Dilema Hidup

Dilema Hidup
6. Berubahnya Penampilan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, ku Sabrina memasang senyum di bibirnya.


Mungkin orang yang memperhatikannya sedikit berfikir ada apa gerangan.


Namun tak Is perdulikan pandangan mata mereka, bahkan jalanan macet pun tidak mengusik lamunannya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup lama karena macet, sampai juga Ia di rumah.


"*Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam*" seperti biasa mama menyahut.


"Sudah pulang Vi?"


Sabrina hanya mengganggukkan kepala sambil tersenyum.


Mama selalu mengelus puncak kepalanya setiap kali Ia akan pergi atau pulang kerja.


Bahkan ketika mau tidur pun , Ia selalu melakukannya.


Begitulah Mama, yang selalu menyayangi anaknya walaupun terkadang Ia suka membantah ucapannya.


Mama selalu sabar dengan sifat Sabrina yang terkadang keras kepala dan tidak mau mendengarkan wejangannya dan juga terlalu berani.


"Sepertinya ada kabar baik nih, senyum-senyum terus" tanya Mama sedikit menggoda.


"Mau nebak apa Via kasih tau yaah..." balasnya kembali menggoda Mama.


"Ehmm....apa yaa..." pura-pura berpikir.


"Kelamaan ah...Mama sayang...Via diterima di bagian resepsionis..." ucap Sabrina dengan memeluk mama.


"Alhamdulillah.." sahut mama menyambut pelukannya.


Norak kali yaa...jadi resepsionis aja heboh, pikirnya.


Mungkin untuk mereka, orang-orang yang bertitel, kerja seperti itu sangat rendah.


Tapi bagi Sabrina yang hanya lulusan SMA, sudah merupakan kebanggaan tersendiri.


Harapan yang terbayang di benak Sabrina saat ini, hanyalah membantu orangtuanya dan bisa membahagiakan mereka dan adiknya.


Selepas membersihkan diri, Sabrina menghampiri orangtua dan adiknya yang sedang asyik nonton tv.


"Eh...kakak.."


"Ma...Misyell ada datang kesini ga? " tanya Sabrina setelah duduk disamping Mama.


"Engga.." sahut mama.


"Aku lupa kalo Misyell minggu kemarin ulang tahun" sambungnya.


"Astagfirullah...iya juga ya, ko mama juga sama-sama lupa yaa" lanjut mama menggaruk kepala nya padahal tidak gatal.


"Dihubungi dong Vi...jangan dilupakan.." sahut papa mengingatkan Sabrina.

__ADS_1


"Iya sih pa, via juga mau sekalian minta maaf, minggu kemarin benar-benar melelahkan sih"


Sabrina beranjak dan menuju kamar tidurnya.


Di ambil handphonenya dan mencari nama Misyell ,dikontak whatsappnya.


"Assalamu'alaikum.Syell...selamat ulang tahun yaa...maaf aku tak datang di pesta mu kemarin, terus terang aku lupa, sampai-sampai mengucapkan pun baru hari ini." ketiknya di whatsapp dengan memberi emot mengatupkan kedua tangan.


Send...ceklis dua warna biru,, pesannya langsung dibaca.


Dilihat Misyell mengetik...dan Tring..muncul pesan balasan dari Misyell.


"Waalaikumsalam...ga apa-apa ko Vi... aku tau kamu lagi sibuk ..santai aja..." balas Misyell.


Rasa bersalah seketika menghilang setelah membaca pesan dari Misyell.


"Makasih ya Syell...you're will be my best friends forever.." pesan terakhirnya pada Misyell setelah kami asyik berbincang mengingat masa sekolah dulu.


"Ok..see you soon " balas Misyell dengan emot melambaikan tangan.


Disimpan kembali handphonenya di atas nakas ,setelah Ia mengakhiri obrolannya ama Misyell ,dan Ia setting alarm pagi agar tidak kesiangan.


Sabrina merebahkan badannya di atas tempat tidur, membayangkan apa yang akan terjadi esok.


Besok adalah hari pertamanya menjadi resepsionis, sepertinya penampilannya harus sedikit agak berubah ya..pikirnya.


Tak terasa Ia pun tertidur.


Lelah,membuat setiap tidurnya di malam hari sangat nyenyak.


Semangat kerja Sabrina hari ini sangat menggebu.


Setelah selesai mandi, Ia mulai merapikan diri dengan berdandan sedikit berbeda.


