu, itu sekertaris nya Pak Handi? Apa memang seperti itu?" lanjutku bertanya.


Mba Siska kembali melirik ke sekitar ruangan.


Kemudian, Ia menjelaskan mengenai sekertaris Pak Handi, yang ku lihat sangat jutek banget.


Entah memang perasaanku saja, atau memang ada sebab nya Ia seperti itu.


Mba Siska menerangkan, kalau sekertaris itu awalnya tidak berada di gedung ini.


Ia, anak salah seorang pemegang saham di perusahaan ini.


Sebelum di gedung ini, Ia bekerja di gedung A bersama dengan General Manager(GM) yang bernama Axcelvian Sinatra.


Namun, karena Pak Sinatra yang masih muda membuat kinerja sekertarisnya tidak stabil.


Artinya, sekertaris itu tergoda oleh ketampanan Pak GM.


Mungkin, sang sekertaris berpikir kalau Ia anak pemegang saham bisa seenaknya bekerja.


Frisca Fransisca, ya itu namanya.


Sekertaris yang berparas cantik dan bertubuh semampai tersebut terkenal sangat jutek di perusahaan ini.


Sehingga para pria yang mengejarnya pun harus ekstra keras mengeluarkan segala jurusnya untuk mendapatkan lirikan seorang Frisca.


Namun, matanya luluh oleh Pak GM, walaupun Pak GM tidak tebar pesona.


Karena sikapnya yang terlalu manja dan angkuh di keluarganya, membuat kinerjanya pun Ia sama kan dengan kondisi nya di rumah.


Padahal, ini adalah perusahaan tempat bekerja bukan untuk tempat bermanja seperti apa yang Ia pikirnya.


Rasa ketertarikan Frisca terhadap Pak GM, tidak di sukai oleh Pak GM .

__ADS_1


Sehingga, dengan terang-terangan, Ia memindahkan Frsica ke gedung ini.


Awalnya ditanggapi biasa setiap tingkah Frisca, namun ketika suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat Pak GM sangat muak melihatnya.


SATU TAHUN LALU


#Kala itu, setelah selesai meeting mengenai program baru perusahaan, semua karyawan meninggalkan ruangan.


Namun, Pak GM dan sekertarisnya belum beranjak dari tempat tersebut.


Pak GM atau Pak Sinatra masih mengotak- ngatik laptopnya.


"Ini sudah larut Pak , apa tidak sebaiknya Bapak pulang untuk beristirahat" saran Frisca.


"Silahkan kamu duluan, saya masih ada yang harus diselasaikan" jawab Pak Sinatra tanpa melihat Frisca.


Entah angin darimana atau memang ada kesempatan, Frisca tiba-tiba menghampiri Pak Sinatra, kemudian memeluk dan menciumnya.


Tentu saja, hal tersebut membuat Pak Sinatra kaget dan sangat marah.


Pak Sinatra langsung bangkit dari tempat duduknya dan membalikkan badan ke arah Bu Frisca dengan menatap tajam.


"Apa-apaan kamu.." bentak Pak Sinatra.


Namun entah Frisca yang sudah terlalu cinta atau urat malu nya sudah putus, dengan santai melemparkan senyum licik.


"Apa urusannya dengan aku, ingat...., aku atasan mu" Pak Sinatra kembali membentak.


Frisca malah semakin menjadi, dengan manjanya Ia mendekati dan mengelus dada bidang Pak Sinatra.


"Aku mencintaimu Cel, apa kamu tidak merasakan itu, kita akan memperkuat perusahaan karena ayahku pemegang saham diperusahaan ini" lanjut Frisca dengan percaya diri.


Pak Sinatra menepis tangan Frisca.


"Frisca, jaga sikapmu, jangan kamu rendahkan dirimu sebagai seorang wanita, maaf aku tak bisa membalas cintamu" jelas Pak Sinatra yang langsung berlalu meninggalkan Frisca setelah merapikan laptopnya.


