Dilema Hidup

Dilema Hidup
PROLOG


__ADS_3

Hai readers, maaf ya baru nyapa nih...


Ini karyaku yang paling perdana, mohon


koment, like dan dukungan nya ya...



Malunya Aku



Kendaraanpun melaju membelah jalanan Ibukota.


Pak kondektur dengan semangat berteriak menyebutkan tujuan angkutan tersebut.


Sabrina dan Ranti duduk dengan santai, karena angkutan belum terlalu ramai penumpang.


Setelah menempuh jarak sekitar 20 menitan, sampai pula mereka di depan kantor tempat mereka bekerja.


Mereka memberikan sejumlah uang untuk membayar ongkos angkutan, kemudian turun dengan senyum yang merekah.


Suasana didepan kantor belum begitu ramai karyawan, karena memang masih pagi.


Parkiran pun masih terlihat lengang.


Karena masih pagi, Sabrina tidak langsung masuk ke kantor.


"Ran...aku disini dulu deh, ntar masuk nya kalo udah agak ramaian dikit " jelas Sabrina pada Ranti.


"Ooh...ya udah, aku duluan masuk aja ya, lagian mau ngapain nunggu di sini?" Ranti balik bertanya.


"Penasaran aja ,pengen liat suasana pagi di kantor itu kayak apa " lanjut Sabrina.


Tanpa bertanya lagi ,Ranti langsung meninggalkan Sabrina yang sedang duduk di depan pos satpam.


Tinggallah Sabrina yang sedang asyik memperhatikan karyawan yang melewati gerbang satu persatu.


"Pagi Pak..." sapa Sabrina pada dua orang satpam yang sedang berjaga saat itu.


"Pagi..." jawab salah seorang satpam yang bernama Deni.


Ya, karena Ia lihat namanya tertera pada baju seragam yang dikenakannya


"Mau melamar mba?.." tanya Pak Satpam satunya lagi.


"Tidak Pak...saya udah diterima kemaren, ini hari kedua.." jelas Sabrina.


Wajar mereka bertanya seperti itu, karena mungkin wajah Sabrina yang masih sangat asing buat mereka.


Dan lagi pakaian yang Sabrina kenakan masih putih hitam, belum mengenakan seragam seperti karyawan lainnya.


"Ooh..." sahut mereka.


"Kenapa ga langsung masuk aja, ada yang dicari? " tanya Pak Deni.


"Tidak..." jawsb Sabrina cepat.


"Pengen tau aja pak kalo suasana pagi disini seperti apa" terang Sabrina pada Pak Deni.


Lagi-lagi mereka hanya membulatkan mulutnya.


Mereka menawarkan untuk minum, karena saat itu keduanya sedang menikmati kopi hangat.


"Mau ngopi mba" tanya Pak Budi, yang duduk sebelah Pak Deni.


"Tidak Pak ...makasih, saya udah sarapan tadi di rumah" sanggah Sabrina sambil tersenyum.


Padahal, mana berani Sabrina sarapan pagi-pagi, takut mules, pikirnya.


Sruputt...sruputt...


Pak Deni meneguk kopi di cangkirnya.


Sabrina hanya memperhatikan saja gaya mereka ketika sarapan pagi itu.


Hangat mungkin pikirannya, karena pagi itu terasa lebih dingin sehabis gerimis semalam.

__ADS_1


Tak terasa waktu semakin siang, jam dinding menunjukkan pukul 06.45 Wib.


Pantas saja, karyawan mulai ramai dan parkiran pun mulai terlihat penuh oleh kendaraan roda dua dan roda empat.


Sabrina pun mulai beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan pada Pak Satpam.


"Saya permisi Pak..." pamit Sabrina pada mereka.


"Oh ya...silahkan, selamat bekerja" sahut Pak Deni sambil menganggukkan kepala.


Sabrina melangkahkan kakinya menuruni dua anak tangga.


Namun entah menginjak apa, Sabrina tiba- tiba terjatuh.


BUKK...


" Awww "


Sabrina terjatuh nyaris setengah telungkup.


"Oh my good" kenapa ini gumamnya dalam hati.


Serentak Pak Satpam mendekati Sabrina dan memastikan kalau Ia tidak apa-apa.


"Kenapa mba?" tanya Pak Budi.


Sabrina bukannya menjawab, malah meringis memegangi lututnya yang terasa sakit.


"Tidak apa -apa mba?" tanya Pak Deni yang turut menghampiri Sabrina.


" Eh.. oh...ya ga apa-apa Pak..." jawab Sabrina terbata sambil meringis memegangi lututnya.


Karena melihat Sabrina yang memegangi lutut, Pak Budi membungkuk dan meraba kakinya.


" Kenapa? lututnya sakit? " tanya Pak Budi.


