Dilema Hidup

Dilema Hidup
20. Frisca Cemburu


__ADS_3

Hari demi hari tak terasa Sabrina sudah satu tahun bekerja di perusahaan tersebut.


Kini Ia bukan karyawan magang lagi, setelah training nya selama tiga bulan, Sabrina diangkat jadi karyawan tetap walaupun masih di bagian resepsioinis.


Dengan berbagai pengetahuan yang Ia dapat selama bekerja, membuat Sabrina bisa diandalkan oleh siapapun yang memerlukan bantuannya.


Dengan kinerjanya yang bisa diandalkan, membuat para atasan yang meminta bantuan padanya sangat kagum.


Namun hal tersebut tidak dijadikan suatu kesombongan untuk rekan kerjanya yang lain, Ia selalu ramah pada semua rekan kerjanya.


Sehingga rekan kerjanya pun sangat senang bila bekerjasama dengan Sabrina dalam hal apapun.


Namun tak dipungkiri ada karyawan yang tidak menyukai Sabrina, apalagi melihat kedekatan Sabrina dengan atasan mereka.


Salah satunya adalah Frisca, sekretaris Pak Handi.


Frisca mengetahui kalau Axcel menyukai Sabrina,sehingga Ia merasa tersaingi.


Padahal Sabrina sendiri tidak mengetahui hal itu, yang Ia pikirkan hanya bekerja untuk membantu orangtuanya dan menyenangkan dirinya sendiri.


Setiap bertemu dengan Sabrina, sikapnya selalu menunjukkan ketidak senangan nya dengan kata-kata yang mencibir.


Sabrina tidak perduli, Ia fokus bekerja.


"Vi...istirahat kita keluar yuk...bosan nih dikantin kantor terus.." ajak Mba Siska.


"Boleh Mba" sahut Sabrina dengan semangat.


Ya, selama ini Sabrina selalu membawa bekal dari rumah, namun karena tak ingin merepotkan mamanya terus, Sabrina memutuskan untuk jajan saja di kantor.


Dengan rutinitas yang padat setiap harinya, membuat jam istirahat hari itupun tidak terasa.


Sabrina dan Mba Siska melangkahkan kaki mereka meninggalkan gedung perkantoran menuju kafe seberang jalan.


Di depan gedung tersebut terdapat sebuah kafe yang cukup nyaman untuk para karyawan beristirahat, dan ternyata atasan- atasan mereka selalu beristirahat ditempat tersebut.


Saat itu tak sengaja Frisca sudah ada di kafe tersebut.


Ia duduk bersama rekannya yang mungkin selevel dengannya.


Ketika melihat Sabrina dan Mba Siska masuk, matanya langsung menatap tajam.


"Hey...tukang cari muka!!" ucap Frisca dengan senyum sinis ketika Sabrina melewati meja makan mereka.


Tentu saja kata-kata tersebut tidak enak di telinga Sabrina.


Sabrina berusaha tidak menggubris kata-kata tersebut, Mba Siska menyikut tangannya pertanda diam.


Namun rupanya Frisca tidak puas dengan tanggapan Sabrina yang hanya diam.


"Lihat tuh....sok kecantikan, baru juga jadi resepsionis, sok-sok an kemari.." serang Frisca kembali.


Rasanya hati Sabrina ingin meledak mendengar itu, matanya mulai menatap tajam, nafasnya mulai memburu ingin berteriak.

__ADS_1


"Sabar Vi...Ia ingin mempermalukanmu...jangan terpancing" cegah Mba Siska sambil memegang tangan Sabrina.


Sabrina terdiam kembali, Ia menenangkan pikirnya dengan memainkan handphonenya.


Hatinya semakin kesal dengan tingkah sang sekretaris tersebut, ingin rasanya Ia menjambak rambutnya.


Tak lama pelayan datang menyajikan hidangan yang dipesan.


Sabrina dan Mba Siska mulai menyantap hidangan yang berada di depan mereka.


Ia tidak menggubris Frisca yang terus menyerangnya dengan kata- kata pedas.


Usai makan, Sabrina tidak ingin berlama-lama ditempat tersebut, Ia bersama Mba Siska segera membayar bill yang disodorkan oleh pelayan.


Mereka mulai beranjak dan akan kembali ke kantor walaupun jam istirahat masih panjang.


Frisca benar-benar sengaja memancing kemarahan Sabrina , Ia mengulurkan kakinya ketika Sabrina lewat.


Sontak saja Sabrina tersandung dan tidak dapat menjaga keseimbangan badannya.


