Dilema Hidup

Dilema Hidup
5. Senangnya hatiku


__ADS_3

Walaupun sakit dan udah bete duluan, namun Sabrina usahakan untuk tetap konsentrasi.


Ya, itulah konsekuensi kerja yang Papanya selalu bilang.


Harus mampu bertahan dengan apapun yang terjadi tanpa melibatkan seberapa besar tingkat emosional kita yang kita rasa saat itu.


Tok...tok...tokkk...


Suara pintu diketuk dari luar.


Pak Mentor segera mempersilahkan masuk pada orang yang berada di balik pintu.


Senyum mengembang dibibir pria yang terlihat membawa berkas tersebut.


"Selamat siang Pak..., kebetulan saya lewat, dan ini berkas yang Bapak butuhkan untuk dijadikan materi hari ini.." terang pria tersebut.


" Oh ya ...Pak, kenapa tidak sekertaris Bapak saja yang mengantarkan, saya jadi tidak enak.." sahut Pak Dani sambil menerima berkas tersebut.


"Saya permisi...silahkan lanjutkan materi nya" lanjut pria itu pada Pak Dani.


"Silahkan..." jawab Pak Dani sambil menganggukkan kepala.


Materipun di lanjutkan dengan contoh uraian yang ada dalam berkas yang tadi di terima Pak Dani.


Merekapun menyimak semua penjelasan dengan seksama dan tak lupa mencatatnya.


Entah angin dari mana, tiba-tiba Ranti membahas pria yang tadi membawa berkas.


" Vi...tadi kamu merhatiin ga, kalo cowok yang tadi masuk ganteng banget" jelas Ranti tersenyum.


Sabrina hanya mengerlingkan mata heran, ko bisa sih dia merhatiin yang ga penting gitu, pikirnya.


"Apain sih kamu Ran, ntar kayak aku loh yang ngelamun trus diketawain" ujar Sabrina.


"Iih.... bener tau, sayang kamu ga liat pemandangan bagus kayak tadi, coba kalo mentor nya itu, aku ga akan istirahat deh hi hi" Ranti cekikikan.


Sabrina tak memperdulikan perkataan Ranti, hanya fokus kedepan karena takut kayak tadi, diketawain semua orang.


Jam istirahat pun tiba, seperti biasa mereka menuju tempat yang mereka anggap nyaman untuk beristirahat.


Ketika sampai ditempat tersebut, Sabrina segera duduk dan menggulung celananya sampai ke lutut, untuk melihat adakah luka disana yang membuatnya sakit ketika terjatuh .


"Ooh...pantesan" gumamnya.


Dirapikan kembali celananya dan mulai mengeluarkan bekal makan siang.


Ranti pun mengeluarkan bekalnya.


"Ga akan diobatin Vi.." tanya Ranti karena melihat luka di lutut tadi.


"Ga usah lah...cuma bared aja ko, walaupun perih biarin lah..aku masih kuat ko " jelas Sabrina.


"Hemmm" Ranti mengangguk-anggukkan kepala sambil mengunyah.


Hari demi hari mereka lalui dengan rutinitas yang sama.


Karena mereka karyawan baru ,mereka harus memahami teori terlebih dahulu sebelum praktik di lapangan.


Nanti setelah memahami semuanya, akan ada final dengan ujian psikotes akhir seperti yang dijelaskan Pak Dani di akhir materinya.

__ADS_1


Waktu yang ditunggu telah tiba, takterasa sudah dua minggu berlalu.


Merekapun menghadapi ujian psikotes akhir untuk penempatan posisi yang sesuai.


Dengan hati berdebar, Sabrina isi satu persatu soal tersebut dengan sedikit mengernyitkan alis.


"Begini yah psikotes...banyak pertanyaan jebakan" gumamnya dalam hati.


Karena memang ketika sekolah tidak mengalami psikotes untuk hal apapun.


Rantipun serius ketika melaksanakan psikotes, karena ini memang penentuan posisi mereka di perusahaan ini.


Psikotes pun berakhir, dan mereka harus menunggu hasil psikotes tersebut keesokan harinya.


Dengan perasaan yang masih penasaran akan hasil psikotes tersebut, mereka melangkahkan kaki untuk pulang.


"Vi...gimana tadi, bisa ga? " tanya Ranti memecah suasana perjalanan pulang kami.


"Hemm...lumayan sih...sebetulnya itu hanya pertanyaan untuk membuat kita jeli ya..." ujar Sabrina.