Tinggallah Frisca yang tertegun menahan segala rasa yang begitu sesak didadanya.


Ditendangnya kursi yang ada dihadapannya dan mengumpat Pak Sinatra.


"Awas kamu Sinatra, kelak kau akan memohon cinta padaku" geram Frisca dengan mengepalkan tangan.


Semenjak kejadian tersebut, Pak Sinatra merasa tidak nyaman dengan keberadaan Frisca sebagai sekertarisnya.


Kebetulan sekertaris Pak Handi mengundurkan diri saat itu.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pak Sinatra.

__ADS_1


Beliau segera memindahkan Frisca ke gedung C, dengan alasan kekosongan jabatan.


Awalnya Frisca menolak pemindahan ini, namun Pak Sinatra berhasil membuatnya diam entah dengan apa caranya meyakinkan.


Ternyata Pak Sinatra dapat memindahkan Frisca, karena Ia mengancam akan mengekspos kelakuan Frisca kepada ayahnya.


Yang secara langsung akan membuat Frisca tidak dapat lagi bekerja di perusahaan itu.


Tentu saja Frisca tidak menginginkan hal tersebut, karena cinta dan dendamnya kepada Pak Sinatra harus terbalaskan terlebih dahulu, entah bagaimana pun caranya.


Makanya, sekarang Bu Frisca berada di gedung C, dan Pak Sinatra menggantinya dengan sahabat Ia sendiri ,yang bernama Viandra.


Viandra merupakan orang kepercayaan keluarga Pak Sinatra, sehingga mereka bersahabat sejak Pak Sinatra masih sekolah.


Sengaja Pak Sinatra mengambilnya, bukan semata-mata Ia kepercayaan keluarganya.


Tetapi, karena Viandra termasuk orang yang cerdas dan dapat menyesuaikan dengan kondisi pekerjaan yang sedang Ia kerjakan, walaupun Ia seorang laki-laki.


Setelah Frisca dipindahkan ke gedung C, Pak Sinatra jarang bertemu dengannya, kecuali pada moment-moment tertentu seperti meeting perusahaan yang mengharuskan semua karyawan inti hadir.


Namun juteknya Frisca sebagai sekertaris tetap ada, bahkan apabila pada saat tertentu Ia bertemu dengan wanita yang terlihat dekat dengan Pak Sinatra.


Rasa cintanya pada Pak Sinatra masih besar walaupun kejadian tersebut sudah setahun lalu lamanya.#


Aku manggut-manggut mendengarkan cerita Mba Siska, mengenai atasan kami beserta sekertarisnya.


Hal ini untuk referensi saja buatku, agar aku lebih paham akan kondisi perusahaan beserta dengan karyawannya.


Tak terasa waktu istirahat hampir habis, kami segera bersiap-siap kembali menuju ruangan tempat kami bekerja.


Ketika kami akan memasuki ruangan, tak sengaja kami berpapasan dengan sekertaris jutek tersebut.


Benar-benar tidak ada senyum dibibirnya, padahal Mba Siska menganggukkan kepala dan tersenyum ketika matanya beradu pandang.


Entah mau kemana Ia bergegas setengah berlari keluar dari gedung.


Kulihat Ia menuju parkiran dan melajukan kendaraannya dengan cepat, keluar area perusahaan.


"Dasar jutek" gerutu ku ketika melihat Ia berlalu.


Mba Siska hanya terdiam tanpa berkomentar apapun, mungkin Ia sudah terbiasa dengan sikap tersebut.


Berbeda dengan aku ,yang baru sekarang melihat wanita cantik nan elegan namun super jutek.


Tanpa memperdulikan akan sekertaris jutek tersebut, kami langsung menjalankan kembali aktivitas kerja karena bel masuk telah berbunyi.


Seluruh karyawanpun kembali ke posisi masing-masing untuk menyelesaikan tugas mereka sebelum jam pulang nanti tiba.

__ADS_1


__ADS_2