Dilema Hidup

Dilema Hidup
14. Axcel


__ADS_3

Mobil Pak Axcel melaju memecah jalanan yang sangat lengang.


Hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat melintas.


Ya, itu sudah biasa Pak Axcel lihat, setiap kali Beliau pulang larut malam dari kantornya.


Tanpa rasa takut maupun pikiran apapun, setiap malam Ia pulang sendiri.


Pak Axcel bukan orang yang manja, yang harus menggunakan sopir.


Padahal pihak keluarga mau menyediakan, andai saja Axcel mau.


Namun, Ia lebih menyukai kebebasan dengan kesendirian ,tanpa harus ribet menggunakan jasa sopir.


Axcel lebih mencintai privasi.


Kalau punya sopir, Ia harus segala laporan mau kemana-kemana nya, tak bebas, semua kegiatan diketahui oleh sopirnya, yang bisa saja sang sopir melapor kepada keluarganya.


Ah...bikin ribet aja, pikirnya.


Sikap itulah yang membuat kaum hawa mengejar cinta Axcel.


Para kaum hawa berpikir, Axcel, sosok pria yang elegan dengan tampang dan pribadinya yang menggemaskan.


Kepribadian yang matang, perekonomian yang mapan ,tidak menjadikan Axcel arogan.


Malah Ia terlihat lebih penyayang dan ramah dibandingkan dengan 2 saudaranya.


#Axcelvian Sinatra, terlahir dari keluarga mapan. Kedua orangtua Axcel, merupakan pengusaha pakaian ternama di Kota tersebut.


Bahkan perusahaannya telah mencapai pasar internasional.


Meskipun awal usaha tersebut adalah dari sebuah ketidaksetujuan kakek dan nenek Axcel, namun dengan kegigihan orangtua Axcel, usaha tersebut bisa maju dengan sangat cepat.


Keluarga Axcel terdiri dari 3 bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki.


Kedua saudara perempuannya sudah menikah dan memiliki anak.


Kakak perempuan pertamanya yang bernama leona Sinatra menikah dengan seorang pengusaha pipa ternama, sehingga menjadikan kakaknya itu semakin manja dan sangat angkuh.


Sementara, kakak keduanya, yang bernama Virginia Sinatra, menikah dengan pengusaha retail ternama dikota tersebut, sehingga sifat keras nya tidak hilang walaupun tidak sekeras Kak Leona.


Oleh karena itu lah keluarga Axcel sangat kuat dari segi perekonomian, karena saling mendukung antar keluarga.


Namun, Axcel tidak memanfaatkan keadaan tersebut.


Ia malah memilih untuk bekerja biasa di sebuah perusahaan milik kolega Ayahnya, yang Ia tempati sekarang.


Axcel bergaul sportif, tidak memilih dengan siapa Ia berteman.


Mengapa itulah Axcel masuk ke segala kalangan tingkatan sosial, bahkan yang rendah sekalipun.


Sifat ini tidak disukai kedua orangtuanya, mereka berpikir tidak sesuai dengan kalangan mereka yang keluarga pengusaha.


Axcel tidak pernah mengindahkan keinginan orangtuanya, tetap teguh dengan prinsipnya yang memang sangat berbeda.#

__ADS_1


Malam itu, Axcel pulang seperti biasa, hanya sendiri.


Selama dalam perjalanan, Axcel tetap konsentrasi mengemudikan kendaraannya, walau dalam hati dan pikiran nya seperti ada yang mengganjal.


Pintu gerbang utama segera dibuka , ketika mobil Axcel menghampiri dan membunyikan klakson.


Pak Satpam menganggukkan kepala ketika mobil Axcel melewatinya, dan segera Ia menutup kembali gerbang tersebut.


Setelah memarkirkan mobilnya, Axcel bergegas turun menuju rumahnya.


Kepala pelayan sudah berada di depan pintu, ketika Axcel hendak masuk ke rumahnya.


Ya, itu perintah Mamanya, bila Axcel pulang harus diperlakukan seperti raja, karena Ia anak laki-laki paling kecil yang harus lebih perhatikan.


Mama masih menganggap Axcel seperti anak kecil, maklum anak bungsu.


Tanpa melihat kiri kanan, Axcel langsung melangkahkan kakinya menuju ke anak tangga ke kamarnya.


Ternyata Mama Axcel masih menunggu kepulangan anak bungsunya tersebut.


"Cel...baru pulang?" tanya mama.


