
Axcel tak sadar, ada seseorang yang menantinya.
Ia malah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
Bahkan bunyi handphone pun tidak Ia dengarkan.
Viandra mulai menggeliatkan tubuhnya pertanda lelah.
Tangan nya di rentang kan ke kanan kiri atas bawah seperti sedang senam saja.
Axcel hanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu sambil tersenyum.
" Hei bro...emang kamu gak lelah gitu? robot ya? " canda Viandra menggoda Axcel.
Axcel hanya mendelik membalas senyuman Viandra.
"Mau ku buatkan kopi gak? tanya Viandra.
"Boleh , tapi apa kamu bisa membuatnya ?" Axcel balik bertanya sedikit meledek.
" Jangan gitu dong...Viandra jagonya!!!" seru Viandra sambil menepuk dadanya sendiri.
Sahabatnya itu memang pandai mengambil hati tuannya, Ia tak harus bermanja menggunakan pelayan bila hanya membuatkan kopi saja.
Viandra kemudian beranjak bergegas membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Disaat Axcel menunggu Viandra menyediakan kopi untuk mereka, Axcel mengambil handphonenya yang sedari tadi Ia simpan didalam laci.
Deg...
Betapa kagetnya Axcel, ketika melihat pesan whatsapp dan juga panggilan tak terjawab dari Frisca.
"Gilaa..aku lupa" gumam Axcel sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Axcel kemudian menelpon balik nomor Frisca, namun tidak ada jawaban.
Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Axcel , walaupun niat menemui Frisca untuk membuatnya tidak berharap lagi padanya.
Axcel yakin, Frisca pasti marah padanya, tapi Axcel tidak tahu kalau kemarahan Frisca lebih dari apa yang di bayangkan.
Viandra datang dengan dua cangkir kopi ditangannya.
Ia melihat wajah sahabatnya itu sedikit kusut.
Tanpa banyak bertanya, Viandra langsung menyodorkan kopi tersebut pada Axcel.
"Terima kasih..." ucap Axcel.
Viandra hanya tersenyum dan langsung duduk menikmati kopi buatannya.
"Bos...muka mu kenapa? " Viandra bertanya juga.
"Aku punya janji ama Frisca" jawab Axcel.
Viandra menatap tajam, pikirannya bertanya kenapa Axcel janjian ama Frisca.
Viandra tak pernah tahu kalau Frisca menyimpan rasa untuk Axcel.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau temui" lanjut Viandra.
"Telat ...sudah larut" Axcel melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Viandra hanya manggut-manggut tanpa curiga.
"Frisca mencintaiku Ndra" jelas Axcel.
Deg...
Viandra langsung terkejut mendengar pernyataan Axcel, Ia hampir memuncratkan kopi yang sedang di minumnya.
"Ups..." Viandra menahan mulutnya yang mau mengeluarkan kopi karena tersedak tiba-tiba.
Viandra langsung mengatur nafasnya yang sedikit terpotong barusan dan menyimpan cangkir kopi tersebut dengan sedikit bergetar.
Axcel merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu, karena Axcel yakin tingkahnya bukan main-main.
"Are you okey.." tanya Axcel dalam bahasa Inggris.
Viandra hanya menggelengkan kepala dan tangan nya melambai tanda tidak apa-apa.
Dalam hati Viandra, seakan ada duri yang sangat tajam menusuk sampai ke jantung.
Axcel masih merasa heran dengan perubahan raut wajah Viandra yang tiba-tiba berubah ketika mengetahui Frisca nencintai Axcel.
Namun tak pernah terpikir oleh Axcel, kalau Viandra mencintai Frisca.
Tanpa menghabiskan kopinya, Viandra mengajak pulang pada Axcel.
Axcel mengikuti saja,karena memang hari sudah malam.
Viandra pamit duluan ketika mobil mereka melaju melewati gerbang utama.
Axcel dan Viandra menggunakan kendaraan masing-masing, sehingga mereka bebas mau kemana saja bila memang mereka ada keperluan.
Viandra melajukan mobilnya tidak langsung menuju rumahnya, tetapi menuju rumah Friscsa.
Walaupun dalam hatinya ada yang sesak, namun ada rasa penasaran apa yang Axcel katakan.
