
Frisca segera menuju parkiran dan melajukan mobilnya.
Ia berencana pulang dulu ke rumah untuk bersiap-siap menemui Axcel nanti malam.
Tak berapa lama , Frisca sampai dirumah.
Ia langsung masuk dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Hatinya benar-benar sangat senang saat ini.
Frisca pun menyuruh pelayannya dengan ramah untuk menyiapkan air hangat untuk berendam.
Pelayannya pun sedikit mengkerutkan dahi melihat tingkah majikannya yang tiba-tiba berubah, namun mereka tak ambil pusing akan hal itu, langsung saja mereka kerjakan apa yang diperintahkan.
Sebelum berendam, Frisca merilekskan dulu otot-ototnya yang tegang dengan alat pemijat yang berada di ruangan khusus di rumahnya.
Setelah merilekskan tubuhnya dan air hangat sudah tersedia, Frisca masuk ke kamar mandi dan meneteskan aromaterapi ke air hangatnya.
Frisca puas berendam dan badannya rileks, kemudian Ia beranjak membersihkan diri dan segera berpakaian.
Frisca kemudian merias dirinya secantik mungkin.
Dengan sapuan make up minimalis dan lipteen dibibirnya, membuat penampilan Frisca semakin sempurna.
Ditambah lagi dengan busana modis yang menampilkan lekuk tubuhnya dan heelsnya membuat Frisca benar-benar memukau bagi siapa saja yang melihatnya.
Tak lupa Ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya
Setelah merasa sempurna, segera Ia menyambar kunci mobil dan turun dari kamarnya.
Tante Elis melihat Frisca sudah berpenampilan rapi.
" Mau pergi lagi? "
"Iya ma....ada janji ama teman, gak lama ko" jawab Frisca sambil berlalu.
Tante Elis tidak bertanya lagi, Ia sangat yakin putrinya sedang bahagia, karena melihat raut muka putrinya yang sumringah.
Tanpa basa-basi lagi, Frisca keluar rumah menuju tempat parkir.
Ia langsung masuk dan mulai melajukan mobilnya keluar gerbang utama rumahnya.
Sesekali Frisca memperhatikan wajahnya di kaca spion, Ia tersenyum sendiri.
Tak berapa lama Frisca sampai di kafe dekat kampusnya dulu.
Setelah memarkirkan mobilnya, Frisca langsung masuk dan duduk di meja yang telah Ia pesan tadi.
Ya, Frisca langsung menghubungi pemilik kafe dekat kampusnya dulu setelah mendapat kepastian Axcel mau bertemu dengannya.
Frisca sengaja menyewa tempat tersebut secara privasi agar hanya dirinya dan Axcel lah yang berada di sana.
Suasana romantis yang disediakan kafe tersebut membuat Frisca tak sabar agar Axcel segera datang.
Ia langsung mengeluarkan handphone nya untuk menghubungi Axcel, memberitahukan bahwa dirinya sudah menunggu di tempat biasa.
"Aku menunggu mu "
Sementara Axcel masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Ia tidak mendengar handphonenya berbunyi, karena disimpan di dalam laci meja kerjanya
Axcel tidak menyadari bahwa dirinya telah berjanji untuk menemui Frisca malam ini.
Viandra pun masih dengan setia menemani tuannya menyelesaikan tugasnya.
Malam semakin larut, Frisca mulai gelisah menunggu Axcel yang tak kunjung datang.
Frisca langsung mengambil handphonenya, Ia men dial nomor Axcel.
Drt...Drt....Drt....
Namun tidak ada jawaban dari handphone Axcel.
Wajah Frisca yang semula sumringah, mulai berubah menjadi merah padam.
Frisca kesal, Axcel tidak menjawab telpon nya , bahkan pesan whatsapp nya pun tidak dibaca.
Frisca geram dan mulai berteriak sambil membanting apa yang ada di depannya.
Para pelayan kaget melihat tingkah Frisca yang marah-marah membabi buta, namun mereka tidak melakukan apa-apa.
Mereka sudah terbiasa melihat orang-orang kaya yang bertingkah seperti Frisca.
"Aaaaa....kurang ajar kamu Axcel!!!!" teriak Frisca sambil menendang meja dan kursi yang ada di depannya.
Frisca menangis sejadi-jadinya, Ia sudah tidak memperdulikan orang di sekitarnya.
Kemudian Ia keluar meninggalkan kafe tersebut.