Langkah Axcel terhenti dan langsung membalikkan badan ke arah suara.


"Eh...Mama..." Axcel menghampiri mencium punggung tangan Mama.


"Mama sudah siapkan makanan kesukaan kamu di meja makan, bersihkan dirimu, segera makanlah" perintah mama.


Tanpa menjawab, Axcel langsung membalikkan badan dan melangkah ke anak tangga menuju kamarnya.


Mama masih menunggu, Ia memang sangat menyayangi Axcel ,hingga selalu mengkhawatirkannya bila Axcel tidak makan di rumah.


Maklum, dirumah megah bak istana itu, hanya ditinggali oleh Axcel dan kedua orangtuanya.


Kakak-kakaknya sudah hidup mandiri bersama suami dan anak mereka.


Sehingga ,perhatian mama semuanya hanya untuk Axcel.


Axcel selalu makan dengan lahap, setiap makanan yang mama masak, katanya untuk menhargai.


Bahkan ketika masakan mama tidak enakpun, Axcel selalu mengatakannya enak.


Begitulah Axcel yang selalu menghargai mamanya.


Ia selalu mengingat ajaran Kakek dan Neneknya, bahwa kita harus patuh dan menyayangi kedua orangtua,terutama Ibu.


Mungkin sifat yang dimiliki Axcel lebih cenderung pada Kakek dan Neneknya yang penyayang.


Selama Axcel makan, mama tidak berani mengeluarkan sepatah katapun,Ia hanya menunggu sambil memainkan handphonenya.


Selesai makan, Axcel hendak bergegas menuju ke kamar, namun mama menahan lengan Axcel ketika Ia mau beranjak dari tempat duduknya.


"Turunkan dulu makanannya, tak baik langsung tidur" ucap mama.


Axcelpun mengalah dan duduk kembali.

__ADS_1


"Gimana kerjaan mu ,?" tanya mama.


"Alhamdulillah...lancar ma" jawab Axcel singkat.


"Syukurlah...terus kapan kamu membawakan mama menantu?" lanjut mama.


Deg...


Selalu itu yang ditanyakan mama, setiap kali Axcel pulang kerja malam.


Makanya, Ia ingin segera beranjak ke kamar, ketika selesai makan tadi.


Walaupun merasa bosan dengan pertanyaan tersebut, namun Axcel selalu tersenyum.


"Belum ada ma...nanti kalo ada Axcel kasih tau deh.." jawab Axcel sopan.


Mama hanya menghela nafas panjang dxn menghembuskannnya.


"Axcel tidur dulu ma..." ucap Axcel pamitan tidur pada mamanya.


Mama hanya menganggukkan kepalanya, dan memandang ketika Axcel melangkah menuju kamarnya.


Secepat kilat Axcel masuk kamar.


Cklekk...dikuncilah kamar tersebut.


Axcel langsung melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.


""Huhh...itu lagi..." gumam Axcel, tapi kali ini ada senyum kecil disudut bibirnya.


Setelah berbaring,Axcel tidak segera tidur, pikiran nya tiba-tiba melayang kemana-mana memikirkan seorang gadis yang tadi menjadi perbincangan antara dirinya dan Pak Handi.


Entah apa yang Axcel rasakan, Ia membayangkan semua kejadian tadi dikantor.


Ketika melihat gadis tersebut tersenyum, melirikkan matanya, suaranya; bahkan gerak tubuhnya.


Axcel membayangkan semuanya.


Ada rasa aneh didadanya, dan rasa tersebut bisa membuatnya tersenyum ketika memikirkannya.


"Apa ini..." gumam Axcel mengurut dadanya sambil tersenyum.


Malam yang semakin larut pun tidak menghalangi lamunan Axcel akan gadis tersebut.


"Sabrina Oktavia"


Nama yang cukup bagus, cocok juga kalau jadi sekretaris seperti yang Handi katakan, pikir Axcel saat itu dengan senyuman nya.


Walaupun berusaha memejamkan mata, rasa kantuk tidak kunjung datang, malah yang terbayang wajah gadis itu yang tersenyum,dalam pikirannya hanya gadis itu dan itu.


Setelah menjelang dini hari, barulah Axcel merasakan kantuk yang membuat Ia tidak dapat lagi membuka matanya.


Axcel terlelap bersama dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.


Mungkinkan seorang Axcel telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sabrina.

__ADS_1


Semuanya hanya ada dalam hati Axcel.


__ADS_2