
Viandra tersenyum senang ketika Axcel membayarkan makan siangnya.
"Yang sering dong senangnya, biar nraktir tiap hari" canda Viandra pada Axcel sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.
Axcel tak menjawab ucapan sahabatnya itu, Ia beranjak dari tempat duduknya setelah membayar tagihan yang disodorkan pelayan.
"Lebih nya kamu ambil saja" ucap Axcel pada pelayan tersebut.
"Cieee...yang lagi seneng...bagi-bagi rezeki terus nih ..!" lanjut Viandra sambil melihat pelayan tersebut.
Mereka pun berlalu menuju tempat kerjanya kembali.
Sementara, Sabrina yang tadi mendapat perlakuan menyebalkan dari Frisca, berlalu dengan hati dongkol sekaligus malu karena bertemu dengan Axcel.
Ia melangkahkan kakinya sedikit cepat yang diikuti oleh Mba Siska.
"Kenapa sih sekretaris itu gangguin aku!!" ucap Sabrina kesal.
Mba Siska berusaha mengurai amarah Sabrina dengan memberikan sebatang coklat yang tadi Ia beli di kafe.
"Nih ...makan dulu" ucap Mba Siska sambil menyodorkan coklat SilverQueen.
Sabrina berhenti mengoceh dan menoleh ke arah Mba Siska, setelah melihat coklat di depan matanya.
Sambil tersenyum, Ia mengambil coklat tersebut.
"Mba tau aja .." ucap Sabrina.
Sabrina sangat menyukai coklat, sehingga bisa membuatnya tenang ketika Ia marah-marah sekalipun.
"Vi...jangan diladenin lah kalo Bu Frisca ada" ucap Mba Siska pelan.
"Gimana gak kesel Mba, dia yang mulai duluan, masa aku harus diam aja" gerutu Sabrina .
"Aku tau, dia itu sengaja, cuman posisi kita berbeda, dia punya kuasa walaupun kerjanya sekretaris" terang Mba Siska.
"Gak perduli Mba, kebenaran itu harus ditegakkan!!" Sabrina tetap teguh.
"Dia anak seorang pengusaha yang bisa berbuat apa saja" lanjutnya lagi.
Sabrina tak perduli apa yang dikatakan oleh Mba Siska, Ia tetap teguh dengan pendiriannya, kalo kesalahan itu harus benar-benar di luruskan.
Sabrina tak akan paham permainan orang-orang kaya apalagi mereka pengusaha yang punya banyak tangan.
Ketika sedang asyik makan coklat, tiba-tiba Frisca datang dengan tatapan tajamnya.
Sontak Mba Siska kaget duluan, karena Ia yang pertama kali melihat.
" Vi..." Mba Siska menyikut Sabrina.
Sabrina mendongakkan kepalanya melihat je arah Frisca.
Ia pun langsung berdiri menyambut kedatangan Frisca.
Frisca tersenyum sinis ketika mereka saling berhadapan.
"Heh...jangan senang dulu ya kamu!!!." bentak Frisca sambil menunjukkan jarinya ke muka Sabrina.
__ADS_1
"Maaf Bu...saya tidak berurusan dengan anda" Sabrina memberanikan diri menjawab dengan sopan.
"Allaahhh...gak usah pura-pura, kamu senang kan di peluk Axce**l !!" Frisca kembali memaki.
Sabrina semakin tidak mengerti, kenapa jadi Pak Axcel.
" Awas kamu ya..kalo berani-berani mendekati Axcel, kamu tau siapa aku!!" lanjut Frisca sambil menunjuk pula ke arah Mba Siska.
Frisca pun berlalu dengan amarahnya yang masih membara.
Sabrina dan Mba Siska hanya terdiam , melihat serangan Frisca.
Mba Siska hanya menghela nafas ketika Frisca berlalu, dan Ia mulai mengerti mengapa Frisca tidak suka sama Sabrina.
Sementara Sabrina masih tidak mengerti dengan ucapan Frisca menyangkut Axcel.
"Apa urusannya sama Pak Axcel" ucap Sabrina setelah Frisca berlalu.
" Kamu terlalu polos Vi..." sahut Mba Siska sambil menatap Sabrina.
Sabrina hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti, namun tidak Ia pikirkan.
Mba Siska pun tidak membahas lagi dan melanjutkan menikmati sisa coklat yang tadi belum termakan.
Merekapun mulai masuk kerja kembali ketika suara bel masuk berbunyi.
Sementara Axcel dan Viandra kembali ke gedung tempat mereka bekerja.