Frisca melajukan mobilnya dengan cepat, Ia tak perduli banyak mobil yang mengklakson padanya.
Amarah benar-benar merasuk dalam hati Frisca.
Frisca mengklakson pintu gerbang rumahnya dengan sangat keras.
"Wooyy...kalian tidur apa!!" teriak Frisca pada satpam yang sedang berjaga saat itu.
Mereka tentu sangat terkejut dengan tingkah Frisca yang tidak sabar menunggu di bukakan pintu gerbang.
Mata Frisca menatap tajam ke arah satpam yang membukakan pintu.
Pak satpam hanya menunduk ketika Frisca menatapnya.
Frisca menancap gas ketika pintu gerbang terbuka.
Mobilnya Ia parkir sembarangan dan keluar mobil dengan membantingkan pintu dengan keras.
BUKK...
Frisca berlari menuju rumahnya, pintu dibuka dengan kasar sebelum pelayan sempat membukanya.
Ia pun membanting pintu rumah dengan keras.
BUKK...
Sontak saja pelayan berdatangan.
Pelayan hanya menundukkan kepalanya, ketika Frisca membanting pintu dan barang-barang yang ada disekitarnya.
__ADS_1
Frisca berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ia mendorong pintu dengan kasar dan segera masuk menuju meja rias.
Frisca tertegun sejenak melihat dirinya didepan kaca.
"Aaaaaa.....!!!!" Frisca kembali berteriak dengan membantingkan semua benda yang ada di meja tersebut.
Kemudian Ia menyungkurkan diri di ranjang king sizenya, Frisca menangis sejadi-jadinya.
Tante Elis segera menuju ke kamar Frisca, setelah melihat tingkah Frisca yang membabi buta.
"Sayang ..ada apa?" Tante Elis menghampiri Frisca yang menangis.
Frisca tak menjawab pertanyaan mamanya.
Matanya hanya mendelik menatap mamanya.
"Ma...apa Frisca tidak cantik ma. .!!!" teriak Frisca pada mamanya.
Tante Elis masih bingung .
"Kurang apa aku...ma...kenapa Axcel menolakku..hiks..hiks...!!! lanjut Frisca sambil menangis.
Kini Tante Elis tahu kenapa putri nya tiba-tiba membabi buta.
"Sayang...tenangkan dulu dirimu..." ucap Tante Elis sambil menyodorkan segelas air putih yang dibawakan oleh pelayan.
Frisca meneguk air tersebut, kemudian Ia menyandarkan kepalanya di bahu mamanya.
Tante Elis mengelus puncak kepala Frisca dengan penuh kasih sayang.
Ia pun mulai terdiam, namun air matanya masih mengalir, tatapan matanya sayu dan sesekali Ia terisak.
Setelah kondisi Frisca tenang, Ia menyuruh Frisca untuk berbaring mengistirahatkan dirinya.
"Istirahatlah...ini sudah malam..besok kamu harus kerja" ucap Tante Elis menyelimuti Frisca.
Frisca terdiam tak menjawab, Tante Elis pun tidak berucap kembali.
Ia langsung meninggalkan Frisca setelah mencium keningnya, dan menutup pintu kamar putrinya.
Sepeninggal mamanya ,Frisca tidak tidur.
Matanya masih terbuka dengan pikiran yang menerawang kemana-mana.
Frisca sangat patah hati, perlakuan Axcel kali ini sangat keterlaluan, pikirnya.
Rasa sakit hatinya lebih dalam dari yang pernah Ia rasakan dulu ketika pertama kali ditolak Axcel.
"Axcel..." geram Frisca.
Frisca membayangkan kejadian tadi siang yang membuat hatinya terbakar melihat Axcel yang memeluk Sabrina, walaupun kejadian tersebut secara kebetulan, karena Sabrina yang nyaris jatuh akibat ulah Frisca.
Dan sekarang Ia harus menelan kepahitan dengan perlakuan Axcel yang tidak menepati janjinya, padahal Frisca sudah sangat berharap banyak pada Axcel.
Hari ini menjadi hari naas buat Frisca, namun hal tersebut tidak membuat Ia jera.
Dalam hatinya kini timbul rasa dendam pada Sabrina, karena pikirnya Sabrina lah yang membuat Axcel melupakan janjinya.
__ADS_1
"Sabrina...awas kamu ..." gumam Frisca dalam kesedihannya.
Dalam lamunannya ,Frisca memikirkan cara agar Sabrina tidak mendekati Axcel maupun sebaliknya.