"Iya sih, tapi emang menentukan " sambung Ranti.


"Ya.." jawabnya singkat.


Merekapun kembali fokus ke jalanan yang mereka lewati setiap hari.


Dan sampailah Sabrina, dirumah.


"*Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam*" sahut mama dari dalam.


"Gimana ...lancar?" tanya mama mengelus puncak kepala Sabrina.


" Alhamdulillah...Ma..mudah-mudahan hasilnya bagus " jelasnya pada mama.


"Syukurlah..." sahut mama.


Sabrina pun seperti biasa membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum makan malam.


Setelah selesai makan, Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya.


Diraih handphonenya yang terletak di atas nakas.


Ketika dibuka.


"Astagfirullah ...aku lupa" gumam Sabrina dengan menepak dahinya sendiri.


Ia lupa kalo di undang sahabatnya,Misyell, ke acara ulang tahunnya.


"Duh...ko bisa yaa...aku lupa sahabat sendiri..hahh.." Ia menghela nafas.


Namun, karena rasa kantuknya yang kian menyerang, Sabrinapun memutuskan untuk tidur tanpa memperpanjang pikirannya akan Misyell.


Keesokan hari nya , Ia sambut hari dengan sedikit berdebar.


Inilah penentuan dikantor, mereka akan bekerja di bagian mana.


Dengan langkah percaya diri, Sabrina memasuki ruangan HRD( Human Resources Development).

__ADS_1


Ya..Ia bertemu kembali dengan Bu Dini.


"Selamat Pagi ..Bu.." sapa Sabrina dengan tersenyum.


"Selamat Pagi...silahkan duduk" sahut Bu Dini.


Dag Dig Dug...jantung Sabrina berdetak agak kencang menunggu penjelasan Bu Dini yang sedang memeriksa hasil psikotesnya.


Keringat dingin mulai mengucur di dahi dan telapak tangannya, padahal Ia berada di ruangan ber AC.


Ditengadahkan kepalanya ketika Bu Dini mulai memanggil namanya.


"Kita ulas dulu identitas ya...takutnya salah orang " terang Bu Dini.


Sabrina hanya menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baik..."


"Nama lengkap : Sabrina Octavia".


"Nama kecil : Via".


"Tempat tanggal lahir : Bekasi, 11 Oktober 2004".


"*Nama ayah: Hadinata"


"Nama ibu: Fitria"


"Alamat tempat tinggal sekarang: Jln.Raden Kemang no.132 Jakarta.


"Betul.?"


Sabrina menganggukkan kepala.


"Ya ..Bu.."


"Ok...dengan melihat nilai dari ijazah mu dan juga hasil psikotes kemarin, saya menempatkan mu di bagian resepsionis di gedung C yang sebelah sana" terang Bu Dini sambil menunjuk ke arah dimana tempat Sabrina akan mengabdikan dirinya pada perusahaan ini.


"Alhamdulillah..." ucap Sabrina dengan senyum merekah dibibir.


"Selamat yaa...semoga betah dan bekerja dengan baik" lanjut Bu Dini sambil mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan Sabrina.


"Terima kasih ..Bu.." sahut Sabrina.


Dengan hati yang berbunga, seindah bunga yang sedang bermekaran di taman,Sabrina melangkah menuju gedung tempatnya bekerja.


Semangatnya terpancar dari raut muka yang sumringah dan senyum yang menghiasi bibirnya.


Diikuti karyawan yang ditunjuk oleh Bu Dini untuk mengantarkannya.


Semangatnya semakin bertambah, ketika melihat suasana ruangan yang nyaman dan pemandangan yang indah.


Karena posisinya bekerja di bagian depan ruangan, dan ruangan tersebut menghadap ke arah kebun kecil yang ditumbuhi dengan tanaman bunga yang sedap di pandang mata.


Karyawan tersebut memperkenalkan Sabrina kepada rekan-rekannya, termasuk siapa saja yang akan menjadi atasannya di gedung tersebut.


Senang nya hati Sabrina hari ini, karena pekerjaan yang Ia dapat sesuai dengan apa yang Ia harapkan.


Hari ini pun ,menjadi hari yang paling indah , sampai-sampai Ia lupa menanyakan pada Ranti ,kalo Dia diterima di bagian mana.

__ADS_1


Bahkan ketika pulang pun mereka tidak bersama ,karena sepertinya mereka berada di gedung yang berbeda.


__ADS_2