
Frisca sangat bahagia ketika mata sang ayah terbuka, walaupun belum ada reaksi, setidaknya ada harapan yang muncul kalau ayahnya akan segera sembuh.
Mata sang ayah masih menatap langit, seakan mengingat apa yang telah terjadi.
Tangannya mulai bergerak ,dan kini bola matanya mulai bergulir melihat sekeliling.
Frisca tersenyum ketika mata sang ayah tertuju padanya.
"Ayah..." sapa Frisca sambil menggenggam tangan sang ayah.
Ayah hanya terdiam memperhatikan Frisca, seakan Ia tidak mengenalnya.
"Dimana ini? Siapa kamu?" tanya sang ayah.
Deg...
Hati Frisca langsung lemas , bahkan Ia sampai berpegangan tangan ke tempat tidur.
"Ya Allah..." gumam Frisca.
Ayah masih dengan wajah yang penuh heran dengan keberadaannya di tempat tersebut.
Sementara Frisca yang tidak sanggup menghadapi sendiri, segera menghubungi mama nya.
drt...drt...drt...
Handphone Tante Elis berbunyi.
Ia masih ditempat tidur, karena ini memang masih pagi.
Setelah mengumpulkan pikirannya, Tante Elis meraih handphonenya yang berada di atas nakas.
Di lihatnya, siapa yang menelpon sepagi ini, pikirnya.
"Frisca.." gumamnya.
Segera Ia menekan tombol warna hijau tanda menjawan panggilan tersebut.
"Hallo Fris...ada apa?" .
"Ma...Ayah siuman..." jawab Frisca yang langsung menghentika ucapan karena Tante Elis langsung menyahut tanda bahagia.
"Alhamdulillah...mama segera kesana ya..." sahut Tante Elis yang langsung menutup telpon, tanpa mendengarkan kembali apa yang akan Frisca katakan.
Frisca hanya terdiam saat mamanya memutus pembicaraan secara sepihak.
" Mama ..ko gak denger dulu sih.." keluh Frisca.
Namun Frisca tidak bisa apa-apa, Ia pun menyimpan kembali handphonenya ke dalam tasnya
Frisca kemudian memperhatikan ayah nya, yang sedang mengamati sekitar ruangan tersebut.
"Ayah tunggu disini ya...aku keluar dulu sebentar"
Tanpa reaksi meng iya kan atau tidak, hanya duduk terdiam.
Frisca segera menuju ke meja perawat yang tidak jauh dari ruangan ayahnya di rawat.
"Maaf sus...ayah saya sudah siuman, tapi kenapa gak kenal sama saya, saya kan anaknya" jelas Frisca pada dua yang berada di meja tersebut.
"Ooh...nama pasiennya siapa ya mba?" tanya salah seorang perawat.
"Pak Herman dari ruangan 315" sahut Frisca.
"Saya tidak bisa menjelaskan mba, karena itu wewenang dokter, paling mba harus nunggu dulu sampai dokternya datang, nanti saya kasih tahu, paling sekitar jam 8 dokternya datang..." jelas suster.
__ADS_1
Frisca hanya tertegun karena jam 8 masih lama, pikirnya.
Tanpa bertanya lagi , Frisca langsung membalikkan badan melangkah menuju ke kamar rawat ayahnya.
Frisca terkejut, karena Ia tidak mendapati ayahnya.
"Kemana?" pikirnya dengan tubuh yang gemetar.
Segera Frisca kembali ke meja perawat tadi.
"SUS...AYAH SAYA HILANG!!.." setengah berteriak.
Tentu saja hal tersebut membuat para perawat langsung mencari.
Kemana sih perginya Pak Herman , pikir mereka.
Mereka mencari ke semua sudut ruangan kamar tersebut.
Namun, nihil.
Kemudian, suster mencari ke luar ruangan, tetap tidak ada.
Mereka pun menelpon pak Satpam, dengan menyebutkan ciri-ciri pasien.
Namun, tak ada yang melihat nya berkeliaran, apalagi ini masih pagi, jelas terlihat bila ada yang berkeliling.
Hampir putus asa Frisca mencari ayahnya.
Ia menghela nafas panjang, kemudian istirahat sejenak di kursi tunggu pasien depan ruangan.
Tiba-tiba Ia menatap ruangan di depannya.
Ruangan tersebut kosong tidak ada pasiennya.
Karena ruangan VVIP itu jarang yang pakai, kalau bukan mereka yang berkelas.
