Dilema Hidup

Dilema Hidup
17. Pengurusan Sementara


__ADS_3

Dengan sangat hati-hati, Frisca berusaha menjelaskan pada Mamanya.


Ada rasa khawatir, mamanya tidak dapat menerima dan langsung syok.


Setelah menarik nafas panjang, Frisca kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Ma...Ayah memang siuman, tapi Ia tidak mengenali aku sebagai anak nya" lanjut Frisca sambil menatap mamanya.


Tante Elis belum mencerna perkataan Frisca, Ia masih tertegun berpikir.


"Ma...apa mama mengerti ucapanku, tapi tolong jangan panik, aku pikir Ayah, amnesia" lanjut Frisca .


Ketika mendengar kata"Amnesia", langsung Tante Elis tersadar.


"Apa!!" sedikit berteriak.


Frisca membekap mulut mamanya yang berteriak.


" Ma...tenang...Ayah sedang tidur didalam dan lagi ini Rumah Sakit" lanjut Frisca sambil menoleh ke kiri dan kanan, takutnya ada yang menghampiri karena sudah bikin keributan.


Tante Elis tertegun, raut wajahnya berubah, yang tadi seceria matahari pagi, sekarang berubah menjadi mendung kelabu.


Namun ternyata Ia bisa menahan emosinya dan berusaha tegar, walaupun terlihat ada bulir bening yang mengalir di sudut matanya.


Dengan menarik nafas panjang terlebih dahulu, Tante Elis berusaha untuk berbicara.


"Ka..kamu yakin itu ? Apa sudah ditanyakan pada dokter?" tanya Tante Elis yang terbata dan berat ucapannya.


"Belum sih ma...soalnya ayah baru siuman barusan, jadi belum ada dokter yang memeriksa, kita harus nunggu sampai jam 8, ketika dokter datang" terang Frisca panjang.


Tante Elis kembali tertegun.


Kepala nya berputar memikirkan sang suami yang tiba-tiba harus mengalami hal seperti ini.


Friscs menggenggam tangan mamanya dan menatap dalam ,penuh harap.


"Kita sabar saja dulu ma..." lanjut Frisca menenangkan mamanya.


Merekapun terdiam, sampai akhirnya jam 8 pun tiba dan dokter datang memeriksa.


Setelah dokter memeriksa dengan seksama, Ia memanggil Frisca dan mamanya ke ruang dokter.


Tante Elis tak sabar dengan penjelasan dokter, ketika memasuki ruang dokter, sebelum duduk sudah bertanya duluan.


"Gimana dok? Apa yang terjadi sama suami saya?" cerocos Tante Elis pada dokter.


" Duduk dulu Bu..." sahut dokter sambil mempersilahkan duduk pada Tante Elis dan Frisca.


Mereka pun duduk didepan meja dokter, dengan raut tak sabar Tante Elis tidak bisa diam.


"Begini...pasien mengalami Amnesia, tapi ini tidak akan berlangsung lama kalau perawatannya bagus, jadi Ibu tidak perlu terlalu khawatir" terang dokter.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin dengan tim kami, untuk menyembuhkan pasien. Asalkan keluarga mendukung". dokter melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Tante Elis menghela nafas, ada rasa lega namun juga ragu dalam hatinya.


Akankah suami nya lekas sembuh.


Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Frisca dan Tante Elis meninggalkan ruang dokter dan kembali menuju ruang rawat Pak Herman.


Pak Herman masih terlelap, karena tadi diberi obat oleh perawat.


Frisca dan Tante Elis kembali duduk didepan ruang rawat.


Tante Elis tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, airmatanya nyaris tak henti mengalir.


Frisca hanya tertegun melihat keadaan yang serumit ini.


"Kita harus gimana? " tanya Tante Elis lirih.


"Ya ikutin kata dokter aja ma...kita harus yakin ayah akan sembuh cepat, kalau perlu kita larikan ke luar negeri aja bila disini tak sanggup menangani" cerocos Frisca.


"Mama bingung Fris...bagaimana dengan perusahaan? "


"Mama bikin dulu pengumuman kalo ayah sakit, dan memberikan kuasa pada Abang untuk menjalankan perusahaan sampai Ayah benar-benar sembuh" jelas Frisca.


Tante Elis hanya terdiam mendengar penjelasan Frisca.


