Dilema Hidup

Dilema Hidup
7. Pak Handi


__ADS_3

Sesampainya di gedung C , aku langsung menuju meja resepsionis yang berada tepat di depan pintu utama gedung tersebut.


Tampak sudah ada salah satu rekanku yang sedang merapikan tempat itu.


Dia melirikku ketika aku menghampiri dan menyapanya.


"Pagi Mba...:"


" Pagi...kamu Sabrina yaa..." sahut wanita tersebut ,yang bernama Siska sambil menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan.


Ku sambut jabatan tangannya dengan anggukan membenarkan ucapannya.


"Ayo sini...saya jelaskan dulu apa yang harus kamu lakukan setiap harinya.." lanjut Mbs Siska.


Aku panggil Mba, karena memang usianya lebih tua dari aku.


Mba siska berusia 23 tahun, namun di usia tersebut Ia sudah menikah dan memiliki seorang bayi laki-laki yang baru Ia lahirkan 4 bulan yang lalu.


Ya, Mba Siska baru masuk kembali setelah Ia cuti melahirkan.


Dengan penjelasannya yang tidak terlalu berbelit-belit, membuat aku tidak harus berfikir keras untuk mengingat.


Langkah demi langkah mulai aku kerjakan.


Tiba-tiba telpon di mejaku berdering, Mba Siska memberi perintah agar aku segera mengangkatnya.


Dengan sedikit gemetar, ku angkat telpon tersebut.


"Hallo...Selamat Pagi.. disini dengan Sabrina, ada yang bisa saya bantu?" sahutku.


"Tolong bawakan arsip yang kemarin saya minta , ke ruangan saya" sahut suara dibalik telpon tersebut.


"Oh ya...baik Pak" lanjutku, walaupun dengan sedikit mengeryitkan alis , karena tidak tau arsip apa yang di maksud dan dengan siapa aku berbicara.


Setelah menutup pembicaraan dan menyimpang kembali gagang telpon ke tempatnya, aku berbalik ke arah Mba Siska yang telah memegang arsip tersebut.


"Cepat kau berikan arsip ini ke ruangan Pak Handi, Beliau tidak suka menunggu lama-lama bila memerintahkan sesuatu, nanti aku jelaskan apa ini, sekarang cepat sana, kamu tau kan ruangan nya? " terang Mba Siska panjang lebar.


Tanpa berkata apapun, aku hanya menganggukkan kepala dan segera bergegas melangkah ke ruangan Pak Handi.


Sebelum bisa memasuki ruangan Pak Handi yang nota bene General Manager(GM) di gedung ini, aku harus melewati dulu sekertarisnya yang terlihat jutek.


Wanita berparas cantik dan berpenampilan elegan itu melirikku, ketika aku menyapa nya.


"Maaf Mba, bisa bertemu dengan Pak Handi, saya dari bagian resepsionis, diminta kemari untuk memberikan arsip ini." terang ku pada sekertaris itu.


Dia menatapku dengan tatapan sinis, bukan langsung menjawab malah memperhatikan penampilanku dari atas sampai ke bawah.


Aku malah berpikir, ada apa denganku.


"Anak baru ya..." tanya nya ketus.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


Kemudian sekertaris tersebut beranjak dari tempat duduknya dan mengajak aku untuk mengikutinya.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk..." sahut orang di dalam ruangan.


Setelah membuka pintu, kamipun masuk.

__ADS_1


"Permisi Pak ...ini dari bagian resepsionis " lanjutnya sambil melirikku.


"Ya... kamu boleh keluar.." tegasnya.


"Baik...saya permisi" jawab sekertaris tersebut sambil membungkukkan badan.


Setelah kepergian sekertaris tersebut, tinggal lah aku bersama Pak Handi.


Gemetar tak karuan yang terasa waktu itu, apalagi melihat raut muka Pak Handi yang terlihat sangat serius sedikit mendekati jutek.


" Duduk.." perintahnya.


"Ba..Baik.." jawabku sambil menyodorkan arsip yang aku bawa.


Dengan tatapan tajam, Beliau memperhatikanku.


"Kamu karyawan baru yang dikatakan Bu Dini kemarin ya..." tanya dengan tegas.


"Iya Pak.." jawabku lantang.


"*Ok...saya suka dengan gaya kamu menjawab, sangat tegas dan percaya diri".


"Terima kasih ..Pak*" sahutku.