Ya, biasanya, Ia tidak mengenakan make up sama sekali walaupun Ia rajin cuci muka.


Pagi ini, Ia coba memoles wajahnya dengan make up tipis yang senatural mungkin.


Dengan sedikit sapuan blush on di pipi dan memakai liptin di bibir membuat Sabrina tampil berbeda.


Gaya rambutpun Ia ganti, tidak hanya seperti kemarin waktu sekolah, yang hanya diikat satu di belakang seperti ekor kuda.


Kali ini, Ia urai dan diberi poni di dahi, tak lupa Ia sematkan jepit warna hitam di sisi kiri dan kanan rambutnya.


Setelah selesai merapikan diri,Sabrina bergegas ke dapur untuk mengambil bekalnya.


"Pagi Ma..." sapanya pada Mama yang seperti biasa selalu menyiapkan bekal dan sarapan untuk Papa dan adiknya.


"Pagi..." sahut Mama.


"Duh...cantiknya putri Mama hari ini " lanjut Mama ketika melihat penampilan Sabrina.


"Harus dong Ma...Via kan sekarang udah kerja, bukan anak sekolah lagi, masa tidak berubah..hehe " jelasnya pada Mama dengan tersenyum.


"Belum di kasih seragam ya. .masih pake yang putih hitam? " tanya Mama.

__ADS_1


" Sekarang katanya Ma, kemarin baru pengukuran size nya aja.." sambungnya lagi.


Mama hanya membulatkan mulut dan menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


Papa muncul dan nendekati kami.


"Yang rajin ya Vi...jangan pernah menyerah dengan masalah yang akan muncul ketika nanti bekerja. Selalu rajin bertanya bila tidak paham dan mau mendengarkan saran orang lain ketika kita bersalah.." panjang lebar Papa memberi wejangan di pagi hari.


"Iya Pa...akan Via ingat nasehat Papa" sahut Sabrina.


Karena waktu yang semakin bergulir, Ia sudahi obrolan dengan kedua orangtuanya.


Sabrinapun berpamitan dan meluncurkan kakinya ke luar rumah untuk menunggu angkutan umum.


Tak lama angkutan datang dan Sabrina segera naik.


Selang waktu dalam angkutan, Ia lihat Ranti naik.


Sabrina melambaikan tangan ketika Ranti mencari tempat duduk, karena memang tempat duduk di sampingnya masih kosong.


"Ran...sini.."


Ranti melihatnya dan langsung menghampiri.


"Hei...gimana kemarin? kamu di bagian mana?" cerocos Ranti.


"Aku resepsionis gedung C, bersama Pak Handi, kamu di mana?" jelasnya dengan balik bertanya.


"Kalo aku di gedung E, bersama Pak Dani yang kemarin jadi Mentor kita " lanjut Ranti.


"*Ooh ...pantas saja kemaren pulang tidak ketemu" ucap Sabrina.


"By the way..kamu terlihat berbeda hari ini ha ha " goda Ranti melirik Sabrina.


Sabrina hanya tersenyum mendengar komentar Ranti.


Lagian Sabrina melihat Ranti yang berdandan duluan dan menjadi ide buatnya.


"Kan ngikutin kamu hi hi "; sahutnya tertawa.


Sebetulnya umum sih kalo perempuan berdandan, hanya mungkin baru sekarang Sabrina melakukannya.


Jadi nya sapuan sedikit saja sudah terlihat adanya perubahan.


Obrolan make up pun selesai ketika angkutan itu sudah sampai tujuan.


Merekapun turun dan berjalan melangkah ke pintu gerbang utama gedung tersebut.


Mereka akhirnya berpisah , karena tempat kerja mereka berbeda.


Dengan saling melambaikan tangan , mereka berjalan ke ruangan gedung masing-masing.


Ya, gedung perkantoran yang sangat luas, dengan area parkirpun tak kalah luasnya dengan lapangan sepak bola.


Perkantoran dengan 5 gedung yang menjulang tinggi, dan berdiri dengan kokohnya dikelilingi taman-taman kecil sebagai pemanis pemandangan.

__ADS_1


Tiap gedung terdiri dari 15 lantai, maka tak ayal karyawan pun berhamburan ketika masuk maupun pulang kerja. Dengan berbagai macam Divisi yang saling bertautan, membuat kelima gedung ini harus saling bekerja sama dalam menjalankan pekerjaannya dan mampu menciptakan kemajuan bagi perusahaannya.


__ADS_2