Sesampai di area rumah Frisca, Viandra memarkirkan mobilnya di tepi jalan tidak jauh dari gerbang rumah Frisca.
Ia kemudian menghampiri pos satpam yang terlihat ada dua orang di dalamnya yang sedang berjaga.
"Permisi Pak..." sahut Viandra pada dua penjaga tersebut.
Kedua penjaga tersebut langsung menoleh dan melihat memperhatikan Viandra dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Saya masih manusia Pak" lanjut Viandra sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum.
"Ada apa ya?" tanya salah seorang penjaga.
Viandra menarik nafas dulu.
"Apa nona Frisca ada? tanya Viandra ragu.
"Maaf Tuan ini sudah malam dan lagi Nona Frisca tidak mungkin ingin diganggu setelah kondisi tadi ketika pulang" terang bapak penjaga.
__ADS_1
Viandra sedikit mengkerutkan dahinya mendengar penjelasan penjaga tersebut.
Dalam hatinya bertanya, apa yang terjadi ketika tadi Axcel tidak memenuhi janjinya.
Namun Viandra tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Ia berpamitan.
"Oh ya pak...maaf...terima kasih waktunya..saya permisi" lanjut Viandra membungkukkan badannya lalu meninggalkan pos satpam tersebut menuju mobilnya.
Pak penjaga tidak menjawab, mereka duduk kembali melanjutkan aktivitas mereka yang tadi tertunda.
Viandra langsung menstater dan menjalankan mobilnya, Ia memutuskan untuk memutar arah ke kafe dekat kampus mereka kuliah.
Kafe tersebut memang buka sampai dini hari, karena letaknya yang strategis dan juga berada di pusat kota.
Viandra memarkirkan mobilnya tidak jauh dari kafe tersebut,Ia segera turun untuk mencari informasi tentang Frisca.
Tampak beberapa karyawan yang sedang bebenah membereskan pecahan kaca yang berserakan.
"Sepertinya ada keributan di kafe ini" gumam Viandra menghampiri.
Karena melihat Viandra menghampiri, seorang pelayan memberikan jalan dan mempersilahkan Viandra untuk masuk.
"Silahkan Tuan.."ucap pelayan tersebut.
"Terima kasih..maaf kenapa berantakan ya? tanya Viandra sedikit ragu.
"Ooh... tadi ada seorang wanita mengamuk disini " jelas pelayan itu.
Viandra manggut-manggut tanpa bertanya kembali, kemudian Ia masuk ke dalam kafe tersebut.
Sebagian memang sudah dirapikan, namun sebagian lagi masih terlihat berantakan, apakah separah itu Frisca marah, pikir Viandra.
Viandra semakin penasaran apa yang telah terjadi, kemudian Ia menghampiri pos satpam untuk mencari tahu.
" Malam pak...boleh saya lihat CCTV nya? " tanpa basa basi Viandra langsung meminta untuk melihat CCTV, pada penjaga.
Penjaga menoleh dengan sedikit curiga maksud dari Viandra untuk melihat CCTV.
Viandra tak mau menunggu lama , Ia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan uang lembaran berwarna merah.
Penjaga langsung tersenyum melihat hal tersebut, Ia langsung mempersilahkan Viandra untuk melihat CCTV .
Dengan semangat Viandra menghampiri meja penjaga dan langsung memutar semua kejadian yang terjadi tadi.
Viandra tak menyangka, Frisca begitu marahnya karena Axcel yang tidak datang.
Ada yang sesak dalam dada Viandra, kecewa dan sedih pun Ia rasakan, karena Viandra tak menyangka kalau cinta nya selama ini tidak dirasakan oleh Frisca.
"Kenapa jadi seperti ini" gumam Viandra.
"Terima kasih pak.." ucap Viandra setelah melihat rekaman CCTV tersebut.
Pak penjaga hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Viandra kemudian segera pergi meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang hancur pula, mungkin sama hancur nya seperti hati Frisca yang di tolak Axcel.
Viandra sedikit tertegun sebelum Ia melajukan mobilnya, dengan menarik nafas panjang Viandra mengontrol hati dan pikirannya.
__ADS_1
Ia pun mulai melajukan mobilnya memecah jalanan Ibukota yang sangat lengang.