Dilema Hidup

Dilema Hidup
12. Lembur kedua


__ADS_3

Setelah menutup pembicaraan dengan Pak Handi, Mba Siska menyimpan kembali gagang telpon dan menoleh pada Via.


"Vi...Pak Handi" kata Mba Siska.


Dengan satu kata seperti itu pun, Via sudah mengerti kalau Ia pasti harus lembur lagi seperti kemarin.


"Kata Pak Handi, harus ada yang lembur sampai besok, karena Bu Frisca mengambil cuti 3 hari, jadi masuknya lusa" terang Mba Siska panjang.


Via hanya menganggukkan kepala, tanda setuju.


Mba Siska mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


"Semangat ya Vi.." lanjutnya.


Via hanya membalas dengan senyuman dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Kami pun kembali di sibukkan dengan rutinitas biasa sampai tak terasa jam istirahat pun tiba.


Karena mendapat perintah lebih awal, ketika waktu istirahat, Via langsung menelpon Mama nya.


"Assalamu'alaikum Ma..., " sapa Via di telpon.


"Waalaikumsalam...iya Vi ada apa? " jawab mama.


"Via lembur lagi Ma, katanya sampai besok , jadi Via pulang malam lagi sekarang, terus besok juga..." lanjut Via panjang.


"Oh ya ..gak apa-apa nak, yang penting hati-hati ya, mau dijemput Papa gak?" mama balik bertanya.


"Gak usah Ma, kasian Papa capek juga, Via pakai Grab aja kayak kemarin...Assalamu'alaikum " tutup Via.


"Oh ya...Waalaikumsalam.." sahut mama.


Via pun segera menutup pembicaraan dengan Mama nya, karena Ia akan segera makan.


"Duh...laparnya..." gumam Via sambil membuka tempat bekalnya.


Mama selalu menyediakan bekal tiap hari, walaupun dengan menu seadanya, tidak menjadikan Via malu kalau Ia hanya makan seperti itu.


Kadang bila Mama tidak masakpun, hanya dengan menu nasi goreng saja sudah cukup untuk bekal Via.


Sengaja Via selalu bekal sampai sekarang, biar ngirit katanya.


Tidak ada perbincangan, selama Via dan Mba Siska makan siang, hanya dentingan sendok dari piring yang Mba Siska gunakan, dan suara tegukan air ketika sudah selesai makan.


Setelah selesai makan dan jam istirahat usai, mereka pun kembali ke tempat untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Begitupun dengan para karyawan lainnya.


Ketika Via dan Mba Siska menuju tempat kerjanya, mereka berpapasan dengan seorang pria berpenampilan rapi seperti Pak Handi.


Mba Siska membungkukkan badan dan tersenyum, sementara Via hanya berdiri tertegun tak mengerti.


Mba Siska menyenggol lengan Via, pertanda Ia harus melakukan hal yang sama, yaitu membungkukkan badan tanda hormat.


Via tersentak dan langsung mengikuti gerakan Mba Siska, tanpa mengerti.

__ADS_1


Setelah pria tersebut pergi, barulah Via berani bersuara.


"Siapa itu Mba? " dengan polosnya Via bertanya.


Via benar-benar tidak ingat atau hilang ingatan ya, padahal Ia sudah pernah melihat pria tersebut dari sejak training dulu ama Pak Dani.


"Masa kamu tidak mengenali atasan sih" gerutu Mba Siska.


Via hanya menggeleng.


"Miss Via...Beliau itu Axcelvian Sinatra, Seorang General Manager (GM) di perusahaan ini selain Pak Handi, hanya Ia dilantai A kerjanya" terang Mba Siska panjang lebar dengan menambahkan panggilan Miss di depan nama Via, Miss artinya nona.


"Ooh..." Via manggut-manggut sambil berpikir.


"Yang kemarin ada di ruangan Pak Handi ya.." lanjut Via setelah mengingat, kalau kemarin ketika lembur, ada yang menemani Pak Handi.


Tanpa berpanjang-panjang lagi bertanya,Sabrina alias Via melanjutkan kembali tugasnya.


Tak terasa waktu terus bergulir, Mba Siska sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Maaf ya Vi...aku duluan lagi " kata Mba Siska basa-basi.


Via hanya tersenyum, mau gimana lagi, pikirnya.


Setelah semua karyawan berhamburan meninggalkan gedung perkantoran, tinggallah Sabrina yang bersiap-siap untuk ke ruangan Pak Handi.