"Tolong harus sangat diingat, saya tidak menyukai karyawan yang berleha-leha dalam bekerja, dan yang tidak bisa menampilkan kinerja nya pada perusahaan". lanjutnya.


"*Baik Pak"


"Kamu tanyakan kembali kepada rekan kerjamu Siska, apa saja pekerjaan mu selain duduk manis menunggu telpon*". lanjutnya sangat tegas.


"Hari ini saya maklumi karena kamu baru masuk kerja" lanjutnya.


"Silahkan kembali ke tempatmu* "


Tanpa berpikir panjang , aku langsung beranjak.


"Permisi.."


Setelah membungkukkan badan dan berpamitan, ku balikkan badan ke arah pintu untuk keluar.


Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, ketika melewati sekertari jutek tersebut.


Ia hanya menatapku tanpa membalas senyumku.


"Dasar jutek" gumamku setelah memasuki lift.


Ku tekan tombol bergambar panah ke bawah menuju ke lantai 1.


TRINGG...


Pintu tertutup ketika aku menekan tombol tutup.


Selama dalam lift, aku malah memikirkan sekertaris jutek itu.


Tampang sejutek itu ko bisa bekerja disini, pikirku.


Lamunanku tersadar ketika mendengar suara lift berhenti.


TRINGG..


Pintu lift terbuka dan aku segera melangkahkan kakiku ke luar, namun tiba-tiba aku menyenggol seorang pria yang akan memasuki lift tersebut.

__ADS_1


"Maaf..." kataku tanpa memperhatikannya.


"Liat-liat dong kalo jalan" sahutnya ketus.


Tanpa menjawab, aku membungkukkan badan dan melangkah ke arah meja tempatku bekerja.


Terlihat Mba Siksa senang nenungguku dengan raut wajah sedikit cemas.


Ada apa ya, pikirku.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mba Siska cemas.


Aku menggeleng terheran.


"Engga Mba, memang kenapa? aku balik bertanya.


"Sukur lah..." Mba Siska lega.


Aku malah makin heran.


Namun aku tak berani bertanya lagi, karena teringat perkataan Pak Handi tadi.


Takutnya terlihat dari CCTV, kalo aku hanya ngobrol saja bukan bekerja.


Aku fokus terhadap pekerjaan sehingga Mba Siska pun sama.


Namun menjelang jam istirahat, aku memberanikan diri untuk mengajak Mba Siska makan siang bersama.


"Mba, kita istirahat bareng yuk!" ajakku.


"Boleh" sahut Mba Siska.


Tak terasa jam istirahat tiba, seluruh karyawan menghentikan aktivitasnya, termasuk kami.


Kami melangkahkan kaki menuju kantin yang berada di belakang gedung tersebut.


Setelah menemukan tempat duduk, Mba Siska langsung memesan makanan, sementara aku mengeluarkan bekalku.


"Kamu bekal?" tanya Mba Siska yang melihat aku mengeluarkan kotak makanan.


"Iya mba" sahutku sedikit malu.


Mba Siska hanya tersenyum ,karena Ia mengerti kalo aku karyawan baru.


Tanpa berbincang banyak, kami menyantap makanan yang ada di hadapan kami.


Setelah selesai baru lah kami berbincang-bincang.


"Maaf Mba...boleh tanya?"


Mba Siska menoleh penuh tanya.


"Memang kenapa dengan Pak Handi, Mba sepertinya cemas waktu aku tadi menemui nya?" tanyaku.


Sebelum menjawab, Mba Siska melirik ke sekitar ruangan tersebut.


Lalu


"Pak Handi atasan yang baik, namun Ia sangat tegas, tidak suka karyawan yang berleha-leha dan terlambat dalam mengerjakan perintah nya. Kita harus benar-benar teliti dan paham benar akan tugas kita. Makanya, walaupun kita berstatus resepsionis, tapi kinerja kita hampir mirip dengan sekertaris perusahaan.Harus mengetahui semua rencana yang perusahaan tuju, menyimpan arsip yang di perlukan, mencatat nama orang yang menelpon beserta keperluannya, juga mencatat nama orang yang keluar masuk gedung ini" Mba Siska menerangkan panjang lebar.


"Ooh...pantas saja tadi aku disuruh bertanya lagi pada Mba, mengenai apa saja yang harus aku lakukan selain duduk manis menunggu telpon." sahutku.

__ADS_1


__ADS_2