"Ga apa-apa pak.." sanggah Sabrina yang langsung berdiri.


Mungkin kalau saat itu Sabrina bercermin, mukanya sudah semerah darah.


Para karyawan yang lewat saat kejadian itu, tak elak menatap dengan menunjukkan wajah penuh tanya.


Kenapa mungkin pikir mereka.


Namun, ada pula yang spontan tertawa ketika melihat Sabrina terjatuh.


Ya Allah kenapa bisa ya, sepagi ini Ia menanggung malu , pikirnya.


Sabrina melangkahkan kakinya menuju ruangan kantor dengan sedikit muka masam karena malu atas kejadian barusan.


Sebagian dari karyawan yang melihatnya terjatuh masih agak berdesas- desus membicarakan kejadian barusan dengan memperhatikannya.


Tak Ia hiraukan mereka, walaupun sumpah mati, Sabrina malu sekali.


Langkah tergesa Ia lakukan memasuki ruangan, walau lututnya masih Ia rasakan sakit.


Dilihatnya Ranti sedang duduk santai di mejanya.


BRUKK..


Sabrina menghempaskan tubuhnya diatas kursi disamping Ranti dan sedikit menghempaskan tasnya ke atas meja.


"Kenapa kamu Vi?" tanya Ranti karena melihat muka Sabrina yang masam.


Sabrina hanya cemberut tak menjawab.


"Ran...hiks...hiks..." Sabrina malah menangis.


"Sutt..." Ranti menempelkan telunjuk di mulutnya.


"Kamu kenapa sih nangis pagi- pagi, kesambet apa..." cerocos Ranti.


"Ini lebih dari kesambet "


"Hhahh..." Ranti melongo.


"Aku jatuh..." jawabnya singkat.

__ADS_1


"Ha...ha..ha..." Ranti malah tertawa.


Dia langsung menutup mulutnya ,saat sadar melihat wajah Sabrina yang agak geram melihatnya.


"Ko kamu malah tertawa sih" kata Sabrina sambil menonjok lengan Ranti.


"Awww.. sakit tau..." Ranti mengusap lengannya.


"Lagian kenapa pula sepagi ini kamu bisa jatuh sih..." tanya Ranti.


"Ga tau ah..." jawabnya sambil berpikir.


Ranti tidak melanjutkan pertanyaan nya, karena melihat Sabrina yang masih cemberut.


Sakit di lutut pun mendadak hilang dengan tawa Ranti tadi.


Sial....pikirnya.


Kenapa hari ini ada moment yang bikin Sabrina tak enak sih.


Yang notabene mengganggu konsentrasinya ketika menghadapi presentasi nanti.


Masih dengan lamunannya akan kejadian tadi, tak Ia perhatikan acara presentasi sudah mulai.


Pak Mentor memanggil-manggil nama Sabrina karena melihat Ia yang terlihat sedang melamun.


Ranti menepuk bahu Sabrina.


"*Vi.."


"Heh... iya..." Sabrina menoleh Ranti.


Ranti menunjuk ke depan karena Pak Mentor sedang menatapnya.


Sabrina tersadar dari lamunannya karena sekitar sudah gaduh oleh orang tertawa .


Deg..


"Sudah..." tanya Pak Mentor.


" Apa nya Pak .." Sabrina gelagapan.


"Melamun nya...." tandas Pak Mentor.


Seperti melihat merpati terbang tinggi, seisi ruangan gaduh tawa rekan-rekannya.


" OMG. ..: kembali Ia gumamkan kata itu dalam hati.


Kenapa pula hari ini, Ia bisa dua kali malu sih, padahal ini masih pagi.


"Kamu sih melamun terus" serang Ranti.


Sabrina hanya melirik tanpa menjawab kata-kata Ranti.


Entah apa yang Sabrina rasakan sekarang, rasanya ingin Ia berlari, atau pun bangun, mungkin saja ini hanya mimpi.


Tanpa nemperpanjang masalah yang terjadi, Pak Mentor melanjutkan materinya.


Dan semua kembali memperhatikan, kecuali Sabrina yang udah "Bad Mood" dari tadi.


Sesekali Ia raba lututnya yang sedikit terasa sakit kembali.


"Ya Allah..."


Gumamannya sambil memperhatikan penjelasan Pak Mentor.


Rupanya Ranti masih memperhatikan Sabrina, Ia kembali bertanya.


"*Kenapa Vi...lututnya sakit ? dari tadi ko dipegangin terus."


"Iya nih...agak linu *" jawabnya.


Nanti istirahat dicek aja, takut nya ada luka, jadi bisa lekas di obati" terang Ranti.


"Hemm.." angguk Sabrina tapa kata.


Merekapun serius kembali memperhatikan presentasi.

__ADS_1


__ADS_2