Tanpa di komando lagi, Sabrina langsung melangkah menuju ruangan Pak Handi.


TOK...TOK...TOK...


Cklekk ..


Via langsung membuka pintu dan segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


Namun, yang Ia lihat bukan Pak Handi, melainkan Pak Axcelvian Sinatra yang dari gedung A.


"Maaf Pak...Pak Handi nya mana ya? " tanpa menunggu , Sabrina langsung bertanya pada pria tersebut.


"Duduk saja dulu, Pak Handi sedang ke toilet " jelasnya sambil menunjuk kursi yang bisa Sabrina duduki saat itu.


Sabrina pun melangkahkan kakinya menuju kursi sebelah tempat duduk Pak Axcel.


Dengan sedikit canggung karena tidak pernah duduk bersebelahan dengan atasan , membuat Sabrina salah tingkah.


Keringat sedikit mengucur, padahal di ruangan ber AC, di putar-putarnya ballpoint yang sudah dipegangnya dari tadi.


Sementara Pak Axcel kembali melakukan aktivitas nya, tanpa memperhatikan Sabrina.


Tak lama kemudian, Pak Handi keluar dari toilet.


Refleks Sabrina berdiri, entah senang atau takut.


"Maaf menunggu" kata Pak Handi.


Sabrina hanya tersenyum sambil menyeka keringat di dahinya.

__ADS_1


Ternyata Pak Handi memperhatikan ,ketika Sabrina menyeka keringatnya, Beliau mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu ...sakit?" tanya Pak Handi.


Sabrina kaget dan tiba-tiba gugup mendengar suara Pak Handi.


"Engg...engga apa-apa Pak..." jawab Sabrina terbata-bata.


Pak Handi hanya membulatkan mulutnya ,dan langsung menunjukkan apa yang harus dikerjakan Sabrina saat itu.


Dengan cepat,Sabrina mengambil pekerjaannya dan langsung menuju meja yang selalu digunakan Bu Frisca saat bekerja.


Sabrina sedikit tertegun tidak langsung mengerjakan tugasnya, memikirkan kenapa ya bisa salah tingkah kayak gitu.


Namun tersadar pekerjaannya menumpuk, tidak membuat Sabrina berlama-lama melamun.


Ia pun mulai mengerjakan tugasnya dengan teliti.


Seperti biasa tidak memakan waktu lama, selesailah tugas tersebut.


Kemudian, Sabrina memberikan tugas tersebut ke meja Pak Handi.


"Ini Pak ...sudah selesai" kata Sabrina tersenyum.


Pak Handi menatap takjub terhadap pekerjaan Sabrina.


"Hebat sekali ....Terima Kasih" sahut Pak Handi sambil mengacungkan jempol dan tersenyum.


"Sama-sama Pak..." jawab Sabrina singkat.


Tiba-tiba Pak Axcelvian bersuara.


"Kopi dong" katanya melirik Sabrina.


"Ketagihan ya..." gurau Pak Handi sambil menoleh Sabrina.


Wajah Sabrina tiba-tiba merah merona, apalagi dengan kulit yang di miliki Sabrina, putih bersih, tampak jelas kalau Ia malu.


Tanpa pikir panjang dan mendapat perintah lagi, Sabrina bergegas menuju ke dapur untuk membuat dua cangkir kopi permintaan Pak Axcelvian Sinatra.


"Silahkan Pak..." kata Sabrina sambil menyodorkan kopi ke hadapan mereka.


" Terima Kasih" sahut Pak Axcel tersenyum.


Sabrina hanya mengangguk dan tersenyum membalas senyuman Pak Axcel.


"Bila tidak ada lagi, saya permisi " ucap Sabrina menoleh Pak Handi.


"Oh ya...Terima Kasih...besok masih saya tunggu, jadi saya tidak perlu nelpon lagi ke bawah" jelas Pak Handi.


"Baik Pak" sahut Sabrina sambil membungkukkan badan dan membalikkan badannya melangkah ke luar ruangan.


Tanpa Sabrina sadari , ada sepasang bola mata yang selalu memperhatikannya semenjak Ia masuk ke ruangan tersebut.


Ya, Axcelvian Sinatra, rupanya Ia tertarik kopi pahit yang kemarin Sabrina buatkan untuknya dan Pak Handi.

__ADS_1


Sehingga tanpa sadar, Ia meminta sendiri untuk dibuatkan kopi tanpa tawaran Pak Handi.


__ADS_2