Axcel terlihat berbunga, matanya berbinar layaknya sang raja menemui permaisurinya.
Viandra memperhatikan tingkah sahabatnya tersebut dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
Axcel melirik tak menjawab, Ia melanjutkan langkahnya memasuki ruang kerjanya.
Viandra tetap penasaran dengan jawaban Axcel yang gak jelas, pikirnya.
" Bagi-bagi dong bahagianya, biar berkah" lanjut Viandra.
Karena Viandra nyerocos terus seperti perempuan, Axcel membungkamnya dengan menyodorkan setumpukan berkas yang sudah Ia tanda tangani.
Viandra tidak dapat membuka mulutnya kembali melihat itu, Ia langsung mengambilnya dan berlalu meninggalkan Axcel yang tersenyum.
" Huh..." gumam Viandra dongkol, padahal Ia masih ingin mengorek isi hati sahabatnya yang tiba-tiba mentraktir dan selalu tersenyum hari ini.
Tapi Viandra karyawan yang benar-benar bertanggung jawab dan profesonal dalam bekerja, Ia bisa menempatkan dirinya dimana Ia harus menjadi sahabat ataupun bawahan Axcel.
Axcel hanya tersenyum ketika Viandra tidak berhasil mengorek apapun.
Ia tahu, Viandra kalah oleh pekerjaan, makanya Axcel menyodorkan pekerjaan agar otaknya beralih fokus.
Sementara Axcel masih melanjutkan lamunan nya tentang Sabrina.
Walaupun dengan mengoperasikan laptopnya , tapi sesekali tersenyum pertanda Ia membayangkan sesuatu.
Disela kesibukannya, handphone Axcel berbunyi.
Drt...Drt...Drt...
__ADS_1
Satu pesan whatsapp masuk ke handphonenya.
Axcel melihat dulu siapa yang mengirimkan pesan padanya.
"Frisca" gumam Axcel.
Ia langsung membacanya.
"Cel...bisakah kita bertemu? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" pesan Frisca.
Axcel tidak membalas pesan chat tersebut, Ia menyimpan kembali handphone nya di atas meja kerjanya.
Frisca pantang menyerah sebelum mendapat jawaban.
Drt...Drt...Drt...
Handphone Axcel kembali, dan masih sama, Frisca kembali mengirimkan pesan.
"Cel...aku tau kamu tidak sibuk, tak perlu beralasan" pesan Frisca.
Frisca tahu pasti jadwal atasannya, karena Ia sekretaris Pak Handi yang posisinya sama seperti Axcel.
"Aku lupa kalau dia itu sekretaris" gumam Axcel sambil membaca pesan dari Frisca.
Axcel kemudian mengetik pesan balasan untuk Frisca.
"Ok.. nanti malam kita ketemu ditempat biasa dekat kampus "
Send
Centang dua biru, langsung dibaca Frisca.
Frisca membalas dengan emoticon muka berwarna merah merona.
Mungkin Frisca bahagia dengan balasan Axcel, namun Axcel berpikiran lain.
Ia ingin mempertegas kalau Axcel tidak dapat membalas rasa yang ada dalam hati Frisca.
Apalagi sekarang, hati Axcel telah terisi oleh Sabrina.
Namun, Axcel bertekad tidak akan mengatakan rasanya tersebut pada siapapun, termasuk pada sahabatnya Viandra.
Axcel kembali melanjutkan pekerjaannya, begitupun dengan Frisca di gedung C.
Frisca sangat bersemangat melanjutkan pekerjaannya.
Ia sudah membayangkan akan bertemu dengan pujaan hatinya, dan akan kembali mengungkapkan cinta ,yang walaupun pernah di tolak.
Frisca sangat yakin kali ini Axcel akan menerima dirinya ,walaupun Frisca tahu, Axcel terlihat berbeda ketika memandang Sabrina.
Namun Ia tak perduli itu ,dan Frisca pun menganggap kalau Sabrina mudah untuk dikalahkan karena tidak selevel dengan dirinya maupun Axcel.
Frisca terlihat tergesa ketika bel pulang berbunyi.
Sabrina dan Mba Siska memperhatikannya, ketika Frisca melewati tempat kerja mereka.
Mereka hanya saling pandang tak mengerti.
__ADS_1
" Ingat Vi... jangan mau berurusan dengan mereka orang-orang yang bukan level kita, berbahaya. ." Mba Siska memperingatkan kembali Sabrina.
Sabrina hanya terdiam tak menjawab, karena Ia pun belum mengerti apa yang dimaksud oleh Mba Siska.