Tapi, memang benar ucapan Frisca, bila tidak cepat mengambil tindakan, semuanya akan berantakan.


Tante Elis mulai berpikir untuk mempersiapkan semuanya.


Termasuk untuk perusahaan yang akan dialihkan dulu pada anak sulung nya.


Tante Elis teringat kalau tadi Ia sudah masak untuk bekal ke Rumah Sakit.


"Oh ya...untung kamu bilang, kalo enggak , mama lupa udah masak sebelum kemari, tadinya buat Ayah kamu, tapi gak apalah sama aja" sahut Tante Elis sambil membuka kotak bekalnya.


Ya, karena kesibukan, membuat mereka nyaris lupa makan.


Selesai makan, mereka pun mulai melanjutkan rencana yang tadi telah dipikirkan.


Saat ini, Frisca kebagian menjaga ayahnya di Rumah Sakit, selama Tante Elis mengurus yang berkaitan dengan perusahaan.


"Sayang...tolong jaga Ayah mu ...Mama akan menemui abang mu dan juga pengacara Ayah" ucap Tante yang akan mulai menjalankan rencananya.


Frisca hanya menganggukkan kepala tanda setuju.


Setelah melihat dulu kondisi suaminya, Tante Elis meninggalkan Rumah Sakit.


Seperti biasa, tinggallah Frisca yang menjaga Ayahnya.


Walaupun ke khawatiran sedikit mereda , akan tetapi Ia harus mencari jalan agar sang ayah cepat pulih dari Amnesia nya.


Memang secara logikanya tidak paham, namun Ia akan berusaha melaksanakan cara-cara yang dikasih tahu oleh Dokter.


Ya, bisa di bilang "Terapi Saraf", kata Dokter.

__ADS_1


Dokter telah menyiapkan beberapa metode dan pihak keluarga menyiapkan pendukungnya.


Frisca mulai berpikir, apa sih penyebab Ayah nya masuk Rumah Sakit dan harus mengalami Amnesia.


Ia belum sempat bertanya, dan mamanya pun tidak memberitahu, kenapa ayahnya bisa masuk Rumah Sakit.


Frisca pun kembali terdiam dan memainkan handphonenya yang dari tadi Ia pegang.


Walaupun memainkan handphone, tapi Ia tidak fokus akan apa yang Ia lihat.


Sementara Tante Elis langsung menelpon putra sulungnya, untuk membicarakan rencana pengalihan pengurusan perusahaan.


drt...drt...drt...


Handphone Ferdy,abangnya Frisca berbunyi.


Ferdy yang saat itu sedang bekerja, segera mengambil handphonenya yang terletak di samping laptop yang sedang Ia pakai.


"Hallo..." tanpa melihat siapa yang menelpon, Ia langsung mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Fer...ini mama" sahut Tante Elis.


"Oh ya ma ..ada apa, Ferdy lagi ada di kantor nih" lanjut Ferdy.


"Kebetulan..mama mau kesana...ada yang mau di bicarakan.." terang Tante Elis.


"Oh ya .." sahut Ferdy singkat.


Dan pembicaraan pun berakhir, Tante Elis menutup telpon nya dan langsung memasukkan handphone nya ke dalam tas.


Tak lupa, Tante Elis menelpon pengacara Pak Herman dan membuat janji untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan pengurusan sementara perusahaan Pak Herman.


Sesampainya di kantor, Tante Elis langsung menuju ke ruangan Ferdy.


Ferdy, bekerja sebagai CEO di perusahaan ayahnya.


Ia sudah menikah dan memiliki seorang putra.


Namun, sopan santun masih tetap dipakai oleh Tante Elis, karena itu memang harus selalu di jaga.


Sekretaris Ferdy langsung berdiri nenyambut kedatangan Tante Elis dan segera mempersilahkan masuk, karena memang sudah ditunggu .


Ya, ketika tadi mamanya menelpon , Ferdy langsung memberitahu sekretarisnya, kalau mamanya akan datang, jadi jangan menerima tamu lain.


Sang sekretaris mengantar Tante Elis ke ruangan Ferdy.


TOK...TOK...TOK...


"Masuk"


Sekretaris membukakan pintu.


"Nyonya datang.." ucap sang sekretaris.

__ADS_1


"Oh ya...Terima kasih" sahut Ferdy yang mempersilahkan sekretarisnya untuk kembali bekerja.


__ADS_2