Namun secara kebetulan, ketika badan nya hendak tersungkur, tubuh Sabrina menubruk seorang pria yang sedang menuju ke arah mereka.


BUKK..


"Eits..." ucap pria tersebut sambil menahan tubuh Sabrina dengan sedikit mendekap di dadanya yang bidang.


Sabrina kaget bukan main mendapat perlakuan Frisca seperti itu.


Sabrina segera melepaskan dekapan tangan pria tersebut dan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menolongnya.


Mata Sabrina terbelalak ketika melihat Pak Axcel sedang menatapnya dengan tersenyum.


"Maaf.. " ucap Sabrina menunduk malu.


Sabrina langsung menarik lengan Mba Siska yang sedang berdiri dengan tersenyum melihat dirinya di dekap Pak Axcel.


"Ayo Mba..."


Sementara Axcel hanya tersenyum melihat Sabrina berlalu dari hadapannya.


Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu lagi setelah sekian lama tak melihatnya.


Ya, semenjak tidak menginjakkan kakinya di gedung C, Pak Axcel tidak pernah bertemu dengan Sabrina.


Axcel pun berlalu mencari tempat duduk tanpa mengindahkan Frisca yang berada di tempat tersebut.


Tentu saja Frisca semakin dongkol, apalagi melihat Sabrina yang di dekap oleh pria pujaannya walaupun itu tanpa sengaja.


Belum lagi ,Frisca melihat Axcel yang terlihat penuh cinta ketika memandang Sabrina.


"Cih..." cibir Frisca ketika Axcel berlalu melewati dirinya.


Frisca masih mencintai Axcel walaupun dengan sikap Axcel yang selalu dingin terhadap dirinya.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, sekretaris Axcel yaitu Viandra masuk mengikuti Axcel.


Ia melihat Frisca sedang duduk dengan wajah cemberut.


"Hai Fris.. " sapa Viandra sambil menghampiri Frisca.


Frisca hanya menoleh dengan mendelikkan matanya.


"Kenapa sih ko cemberut? " tanyanya dengan senyuman menggoda.


Lagi-lagi Frisca tidak menjawab.


Viandra tidak melanjutkan pertanyaan nya, Ia langsung berlalu sambil melambaikan tangan nya pada Frisca.


Viandra langsung menghampiri Axcel yang sedang memainkan handphonenya.


"Kenapa tuh si Frisca...cemberut kayak gitu?" tanya Viandra sambil menggeser kursi untuk duduk didepan Axcel.


Axcel hanya melirik sambil menggidikkan bahunya tanda tak tahu.


Padahal Axcel sangat yakin kalau Frisca cemberut karena cemburu melihat kejadian tadi.


Namun Axcel tidak tahu mengapa tadi Sabrina sampai mau jatuh, Ia hanya berpikir Sabrina tersandung biasa saja.


Viandra tak mau memperpanjang apa yang terjadi, Ia langsung memesan makanan karena perutnya sudah keroncongan.


Dan Viandra langsung menyantap hidangan didepannya dengan lahap.


Sementara Axcel hanya memesan secangkir kopi pahit untuk mengisi waktu istirahatnya.


Sambil menikmati kopi pahit, Axcel memainkan handphonenya, sesekali Ia memperhatikan cara makan Viandra yang seperti orang kesurupan.


Axcel hanya menggelengkan kepala.


"Pelan dong bro, kayak gak makan setahun aja" canda Axcel melihat Viandra.


Viandra berhenti sebentar dan mendongakkan kepalanya sambil tersenyum tanpa menjawab,lalu melanjutkan kembali makannya.


Melihat Axcel dan Viandra yang tidak mengindahkan dirinya, Frisca beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kafe tersebut.


"Awas kamu.. " gumam Frisca mendelik ke arah Axcel sambil berlalu.


Axcel melihat kepergian Frisca, namun Ia tidak memperdulikan hal tersebut.


Sementara Viandra , karena saking asyik nya makan, tidak tahu kalau Frisca sudah tidak ada.


"Euuu..." Viandra bersendawa setelah meneguk segelas es teh manis.


Ia langsung mengelap mulutnya menggunakan tissue dan meraih handphonenya yang tadi diletakkan di atas meja.


"Biar aku bayar" ucap Axcel sambil mengangkat tangannya memanggil pelayan.


Viandra melongo mendengarnya tak percaya, karena sahabatnya yang sekaligus atasannya ini, tidak suka mentrakrir kalau hatinya tidak sedang senang.

__ADS_1


"Tidak usah melihatku seperti itu, aku lagi senang" lanjut Axcel sambil tersenyum.


.


__ADS_2