Frisca menghampiri perawat yang tadi kembali ke meja mereka ,karena tidak berhasil menemukan Pak Herman.
"Sus...kalo ruangan depan itu kosong yaa.." tanya Frisca ragu sambil menunjuk ke arah ruangan tersebut.
"Iya mba...kenapa? " perawat balik bertanya.
"Tapi seperti ada orangnya " lanjut Frisca.
Karena rasa penasaran, Frisca bersama dua perawat tersebut ,menuju ke ruangan yang berada di depan ruang rawat Pak Herman.
Ckleekk...pintu dibuka perawat.
"Ayah!!" seru Frisca yang langsung masuk ke dalam ruangan.
Para perawat merasa lega, karena Pak Herman sudah ditemukan.
Hampir satu jam Pak Herman menghilang.
Dan yang membuat heran, Pak Herman tidak pergi jauh.
Ia masuk ke ruangan yang berada di depan ruang rawatnya.
Mungkin karena Ia masih bingung dengan keadaannya.
Para perawat kemudian mengajak Pak Herman kembali ke ruangannya.
Frisca lega campur bingung dengan keadaan sekarang , mamanya belum kunjung datang.
Dengan wajah bingung, Pak Herman kembali berbaring di tempat tidurnya.
__ADS_1
Syukurlah pasien ditemukan.
Apabila tidak, mungkin para perawat jaga yang harus bertanggung jawab mencarinya.
Sementara di rumah.
Mama mulai beranjak dari tempat tidurnya, setelah mendapat telpon dari Frisca.
Ia mulai bersiap-siap dan memasak terlebih dahulu untuk Ia bawa ke Rumah Sakit.
Hati nya bahagia karena mendengar sang suami telah siuman.
Tante Elis tidak mendengarkan penjelasan selanjutnya dari pembicaraan Frisca, karena Ia langsung menutup telponnya.
Sehingga Ia tidak tahu kondisi sebenarnya.
Setelah berdandan rapi,dan merasa penampilannya sempurna, Tante Elis merapikan semua makanan yang akan dibawanya.
Segera Ia memanggil sopirnya untuk mengantar ke Rumah Sakit.
"Pak ...antar ke Rumah Sakit ..saya mau jenguk suami saya.. " kata Tante Elis pada sopirnya.
Pak sopir yang telah mempersiapkan mobilnya, mengganggukkan kepala dan segera membuka pintu, mempersilahkan majikannya masuk.
"Silahkan Nyonya..."
Tante Elis segera masuk ke dalam mobil.
Mobilpun segera melaju, membelah jalanan Ibukota yang masih sepi.
Di tengah perjalananpun, Ia tidak punya pikiran macam-macam akan suaminya.
Tak berapa lama, mobil sampai Rumah Sakit.
Tante Elis bergegas keluar dari mobil dan langsung melangkah ke gedung Rumah Sakit.
Suasana masih sangat sepi.
Dengan menggunakan lift, Ia naik ke lantai 3.
Tringg...
Pintu lift terbuka, dan Tante Elis berjalan melewati koridor menuju ruangan 315.
Dengan gayanya yang gemulai, Tante Elis berjalan dengan semangat untuk menemui suaminya.
Tante Elis masih terlihat cantik, walaupun dengan usianya yang tidak muda lagi.
Kulitnya yang putih bersih, dan body nya yang ramping, tidak memperlihatkan usianya yang sudah lebih dari setengah abad.
Benar-benar pintar merawat diri.
Sebelum masuk ke dalam ruangan, Tante Elis telah di hadang duluan oleh Frisca yang dari tadi menunggu di luar.
"Loh ko di luar sayang..." ucap Tante Elis keheranan.
Frisca langsung menarik tangan mamanya untuk segera duduk disampingnya sambil menempelkan jari telunjuk di mulutnya.
"Suutt..."
Dengan wajah heran, Tante Elis mengikuti Frisca untuk duduk.
Walaupun sebenarnya , Ia ingin segera masuk menemui suaminya.
"Ada apa sih kamu? Bukan nya Ayah kamu udah siuman kenapa ditinggal sendirian? " cerocos Tante Elis.
__ADS_1
"Tenang dulu Ma...Ayah memang siuman, tapi...." ucapan Frisca terhenti , dan raut wajahnya mulai sendu.
Tante Elis benar-benar heran, ada apa sebenarnya.